IMG-LOGO
Internasional

Saudi Ingatkan Jamaah Hindari Urusan Politik Selama Haji

Jumat 12 Juli 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Saudi Ingatkan Jamaah Hindari Urusan Politik Selama Haji
Ilustrasi (icchajj.com)
Makkah, NU Online
Menteri Media Arab Saudi, Turki al-Shabanah, mengingatkan agar para jamaah hanya fokus melaksanakan ritual ibadah haji. Ia menghimbau kepada para jamaah haji untuk menahan diri dari menggunakan slogan-slogan politik selama menjalankan ibadah haji.

Al-Shabanah menegaskan, penggunaan slogan-slogan politik selama haji tidak bisa diterima dengan cara apapun. Menurutnya, pihaknya akan mengambil tindakan untuk mencegah hal itu dan pelakunya akan ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku di Saudi.
“Tindakan seperti itu tidak akan diterima dengan cara apa pun, semua langkah yang diperlukan akan diambil untuk mencegahnya, dan peraturan akan diterapkan terhadap siapa pun yang melakukan ini,” kata al-Sahabanah, dikutip NU Online dari laman Middle East Monitor, Jumat (12/7).

Para jamaah haji diimbau untuk menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat mengganggu ritual haji dan ketenangannya. 

Pernyataan Saudi tersebut muncul setelah sepekan sebelumnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menulis di Twitter bahwa para jamaah haji tidak perlu diimbau untuk menghindari politik selama haji. 

“Diantara kesalahan besar adalah mereka mengatakan tidak mempolitisasi haji. Menciptakan persatuan adalah masalah politik. Mendukung dan membela kaum tertindas di dunia Islam, seperti negara Yaman dan Palestina, adalah masalah politik, tepatnya berdasarkan ajaran Islam dan kewajiban,” twit Khamenei Rabu pekan lalu.

Diketahui, haji merupakan rukun Islam yang kelima bagi yang mampu. Oleh sebab itu, jutaan Muslim dari banyak negara -yang mampu secara fisik dan harta- berkunjung ke Makkah, Arab Saudi, setiap tahunnya untuk menjalankan ibadah haji. Pada pertengahan tahun lalu, Otoritas Kerajaan Arab Saudi merilis data yang menyebutkan bahwa total jamaah haji yang datang ke Makkah selama 25 tahun terakhir adalah 53.928.358 orang. Adapun jumlah jamaah haji selama 10 tahun terakhir mencapai 23,834,151 orang. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 12 Juli 2019 17:30 WIB
Dosen IAIN Jember Promosikan Islam Wasathiyah di Australia
Dosen IAIN Jember Promosikan Islam Wasathiyah di Australia
Australia, NU Online

Dosen Muda Fakultas Syariah IAIN Jember,  Wildani Hefni terpilih sebagai penerima program beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) tahun 2019. PIES merupakan program kerjasama antara kampus The Australian National University (ANU) Canberra dan Kementerian Agama RI yang dibiayai oleh Department of Foreign Affairs and Trades (DFAT) Pemerintah Australia.

Program beasiswa tersebut diperuntukkan bagi dosen yang sedang menempuh pendidikan doktoral untuk melakukan riset  dan penguatan tradisi akademik serta perluasan jejaring internasional di kampus ANU Canberra.

Saat ini, Wildan telah memasuki semester dua di kampus ANU Canberra. Di semester ini, sejumlah tugas telah menanti alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura itu. Dalam waktu dekat Wildan akan mempresentasikan risetnya berjudul Indonesian Muslim Intellectuals and The Transmission of Reformist Thought in The Teaching of Contemporary Islamic Law.

“Alhamdulillah, saya sangat menikmati iklim akademik di Canberra. Saya sangat senang menghabiskan waktu di perpustakaan kampus dan di perpustakaan nasional Australia untuk melengkapi riset-riset yang sedang saya kerjakan. Saya juga akan presentasi tentang jaringan intelektual Muslim Nusantara dan pembentukan intelektualisme Islam wasathiyah di acara Islam in Indonesia Post-Graduate Workshop, Canberra,” ungkapnya sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Jumat (12/7).

Di semester dua ini, kegiatan Wildan lebih difokuskan kepada pelatihan penulisan artikel jurnal internasional yang dibimbing oleh mentor profesional dari ANU Academic Skills. Selain itu, dosen program studi Ahwal al-Syakhsiyah Fakultas Syariah IAIN Jember ini mesti mempersiapkan presentasi dari beberapa paper yang telah diterima di beberapa konferensi inernasional. Diantaranya di Melbourne Law School di University of Melbourne.

“Tema yang saya usung, ya seputar Islam wasathiyah,” tambahnya.

Menurutnya, Islam wasathiyah (moderat) yang digemakan NU juga sampai di Australia. Sehingga kupasan-kupasan tentang itu merupakan magnet tersendiri bagi akademisi Australia dan pemerhati Indonesia. Nyatanya, Indonesia aman meski dihuni oleh penduduk yang beraneka ragam agama, budaya, dan suku.

“Kuncinya toleransi yang merupakan pokok dari  konsep wasathiyah,” tukasnya.

Pria yang pernah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang ini menambahkan, Islam wasathiyah mempengaruhi cara pandang dan berpikir untuk menghargai perbedaan. Dalam tradisi akademik, katanya, Islam wasathiyah dapat dibaca melalui pendekatan pluralisme yang mengakomodir pemahaman lain dalam mengkaji Islam secara empiris dan akademis.

”Inilah akar dari keragaman tradisi keislaman yang sesungguhnya,” urainya.

Riset yang dilakukan Wildan dibimbing oleh Profesor Virginia Hooker yang ahli dalam bidang sejarah Asia dan Islam Asia Tenggara. Karena itu, riset Wildan juga berkaitan dengan bidang sejarah.

“Kajian tentang intelektualisme Islam wasathiyah penting untuk dilakukan. Indonesia adalah negara multikultural yang sejatinya telah dimulai dengan konstruk intelektualisme Islam wasatiyah yang saat ini menjadi penyangga kesadaran akan keragaman tradisi sekaligus menjadi pintu utama dari keberlanjutan modernisasi pendidikan Islam di Indonesia. Ini harus kita promosikan,” jelasnya.

Selain menjalani kegiatan akademik, alumnus PMII IAIN Walisongo itu  juga aktif mengisi kajian Islam, termasuk di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Australia di Canberra dan forum-forum diskusi lainnya. (Aryudi AR)



Jumat 12 Juli 2019 15:0 WIB
Jaga Keamanan Jamaah Haji, Saudi Luncurkan Kartu Pintar Berteknologi Tinggi
Jaga Keamanan Jamaah Haji, Saudi Luncurkan Kartu Pintar Berteknologi Tinggi
Kakbah (istimewa)
Makkah, NU Online
Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi akan mengeluarkan kartu pintar berteknologi tinggi untuk 25 ribu jamaah haji di Mina tahun ini. Langkah ini merupakan program rintisan yang diluncurkan pihak Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga keamanan dan keselamatan jamaah. 

Kartu pintar ini menyimpan informasi pribadi jamaah haji. Mulai dari status kesehatan, tempat tinggal, hingga perincian perjalanan tiap jamaah yang memilikinya. Tidak hanya itu, kartu ini juga dilengkapi dengan detektor lokasi untuk melacak pergerakan jamaah haji. Sementara pemantauan mereka dikelola di ruang kontrol di Mina. 

“Ini adalah tahap eksperimental dari inisiatif haji cerdas yang sedang kami kerjakan, dan kami akan mempelajari sejauh mana hal itu mungkin menguntungkan bagi jamaah haji,” kata Kepala Perencana dan Strategi di Kementerian Haji dan Umrah, Saudi Amr al-Maddah, dikutip laman Arab News, Kamis (11/7).

Dikatakan al-Maddah, jumlah pemegang kartu pintar akan terus ditingkatkan setiap tahunnya. Pihaknya mengaku siap bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait dari negara-negara lainnya. 

Di samping itu, Kementerian Haji dan Umrah juga mengeluarkan sebanyak 200 ribu kartu identitas jamaah, namun kartu yang ini tidak dilengkapi dengan pelacak lokasi. Meski demikian, kartu ini bisa dipindai sehingga memudahkan penyedia layanan haji untuk mengidentifikasi, mengakses riwayat kesehatan, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan jamaah dengan cepat. 

Kartu-kartu tersebut mulai terhubung aplikasi Smart Haji ID tahun ini. Menurut al-Maddah, kartu itu akan menawarkan fitur yang sama, termasuk lokasi pelacakan, mengidentifikasi tempat ramai di peta, dan jadwal transportasi.

Kartu pintar dan aplikasi seluler juga memungkinkan Kementerian Haji dan Umrah Saudi untuk memprediksi perilaku orang banyak selama haji. al-Maddah mengaku optimistis jika penerapan teknologi baru tersebut membantu Kementerian Haji dan Umrah mengumpulkan data melalui kartu, kamera, dan sensor yang didisebar di sekitar lokasi ibadah. (Red: Muchlishon)

Jumat 12 Juli 2019 0:0 WIB
Kader Muda NU Malaysia Ini Buka Kelas Bahasa Inggris untuk Pekerja
Kader Muda NU Malaysia Ini Buka Kelas Bahasa Inggris untuk Pekerja
Suasana belajar di English Academy Bengkulu Malaysia
Kuala Lumpur, NU Online
Para pekerja dari Indonesia di Malaysia mendapat berkah berupa pendalaman bahasa Inggris. Hal tersebut sebagai keterpanggilan salah seorang kader muda Nahdlatul Ulama yang tengah merampungkan studi program doktor.

Berawal dari perkenalannya dengan organisasi Persatuan Masyarakat Indonesia (Permai) Utara Malaysia pertengahan 2017, M Arif Rahman Hakim yang merupakan mahasiswa program doktor di school of Educational Studies, Universiti Sains Malaysia terpanggil untuk menginisiasi dibukanya kelas keterampilan Bahasa Inggris. Lembaga tersebut diberi nama English Academy Bengkulu Malaysia

Program ini merupakan kelas yang ditujukan khusus untuk para pekerja Indonesia yang bekerja di area Penang dan sekitarnya. Dalam menjalankan proyek ini, Arif tidak sendirian, juga mendapat bantuan dari beberapa rekan seperjuangannya di Universiti Sains Malasyia yang berasal dari Indonesia. Ia menuturkan tidak banyak pelajar Indonesia di Malaysia yang mau total terjun pada proyek sosial tersebut. 

“Kegiatan pembelajaran ini sudah dimulai sejak Desember 2017,” katanya kepada media ini, kamis (11/7).

Kalau dikalkulasi, jumlah peserta yang pernah bergabung dengan kelas tersebut hingga saat ini berjumlah 300-an pekerja. “Juga telah meluluskan sebanyak empat angkatan,” ungkapnya.

Untuk lokasi belajar, digunakanlah di Permai Utara Malaysia. Sehingga proses pembelajaran yang bernilai sosial tersebut dapat terselenggara empat hari dalam sepekan. 

“Terkait waktu belajarnya mengikuti teman-teman pekerja, yaitu pagi, siang dan malam. Sehingga mereka bisa memilih sendiri kelasnya,” urai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bengkulu tersebut.

Misalnya, setelah para pekerja selesai mereka bekerja atau sebelum berangkat bekerja. “Karena 90% peserta merupakan pekerja asal Indonesia yang bekerja pada sektor perindustrian atau pabrik,” tutur kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Malaysia ini.

Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAIN Bengkulu tersebut mengungkapkan, tujuan utama dibuatnya kelas Bahasa Inggris untuk menumbuhkan rasa percaya diri para pekerja Indonesia. “Karena secara status sosial, mereka sering kali dipandang sebelah mata,” terang anggota kandidat doktor NU Malaysia tersebut.

Dengan bergabungnya mereka menjadi pelajar di English Academy Bengkulu Malaysia diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan akademik secara personal. Dan tentunya juga meningkatkan kepercayaan bangsa lain terhadap sumber daya manusia Indonesia.

"Sehingga dalam modul pembelajaran yang diberikan banyak memasukkan materi yang bersifat aplikatif di dunia bisnis dan perindustrian seperti public speaking, reading, membalas email, dan masih banyak lagi,” ungkap Arif.

Peraih penghargaan di bidang penelitian dan publikasi dari Wakil Rektor Universiti Sains Malaysia ini menjelaskan bahwa secara administrasi, English Academy Bengkulu Malaysia merupakan kelas jauh dari LKP English Academy. 

Keberadaan lembaga didirikan oleh Arif bersama rekannya Reko Serasi dan memiliki akta notaris serta izin pendirian dari Kementerian Pendidikan Indonesia. “Sedangkan untuk perizinan di Malaysia, kegiatan ini menggunakan izin dari Pertubuhan Masyarakat Indonesia atau Permai Pulau Pinang yang merupakan Non Government Organization berizin di Malaysia, sehingga kegiatan berstatus legal,” terangnya. 

Total pembelajaran dari awal hingga selesai menghabiskan kurang lebih selama enam bulan. “kegiatan diakhiri pemberian surat tamat belajar dari lembaga English Academy Bengkulu,” pungkasnya. (RedIbnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG