IMG-LOGO
Nasional

Unusa Tuan Rumah Pertemuan Forum Kedokteran Islam Indonesia

Jumat 12 Juli 2019 17:45 WIB
Bagikan:
Unusa Tuan Rumah Pertemuan Forum Kedokteran Islam Indonesia
Surabaya, NU Online
Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) jadi tuan rumah pertemuan tahunan Forum Kedokteran Islam Indonesia (Foki). Tahun ini pertemuan mengambil tema Empowering Community for Health Status Improvement. Dan peran fakultas kedokteran Islam di Indonesia terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan status kesehatan menjadi perbincangan serius.

“Kegiatan ini merupakan serangkaian acara Surabaya International Health Conference (SIHC) yang merupakan agenda dua tahunan pertemuan ilmiah di bidang kesehatan yang digagas Unusa. Secara kebetulan tahun ini juga peringatan Dies Natalis Unusa ke-6, sehingga semua dijadikan satu,” kata Wiwiek Afridah, selaku Ketua SIHC, Jumat (12/7).

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Handayani mengatakan bahwa pertemuan rutin tahunan Foki akan diikuti 30 delegasi dari fakultas kedokteran di Indonesia, dan Wakil Ketua Federation of Islamic Medical Association (FIMA), Abdul Rashid bin Abdul Rahman. 

“Pertemuan ini sebagai momentum tepat bagi seluruh anggota Foki untuk saling bertukar pikiran terkait upaya mensinergikan energi tiga pilar antara rumah sakit, perguruan tinggi, dan masyarakat,” jelasnya.

Handayani menambahkan, setiap fakultas kedokteran yang berbasis Islam sudah memiliki konsep untuk mensinergikan antara rumah sakit, perguruan tinggi dan masyarakat.

Unusa misalnya, dalam upaya menjalankan tiga pilar itu menjadikan Poskestren atau Pos Kesehatan Pondok Pesantren sebagai ujung tombak dalam memberikan layanan kesehatan menuju peningkatan status kesehatan di lingkungan pondok pasantren.

“Unusa juga sudah menyiapkan mahasiswa untuk bisa bekerja di rumah sakit syariah, tapi mungkin masih ada kekurangan yang harus dibenahi,” jelasnya.

Hal lain yang menjadi topik dalam pertemuan itu adalah terkait dengan ilmu kedokteran Islam. “Yakni yang dipadukan dengan kedokteran modern seperti pemanfaatan bekam dan ruqyah yang dalam Islam itu cukup dikenal,” ungkapnya.

Menurut Handayani, jika sinergi energi tiga pilar berjalan baik, maka Islam akan lebih eksis dan dikenal sebagai agama rahmatan lilalamin pada tingkat global. “Apalagi, memasuki era revolusi industri 4.0 dengan berbagai perubahan dan disruption menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi perguruan tinggi,” tegasnya. 

Sementara Wiwiek Afridah menambahkan bahwa ada beberapa agenda dalam SIHC. Selain pertemuan Foki, juga diagendakan pertemuan antara Unusa dengan University of Northern Pilipina (UNP).

“Nantinya yang dibahas tentang implementasi kerja sama di bidang penelitian serta pertukaran mahasiswa dan dosen, khususnya untuk bidang keperawatan dan kebidanan,” katanya.

Selain itu digelar pula workshop leadership yang diselenggarakan secara online dengan topik Leadership Course on Tobacco Advocacy. “Beberapa pembicara dalam acara ini antara lain datang dari Turki, Malaysia dan Thailand,” urainya.

Dikemukakan Wiwiek Afridah, di sejumlah pondok pasantren di Turki memiliki budaya yang hampir sama seperti di Indonesia tentang rokok. “Pembicara akan berbagi pengalaman terkait dengan upaya gerakan pencegahan anti tembakau atau anti rokok,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Jumat 12 Juli 2019 20:15 WIB
Perkumpulan Pengusaha Nahdliyin Akan Beri Banyak Manfaat bagi Masyarakat
Perkumpulan Pengusaha Nahdliyin Akan Beri Banyak Manfaat bagi Masyarakat
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Bidang Ekonomi H Umar Syah menyatakan bahwa kehadiran P2N dalam bagian NU merupakan lompatan bagus karena keberadaannya akan memberikan banyak manfaat buat masyarakat.

Menurut Umar, berbagai upaya yang dilakukan P2N sangat baik karena tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga terdapat tindak lanjut atau langkah konkret seperti melakukan nota kesepahaman (MoU) seperti MoU dengan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT. Cipta Global Solusindo Indonesia (CGI), PT Indoportal Internasional Indonesia (III), dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Grup Japfa.

Selain itu, P2N juga pada Agustus mengadakan kunjungan ke sejumlah negara, seperti Azerbaijan untuk melakukan sinergi dengan para pengusaha luar, sehingga produk dari Nahdliyin bisa dipasarkan secara lebih luas.

“Upaya yang dilakukan P2N ini langkah konkret untuk menciptakan nilai tambah yang signifikan,” kata Umar saat membuka Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Perkumpulan Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat 12/7).

Pada diskusi yang berisi para pengusaha tersebut, Umar menyatakan bahwa Nahdliyin bukan hanya bergelut dengan ilmu agama, tetapi juga dengan dunia usaha, baik menjadi wirausahawan kecil, menengah, maupun atas.

“Kita (NU) bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Jamaah kita bagian dari bangsa ini, dan mayoritas jamaah kita adalah wirausahawan. Orang NU yang ada di birokrasi dan akademisi itu minimal. Kebanyakan jamaah NU ada di luar sistem pemerintahan,” ucapnya.

Umar mengatakan, Nahdliyin yang bergelut di dunia usaha telah memenuhi syarat sebagai wirausahawan karena memiliki modal dasar, yakni ketangguhan dan tidak pernah menyerah. Hanya saja, sambungnya, mereka masih berada di pinggiran dan belum banyak kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang menyasar kepadanya.

Diskusi yang mengusung tema ‘Meningkatkan Kesejahteraan dan Pemerataan melalui Konektivitas Infrastruktur ini menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya ialah dari PT Jasa Marga M Agus Setiawan, Direktur Operasional PT Brantas Abipraya Widyo Praseno, dan PT Nindya Karya Imam Sugiyatno. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Jumat 12 Juli 2019 20:0 WIB
Pengusaha dan Profesional Nahdliyin Agendakan Kunjungi Azerbaijan
Pengusaha dan Profesional Nahdliyin Agendakan Kunjungi Azerbaijan
Diskusi P2N, Jumat (12/7).
Jakarta, NU Online
Pengurus Pusat Perkumpulan Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N) akan mengadakan kunjungan ke sejumlah negara. Kunjungan dilakukan untuk membangun sinergi bisnis, dimulai ke Azerbaijan pada pertengahan Agustus. Negara lainnya adalah Jepang, China, Taiwan, dan Arab Saudi.

"P2N tidak sekadar diskusi, seminar, tapi melakukan kerja nyata. Kita akan ke Azerbaijan, mungkin tanggal 10 atau 12 Agustus. Nanti kita akan membahas bisnis. Ini jalan nyata untuk kita kolaborasi," kata Irnanda di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (12/7). FGD mengusung tema Meningkatan Kesejahteraan dan Pemerataan Melalui Konektivitas Infrastruktur.

Menurut Irnanda, dalam pertemuan di Azerbaijan, akan ada banyak hal yang dibahas. Di antaranya kemungkinan para pengusaha Azerbaijan ikut membangun perdagangan di Indonesia dengan cara berinvestasi. Juga, P2N mengirim produk karya Nahdliyin ke negeri yang dijuluki sebagai 'negara api' itu.

"Mereka (pengusaha Azerbaijan) siap berinvestasi ke Indonesia. Kita mungkin investasi ke sana. Kita akan saling belajar," ucapnya.

Nantinya, sambung Irnanda, kunjungan P2N bukan hanya diterima langsung oleh pengusaha, tetapi juga para petinggi negara, seperti perdana menteri atau presidennya. "Insyaallah nanti kita akan diterima minimal oleh Perdana Menteri Azerbaijan, maksimal oleh Presiden," lanjutnya.

Untuk itu, ia mengajak kepada pengusaha yang tergabung dalam P2N dan memiliki perusahaan yang capable agar menyiapkan diri untuk momentum yang penting tersebut karena jumlah peserta yang akan diikutsertakan terbatas.

"Nanti pengusaha yang ikut harus benar-benar bekerja, berbisnis sebagai mitra. Maksimal yang ikut 15 perusahaan yang capable," ucapnya.

Ia berharap apa yang kita kerjakan P2N mendapat barokah dan ridla dari Allah dan mendapat sesuatu yang bermanfaat untuk Indonesia. "Untuk umat umumnya, dan Nahdliyin khususnya," imbuhnya.

Ia menyatakan bahwa sekitar tiga minggu yang lalu, pengusaha dari Azerbaijan telah berkunjung ke PBNU dan bertemu langsung dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kiai Said sendiri disebutnya sangat mendukung dengan rencana sinergi bisnis ini. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Jumat 12 Juli 2019 19:0 WIB
Toleransi Dimulai dari Diri Sendiri
Toleransi Dimulai dari Diri Sendiri
Septia Febriani (berkerudung) dan Adharisa Manyura Rizarinka menghadap KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Toleransi sebetulnya bukan hal baru bagi Septia Febriani, salah satu peserta Kakak Sabang Merauke 2019. Pasalnya, di Bandung Barat, Jawa Barat, ia tinggal berdampingan dengan masyarakat yang heterogen. Depan dan samping rumahnya, tinggal keluarga beragama Kristen.

Meskipun demikian, stigmatisasi dan generalisasi terhadap orang yang berbeda masih kerap kali muncul dari diri dan keluarganya. Karenanya, ia mengikuti kegiatan Sabang Merauke yang semula hanya ingin mengisi libur kuliahnya, tetapi akhirnya mendapatkan hal lebih dari sekadar mengisi masa liburnya.

Program tersebut setidaknya memberikan tiga pelajaran penting bagi dirinya dalam bertindak toleran terhadap orang lain. Pertama, katanya, kita harus menerima dan memaafkan diri sendiri sebelum keluar. "Sebelum kita bertoleransi dengan orang lain harus maafin diri sendiri dulu. Terus menghargai diri sendiri baru ke orang lain," jelasnya saat berkunjung ke NU Online, Kamis (11/7).

Kedua, hal yang didapatnya adalah tidak lagi membuat generalisasi atau menstigmatisasi orang lain yang berbeda. Bertemu orang Batak, misalnya, yang langsung beranggapan akan seperti dimarahi. Padahal, jelasnya, memang suara yang dikeluarkan demikian keras, bukan karena bersikap keras.

"Kita tuh gak boleh prasangka buruk. Kita harus membedakan mana persepsi mana fakta. Emang budayanya seperti itu (bersuara keras). Bukan ingin marah kepada kita," kata Septi.

Terakhir, pelajaran penting dari program tersebut adalah mudah memaafkan orang lain. "Sebelum dimaafin orang lain, kita harus lebih terbuka legowo (ikhlas menerima) dengan orang," ujar mahasiswi Universitas Padjajaran itu.

Hidup serumah dengan orang yang berbeda agama, yakni dengan Adhyarisa Manyura Rizharinka, sebagai adik Sabang Merauke, membuatnya semakin mengerti dan respek terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. "Kita jadi lebih respek karena sebelumnya gak tahu sama sekali. Kita mengantarnya ibadah ke gereja. Mereka ibadah juga kita gak keganggu. Kenapa harus mengejek orang lain?" katanya.

Yuma, sapaan akrab Adhyarisa Manyura Rizharinka bersama Septia diajak sowan (kunjungan silaturahim) ke Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj oleh orang tua asuhnya yang juga Sekretaris Lembaga Kesehatan PBNU, Citra Fitri Agustina dan suaminya Rudi Syafruddin. Dalam pertemuan singkat, Kamis (11/7) tersebut, gadis yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah itu mendapat wejangan Kiai Said bahwa perbedaan adalah kekuatan bagi Indonesia untuk bersatu.

"Agama yang beda-beda itu seharusnya bukan jadi pemecah, tetapi memperkuat masyarakat Indonesia buat bersatu," pungkas mahasiswi jurusan Kesejahteraan Sosial tersebut menirukan pesan Kiai Said. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG