IMG-LOGO
Daerah

Mabes Polri Ajak Nahdliyin Sidoarjo Jaga Suasana Aman

Sabtu 13 Juli 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Mabes Polri Ajak Nahdliyin Sidoarjo Jaga Suasana Aman
Sidoarjo,  NU Online
Tantangan zaman terus berubah. Saat ini yang sedang marak adalah aksi teror, gerakan radikal dan penyebaran berita bohong di media sosial. Sejumlah kalangan hendaknya lebih waspada dan mengantisipasi sejak dini. 

Peringatan disampaikan AKBP Syuhaimi dari Baintelkam Mabes Polri saat melakukan sosialisasi keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas kepada warga Desa Kwangsan, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur. Kegiatan dipusatkan di masjid Asy-Syuhada, Jumat (12/7) malam.

Menurutnya, salah satu cara agar bisa meminimalisir bahkan mencegah sejumlah ancaman keamanan tersebut adalah silaturahim. “Termasuk kegiatan silaturahim yang diadakannya bersama jamaah dan warga sekitar masjid Asy-Syuhada Kwangsan Sedati ini,” katanya, 

Dalam pandangannya, banyak manfaat yang bisa diambil dari kerapnya menggelar silaturahim. “Yakni negara akan tetap terjaga dengan aman damai serta kondusif,” urainya. 

Secara khusus, dirinya mengajak warga yang memadati masjid Asy-Syuhada untuk terus mempertahankan dan meningkatkan budaya saling bertemu dan bermusyawarah demi terjaganya persatuan atau ukhuwah. 

“Melalui silaturahim kita tingkatkan ukhuwah islamiyah guna mereduksi penyebaran berita hoaks, intoleransi dan ekstremisme," katanya kepada jamaah yang mayoritas nahdliyin.

Kegemaran menjalin silaturahim hendaknya juga bisa diteruskan di tempat lain. “Silaturahim hendaknya tak hanya dilakukan di masjid ini, akan tetapi juga dapat dilakukan di beberapa tempat lainnya,” harapnya.

Menurutnya, pihak kepolisian terus mendorong kegiatan silaturahim dengan memanfaatkan banyak lokasi. “Di Jawa Timur kita sudah beberapa kali mengadakan kegiatan yang sama dan kebetulan sekarang kami memilih Desa Kwangsan untuk memberikan imun atau kekebalan agar paham radikal tidak masuk ke wilayah ini," tegasnya.

Berikutnya dikemukakan, silaturahmi adalah bentuk sinergitas antara ulama dan umara. “Apabila ulama dan umara bisa duduk bersama dan berdiskusi, insyaallah negara ini akan tetap terjaga dengan aman damai dan kondusif,” ungkapnya.

Dirinya ingin bersinergi dengan ulama dan tokoh masyarakat supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. “Jangan sampai anak kita, cucu dan keponakan kita teridentifikasi kelompok radikal. Kita semua harus waspada," tandasnya.

Menyikapi kondisi kelompok radikal yang saat ini semakin merebak, AKBP Syuhaimi menyatakan bahwa hal itu menjadi tanggung jawab bersama. Disinggung soal tanda tanda kelompok radikal, ia menyebutkan bahwa tanda yang paling sederhana adalah terlihat dari gelagat atau adanya perubahan yang signifikan.

Karenanya, di ujung penjelasan dirinya mengemukakan langkah yang dapat dilakukan bila menemukan gelagat yang mencurigakan.

"Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah pengawasan kepada indikator yang telah terlihat. Misalnya ada orang yang gelagatnya berbeda seperti mencuri, berbohong, maupun tidak konsisten,” sergahnya.

Sementara itu salah satu tokoh agama Desa Kwangsan, Ustadz Subkhan mengatakan, silaturahim atau sosialisasi Kamtibmas yang dilakukan Mabes Polri merupakan bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

"Melalui silaturahmi ini kita tingkatkan ukhuwah islamiyah guna mereduksi penyebaran berita hoaks, intoleransi, dan ekstrimisme,” katanya. 

Menurutnya, sosialisasi dari pihak kepolisian membuat sejumlah kalangan tergerak hati untuk turut menjaga suasana aman. “Ini menyadarkan kita semua bahwa menjaga keamanan bukan tugas dari Polri saja, melainkan tanggung jawab kita bersama,," ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Subkhan, sesama saudara sebangsa dan setanah air harus menjaga persaudaraan. 
“Terutama sesama Muslim yakni menjaga tali persaudaraan seiman atau ukhuwah islamiah, saudara sebangsa yakni ukhuwah wataniah dan saudara sesama manusia atau ukuwah basariah,” jelasnya.

Karena ketiga hal tersebut adalah modal untuk tetap menjaga toleransi dalam melihat perbedaan dengan orang lain. Karena kalangan yang telah memahami perbedaan tidak akan pernah memaksakan kehendaknya dalam hidup bermasyarakat dan sudah pasti menjauhi kekerasan. 

“Orang yang bertoleransi akan menghormati dan menghargai orang lain. Sehingga mereka jauh dari sifat menghina, mencaci bahkan memfitnah orang lain,” pungkasnya. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi).

Bagikan:
Sabtu 13 Juli 2019 23:30 WIB
Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'
Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'
Pengajian santri putri Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Sabtu (13/7) petang.
Kota Banjar,  NU Online
Rasa malas yang menimpa manusia merupakan musibah paling besar. Pasalnya dengan datangnya rasa malas semua rencana akan menjadi gagal.  Lalu bagaimanakan cara menghilangkan rasa malas? 
 
"Dalam kitab Ta'limul Muta'alim karya Syekh Al-Jarnuzi halaman 27 diterangkan bahwa rasa malas berasal dari banyaknya dahak dalam tubuh. Dahak berasal dari banyaknya makan dan minum," papar Gus Muhammad Basithurijal dalam pengajian rutin bersama santri putri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar, Jawa Barat, Sabtu (13/7) petang.

Dalam pengajian tersebut, Gus Rijal juga mengatakan bahwa dengan banyaknya makan dan minum, maka akan menambah banyak dahak. Maka cara menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengurangi makan dan minum.  

"Ulama zaman dahulu sering sekali menyedikitkan makan dengan cara berpuasa," katanya.  

Namun, masih kata Gus Rijal, jika dengan berpuasa akan menambah rasa malas dalam belajar atau melakukan ibadah yang lain maka makanlah secukupnya dan rajinlah dalam belajar dan beribadah.
  
Ia mengatakan bahwa kambing akan lebih mulia daripada manusia, jika manusia banyak makan dan malas bekerja. Berbeda dengan kambing yang gemuk akibat banyak makan itu akan menambah mahal jika dijual.
  
Hal lain untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengonsumsi roti kering dan anggur kering. Tetapi karena harga anggur kering yang tidak bisa dijangkau oleh para santri maka lebih baik dengan makan roti kering.
  
Selain itu cara yang terakhir untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan bersiwak.  Selain dianjurkan dalam bersiwak, manfaat bersiwak yaitu akan mempertajam hafalan dan menambah fasih bacaan.  

"Shalat satu rakaat dengan bersiwak sama dengan shalat tujuh puluh lima kali tanpa bersiwak," ujarnya menyebutkan salah satu fadhilah siwak. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)
Sabtu 13 Juli 2019 22:0 WIB
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Pertemuan mahasiswa STAN dengan PCNU Tangsel.
Tangerang Selatan, NU Online
Awal Juli 2019 kemarin Nahdliyin Politeknik Keuangan Nengeri Sekolah Tinggi Akutansi Negara (PKN STAN) mengundang PCNU Tangerang Selatan untuk membicarakan kelanjutan program Madrasah Kader NU. Program ini merupakan upaya Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Al Iman) untuk meneguhkan ideologi Ahlussunah wal Jamaah sekaligus membendung adanya pemahaman aliran intoleran seperti HTI di lingkungan PKN STAN. 

KH Muhammad Thohir selaku Ketua PCNU Tangsel menegaskan bahwa pemikiran jalan tengah yang diambil NU selama ini adalah upaya menjaga NKRI dari paham transnasional yang dapat memecah belah bangsa.

"Madrasah Kader NU (MKNU) ini adalah salah satu program PBNU yang dirancang untuk membentengi NKRI dari paham HTI. Sekaligus untuk menyebarkan paham Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah sebagai langkah moderat untuk mewujudkan perdamaian di Nusantara dan dunia," katanya.

MKNU yang digawangi oleh PBNU selama ini sudah berjalan empat tahun belakangan sejak tahun 2015 dan sudah digelar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

"Saya harap para peserta nantinya bisa mengikuti MKNU dengan disiplin dan selalu hadir dalam setiap penyampaian materi oleh narasumber. Karena program ini merupakan satu rangkaian utuh yang tidak bisa dipisahkan. Itu adalah syarat mutlak jika peserta ingin mendapatkan sertifikat," tambahnya. 

Senada, Ustadz Subkhan yang juga sesepuh sekaligus Ketua Al Iman masa khidmat 2017-2020 sepakat untuk mengakomodir pemikiran NU di lingkungan Nahdliyin PKN STAN. Kaderisasi ini penting mengingat paham-paham yang berseberangan dengan Aswaja Annahdliyah sudah mulai menjamur di mana-mana.

"Kami berharap mahasiswa Nahdliyin dan alumni dapat berpartisipasi dalam MKNU ini sebagai bentuk ikhtiar thalabul 'ilmi dan upaya merajut silaturahim dengan PBNU," ungkap ustadz yang baru saja menyelesaikan program doktor di Internasional Islamic University Malaysia ini.

Rencananya, MKNU khusus mahasiswa dan Nahdliyin PKN STAN ini akan diikuti oleh 70 peserta dan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 6-8 September 2019 bertempat di Omah Ngaji Al Fath Iman, Kompleks Pajak Tangerang Selatan. (Bagus Rosyid/Kendi Setiawan)
Sabtu 13 Juli 2019 20:0 WIB
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
PCNU Solo, Jateng gelar doa bersama
Solo, NU Online
Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas berjalannya pemilu dengan damai dan telah ditetapkannya Presiden dan Wakil Presiden yang baru, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo Jawa Tengah menggelar doa bersama dan pengajian akbar di halaman kantor PCNU pada Sabtu (13/7) malam.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin dijadwalkan akan hadir. “Sudah kami sudah melayangkan undangan kepada Kyai Ma’ruf Amin, tapi memang belum ada konfirmasi kedatangan. Meski demikian kami berharap beliau bisa datang,” jelas Ketua PCNU Solo, Mashuri pada acara jumpa pers di Kantor PCNU Solo, Sabtu (12/7) siang.

Ia menambahkan, kegiatan pengajian akbar sendiri akan dikemas dalam bentuk doa bersama dan taushiyah yang akan diisi Ulama dari Sarang, Rembang yang juga Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zubair serta KH Ahmad Muwafiq dari Sleman, Jogjakarta. Selain itu, juga akan menampilkan Ki Ageng Ganjur Zastrow Al-Ngatawi dan Hadrah Bintang Songo.

Pengajian akbar tersebut akan diikuti sekitar 3.000 jamaah dari wilayah Solo Raya dan sejumlah daerah perbatasan lainnya, seperti Ngawi, Madiun, Maagetan, Ponorogo, Prambanan, Salatiga dan Semarang. “Beberapa tokoh lintas agama, tokoh masyarakat juga akan hadir. Untuk undangan VVIP yang sudah kami sebar untuk 200 orang,” imbuhnya.

Mashuri mengatakan, tujuan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tasyakuran pemilu damai dan terpilihnya Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf amin sebagai Wakil Presiden 2019-2024.

“Selain itu, juga sebagai implementasi peran jamiyah NU sebagai organisasi keulamaan yang akan terus menjaga peradaban, memelihara nilai-nilai keseimbangan, menjaga NKRI yang aman, damai, dan tenteram,” ujarnya.

Ditambahkan Ketua Panitia Pengajian Akbar, Nur Cholish. Selain merupakan tradisi Indonesia tasyakuran juga merupakan bagian dari ajaran agama Islam dalam hal bersyukur kepada Alla SWT. “Karena itu, tradisi yang baik itu kami pertahankan, salah satunya melalui pengajian akbar ini,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG