IMG-LOGO
Daerah

Cara Agar Terhindar dari Kerugian

Sabtu 13 Juli 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Cara Agar Terhindar dari Kerugian
Jamaah di masjid Dusun Grindang Yogyakarta.
Yogyakarta, NU Online
Jamaah Masjid Jami' Dusun Grindang, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta kembali mengadakan Yasinan, Kamis (12/7) malam. Yasinan kali ini turut dihadiri puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut.

Yasinan dipimpin oleh Kiai Usup. Dirinya menerangkan bahwa orang yang merugi adalah orang tidak tambah ilmunya.

"Menurut orang Jawa ada hari disebut hari naas yang berarti hari sial. Menurut agama Islam juga ada hari naas, yaitu hari di mana seseorang tidak tambah ilmunya," terang kiai Ucup.

Itulah sebabnya thalabul 'ilmi atau mencari ilmu yang mana mengikuti jejak Rasulullah itu hukumnya faridah yang berarti wajib. Selai itu menuntut ilmu itu merupakan sebuah ibadah.

"Seseorang yang memiliki ilmu maka dapat ber-hablu minallah dan hablu minannas. Yaitu berhubungan dengan Allah dan manusia. Seperti disebutkan dalam Al-Qur'an yang berarti 'Sembahlah Allah, dan jangan sekali-kali kamu menyekutukan Allah," jelasnya.

Selanjutnya, dengan ilmu seseorang dapat berbuat baik kepada kedua orang tua. Dimana ridha orang tua menjadi  ridha Allah. Sebagai anak yang memiliki ilmu harus berbuat baik kepada kedua orang tua, berdoa untuk orang tua dan jangan sekali-kali menyakiti hati orang tua.

Ada sebuah kisah, kata Kiai Ucup, bahwa ada seorang anak yang meminta izin kepada orang tua untuk pergi ke Makkah melakukan ibadah haji. Namun, orang tua itu merasa keberatan ditinggal oleh anaknya dan tidak rela anaknya pergi. Anak tersebut tetap pergi ke Makkah.

Lalu di sebuah tempat terjadi pencurian yang dilakukan saat si anak tersebut sedang melakukan shalat di masjid. Si pencuri itu masuk ke masjid lalu keluar melalui jendela. Naas warga menganggap bahwa si anak tersebutlah pencurinya, sehingga ia dikeroyok sampai babak belur.

"Kemudian si anak pulang ke rumah orang tuanya, namun si orang tua tidak mengenali orang yang babak belur yang berada didepannya. Na'udzubillah," tutur Kiai Ucup.

Menurut Kiai Ucup, dari penggalan cerita tersebut pada intinya kita harus benar-benar takdim kepada orang tua, sehingga kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik. "Jangan membangkang, sudah nurut saja kepada orang tua," cetusnya.

Hal kedua, berbuat baik kepada saudara. Kita hidup di dunia saling bersaudara. Kita harus saling membantu, gotong royong dan menghormati antarsaudara.

"Jangan sampai memusuhi saudara, bangun komunikasi yang harmonis," ajaknya.

Yang ketiga berbuat baik kepada anak yatim. Hendaknya kita berbuat baik kepada anak yatim, sebab mereka sudah tidak memiliki orang tua lagi dan berbuat baik kepada anak yatim akan mendapatkan pahala yang baik.

"Anak yatim merupakan orang yang harus kita bantu dan jangan sampai dibuat menderita, karena doanya mustajab," tandasnya.

Sementara itu, Linatul Hikmah salah satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang mengikuti KKN di desa tersebut sangat mengapresiasi dengan terlaksana kegiatan serupa. Menurutnya, hal tersebut dapat menumbuhkan kekompakan warga.

"Kami sebagai pendatang sementara sangat senang mengikuti kegiatan tersebut dan sangat mengapresiasi, karena warga di sini ramah-ramah dan kompak," tuturnya.

Lina yang juga anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berharap supaya kegiatan Yasinan dapat berjalan terus, karena selain mendoakan para pendahulu yang sudah meninggal juga dapat belajar.

"Harapannya kegiatan tersebut dapat berjalan terus. Apalagi dalam kesempatan tersebut kiai yang memimpin Yasinan selalu memberikan tausiyah, jadi dapat double pahalanya," harapnya. (Wahyu Akanam/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 13 Juli 2019 23:30 WIB
Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'
Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'
Pengajian santri putri Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Sabtu (13/7) petang.
Kota Banjar,  NU Online
Rasa malas yang menimpa manusia merupakan musibah paling besar. Pasalnya dengan datangnya rasa malas semua rencana akan menjadi gagal.  Lalu bagaimanakan cara menghilangkan rasa malas? 
 
"Dalam kitab Ta'limul Muta'alim karya Syekh Al-Jarnuzi halaman 27 diterangkan bahwa rasa malas berasal dari banyaknya dahak dalam tubuh. Dahak berasal dari banyaknya makan dan minum," papar Gus Muhammad Basithurijal dalam pengajian rutin bersama santri putri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar, Jawa Barat, Sabtu (13/7) petang.

Dalam pengajian tersebut, Gus Rijal juga mengatakan bahwa dengan banyaknya makan dan minum, maka akan menambah banyak dahak. Maka cara menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengurangi makan dan minum.  

"Ulama zaman dahulu sering sekali menyedikitkan makan dengan cara berpuasa," katanya.  

Namun, masih kata Gus Rijal, jika dengan berpuasa akan menambah rasa malas dalam belajar atau melakukan ibadah yang lain maka makanlah secukupnya dan rajinlah dalam belajar dan beribadah.
  
Ia mengatakan bahwa kambing akan lebih mulia daripada manusia, jika manusia banyak makan dan malas bekerja. Berbeda dengan kambing yang gemuk akibat banyak makan itu akan menambah mahal jika dijual.
  
Hal lain untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengonsumsi roti kering dan anggur kering. Tetapi karena harga anggur kering yang tidak bisa dijangkau oleh para santri maka lebih baik dengan makan roti kering.
  
Selain itu cara yang terakhir untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan bersiwak.  Selain dianjurkan dalam bersiwak, manfaat bersiwak yaitu akan mempertajam hafalan dan menambah fasih bacaan.  

"Shalat satu rakaat dengan bersiwak sama dengan shalat tujuh puluh lima kali tanpa bersiwak," ujarnya menyebutkan salah satu fadhilah siwak. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)
Sabtu 13 Juli 2019 22:0 WIB
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Pertemuan mahasiswa STAN dengan PCNU Tangsel.
Tangerang Selatan, NU Online
Awal Juli 2019 kemarin Nahdliyin Politeknik Keuangan Nengeri Sekolah Tinggi Akutansi Negara (PKN STAN) mengundang PCNU Tangerang Selatan untuk membicarakan kelanjutan program Madrasah Kader NU. Program ini merupakan upaya Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Al Iman) untuk meneguhkan ideologi Ahlussunah wal Jamaah sekaligus membendung adanya pemahaman aliran intoleran seperti HTI di lingkungan PKN STAN. 

KH Muhammad Thohir selaku Ketua PCNU Tangsel menegaskan bahwa pemikiran jalan tengah yang diambil NU selama ini adalah upaya menjaga NKRI dari paham transnasional yang dapat memecah belah bangsa.

"Madrasah Kader NU (MKNU) ini adalah salah satu program PBNU yang dirancang untuk membentengi NKRI dari paham HTI. Sekaligus untuk menyebarkan paham Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah sebagai langkah moderat untuk mewujudkan perdamaian di Nusantara dan dunia," katanya.

MKNU yang digawangi oleh PBNU selama ini sudah berjalan empat tahun belakangan sejak tahun 2015 dan sudah digelar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

"Saya harap para peserta nantinya bisa mengikuti MKNU dengan disiplin dan selalu hadir dalam setiap penyampaian materi oleh narasumber. Karena program ini merupakan satu rangkaian utuh yang tidak bisa dipisahkan. Itu adalah syarat mutlak jika peserta ingin mendapatkan sertifikat," tambahnya. 

Senada, Ustadz Subkhan yang juga sesepuh sekaligus Ketua Al Iman masa khidmat 2017-2020 sepakat untuk mengakomodir pemikiran NU di lingkungan Nahdliyin PKN STAN. Kaderisasi ini penting mengingat paham-paham yang berseberangan dengan Aswaja Annahdliyah sudah mulai menjamur di mana-mana.

"Kami berharap mahasiswa Nahdliyin dan alumni dapat berpartisipasi dalam MKNU ini sebagai bentuk ikhtiar thalabul 'ilmi dan upaya merajut silaturahim dengan PBNU," ungkap ustadz yang baru saja menyelesaikan program doktor di Internasional Islamic University Malaysia ini.

Rencananya, MKNU khusus mahasiswa dan Nahdliyin PKN STAN ini akan diikuti oleh 70 peserta dan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 6-8 September 2019 bertempat di Omah Ngaji Al Fath Iman, Kompleks Pajak Tangerang Selatan. (Bagus Rosyid/Kendi Setiawan)
Sabtu 13 Juli 2019 20:0 WIB
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
PCNU Solo, Jateng gelar doa bersama
Solo, NU Online
Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas berjalannya pemilu dengan damai dan telah ditetapkannya Presiden dan Wakil Presiden yang baru, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo Jawa Tengah menggelar doa bersama dan pengajian akbar di halaman kantor PCNU pada Sabtu (13/7) malam.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin dijadwalkan akan hadir. “Sudah kami sudah melayangkan undangan kepada Kyai Ma’ruf Amin, tapi memang belum ada konfirmasi kedatangan. Meski demikian kami berharap beliau bisa datang,” jelas Ketua PCNU Solo, Mashuri pada acara jumpa pers di Kantor PCNU Solo, Sabtu (12/7) siang.

Ia menambahkan, kegiatan pengajian akbar sendiri akan dikemas dalam bentuk doa bersama dan taushiyah yang akan diisi Ulama dari Sarang, Rembang yang juga Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zubair serta KH Ahmad Muwafiq dari Sleman, Jogjakarta. Selain itu, juga akan menampilkan Ki Ageng Ganjur Zastrow Al-Ngatawi dan Hadrah Bintang Songo.

Pengajian akbar tersebut akan diikuti sekitar 3.000 jamaah dari wilayah Solo Raya dan sejumlah daerah perbatasan lainnya, seperti Ngawi, Madiun, Maagetan, Ponorogo, Prambanan, Salatiga dan Semarang. “Beberapa tokoh lintas agama, tokoh masyarakat juga akan hadir. Untuk undangan VVIP yang sudah kami sebar untuk 200 orang,” imbuhnya.

Mashuri mengatakan, tujuan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tasyakuran pemilu damai dan terpilihnya Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf amin sebagai Wakil Presiden 2019-2024.

“Selain itu, juga sebagai implementasi peran jamiyah NU sebagai organisasi keulamaan yang akan terus menjaga peradaban, memelihara nilai-nilai keseimbangan, menjaga NKRI yang aman, damai, dan tenteram,” ujarnya.

Ditambahkan Ketua Panitia Pengajian Akbar, Nur Cholish. Selain merupakan tradisi Indonesia tasyakuran juga merupakan bagian dari ajaran agama Islam dalam hal bersyukur kepada Alla SWT. “Karena itu, tradisi yang baik itu kami pertahankan, salah satunya melalui pengajian akbar ini,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG