IMG-LOGO
Daerah

Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'

Sabtu 13 Juli 2019 23:30 WIB
Bagikan:
Cara Hilangkan Kemalasan Menurut 'Ta'lim Muta'alim'
Pengajian santri putri Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Sabtu (13/7) petang.
Kota Banjar,  NU Online
Rasa malas yang menimpa manusia merupakan musibah paling besar. Pasalnya dengan datangnya rasa malas semua rencana akan menjadi gagal.  Lalu bagaimanakan cara menghilangkan rasa malas? 
 
"Dalam kitab Ta'limul Muta'alim karya Syekh Al-Jarnuzi halaman 27 diterangkan bahwa rasa malas berasal dari banyaknya dahak dalam tubuh. Dahak berasal dari banyaknya makan dan minum," papar Gus Muhammad Basithurijal dalam pengajian rutin bersama santri putri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar, Jawa Barat, Sabtu (13/7) petang.

Dalam pengajian tersebut, Gus Rijal juga mengatakan bahwa dengan banyaknya makan dan minum, maka akan menambah banyak dahak. Maka cara menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengurangi makan dan minum.  

"Ulama zaman dahulu sering sekali menyedikitkan makan dengan cara berpuasa," katanya.  

Namun, masih kata Gus Rijal, jika dengan berpuasa akan menambah rasa malas dalam belajar atau melakukan ibadah yang lain maka makanlah secukupnya dan rajinlah dalam belajar dan beribadah.
  
Ia mengatakan bahwa kambing akan lebih mulia daripada manusia, jika manusia banyak makan dan malas bekerja. Berbeda dengan kambing yang gemuk akibat banyak makan itu akan menambah mahal jika dijual.
  
Hal lain untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan mengonsumsi roti kering dan anggur kering. Tetapi karena harga anggur kering yang tidak bisa dijangkau oleh para santri maka lebih baik dengan makan roti kering.
  
Selain itu cara yang terakhir untuk menghilangkan rasa malas yaitu dengan bersiwak.  Selain dianjurkan dalam bersiwak, manfaat bersiwak yaitu akan mempertajam hafalan dan menambah fasih bacaan.  

"Shalat satu rakaat dengan bersiwak sama dengan shalat tujuh puluh lima kali tanpa bersiwak," ujarnya menyebutkan salah satu fadhilah siwak. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 13 Juli 2019 22:0 WIB
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Nahdliyin Muda STAN Rencanakan Ikuti Madrasah Kader NU
Pertemuan mahasiswa STAN dengan PCNU Tangsel.
Tangerang Selatan, NU Online
Awal Juli 2019 kemarin Nahdliyin Politeknik Keuangan Nengeri Sekolah Tinggi Akutansi Negara (PKN STAN) mengundang PCNU Tangerang Selatan untuk membicarakan kelanjutan program Madrasah Kader NU. Program ini merupakan upaya Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Al Iman) untuk meneguhkan ideologi Ahlussunah wal Jamaah sekaligus membendung adanya pemahaman aliran intoleran seperti HTI di lingkungan PKN STAN. 

KH Muhammad Thohir selaku Ketua PCNU Tangsel menegaskan bahwa pemikiran jalan tengah yang diambil NU selama ini adalah upaya menjaga NKRI dari paham transnasional yang dapat memecah belah bangsa.

"Madrasah Kader NU (MKNU) ini adalah salah satu program PBNU yang dirancang untuk membentengi NKRI dari paham HTI. Sekaligus untuk menyebarkan paham Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah sebagai langkah moderat untuk mewujudkan perdamaian di Nusantara dan dunia," katanya.

MKNU yang digawangi oleh PBNU selama ini sudah berjalan empat tahun belakangan sejak tahun 2015 dan sudah digelar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

"Saya harap para peserta nantinya bisa mengikuti MKNU dengan disiplin dan selalu hadir dalam setiap penyampaian materi oleh narasumber. Karena program ini merupakan satu rangkaian utuh yang tidak bisa dipisahkan. Itu adalah syarat mutlak jika peserta ingin mendapatkan sertifikat," tambahnya. 

Senada, Ustadz Subkhan yang juga sesepuh sekaligus Ketua Al Iman masa khidmat 2017-2020 sepakat untuk mengakomodir pemikiran NU di lingkungan Nahdliyin PKN STAN. Kaderisasi ini penting mengingat paham-paham yang berseberangan dengan Aswaja Annahdliyah sudah mulai menjamur di mana-mana.

"Kami berharap mahasiswa Nahdliyin dan alumni dapat berpartisipasi dalam MKNU ini sebagai bentuk ikhtiar thalabul 'ilmi dan upaya merajut silaturahim dengan PBNU," ungkap ustadz yang baru saja menyelesaikan program doktor di Internasional Islamic University Malaysia ini.

Rencananya, MKNU khusus mahasiswa dan Nahdliyin PKN STAN ini akan diikuti oleh 70 peserta dan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 6-8 September 2019 bertempat di Omah Ngaji Al Fath Iman, Kompleks Pajak Tangerang Selatan. (Bagus Rosyid/Kendi Setiawan)
Sabtu 13 Juli 2019 20:0 WIB
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
Doakan Indonesia Damai, NU Solo Gelar Doa Bersama
PCNU Solo, Jateng gelar doa bersama
Solo, NU Online
Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas berjalannya pemilu dengan damai dan telah ditetapkannya Presiden dan Wakil Presiden yang baru, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Solo Jawa Tengah menggelar doa bersama dan pengajian akbar di halaman kantor PCNU pada Sabtu (13/7) malam.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin dijadwalkan akan hadir. “Sudah kami sudah melayangkan undangan kepada Kyai Ma’ruf Amin, tapi memang belum ada konfirmasi kedatangan. Meski demikian kami berharap beliau bisa datang,” jelas Ketua PCNU Solo, Mashuri pada acara jumpa pers di Kantor PCNU Solo, Sabtu (12/7) siang.

Ia menambahkan, kegiatan pengajian akbar sendiri akan dikemas dalam bentuk doa bersama dan taushiyah yang akan diisi Ulama dari Sarang, Rembang yang juga Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zubair serta KH Ahmad Muwafiq dari Sleman, Jogjakarta. Selain itu, juga akan menampilkan Ki Ageng Ganjur Zastrow Al-Ngatawi dan Hadrah Bintang Songo.

Pengajian akbar tersebut akan diikuti sekitar 3.000 jamaah dari wilayah Solo Raya dan sejumlah daerah perbatasan lainnya, seperti Ngawi, Madiun, Maagetan, Ponorogo, Prambanan, Salatiga dan Semarang. “Beberapa tokoh lintas agama, tokoh masyarakat juga akan hadir. Untuk undangan VVIP yang sudah kami sebar untuk 200 orang,” imbuhnya.

Mashuri mengatakan, tujuan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tasyakuran pemilu damai dan terpilihnya Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf amin sebagai Wakil Presiden 2019-2024.

“Selain itu, juga sebagai implementasi peran jamiyah NU sebagai organisasi keulamaan yang akan terus menjaga peradaban, memelihara nilai-nilai keseimbangan, menjaga NKRI yang aman, damai, dan tenteram,” ujarnya.

Ditambahkan Ketua Panitia Pengajian Akbar, Nur Cholish. Selain merupakan tradisi Indonesia tasyakuran juga merupakan bagian dari ajaran agama Islam dalam hal bersyukur kepada Alla SWT. “Karena itu, tradisi yang baik itu kami pertahankan, salah satunya melalui pengajian akbar ini,” imbuhnya. (Ajie Najmuddin/Muiz)

Sabtu 13 Juli 2019 14:0 WIB
Tiga Hal Agar Ibadah Diterima Allah
Tiga Hal Agar Ibadah Diterima Allah

Jember, NU Online
Ketua Pengurus Cabang LDNU Kabupaten Jember, KH Mustain Billah menegaskan pentingnya ibadah harus terus-menerus dilakukan oleh manusia, lebih-lebih ibadah wajib. Sebab ibadah mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi stabilitas temperatur bathin. Jika kondisi bathin sudah stabil, aman dan damai, maka hidup akan terasa nikmat dan menyenangkan. Sebaliknya jika kondisi bathin galau, resah dan sebagainya, maka kehidupan akan terasa hampa, bahkan menyiksa.

“Nyatanya, tidak sedikit orang yang tidak tenang meskipun dia sudah melakukan ibadah. Itu bisa jadi ibadahnya tidak diterima oleh Allah,” ucapnya saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Pengurus dan Anggota Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember di gedung Kauje Univeritas Jember, Jumat (12/7).

Menurut Kiai Mustain, dalam beribadah manusia tidak perlu memikirkan apakah ibadahnya diterima atau tidak. Yang terpenting adalah dalam melakukan ibadah harus dipenuhi syarat dan rukun agar ibadahnya sah.

“Kewajiban manusia adalah melaksanakan ibadah yang sah, shalat misalnya, agar sah secara fiqh. Itu saja. Soal apakah ibadah kita diterima oleh Allah itu urusan Allah. Tapi setidaknya kalau sudah sah, logikanya diterima,” urainya.

Kiai Mustain lalu menjelaskan kriteria diterimanya ibadah setidaknya jika memenuhi tiga hal. Pertama adalah niat. Niat wajib karena tanpa niat maka ibadah tidak sah dan tidak menghasilkan pahala. Jika ibadah wajib, maka orang yang melakukan ibadah tanpa niat, dianggap belum melaksanakan kewajiban sehingga dia berdosa.

“Nabi bersabda, Sesungguhnya amalan umatku bergantung pada niatnya,” tukasnya.

Kedua, kaifiyat. Yaitu tatacara melakukan ibadah. Setiap ibadah ada tatacaranya, dan yang menentukan adalah Allah. Misalnya shalat, puasa, zakat dan sebagainya ada tatacaranya. Jika manusia melaksakan ibadah sesuai dengan tuntunan (tatacara) yang disyariatkan, maka ibadahnya sah, dan diterima oleh Allah.

“Ibadah ada tatacaanya, misalnya shalat harus dimulai dengan niat, lalu takbiratul ihrom, dan seterusnya, yang ditutup dengan salam,” urainya.

Ketiga adalah ghoyat, tujuan akhir. Di point ketiga ini manusia perlu memantapkan hati bahwa ibadah yang dilakukannya hanya untuk mencari ridlo Allah. Bukan yang lain, misalnya ingin mendapat surga.

“Jadi beribadah itu benar-benar harus ikhlas untuk mencari ridlo Allah. Ridlo Allah adalah  kenikmatan terbesar manusia, melebihi segala-galanya,” pungkasnya. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG