IMG-LOGO
Daerah

Kaderisasi di NU Hendaknya Dimulai dari IPNU dan IPPNU

Ahad 14 Juli 2019 20:30 WIB
Kaderisasi di NU Hendaknya Dimulai dari IPNU dan IPPNU
Instruktur, panitia dan peserta Pelatihan Fasilitator PAC IPNU-IPPNU Turi, Lamongan.
Lamongan, NU Online
Kaderisasi merupakan ruh dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Untuk memastikan hal tersebut, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Turi, Lamongan, Jawa Timur melakukan penguatan kapasitas kader melalui Pelatihan Fasilitator (Latfas), Ahad (14/7).

“Kegiatan  ini diikuti Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat se-Anak Cabang Turi dengan diikuti sekitar 43 peserta,” kata Agung Prasetio kepada media ini. 

Menurut Ketua PAC IPNU Turi tersebut, pelatihan diadakan untuk memberikan pembekalan public speaking atau komunikasi lisan kepada kader agar memiliki kesiapan menjadi pemateri atau fasilitator.

“Kami mengharapkan peserta dapat mengikuti kegiatan secara maksimal dan mampu mendalami materi-materi yang akan disampaikan para narasumber,” ungkapnya. 

Sehingga dengan adanya kegiatan ini, para pengurus dan kader yang ikut pelatihan bisa menjadi ujung tombak pengkaderan IPNU-IPPNU di Kecamatan Turi. “Bahkan hingga ke tingkatan ranting dan sekolah, khususnya dalam kegiatan masa orientasi pelajar (MOP), Masa Kesetiaan Anggota atau Makesta, hingga Lakmud atau Latihan Kader Muda,” jelas Agung. 

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Turi, H Sunhaji mengatakan, IPNU dan IPPNU merupakan harapan besar bagi generasi NU mendatang. 

Menurutnya, kedua badan otonom ini harus di garda depan dalam proses kaderisasi. ”IPNU dan IPPNU adalah gerbang awal atau pintu pertama kaderisasi di NU,” ujarnya usai membuka Latfas.

Arif Syaifuddin yang memberikan materi dalam Latfas membeberkan pengalamannya. "Dulu di tahun 2005 ketika saya di posisi kalian, saya pernah bertekad, suatu saat saya akan berada di posisi Anda sebagai pemateri, dan alhamdulillah di tahun 2010 saya mampu untuk mewujudkannya," kata Ketua PAC IPNU Turi masa khidmah 2006 hingga 2008 tersebut.

Menurutnya, dulu butuh 5 tahun untuk mewujudkan harapan itu. "Di zaman sekarang dengan segala kemudahan yang ada, kalian mungkin hanya butuh 5 hari untuk mewujudkan hal yang sama," imbuhnya.

Dirinya juga berpesan kepada peserta agar selalu meningkatkan kemampuan public speaking. "Ketika gagal jangan berhenti, namun mencoba lagi, lagi, dan lagi," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
IMG
IMG