IMG-LOGO
Nasional

Hari Ini Matahari Tepat di Atas Ka’bah, Saatnya Periksa Ulang Arah Kiblat


Senin 15 Juli 2019 14:15 WIB
Bagikan:
Hari Ini Matahari Tepat di Atas Ka’bah, Saatnya Periksa Ulang Arah Kiblat
Jakarta, NU Online
Menghadap kiblat menjadi salah satu syarat shalat. Tak sedikit cara agar dapat menghadap Ka’bah sebagai kiblat umat Islam dengan tepat. Salah satunya yang paling mudah diterapkan secara alami oleh Muslim di Indonesia adalah saat matahari tepat di atas Ka’bah yang terjadi pada hari ini, Senin (15/7) dan Selasa (16/7) pada pukul 16.27 WIB.
 
Pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) Ma'rufin Sudibyo menjelaskan bahwa matahari mengalami gerak semu tahunan, yakni gerak seolah-olah matahari dalam satu tahun Miladiyah seiring pergerakan Bumi mengelilingi matahari yang ditunjang juga oleh miringnya sumbu rotasi bumi.

“Gerak semu tahunan itu akan nampak jelas bilamana kita catat kedudukan matahari, yakni tinggi dan azimutnya setiap hari pada jam yang sama, misalnya jam 10 WIB, lalu digambarkan dalam peta langit. Dari situ akan terlihat kedudukan matahari yang berubah-ubah dari utara ke selatan dan sebaliknya yang membentuk kurva analemma,” katanya kepada NU Online pada Senin (15/7).

Akibat gerak semu tahunannya, jelasnya, maka dapat diperkirakan tiap tanggal 27 atau 28 Mei serta tiap tanggal 15 atau 16 Juli setiap tahun Miladiyah akan terjadi situasi dimana deklinasi matahari (yakni +21º 25') akan tepat senilai dengan lintang Ka'bah (yakni 21º 25' LU). Maka pada saat istiwa' di Makkah terjadi, matahari akan tepat menempati titik zenith Ka'bah.

Ma’rufin menjelaskan bahwa saat matahari berkedudukan tepat di atas Ka'bah, maka setiap benda apapun yang terpasang tegak lurus permukaan air rata-rata di Ka'bah, sementara di kota Makkah secara umum akan kehilangan bayangannya selama istiwa' terjadi.

“Sebaliknya  setiap benda yang sama namun berlokasi di tempat lain yang berjarak sangat jauh dari Ka'bah (misalnya 1.000 km atau lebih) akan memiliki  bayang-bayang benda dengan arah tepat sejajar terhadap arah ke Ka'bah. Inilah yang mendasari rashdul qiblat,” ungkap astronom asal Kebumen, Jawa Tengah itu.

Lebih lanjut, Ma’rufin mengungkapkan bahwa secara teoritis, dengan matahari merupakan benda langit berbentuk cakram yang diameternya 0,5º maka untuk bulan Juli 2019 ini rashdul qiblat sebenarnya terjadi selama empat hari berturut-turut, yakni mulai Ahad hingga Rabu, 14 - 17 Juli 2019. Jamnya tetap sama, yakni pukul 12:27 waktu Saudi Arabia atau 16:27 WIB.

Sebab, jelasnya, sebagai cakram bercahaya, maka berkas sinar matahari yang tiba di bumi tak dapat dibedakan apakah berasal dari pusat cakram ataupun tepian cakram yang terlihat dari bumi. Maka, lanjutnya, frasa matahari di atas Ka'bah adalah saat segenap bagian atau bagian-bagian cakram matahari berimpit dengan titik zenit Ka'bah. “Dan itu terjadi pada Ahad hingga Rabu, 14 hingga 17 Juli 2019,” jelasnya. (Syakir NFAbdulllah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG