IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Pesan Kebangsaan dari Alumni STAN


Selasa 16 Juli 2019 17:00 WIB
Bagikan:
Pesan Kebangsaan dari Alumni STAN
Halal bi halal mahasiswa NU STAN
Tangsel, NU Online
Bertempat di Omah Ngaji Al Fath Iman Komplek Pajak Jurangmangu Timur, Tangerang Selatan, Sabtu (13/7) Ikatan Mahasiswa Nahdliyin Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Al Iman PKN STAN) mengadakan halal bi halal.

Kegiatan untuk menjalin silaturahim sesama para alumni ini merupakan agenda rutin tahunan yang selalu dilaksanakan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah alumni di lingkungan PKN STAN yang sudah tersebar di penjuru Nusantara.

Ustadz Subhan sebagai pemimpin gerbong Al Iman masa khidmat 2017-2020 memberikan arahan bahwa sebagai seorang Muslim dengan paham Aswaja Annahdliyah kita harus siap dengan tuntutan perubahan zaman. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang mau tidak mau kita harus bersiap-siap menjemput kebangkitan umat.

"Kita di Jakarta jangan disamakan dengan kondisi di Jatim, Jateng. Ayo kita berani bangkit bareng. Ndak bisa kita hanya diam saja. Ayo sokong bareng-bareng," kata doktor lulusan International Islamic University Malaysia ini.

"Satu saja kita nglilir (bangun, red), kita bisa membangunkan yang lain. Menurut saya itu sudah luar biasa. Bagaimana kalau nglilirnya bareng-bareng? Pasti kekuatannya yang bangkit sangat besar," tambah sosok berkacamata itu.

Sedangkan Ustadz HM Dawud Arif Khan yang hadir sebagai sesepuh sekaligus pendiri Iman tahun 1991 lebih menekankan pada gerakan sosial yang dibangun salafus shaleh. Bagaimana Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya langsung mempraktikkan akhlak sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

"Kita pengennya punya pemimpin hebat seperti sahabat Nabi, tapi warganya tidak mencontoh perilaku sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin. Bagaimana bisa? Perbaikilah diri kita dulu dong," ungkapnya berapi-api.

Menurut sesepuh instruktur pelatihan DSN MUI ini, Rasulallah Saw adalah contoh paling bagus untuk mengambil ilmu. Sebab semua akhlaknya adalah ilmu.

"Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya. Bisa gak kita seperti itu? Kalau level Nabi malah lebih tingggi. Beliau membalas orang yang menyakitinya dengan kebaikan," ungkap Ustadz Dawud mengutip QS Ali Imron 134.

"Coba bayangkan, ada orang yang sering mencaci maki Nabi, tapi ketika ia sakit orang pertama yang menjenguknya adalah nabi. Orang itu seringkali meludahi nabi, eh yang menyuapi makanan dia tiap hari adalah Nabi Muhammad," tambahnya.

Jika bangsa Indonesia bisa mengubah level masyarakatnya seperti ini, kata Ustadz Dawud, pasti jadi bangsa yang besar.

Wakil Rektor II Institut Ilmu Qur'an (IIQ Jakarta) periode 2015-2018 ini kemudian mengungkapkan bahwa dosa yang diampuni di bulan Ramadhan adalah habluminallah. Sedangkan habluminnas tidak selesai kalau orang yang bersalah tidak saling memaafkan. Untuk itulah pentingnya halal bihalal, bermaaf-maafan.

Acara lalu ditutup Ustadz Dawud dengan doa dilanjutkan dengan ramah tamah dan membaca shalawat bersama. (Bagus Rosyid/Kendi Setiawan)
Bagikan:
IMG
IMG