IMG-LOGO
Pesantren

Pesantren Darunnaja Pemandi, Pengemban NU di Bumi Raflesia

Selasa 16 Juli 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Pesantren Darunnaja Pemandi, Pengemban NU di Bumi Raflesia
Pesantren Darunnaja Pemandi, Bengkulu Utara.
Pesantren lahir atas dasar kewajiban dakwah islamiah, sekaligus tempat untuk mencetak generasi muda yang berilmu dan berakhlakul karimah. Sehingga, pesantren diharapkan dapat mencetak santri yang mempunyai dasar dan kemampuan spiritual yang berpegang teguh pada Al-Qu'ran dan hadits, yang kemudian dilanjutkan pada kajian kitab-kitab salaf.

Nahdlatul Ulama (NU), memiliki hubungan erat dengan pondok pesantren. Terbukti, begitu banyak pesantren di Indonesia ini, ber-asbabul wurud-kan para kiai, santri-santri kalangan Nahdlatul Ulama. Bukan rahasia umum lagi, bahwa NU terlahir dari kalangan orang-orang pesantren: Hadratussyekh KH Hasim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Samsuri, KH Abas dan ulama sepuh pendiri NU lainnya. Dengan kata lain NU dan pesantren adalah ikatan yang sangat sulit untuk dipisahkan.

Secara literatur, kajian, amaliah dan akidah-akidah yang diterapkan NU sangat tepat, lentur, serta dapat diterima di berbagai kalangan di Indonesia. Tak heran jika NU mendominasi di seluruh penjuru Indonesia: perkotaan maupun pelosok desa sekalipun. Ciri khas NU yang selalu mengedepankan sikap tawassuth wal i'tidal (tengah-tengah dan keseimbangan) inilah yang menjadikan NU diikuti oleh masyarakat.

Dari sikap inilah kemudian NU membopong moto besar dalam dakwah 'Mempertahankan budaya lama yang masih baik dan menerima yang baru yang lebih baik'. Dengan kata lain, NU menyampaikan ajaran Islam menurut apa adannya (obyektif), mengemukan fakta-fakta tanpa ada usur-unsur memaksa untuk diterima atau diakui. 

Berbicara perkembangan NU di wilayah Jawa dan sekitarnya, tentu kita tidak terheran lagi. Sisi jamiyah dan jamaahnya telah tersusun dan berkeyakinan kuat tentang NU, terlebih di daerah Jawa Timur yang merupakan basis masa NU terbesar di Wilayah Jawa. Lain halnya jika bericara NU di daerah Sumatera khususnya Bengkulu, menjadi hal asing pastinya. Apa itu NU? Bagaimana kiprah NU? Menjadi pertanyaan yang menggelayut di benak masyarakat Bengkulu. 

Provinsi Bengkulu, provinsi dengan maskot Bunga Raflesia merupakan provinsi berkembang dengan masyarakatnya yang majemuk. Penduduk asli dan transmigrasi berbaur menjadi satu dengan adat istiadat serta keyakinan yang beragam pula. Sulit-sulit gampang menebar NU di wilayah ini. Masyarakat yang masih tergolong awam terkadang acuh dengan perkembangan Islam. Pesantren yang menjadi metode jitu ulama-ulama NU untuk dakwah islamiah pun masih dipandang sebelah mata keberadaannya.   

Pesantren Darunnaja adalah salah satu pondok pesantren besar di Provinsi Bengkulu. Berlokasi di Jalan Lintas Barat Km 77, Pemandi, Uray, Ketahun, Bengkulu Utara. Dengan kesederhanaannya, pondok pesantren Darunnaja selalu melakukan pembenahan dan perkembangan untuk menjawab tantangan dunia yang semakin berubah-ubah dan selalu memegang teguh ajaran akidah Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama. Secara kelembagaan Pondok Pesantren Darunnaja berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darunnaja sejak 1 Muharram 1420 H bertepatan dengan 17 April 1999, dengan Akta Notaris H Epison, SH No 26 tanggal 12 Maret 2001.




Sejauh ini, Pesantren Darunnaja telah melakukan perkembangan pendidikan di berbagai bidang, baik formal maupun nonformal. Pendidikan formal meliputi Madrasah Ibtida’yah Darunnaja, MTs Darunnaja, MA Darunnaja. Sedangkan pendidikan nonformal meliputi Madrasah Diniyah Takmiliyah Darunnaja, Pondok Sepuh Tarekat Naqsabandiyyah al Kholidiyyah, Pengajian Wetonan dan sorogan.

Selain itu, Pesantren Darunnaja juga membekali santri-santri dengan keilmuan dan keahlian lainnya, di antaranya Pramuka, komputer, Seni Baca Al-Qur'an, seni kaligrafi, seni hadrah, beladiri (pencak silat), jurnalistik. Pesantren Darunnaja juga memiliki beberapa unit penunjang, di antarannya Kopontren, Poskestren, LM3, Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa, dan perpustakaan. 

Pesantren yang berdiri di tanah seluas kurang lebih 35.000 meter persegi ini, didirikan oleh almaghfurllah KH Ali Luqman Khusnan. Pesantren ini diharapkan mampu untuk mengobarkan NU di Bumi Raflesia. Dengan keyakinan yang gigih dari para pendiri dan asatidz Pesantren Darunnaja serta doa yang tak pernah putus, pesantren ini terus membangun keyakinan serta kepercayaan masyarakat untuk mengemban perjuangan islamiah.

Saat ini tercatat 500 orang santri di Pesantren Darunnaja. Dari keseluruhan santri diharapkan dapat mengemban perjuangan dakwah islamiah kelak, menjadi kader-kader Nahdlatul Ulama yang berilmu serta berakhlakul karimah; membawa kemaslahatan bagi masyarakat, agama serta negara tercinta ini. (Mangun Kuncoro/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Selasa 5 Maret 2019 9:2 WIB
Darus Sholah, Pesantren Persemaian Seniman Kaligrafi
Darus Sholah, Pesantren Persemaian Seniman Kaligrafi
Madjid dengan kubah berwarna hijau berdiri kokoh Pondok Pesantren Darus Sholah

Jember, NU Online
Darus Sholah. Nama Pondok Pesantren yang satu ini, dikenal sebagai lembaga yang melahirkan banyak seniman kaligrafi. Pondok Pesantren yang terletak di Jalan Moh Yami Nomor 25, Kelurahan Tegalgesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini didirikan oleh KH Yusuf Muhammad (Gus Yus) tahun 1987. Semasa hidupnya, Gus Yus pernah menjabat sebagai Ketua MPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI.

Di bawah besutannya, Darus Sholah berkembang cukup pesat. Kendati saat itu ia menjadi anggota DPR RI yang harus bolak-balik  Jember-Jakarta, tapi Darus Shoah tetap terurus. Bahkan ia berhasil merintis berdirinya SMA Unggulan BPPT di pesantren tersebut. Sebuah lembaga  hasil kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Namun sayang, Gus Yus wafat lebih cepat. Ia meninggal dunia  saat pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Bandara Internasioanl Adi  Soemarmo, Solo (Desember 2004). Ketika itu, Gus Yus akan menghadiri Muktamar NU di Asrama Haji Donohudan, Solo. Meski pesawat itu hanya menabrak pagar pembatas bandara,  hingga moncongnya menjulur keluar, namun tetap  saja memakan korban, termasuk di antaranya Gus Yus.

Sejak awal Pondok Pesantren Darus Sholah memang ‘cinta’ kaligrafi. Hal itu bisa dilihat dari masuknya pelajaran kaligrafi di kurikulum  semua lembaga pendidikan formal mulai dari SD, SMP, SMA, dan Madrasah Aliyah.

“Jadi di situ, kaligrafi masuk muatan lokal,” tukas Ketua Pengurus  Pondok Pesantren Darus Sholah, M Hanif  Lutfi kepada NU Online di Jember, Senin (4/2).

Karena itu, tak heran jika Darus Sholah melahirkan banyak seniman kaligrafi berpresatasi mulai dari kelas  kabupaten hingga nasional, bahkan internasional. Beberapa nama seniman kaligrafi Darus Sholah yang telah berprestasi dalam 3 tahun terakhir, di antaranya, 1.  Reska Dian Alyagustin (juara 1 Nasional Kaligrafi Kontemporer di Kalimantan), 2. Abdullah Robeid Sholeh (juara 1 Kaligrafi Kontemporer Kabupaten Jember), 3. Intan Dwi Masrullah (juara 1 Kaligrafi Dekorasi antar Mahasiswa se-Jawa Timur dalam event MTQ Regional Mahasiswa), 4. Risvan Rohmatullah (juara 2 Kaligrafi Dekorasi se-Jawa Timur, event Pekan Arabi di Universitas Negeri  Malang), dan 5. Miftahul Jannah (juara 1 Kaligrafi Kolase se-Jawa Timur di Gresik).

Tidak sekedar masuk kurikulum, namun kaligrafi juga diajarkan di kelas ekstra, khususnya bagi santri yang masih ingin menambah ilmu soal tulisan indah  Arab itu.

“Selain membuka kelas ekstra, kami juga melayani kelas malam, tentu bagi mereka yang benar-benar  ingin paham soal kaligrafi,” timpal  pembina kaligrafi Darus Sholah, Ustadz Ahmad Jimly Ashari.

Kendati  kaligrafi mendapat perhatian sedemikian rupa, namun pesantren yang memiliki 1.100 santri itu tidak mengabaikan  pelajaran yang lain. Bahkan tak jarang siswanya meraih prestasi di bidang agama dan umum.

Kini Darus Sholah diasuh oleh Ning Hj. Rosydiah Yusuf (istri almarhum Gus Yus), dengan dibantu sejumlah santri senior. 

Walaupun persaingan saat ini cukup tajam, namun Darus Sholah tetap eksis dengan ciri khasnya. Darus Sholah tetap akan jadi persemaian seniman kaligrafi, yang siap mengorbit di percaturan nasional dan dunia. (Aryudi AR)


Rabu 13 Februari 2019 13:0 WIB
Alumni Pesantren Darurrohman Jadi Benteng NU di Masyarakat
Alumni Pesantren Darurrohman Jadi Benteng NU di Masyarakat
Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana, Tulang Bawang Tengah, Tulang Bawang Barat, Lampung.
Tulang Bawang Barat, NU Online
Diakui atau tidak pendidikan berbasis pesantren sangat berbeda dengan lembaga pendidikan lain, baik proses kegiatan belajar mengajar maupun kedisiplinan. Faktanya, banyak perilaku menyimpang yang dilakukan pelajar, bahkan mahasiswa. Namun fenomena tersebut tidak dijumpai di pesantren. Ini membuktikan pendidikan pesantren sudah mampu mendidik santrinya dalam pembentukan karakter.

Demikian disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, Kiai M Durri Abdul Karim, Selasa (12/2). 

"Di pesantren Darurrohman kami ajarkan materi pelajaran sangat lengkap, baik pengetahuan umum maupun agama, terutama adab sopan santun selalu kami tekankan," katanya. 

Karena itu sejumlah orang tua menitipkan anaknya di Pesantren Darurrohman. “Karena banyak santri yang meraih prestasi membanggakan dalam berbagai perlombaan dan tidak kalah dari  pelajar sekolah umum,” ungkapnya. 

Kendati banyak lembaga pendidikan negeri maupun swasta yang dapat dijadikan tempat belajar bagi buah hati mereka, namun para orang tua lebih melirik pesantren.

Selain itu, pandangan masyarakat terhadap pesantren sudah berubah dan dijadikan sebagai lembaga pendidikan utama. "Terlebih saat ini pesantren sudah bertransformasi menjadi sebuah lembaga pendidikan modern yang kental dengan nuansa kekinian,” ungkapnya. Tidak hanya lembaganya yang memiliki manajemen terbuka, namun juga lokasinya yang membuat siapapun akan betah tinggal di pesantren, lanjutnya.

Kini, Pondok Pesantren Darurrohman menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah, dengan konsep boarding school. Karena pesantren telah memiliki lembaga pendidikan mengenngah dan juga SMK.

Sementara itu menurut Ahmadi selaku salah seorang wali santri bahwa lembaga pendidikan yang ada di pesantren ini sangat kental dengan nuansa alam. Karena lokasinya di tengah lingkungan masyarakat yang bernuansa religius. "Di sini masih banyak pepohonan yang berjajar rapi, pohon kelapa, karet yang melengkapi keindahan pesantren. Kesannya seperti berada di cagar alam atau hutan lindung," ungkapnya.

Pesantren ini menerapkan konsep pendidikan dengan nuansa alam. Sesekali para santri belajar dengan riang di bawah salah satu pohon yang cukup teduh. Mereka belajar dengan antusias mengikuti pembelajaran. Di sisi lain, terlihat pula beberapa santri sedang duduk sambil menggenggam Al-Quran. Mereka fokus menghafal, yang merupakan salah satu rutinitas wajib.

Di Pesantren Darurrohman Mulya Kencana, para santri dibekali ilmu agama yang matang sehingga menjadi benteng ideologi NU. “Karena mereka belajar tentang Aswaja, maka dapat dipastikan  jika lulus akan diterima masyarakat, karena tidak kaku dalam pergaulan. Dan tidak mudah masuk kelompok garis keras atau radikal," pungkasnya. (Gati Susanto/Ibnu Nawawi

Sabtu 15 September 2018 0:30 WIB
Pesantren Virtual Rilis Aplikasi Manajemen Keuangan
Pesantren Virtual Rilis Aplikasi Manajemen Keuangan
Jakarta, NU Online
Di tahun baru Hijriyah 1440 ini Pesantren Virtual merilis program Sistem Manajemen Keuangan Pesantren (Simakupes). Program ini didistribusikan secara gratis menggunakan lisensi  waqaf untuk pesantren.

Muhammad Niam, ketua dewan asatidz Pesantren Virula menjelaskan tujuan dari program ini untuk memudahkan pesantren dalam mengelola manajeman keuangan, atau bisa disebut sistem akuntansi pesantren. Diharapkan aplikasi ini bisa mendorong pesantren dalam mengelola keuangannya secara akuntable dan moderen dengan berbasis IT. 

"Saat ini banyak pesantren mengelola dana bantuan dari Pemerintah, seperti Bantuan Operasional Santri (Bos Pesantren), Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan lainnya, Hadirnya Simakupes selain untuk membantu pesantren dalam manajemen keuangan sehari-hari, juga ditujukan agar pesantren yang mengelola dana-dana bantuan tersebut di atas terbantu dalam menyusun laporan keuangannya yang dituntut lebih cepat dan akuntabel," jelas Niam melalui rilis yang diterima NU Online, Kamis (14/9).

Disampaikannya, aplikasi Simakupes menyediakan fasilitas standard akuntansi dasar seperti menajemen Buku Kas Umum, Buku Pembantu Bank, Buku Pajak, pembuatan tanda bukti pengeluaran, kwitansi dan laporan-laporan. Modul Buku Pajak didesain secara khusus agar memudahkan dalam mengkalkulasi pajak mengingat kebanyakan pesantren belum terlatih dalam manajemen keuangan yang berorientasi pajak.

"Sebagai aplikasi berbasis web, Simakupes bisa dijalankan secara online, offline dan dalam jaringan, sehingga memungkinkan diakses secara jarak jauh ika diperlukan," terangnya.

Salah satu yang ingin ditekankan dalam aplikasi ini, lanjutnya, adalah kemudahaan dan penyederhanaan. Banyak program manajemen lembaga pendidikan, tetapi mengadopsi alur kerja yang rumit dan kompleks sehingga meyulitkan penerapannya dan memerlukan energi tambahan seperti training dan sosialisasi. 

Program disusun dengan pendekatan sangat user friendly dan self explanatory, yaitu mudah bagi pengguna untuk mempelajari sendiri dan  menerapkannya secara mandiri, bahkan tanpa training atau petunjuk khusus.

Meskipun demikan, Pesantren Virtual selalu siap membantu bila ada pesantren yang mengalami kesulitan. Pesantren Virtual merupakan salah satu situs dakwah yang menyediakan layanan konsultasi online 24 jam, baik melalui WA group atau web chat.

Simakupes menjadi pelengkap dari dua aplikasi untuk pesantren yang dirilis sebelumnya oleh Pesantren Virtual, yaitu  Sistem Manajemen Madrasah dan Pesantren (Simapes) dan Sistem Manajemen Aset Pesantren (Simasetepes)

Niam menyebut, Simapes telah mendapatkan sambutan positif dari kalangan pesantren di Indonesia. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Propinsi Jawa Tengah bahkan telah memfasilitasi SIMAPES agar dapat digunakan oleh pesantren-pesantren se Jawa Tengah. Menurut data yang masuk ke Pesantren Virtual, sudah ratusan pesantren yang megirimkan permohonan menggunakan Simapes.

"Simapes juga terus dikembangkan dengan menambah modul-modul yang diperlukan pesantren seperti manajemen asrama, keuangan dan dilengkapi dengan E-rapor sesuai Kurikulum 2013," jelasnya lagi.

Demo aplikasi-aplikasi kepesantrenan yang dikembangkan Pesantren Virtual bisa diakses di http://simakupes.pesantrevirtual.com, simapes.pesantrenvirtual.com dan simasetpes.pesantrenvirtual.com.
 
Untuk mendapatkan aplikasi tersebut bisa mengirimkan surat permohonan disertai profil pesantren/madrasah ke email info@pesantrenvirtual.com atau bisa berkonsultasi via Watshapp ke 081298666226.

"Semoga aplikasi tersebut bermanfaat bagi pesantren dan madrasah. Pesantren Virtual berkomitmen untuk terus mengembangkan aplikasi-aplikasi praktis yang diperlukan pesantren-pesantren," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG