IMG-LOGO
Nasional

KH Ma’ruf Amin: Indonesia Bukan Kita, Tapi Berkita-kita


Rabu 17 Juli 2019 12:45 WIB
Bagikan:
KH Ma’ruf Amin: Indonesia Bukan Kita, Tapi Berkita-kita
Jakarta, NU Online
Wakil Presiden RI terpilih KH Ma’ruf Amin turut menjadi pembicara pada kegiatan Halal Bi Halal dan Seminar Sehari dalam rangka Harlah ke-47 Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Hotel Grand Sahid Jaya di Jakarta Pusat, Rabu (18/7). Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum MUI ini menjabarkan karakteristik Islam rahmatan lil 'alamin

Menurutnya, Indonesia ini bukan milik umat Islam semata melainkan ada banyak golongan lain sehingga sebagai solusinya ulama membangun paradigma ukhuwah yakni ukhuwah Islamiyah untuk kerukunan sesama Muslim. Sementara untuk persatuan seluruh anak bangsa ulama membuat ukhuwah whatoniyah yaitu untuk kerukunan semua golongan di negeri ini. 

“Makanya Indonesia ini bukan kita, tapi berkita-kita, saya istilahkannya berkita-kita,” kata cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini. 

Ia menuturkan, Pancasila dalam perspektif Islam wasathiyah (Islam moderat) adalah titik temu atau kalimatun sawa, sementara UUD 45 disebut ittifaqot yaitu kesepakatan nasional. Kiai Ma’ruf Amin menyebutnya darul mitsaq yaitu negara kesepakatan serta sebagai negara bersama. 

“Karena itu ketika orang menyampaikan perspektif lain seperti khilafah, ketika saya ditanya khilafah islami atau tidak, saya bilang Islami, karena dulu pernah ada Khilafah Utsmaniyah, Khilafah Abbasiyah tapi yang islami itu bukan hanya khilafah, kerajaan juga Islami almamlaka buktinya Saudi Arabia ada almamlaka Asu'udiyah, di Yordan ada almamlaka Al-Hasyimiah diterima oleh ulama, Keamiran juga Islami, Quwait Abu Dabi Qatar, Republik juga Islami, Indonesia, Republik Mesir, Turki, Pakistan,” tuturnya. 

Islam wasathiyah, kata Mustasyar PBNU, ini adalah yang bisa menerima kehadiran negara ini secara bersama karena memang Indonesia bukan hanya kita melainkan milik semua anak bangsa. 

Kiai Ma’ruf ingin karakter Islam wasathiyah tumbuh subur dalam sanubari anak bangsa yakni islam yang tidak mencaci maki, menakut nakuti, tidak ego dan tidak fanatik. Sebab Islam adalah agama perbaikan yang mengutamakan arus positif. 

Hadir pada pertemuan itu sejumlah tokoh antara lain, Ketua Umum DMI yang juga Wakil Presiden RI H.M Jusuf Kalla, Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PP DMI KH Masdar F. Mas’udi.

Hadir juga Direktur Pusat Studi Al-Qur'an dan mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Ketua Umum Mathla’ul Anwar KH Ahmad Sadeli Karim, Ketua Umum PUI KH Nazar Haris, Ketua Umum Al-Wahsliyah Yusnar Yusuf, Ketua Umum Persis KH Aceng Zakaria, Ketua Umum DDI Muhammad Siddik, Ketua DPP Tarbiyah Perti M. Baharun dan pengurus MUI KH Masduki Baidowi. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG