IMG-LOGO
Daerah

SD Al-Islam, Sekolah Warga NU di Kawasan Pantai Ria Kenjeran Surabaya

Rabu 17 Juli 2019 18:0 WIB
Bagikan:
SD Al-Islam, Sekolah Warga NU di Kawasan Pantai Ria Kenjeran Surabaya
SD Al-Islam Mulyorejo Surabaya.
Surabaya, NU Online
SD Al-Islam Mulyorejo Surabaya merupakan lembaga pendidikan formal yang berada di bawah naungan Lempaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama. Terletak satu kilometer berbatasan dengan Pantai Ria Kenjeran. 

Sekolah yang didirikan sejak tahun 1961 oleh tokoh NU Ranting Dukuh Sutorejo yakni almarhum H Mutik Sholihin ini merupakan sekolah yang didirikan atas dasar memberikan layanan pendidikan yang layak bagi nahdliyin atau warga NU. Apalagi mayoritas orang tua mereka bekerja sebagai nelayan dan berpenghasilan minim.

Saat NU Online berada di lokasi, kegiatan belajar diawali dengan pembacaan istighotsah, doa bersama dan Shalawat Asghil. Proses tersebut diikuti seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD. Nampak sebagian orang tua siswa mengikuti kegiatan hingga selesai. 

“Istighosah, doa bersama hingga Shalawat Asghil ini digelar atas dasar melaksanakan instruksi PWNU Jatim pada acara istghotsah kubra di Stadion Delta Sidoarjo beberapa bulan lalu,” kata H Ahmad Zaini Ilyas, Selasa (16/7).

Terdapat berbagai keunikan dari sekolah ini dibandingkan dengan lembaga pendidikan selevel pada umumnya. “Selain dengan sekolah full day school, di sini para sisawa setiap pagi untuk kelas satu sampai kelas tiga membaca Juz Amma sebelum pembelajaran di kelas,” jelasnya. 

Sedangkan untuk kelas empat membaca tabarak dan asmaul husna. Sedangkan kelas lima membaca surat Al-Waqiah dan asmaul husna, serta untuk kelas enam membaca surat Yasin dan asmaul husna. “Di sini para siswa diajarkan untuk mengerti dan selalu mengamalkan amaliah NU setiap hari,” terang salah seorang dari Pengurus Wilayah LP Ma’arif NU Jatim tersebut.

Menurutnya, total ada 405 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah ini. “Selepas pulang sekolah para siswa doa bersama dan diakhiri dengan Shalawat Asghil,” jelasnya. 

“Meskipun sekolah berada di pinggiran pantai, namun kami bertekad untuk menjadikan tidak tertinggal. Program unggulan seperti tahfidz dan bimbingan baca tulis Al-Qur’an selalu kami berikan kepada para siswa,” terang pria yang juga kepala sekolah ini.

“Untuk tahun ajaran baru alhamdulillah kami mendapatkan kepercayaan dari warga dengan menambah sati kelas lagi menjadi tiga kelas dengan jumlah siswa 85 anak,” ungkap Haji Zaini, sapaan akrabnya. 

Berbagai ikhtiar selalu dilakukan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para peserta didik. “Antara lain fasilitas seluruh ruang kelas ber AC, laboratorium komputer, perpustakaan, mushalla, hingga aula ada di sekolah ini. Semua untuk menambah kenyamanan para siswa,” terangnya. 

Kendati dengan sejumlah fasilitas yang baik, namun sekolah masih memberlakukan tarif terjangkau. “Hal itu dibuktikan dengan infak bulanan di bawah seratus ribu rupiah,” katanya.

Demikian pula kegiatan ektrakulikuler diberikan. Dari mulai kasidah, seni tari, drumband, bimbingan belajar, baca tulis Al-Qur’an, Pramuka, pencak silat, hingga kelompok bahasa Inggris.  

Di ujung pembicaraan, Haji Zaini berharap segala yang diberikan dapat memacu prestasi peserta didik. “Harapan kami, sekolah bisa menjadi rujukan bagi warga Surabaya Timur, khususnya di dekat pesisir Pantai Ria Kenjeran,” pungkasnya. (Syaiful Alfuat/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Rabu 17 Juli 2019 23:0 WIB
Rais NU Jombang Jelaskan Shalat Gerhana Setelah Shalat Subuh
Rais NU Jombang Jelaskan Shalat Gerhana Setelah Shalat Subuh
Rais PCNU Jombang, KH Abdul Nashir Fattah
Jombang, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Abdul Nashir Fattah menjelaskan tentang bolehnya shalat gerhana setelah melakukan shalat fardlu subuh. Baik gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Hal ini guna menjawab keresahan masyarakat saat terjadi gerhana bulan yang cukup lama pada Rabu (17/7). Awal gerhana pukul 03.03.04 WIB dan akhir gerhana pada pukul 06.01.15 WIB.

Sholat gerhana dilakukan setelah subuh agar jamaah salat gerhana bisa berjumlah banyak. Alasan lainnya yaitu bila dilakukan secara sendiri-sendiri maka banyak jamaah yang tidak bisa melakukan shalat gerhana.

"Boleh, boleh, tidak apa-apa," katanya, Rabu (17/7) kepada NU Online.

Kebingungan ini muncul karena dalam hari-hari biasa umat Islam dilarang melakukan shalat sunat setelah shalat subuh. Sehingga dalam praktek ibadah sehari-hari tidak ada istilah shalat ba'diyah subuh.

"Usai shalat Subuh memang waktu haram salat. Namun keharaman itu tidak berlaku untuk shalat yang memiliki sebab," tambah Kiai Nashir.

Secara lebih rinci Wakil Ketua PCNU Jombang, Kiai Amirul Arifin menjelaskan alasannya tidak ada keharaman shalat gerhana setelah shalat subuh karena shalat gerhana termasuk shalat sunah yang ada sebabnya. Yakni karena adanya peristiwa alam yakni gerhana. "Maka boleh melaksanakan shalat gerhana usai shalat Subuh," tegasnya.

Dikatakan, shalat itu termasuk doa dan salah satu waktu yang bagus untuk berdoa yaitu ada gerhana. "Perlu diingat waktu mustajabah dalam berdoa di antaranya yakni saat adanya peristiwa alam yakni gerhana yang menunjukkan kebesaran Allah, maka dikabulkan oleh Allah doa para hamba-Nya," ujar Kiai Arifin.

Menurutnya, pada setiap peristiwa alam ada tanda-tanda kebesaran Allah. Karena itulah menjadi waktu yang mustajabah untuk berdoa. Bahkan di zaman dahulu saat terjadi gerhana maka anak-anak kecil dibangunkan disuruh bergelantungan di tempat tinggi agar badannya tumbuh tinggi. 

"Yang melakukan ya otomatis menjadi kenyataan. Karena itu termasuk doa. Dan karena pada waktu mustajabah, maka dikabulkan oleh Allah," jelasnya.

Ada juga kebiasaan masyarakat lain, seperti saat terjadi gerhana biasanya orang hamil disuruh mengadakan syukuran kecil-kecilan (selamatan) agar kandungannya selamat. Yang melakukan sering menyaksikan doanya menjadi kenyataan. 

"Saat gerhana memperbanyak doa untuk kebaikan diri, keluarga, keturunan, lingkungan, bangsa, dan negara serta seluruh umat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz

Rabu 17 Juli 2019 22:30 WIB
Lepas Ratusan KKN ke Sidoarjo, Unusa Fokus Tiga Bidang Garapan
Lepas Ratusan KKN ke Sidoarjo, Unusa Fokus Tiga Bidang Garapan
Peserta KKN dilepas Rektor Unusa.
Surabaya, NU Online
Setiap kampus selalu memegang tri dharma perguruan tinggi, yakni tiga kewajiban yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat. Dan sebagai bagian dari khidmah kepada masyarakat, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melepas 522 mahasiswa terjun ke masyarakat. Mereka akan mengikuti rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2019. 

Ratusan mahasiswa tersebut akan mengabdi di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo dengan menyiapkan tiga fokus bidang garapan. Yakni mengawal Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), pojok literasi, serta Gerakan Desa Ramah Lansia atau Germasia.

Rektor Unusa, Achmad Jazidie secara langsung melepas peserta KKN di halaman Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya, Rabu (17/7). 

Dirinya berpesan agar mahasiswa bisa menjaga nama baik Unusa ketika berada di tengah masyarakat. “Jaga nama baik almamater kalian dan jadilah duta kampus. Selain itu, peserta KKN harus menyukseskan tiga fokus besar yang telah dikonsep panitia,” katanya.

Tiga fokus tersebut adalah pengawalan laporan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), pojok literasi, serta Gerakan Desa Ramah Lansia atau Germasia. “Tiga fokus itu saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama konsep desa ramah Lansia," ungkapnya.

Jazidie menambahkan, orang berusia lanjut (lansia) jangan dibiarkan berdiam diri dalam rumah tanpa aktivitas. “Agar tetap sehat, biarkan mereka tetap beraktivitas fisik maupun olahraga sesuai kemampuan,” jelasnya.

Selain itu, Lansia juga harus tetap bersosialisasi seperti bertemu, berkumpul dengan teman-temannya dan keluarga. Hal ini bisa mencegah mereka menderita demensia atau pikun. Caranya harus ada sebuah konsep ramah Lansia yang ada di desa.

“Harapannya agar para warga yang sudah lanjut usia tetap bisa beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya," terangnya.
 
Pada 2019, Unusa akan membantu kepala desa yang ada di Kecamatan Jabon dalam menggerakkan masyarakat untuk menerapkan konsep desa ramah Lansia. Hal ini untuk meminimalkan para Lansia agar tidak terkena penyakit pikun.

“Semua usaha baik dari mahasiswa Unusa maupun masyarakat di Kecamatan Jabon harapannya menjadikan kemajuan di Kabupaten Sidoarjo,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Rabu 17 Juli 2019 22:0 WIB
LAZISNU Jombang Dipercaya Salurkan Infaq dan Sedekah Warga Luar Negeri
LAZISNU Jombang Dipercaya Salurkan Infaq dan Sedekah Warga Luar Negeri
foto: ilustrasi
Jombang, NU Online 
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur kerap menerima infaq sekaligus sedekah warga. Tak hanya dari warga di kawasan Jombang sendiri namun luar Kota Jombang, bahkan warga luar negeri.

Menurut Ketua PC LAZISNU Jombang, Ahmad Zainudin, keberadaan LAZISNU di Kota Santri kian dipercaya khalayak luas sebagai lembaga penerima sekaligus penyalur zakat, infaq, dan sedekah yang amanah dan kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi.

"Melihat tren, kepercayaan masyarakat semakin meningkat terhadap LAZISNU Jombang dan ini menambah semangat kami dan segenap pengurus untuk menjaga amanah masyarakat," ujarnya kepada NU Online, Rabu (17/7).

Terbaru, LAZISNU Jombang menerima sedekah dan infaq sejumlah warga yang berada di Australia New Zeland. Melalui Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia New Zeland, infaq dan sedekah tersebut dipercayakan kepada LAZISNU Jombang untuk dikelola danan ditransfer melalui rekening LAZISNU.

"Alhamdulillah kembali diamanahi PCINU Australia New Zeland 600 Dolar Ausie atau Rp5.810.654," kata Ahmad Zainudin.

Infaq dan sedekah tersebut bersumber dari jamaah Do'a dan Dzikir Melbourne yang dikumpulkan selama kurang lebih empat bulan, terhitung sejak Maret hingga Juni 2019. Jamaah ini dikoordinir langsung oleh PCINU Australia.

"Itu merupakan infaq sedekah dari jamaah pengajian Do'a dan Dzikir Melbourne di bawah naungan PCINU Australia selama kurun waktu empat bulan," ujar pria yang juga Ketua Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yalatif, Desa Kedawong, Kecamatan Diwek, Jombang ini.

Jamaah Doa dan dan Dzikir Melbourne lanjut dia, mengamanahkan kepada LAZISNU agar mengalokasikan infaq dan sedekahnya untuk dua hal. Pertama dialokasikan untuk pondok tahfidz dan kedua untuk anak yatim.

"Sesuai kesepakatan jamaah di sana. Jumlah tersebut dibagi menjadi dua, Rp2.905.327 untuk pondok tahfidz dan Rp2.905.327 untuk anak yatim," ucap pria yang biasa disapa Gok Din ini.

Dirinya memastikan, LAZISNU yang dipimpinnya akan senantiasa memegang prinsip amanah. Sejumlah dana yang dikelola LAZISNU akan dialokasikan kepada pihak-pihak yang memang berhak menerimanya. Seperti anak-anak yatim, warga kurang mampu, beasiswa santri tahfidz, dan lain sebagainya sebagaimana program-program LAZISNU yang disusun. (Syamsul Arifin/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG