IMG-LOGO
Humor

Kenapa Tak Berhenti dari Politik, Gus?

Kamis 18 Juli 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Kenapa Tak Berhenti dari Politik, Gus?
null
Setahun sebelum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia, dan menjelang ulang tahunnya pada 2008, sahabat Gus Dur, Franz Magnis Suseno atau Romo Magnis pernah bertanya tentang aktivitas politik dan kebangsaan Gus Dur.

Mengingat kondisi politik yang menimpanya pada 2001 silam, Romo Magnis bertanya mengapa Gus Dur tidak juga berhenti dari kegiatan politik? Mengapa tidak cukup menjadi guru bangsa saja?

Romo Magnis bertanya demikian, namun Gus Dur tidak mau berhenti dari hiruk-pikuk politik yang menurutnya tetap bisa menjadi saluran aspirasi kepentingan bangsa.

Dua minggu kemudian di perayaan ulang tahunnya, ia mengatakan dalam ceramahnya:

“Ya, Romo Magnis meminta supaya saya berhenti dari politik, tapi sekarang belum. Kalau yang lain nggak berani bilang seperti itu ke saya,” canda Gus Dur disambut tawa Romo Magnis. (Fathoni) 


*) Disarikan dari buku 'Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa' (2017)
Tags:
Bagikan:
Senin 15 Juli 2019 13:30 WIB
Hari Pertama Masuk Sekolah
Hari Pertama Masuk Sekolah
Ilustrasi humor
Kursi, dalam artian jabatan selalu menjadi rebutan, tak terkecuali kursi anggota DPR. Posisi-posisi itu dikejar oleh banyak orang melalui proses pemilihan umum.

Ada kursi kepala desa dalam pilkades, ada kursi bupati dan wali kota dalam pilkada kabupaten dan kota, dan ada juga kursi gubernur serta presiden dalam pilgub dan pilpres.

Lantas kenapa kursi sebegitu menariknya untuk diperebutkan? Hal ini menjadi pertanyaan di benak Rokimin, pemuda kritis di sebuah desa yang belum lama ini telah mengantarkan anaknya di hari pertama masuk sekolah.

Rokimin sedang berbincang santai dengan temannya bernama James (nama aslinya Jamhari). Soal kekritisan, Jamhari tidak kalah dengan Rokimin.

“Kenapa ya orang-orang kita senangnya rebutan kursi?” tanya Rokimin.

“Loh, generasi kita memang sejak dini didik untuk rebutan kursi. Coba pikir, sampeyan di pagi buta anter anak ke sekolah di hari pertama biar apa?” kata Jamhari alias James.

“Biar dapet kursi,” jawab Rokimin. (Fathoni)
Ahad 14 Juli 2019 12:0 WIB
Gelar ‘KH’ Pak Slamet
Gelar ‘KH’ Pak Slamet
Dalam daftar baru yang memuat nama-nama imam dan khatib masjid terdapat nama baru. Daftar itu tertempel di papan pengumuman masjid. Ia adalah KH Ahmad Slamet. Banyak dari anggota jamaah masjid itu bertanya-tanya siapa KH Ahmad Slamet.

Di desa itu memang ada ustadz muda bernama Slamet. Semua orang memanggilnya Pak Slamet tanpa nama depan Ahmad. Namanya tak pernah dipasang dalam daftar imam dan khatib masjid karena ia tergolong masih muda meski sudah bapak-bapak. Banyak orang di desa itu yang lebih tua, alim dan mumpuni sebagai imam dan khatib kecuali Mbah KH Dalail yang sudah mulai udzur karena faktor usia.

Masuknya KH Ahmad Slamet ke dalam daftar baru nama-nama imam dan khatib masjid memang sudah menjadi keputusan rapat pengurus masjid untuk menggantikan Mbah Kiai Dalail. Beberapa kali Kiai Dalail merasa kehabisan napas ketika sedang menyampaikan khutbah meski belum lama memulai. Selain itu, beliau juga sudah sering lupa berapa raakat shalat telah dilalui.

Dengan alasan-alasan itulah KH Dalail mengajukan pensiun dari tugas menjadi imam dan khatib. Beliau mengusulkan agar putra bungsunya bisa melanjutkan pengabdiannya di masjid itu. Usul KH Dalail diterima dengan baik dalam sebuah rapat pengurus masjid. Rapat itu sendiri tak dihadiri Pak Slamet karena ia sedang ada urusan di desa lain.

Beberapa hari setelah rapat berlangsung, salah seorang pengurus masjid menghubungi Pak Slamet melalui pesan WA untuk memberitahukan hasil rapat sekaligus meminta nama lengkapnya serta gelar yang dimiliki.

Membalas pesan WA itu, Pak Slamet agak kebingungan sehubungan adanya permintaan untuk mencantumkan gelarnya. Ia memang lama belajar di pondok pesantren tapi tak pernah kuliah formal di perguruan tinggi. Jadi ia tak punya gelar akademik.

Sebagai gantinya ia ingin mencantumkan dua huruf berurutan "KH" sebagaimana dituliskan oleh pengurus masjid di depan nama ayahnya, KH Dalail. Ditulislah nama lengkap KH Ahmad Slamet. Lalu jawaban itu dikirim ke nomor WA pengurus masjid yang memintanya.

Dua hari berikutnya di hari Rabu, tercantumlah nama KH Ahmad Slamet di dalam daftar baru nama-nama imam dan khatib masjid. Orang-orang bertanya-tanya siapa KH Ahmad Slamet itu. Apakah putra bungsu Kiai Haji Dalail? Mereka mendapat jawaban “ya” dari orang salah seorang pengurus masjid. “Tapi bukankah Pak Slamet belum pernah naik haji?” protes mereka.

Pengurus masjid mempersilakan orang-orang untuk menanyakan masalah itu langsung ke Pak Slamet karena ia hanya mengutip persis apa yang ditulis Pak Slamet.

Pak Slamet akhirnya menjelaskan bahwa dua huruf berurutan "KH" di depan namanya itu bukanlah gelar atau singkatan dari "Kiai Haji" sebagaimana gelar ayahnya, tetapi sebuah harapan untuk bisa segera naik haji. "KH" itu singkatan dari "Kepingin Haji". (Muhammad Ishom)

Jumat 12 Juli 2019 18:0 WIB
Kecanggihan Orang Indonesia
Kecanggihan Orang Indonesia
Ilustrasi humor
Dalam pertemuan negara-negara internasional yang bertempat di negeri piramid, Mesir, ada tiga pejabat dari Finlandia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia yang sedang bincang santai di warung kopi di sela-sela pertemuan.

Mereka bertiga saling mengunggulkan kemampuan negaranya masing-masing dalam membangun proyek-proyek konstruksi.

"Dalam sekejap, robot canggih bisa diproduksi massal di negara saya,” ucap orang Finlandia membuka obrolan.

Seketika itu, orang UEA seolah tidak mau kalah. "Kalau negara saya bisa membuat rentetan gedung-gedung pencakar langit dengan sistem modern," selorohnya.

"Semua itu sih nggak ada apa-apanya, negara saya bisa membuat gunung," tukas pejabat Indonesia diplomatis.

"Oh ya?" kata orang Finlandia terheran-heran.

"Wow, canggih! Bagaimana itu bisa dilakukan?" tanya pejabat UEA.

"Gampang. Tinggal tendang perahu saja ke atas," jawab pejabat Indonesia asli kelahiran Cimahi itu.

"Menendang perahu?" pejabat Finlandia dan UEA bingung.

"Ya, betul," jawab orang Indonesia.

"Mana Buktinya?" tanya orang Finlandia.

"Tuh, salah satu gunung di Provinsi Jawa Barat. Waktu itu ada Orang Indonesia yang menendang perahu. Jadilah gunung bernama Tangkuban Perahu." (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG