Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Ma'ruf Amin: Saatnya Umat Islam Kembali ke Pangkalnya

Kiai Ma'ruf Amin: Saatnya Umat Islam Kembali ke Pangkalnya
Jakarta, NU Online
Kiai Ma'ruf Amin menjadi pembicara utama pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Pengurus Pusat ke 47 Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Hotel Grand Sahid Jaya di Jakarta Pusat, Rabu (18/7) kemarin. Pada pertemuan tersebut Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) pusat ini menegaksan saatnya manusia kembali kepada kesuciannya.
 
Kemudian, sebagai anak bangsa saatnya kembali ke jati diri bangsa dan sebagai umat islam, saatnya kembali ke pangkal ke islamannya.
 
"Minal 'aidzin tuh, mudah mudahan kita kembali, kembali kemana? kembali ke fitrah, kepada kesucian. Karena manusia itu asalnya suci. Kullu mauludin yuladu alal fitrah, sebagai bangsa tentu kembali kepada jati diri bangsa, al-audah. Sebagai umat islam kita kembali ke mabdaatau ke pangkal kita ke keislaman kita yaitu keislaman yang rahmatan lil  alamin karena sejatinya Islam itu rahmatan lil alamin," kata Kiai Ma'ruf pada kegiatan yang dibalut dengan Halal Bi Halal dan Seminar Sehari tersebut.
 
Ulama fikih asal Banten ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad diutus ke bumi untuk menjadi rahmat bagi semua. Bahkan, kata Kiai Ma'ruf, pada ayat Al-Qur'an tertulis 'tidak akan diutus kecuali dengan rahmat'.
 
Maksud dari saatnya umat Islam kembali ke pangkalnya, lanjut wakil presiden terpilih untuk lima tahun mendatang ini, yakni mengembalikan pemikiran umat Islam kepada pemikiran yang wasathiyah yaitu pemahaman Islam yang moderat. Termasuk gerak langkah umat Islam Indonesia yang penuh dengan  tatak rama santun dan beradab.
 
"Atau kita istilahkan tawasutiyah tengah dalam arti tidak la tekstualiyah  wa la liberaliyah, tidak terlalu tekstual, tidak terlalu liberal," ujarnya.
 
Pemahaman Islam tekstual adalah memahami ayat Al-Qur'an tanpa melihat tafsir dari ayat tersebut. Sementara Islam liberal yaitu mereka yang menafsirkan ayat Al-Qur'an, namun ke lewat batas. Artinya menafsirkan ayat Al-Qur'an terlalu lebar.
 
"Cara berpikir tekstual itu, itu yang kata Imam Al-Qorofi disebut Al-Jumud Ala Al-Manqulatstatis pada teks-teksnya saja. Kata beliau, kalau al-jumudu ala manqulat abadan dzalulan fi din, kesesatan dalam agama kalau tekstual selamanya," tuturnya.
 
Kemudian, penjelasan selanjutnya terkait hal ini yakni wajahalun bi ma qosidu ulamai al-muslimin wassalafin artinya hal itu termasuk kebodohan. (Abdul Rahman Ahdori)
 

BNI Mobile