IMG-LOGO
Daerah

Pesantren Darul Khabibi Lombok Tengah Tuan Rumah Kejuaraan Karate

Jumat 19 Juli 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Pesantren Darul Khabibi Lombok Tengah Tuan Rumah Kejuaraan Karate
Salah satu pertandingan kejuaraan karate Inkanas.
Lombok Tengah, NU Online
Institut Karate Nasional (Inkanas) Kabupaten  Lombok Tengah bekerja sama dengan Pondok Pesantren Darul Khabibi, Paok Tawah Praya, menyelenggarakan kejuaraan karate Inkanas se-Nusa Tenggara Barat. Pelaksanaan kejuaraan berlangsung tiga hari sejak Kamis hingga Sabtu (18-20/7) di gelanggang olahraga pesantren bermoto Taras Tugu Trasna ini.

Pada kejuaraan tersebut Madrasah' Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Kabupaten Lombok Tengah yang tergabung dalam Ranting Jonggat Prestasi mengirim sembilan peserta. Para atlit adalah karateka yang sudah melewati seleksi sebelum diikutkan dalam kegiatan tersebut.

Humas Inkanas Lombok Tengah, HM Najamudin menyampaikan bahwa kejuaraan karate untuk kali pertama dilaksanakan di pesantren itu dan diikuti lebih kurang 500 peserta. 

"Para peserta akan turun tanding di katagori kata dan kumite usia dini, pra pemula, pemula, kadet, yunior dan usia 21 tahun," urainya.

Lebih lanjut, Humas MTs Negeri 2 Loteng tersebut menyatakan, atlit-atlit yang ikut dalam kejuaraan diharapkan mampu menyumbangkan medali untuk kontingen Jonggat Prestasi.

Pantauan di lokasi pada hari pertama Kamis (18/7) pelaksanaan kejuaraan, sejak pagi hingga sore tampak sangat ramai dan meriah. Para penonton yang sekaligus suporter dari masing-masing ranting memberikan dukungan dengan yel-yel yang bergemuruh. 

Gazi Ahmad Bafadal selaku pelatih  Jonggat Prestasi mengabarkan bahwa di hari pertama pelaksanaan kejuaraan, para atlit MTsN 2 Lombok Tengah turun di katagori kata perorangan dan kata beregu karateka. Yang tanding di dua katagori tersebut atas nama Reva Marsela, Azizah  Elly Ammera Lestari dan Siti Fatimatuzzahrah.

Gazi menyatakan penampilan empat karateka di hari pertama tersebut sangat baik dan berhasil mengungguli para lawannya dari babak penyisihan sampai final

Atas penampilan yang luar biasa tersebut, Reva dan kawan-kawan berhasil menyumbangkan emas katagori kata perorangan dan beregu untuk kontingen Jonggat Perestasi. Sebuah prestasi yang layak diapresiasi.

"Selamat untuk raihan 2 emas di hari pertama. Semoga pundi-pundi medali bisa dikoleksi di hari ke dua dan terakhir,” tutupnya. (Hadi/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Jumat 19 Juli 2019 9:30 WIB
Pesan KH M Hasyim Asy'ari terhadap Beda Pilihan Organisasi
Pesan KH M Hasyim Asy'ari terhadap Beda Pilihan Organisasi
Ngopi santai di Cafe Tali Jagad, kompleks PWNU Jawa Tengah
Semarang, NU Online
Perbedaan dari seluruh elemen organisasi dalam Nahdlatul Ulama secara teknis memang menjadi persoalan yang harus dipecahkan. Namun demikian, perbedaan pilihan organisasi tersebut jangan melalaikan tujuan pendirian jamiyah sebagaimana pesan KH M Hasyim Asy'ari.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Hudallah Ridwan. Gus Huda, sapaan akrabnya menyampaikan saat menanggapi perbincangan Ngopi Santai bersama Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah.

Kegiatan  juga kerja sama dengan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Jawa Tengah. Acara dipusatkan di Cafe Tali Jagad, kompleks PWNU Jawa Tengah, Jalan dr. Cipto 180 Kota Semarang, Kamis (18/7).

Gus Huda menegaskan bahwa pendiri NU, KH M Hasyim Asy’ari menjamin orang yang bersedia merawat NU, bukan menjadi pengurus NU. Hal ini ditegaskannya bahwa wilayah gerakan pergerakan NU berada di akar rumput, yakni merawat nahdliyin atau warga NU.

"Yang dijamin Hadratussyekh itu bukan berarti harus menjadi pengurus NU, tapi yang mau mengurus NU," tegasnya.

Lebih lanjut Gus Huda menegaskan bahwa perbedaan tersebut harus berakar pada satu kesadaran, yakni merawat NU. "Siapa pun kalian, adalah murid Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. Kita adalah Nahdlatul Ulama," tegasnya.

Penegasan senada disampaikan Ketua PWNU Jateng, KH Mohammad Muzammil. Ia menyatakan bahwa perbedaan harus disikapi dengan kesadaran tentang NU sebagaimana tali jagad dalam lambang NU. 
"Semuanya kader NU dan sudah semestinya bergerak bersama dalam koridor NU," tegasnya. 

Untuk diketahui, selama ini keberadaan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU IPPNU disebut membantu peran PMII dan KMNU dalam menjadi benteng akidah mahasiswa dari paham radikal. 

Meski demikian perdebatan muncul lantaran posisi IPNU dan IPPNU sebagai badan otonom (Banom) NU yang berbasis pelajar. Artinya leading sector berada di sekolah, terutama sekolah yang berada di bawah Lembaga Pendidikan Ma'arif NU. Sementara PMII sebagai organisasi berhaluan NU yang berbasis mahasiswa, dan di sisi lain, KMNU muncul sebagai organisasi baru. Hal ini secara praksisnya di perguruan tinggi menjadi dilema tersendiri, seperti berebut kader.

Ketua PW IPPNU Jateng, Sri Nur Ainingsih menyatakan pentingnya menjalankan organisasi yang efektif.  "Menjalankan organisasi secara efektif menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua sebagai kader NU dalam menjalankan organisasi," katanya.

Ia menjelaskan, PW IPPNU Jateng mengutamakan kerja sama atau bersinergi dengan PMII, KMNU dalam mengembangkan organisasi. Karenanya, dirinya berharap kader NU yang tersebar di berbagai organisasi tersebut dapat berkomunikasi dengan baik.

“Sehingga mengerti waktunya untuk memperdebatkan persamaan segmentasi kader, dan bergerak bersama dalam memperjuangkan NU,” pungkasnya. (A Rifqi H/Ibnu Nawawi)

Jumat 19 Juli 2019 9:0 WIB
Pimpin SMKNU 01 Jogoroto Jombang, Ini Tekad Sahrul Munir Bumikan Aswaja
Pimpin SMKNU 01 Jogoroto Jombang, Ini Tekad Sahrul Munir Bumikan Aswaja
Kepala SMKNU 01 yang baru, Sahrul Munir (kiri)
Jombang, NU Online
Sekolah Menengah Kejuruan Nahdlatul Ulama (SMKNU) 01 Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur memiliki kepala sekolah baru. Sahrul Munir secara resmi menggantikan Makhrus Ali sebagai Kepala SMK milik NU ini.

Sebagai Kepala Sekolah baru, dirinya sudah memiliki upaya-upaya dalam membumikan nilai-nilai Ahlissunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. 

Baginya, membumikan nilai dan ajaran NU harus menjadi hal yang utama. Segenap unsur lembaga sekolah, baik pendidik maupun siswa-siswi harus turut serta membesarkan NU.

"Program kami akan selalu dekat dengan kegiatan rutinitas NU yakni dengan mengundang badan otonom (Banom) NU di SMKNU sehingga mempunyai rasa memiliki," katanya kepada NU Online, Kamis (18/7).

Ulama-ulama NU di masanya sudah demikian berjasa di sejumlah aspek. Tidak terkecuali di dunia pendidikan. Untuk itu meneruskan perjuangannya menurut dia menjadi keniscayaan, bahkan kewajiban. 

"Mudah-mudahan dengan kami menjadi kepala sekolah di SMKNU 01 Jogoroto bisa meneruskan perjuangan pendiri NU melalui jalur pendidikan," ujarnya.

Pria yang juga Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Mojowarno, Jombang ini sangat yakin, dengan segala potensi yang dimiliki SMKNU saat ini, lembaga pendidikan ini akan terus berkembang. Ini karena adanya dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat melalui Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arifnya.

"SMKNU 01 Jombang dengan jurusan farmasi industri adalah satu-satunya SMK milik PC NU Jombang yang terletak di Jogoroto, dengan lokasi yang strategis. Dengan demikian kami berkewajiban untuk mendedikasikan diri membesarkan SMKNU 01 Jombang ini," jelasnya.

Jurusan farmasi yang dikembangkan sekolah ini di Jombang masih  jarang. Padahal saat ini jurusan tersebut kian diminati masyarakat luas. "Untuk itu kami optimis ke depannya SMKNU 01 Jombang ini menjadi pilihan yang tepat untuk mengembangkan diri di bidang kesehatan," jelas pria yang biasa disapa Munir ini.

Saat ini sudah ada banyak pihak yang sudah menjadi mitra SMKNU guna mengembangkan lembaga. Dari sekian mitra itu di antaranya adalah dalam bentuk penyediaan wadah atau lahan untuk bisa mempraktikkan pengetahuan sejumlah siswa-siswi secara langsung.

"Kerja sama kami dengan dunia industri alhamdulillah sudah ke Kediri, Kertosono, Malang, Jawa Tengah. Sehingga kami tidak kesulitan saat melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk anak didik kami," ucapnya.

Ia kemudian menyebut beberapa pihak yang sudah menjalin MoU dengan SMKNU. Di antaranya PT Phapros tbk (BUMN) Semarang, PT Khitosindo (perushaan kosmetik) Mojokerto, PT Sidojodo Mojokerto, Pj SRI Cahyo Ny Center Kertosono, UPT Materia Medica Dinkes Provinsi Jawa Timur di Batu Malang, dan PT Jayamas Medika Mojoagung (produsen alkes merk ONEMED). (Syamsul Arifin/Muiz)

Jumat 19 Juli 2019 8:30 WIB
Guru MI Punya Potensi untuk Maju
Guru MI Punya Potensi untuk Maju

 Jember, NU Online
Guru-guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) tidak perlu berkecil hati dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam di masa-masa mendatang. Sebab mereka juga punya potensi yang tak kalah dibandingkan dengan guru-guru sederajat.

“Justru mereka harus bangga karena punya kelebihan di bidang agama yang notabene merupakan sumber primer pembentukan pendidikan karakter,” tukas Ketua Dewan Pengurus Cabang Pergunu Jember, H Hobri Ali Wafa saat menjadi pengarahan dalam  Halal bi Halal Guru-guru Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah di gedung MI Miftahul Ulum 4, Desa Mundurejo, Kecamatan Umbulsari, Jember Jawa Timur, Kamis (23/7).

Menurutnya, pendidikan karakter saat ini tengah menjadi perbincangan pemerhati pendidikan menyusul terjadinya degradasi moral  di kalangan remaja yang ditandai dengan tawuran dan tindak kejahatan lainnya. Salah satu biangnya karena tidak kurang  efektifnya  pendidikan karakter di sekolah. Dikatakannya, pendidikan karakter yang ada saat ini sesungguhnya mengadopsi pendidikan di pondok pesantren dan sekolah-sekolah berbasis keislaman.

“Namun anehnya sekarang sekolah-sekolah Islam diminta untuk mengimplementasikan pendidikan karakter sebagaimana konsep Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Itu sudah lama kita terapkan,” tambahnya.

Koordiantor Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Jember itu berharap agar guru-guru MI kedepan dapat menguasai teknologi informasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Sebab tanpa penguasaan teknologi informasi yang mumpuni, maka mereka akan terlindas oleh zaman.

“Saya kira guru-guru MI juga harus bisa, dan saya yakin bisa,” jelasnya.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kemampuan pembelajaran kurikulum 2013 revisi, atau biasa disebut kurtilas revisi. Untuk menerapkan kurtilas revisi, serong guru perlu memiliki kemampuan tentang metode serta evaluasi autentik.

“Guru perlu dilatih terus-menerus secara berkesinambungan,” jelasnya.

Hobri menegaskan, ujung dari semua itu adalah lahirnya murid-muri berprestasi, termasuk prestasi di bidang umum. Sebab salah satu barometer sekolah bagus dengan guru-gurunya yang qualified adalah muncul pretasi murid-muridnya.

“Dan bukan hal yang mustahil kelak MI juga akan menjadi alternatif sekolah favorit masyarakat,” pungkansya. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG