IMG-LOGO
Internasional

Saudi Gelar Lomba Baca Al-Qur’an dan Adzan, Hadiahnya Miliaran Rupiah

Jumat 19 Juli 2019 16:30 WIB
Bagikan:
Saudi Gelar Lomba Baca Al-Qur’an dan Adzan, Hadiahnya Miliaran Rupiah
Ilustrasi orang adzan (haberler.com)
Riyadh, NU Online
Arab Saudi melalui Kingdom’s General Entertainment Authority (GEA) menggelar Lomba Membaca Al-Qur’an dan Adzan. Pendaftaran lomba dibuka pada 22 Mei dan ditutup pada 22 Juli 2019. Lomba ini terbuka untuk semua Muslim di seluruh dunia. Hingga saat ini, lebih dari 21 ribu orang dari 162 negara sudah mendaftar untuk mengikuti lomba tersebut; 11 ribu peserta lomba baca Al-Qur’an dan 9 ribu peserta lomba adzan.

Hadiah yang ditawarkannya pun tidak main-main. Pihak penyelenggara, GEA, mengalokasikan dana sekitar 12 juta Saudi Riyal (SR) atau setara 44,5 miliar rupiah untuk para pemenang. Juara pertama dalam Lomba Membaca Al-Qur’an akan mendapatkan 5 juta SR, juara kedua 2 juta SR, juara ketiga 1 juta SR, dan juara keempat 500 ribu SR.  Sementara hadiah juara 1 Lomba Adzan adalah 2 juta SR, juara kedua 1 juta SR, juara ketiga 500 ribu SR, dan juara keempat 250 ribu SR. 

Dikutip laman Arab News, Kamis (18/7), kompetisi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman baru bagi dunia dalam menyoroti keragaman budaya dunia Islam. Hal itu tercermin dalam metode pembacaan Al-Qur’an dan lantunan azan. Di samping itu, lomba ini juga dimaksudkan untuk mempromosikan citra Islam dan Muslim secara internasional.

Arab Saudi hendak mendorong generasi muda Islam untuk giat membaca Al-Qur’an dan mengajak mereka untuk ikut kompetisi ini.

Perlu diketahu, kompetisi ini dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama pendaftaran, dari 22 Mei hingga 22 Juli. Tahap kedua, penyaringan dan nominasi yang dilaksanakan pada 23 Juli sampai 23 Agustus. Tahap ketiga, penilaian dan penampilan langsung. Waktunya 24 Agustus hingga 24 September. Tahap terakhir, pengumuman pemenang yang dilangsungkan pada 25 September sampai 25 Oktober. 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai ketentuan partisipasi dan pendaftaran, silahkan kunjungi https://quranathanawards.com. (Red: Muchlishon)
Tags:
Bagikan:
Jumat 19 Juli 2019 14:30 WIB
Reruntuhan Masjid dari Era Kedatangan Islam di Israel Ditemukan
Reruntuhan Masjid dari Era Kedatangan Islam di Israel Ditemukan
Reruntuhan masjid tua di Kota Rahat, Israel (Amir Cohen/Reuters)
Yerusalem, NU Online
Arkeolog di Israel mengaku menemukan reruntuhan dari salah satu masjid pedesaan tertua yang didirikan pada saat kedataan Islam ke negeri itu. Persisnya, lokasi masjid itu terletak di Kota Rahat.

Otoritas Peninggalan Antik Israel memperkirakan, masjid itu dibangun sekitar abad ke tujuh hingga delapan Masehi. Menurut Otoritas tersebut, ada beberapa masjid besar yang diketahui berasal dari era tersebut tersebar di Yerusalem dan Makkah. Tapi, jarang ditemukan tempat ibadah yang sangat kuno dengan jamaah yang kemungkinan adalah para petani lokal.

Dikutip laman Reuters, Kamis (18/7), setelah situs reruntuhan masjid di Kota Rahat tersebut digali, maka ditemukan sisa-sia masjid tanpa atap. Masjid tersebut ditemukan dalam kondisi terbuka. Berbentuknya persegi panjang, seukuran garasi satu mobil, dengan ‘tempat imaman’ yang menghadap ke selatan ke arah Makkah.

Salah satu anggota Otoritas Peninggalan Antik Israel, Gideon Avni, menjelaskan, masjid yang baru saja ditemukan itu merupakan salah satu masjid tertua yang diketahui berasal dari masa kedatangan Islam di Israel.

“Ini adalah salah satu masjid paling awal yang dikenal dari awal kedatangan Islam di Israel, setelah penaklukan Arab 636 M," kata Gideon.

Bagi Gideon, penemuan situs ini bisa menjadi sumbangsih yang penting bagi dunia penelitian di tengah konflik Palestina dan Israel yang tak berkesudahan. “Penemuan desa ini, serta masjid di dalamnya, menjadi kontribusi yang signifikan untuk penelitian sejarah negara ini di tengah masa pergolakan,” jelasnya.

Konflik antara Israel dan Palaestina sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Pada 1967 lalu, Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah. Kemudian pada 1980, seluruh kota dianeksasi dan diklaim sebagai ibu kota negara Yahudi. Langkah Israel ini tidak pernah diakui  masyarakat internasional. (Red: Muchlishon)
Kamis 18 Juli 2019 21:0 WIB
Kota di Inggris Ini Kibarkan Bendera Palestina, Akui Negara Berdaulat
Kota di Inggris Ini Kibarkan Bendera Palestina, Akui Negara Berdaulat
Sheffield, NU Online
Dewan Kota Sheffield, Inggris, mengakui Palestina sebagai sebuah negara berdaulat. Sebagai bentuk pengakuannya, Dewan Kota mengibarkan bendera Palestina di luar Balai Kota Sheffield pada Rabu, (17/7) waktu setempat.

Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya Sheffield Labor Friends of Palestine membuat petisi menyerukan Dewan Kota agar mengakui sebagai negara berdaulat. Petisi tersebut ditandatangani hampir 20 ribu orang. Sheffield Labor Friends of Palestine mengatakan, pihaknya akan menyerahkan keputusannya kepada Parlemen Inggris untuk mendiskusikannya pada September mendatang. 

Adalah Julian Pearn seorang anggota Sheffield Labor Friends of Palestine yang memiliki peran besar dalam mendorong Dewa Kota Sheffield mengakui Negara Palestina. Meski demikian, ia menyebut kalau apa yang dilakukan Dewan Kota Sheffield sudah terlambat karena saat ini sudah ada 138 negara yang mengakui Palestina.


Dewan Kota Sheffield mengibarkan bendera Palestina di depan balai kota. 

“Kami percaya pengakuan masyarakat buat Negara Palestina oleh Dewan Kota akan menjadi pernyataan solidaritas berpengaruh yang kuat yang kami harap akan diikuti oleh dewan lainnya,” kata Pearn, dikutip laman kantor berita resmi Palestina, WAFA, Rabu (17).

Duta Besar Palestina untuk Inggris, Hussam Zumlot, menyambut baik langkah tersebut. Ia memuji apa yang telah dilakukan Sheffield Labor Friends of Palestine sehingga Dewan Kota Sheffield mengakui Negara Palestina dan mengibarkan bendera di depan balai kota. 

Menurutnya, dukungan yang diberikan Kota Sheffield itu bukan hanya sekedar simbol saja, melainkan sebagai upaya awal Inggris mengakui Palestina. Zumlot menyebut, adalah sebuah kewajiban bagi Inggris mengakui Negara Palestina, mengingat Inggris terlibat dalam tragedi rakyat Palestina dengan Deklarasi Balfour 1917. Dalam deklarasi tersebut, Inggris menjanjikan tanah air bagi orang Yahudi dengan tidak memedulikan penduduk Palestina.

Konflik Palestina dan Israel sudah berlangsung puluhan tahun, namun hingga kini belum ada titik terang kalau konflik tersebut akan berakhir. Berbagai macam upaya telah dilakukan untuk mewujudkan perdamaian abadi di wilayah Timur Tengah itu. Tapi belum ada satu pun yang berhasil. (Red: Muchlishon)
Kamis 18 Juli 2019 17:30 WIB
Arab Saudi Bagikan Sejuta SIM Card untuk Jamaah Haji Tahun Ini
Arab Saudi Bagikan Sejuta SIM Card untuk Jamaah Haji Tahun Ini
Tim membagikan SIM card kepada jamaah haji (SPA)
Makkah, NU Online
Otoritas Arab Saudi bakal membagikan sejuta SIM card dan internet gratis untuk jamaah haji tahun ini. Pembagian kartu perdana tersebut dilakukan di Bandara Internasional King Abdul Azis ketika para jamaah haji tiba.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program yang bertujuan untuk memfasilitasi para jamaah yang ingin berkomunikasi dengan para kerabatnya. Para tim akan bekerja selama 24 jam sehari selama musim haji untuk membagikan SIM card kepada para jamaah yang baru datang. 

Seperti dilaporkan Arab News, Selasa (16/7), melalui program ini para jamaah bisa membagikan pengalaman mereka selama di Arab Saudi kepada para keluarganya di rumah. Program pembagian kartu perdana ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Arab Saudi agar para jamaah nyaman dan mudah dalam menjalankan haji. 

Juga membagikan delapan juta Al-Qur’an

Otoritas Arab Saudi juga menyediakan buku-buku panduan haji dan Al-Qur’an kepada para jamaah haji tahun ini. Wakil Menteri Publikasi dan Urusan Cendekiawan, Sheikh Abdulaziz bin Mohammed al-Hamdan, menjelaskan, ada 52 judul buku tentang haji yang disetujui untuk dibagikan kepada para jamaah haji. Buku-buku tersebut tersebut tersedia dalam 30 bahasa. 

Di samping itu, ada 8 juta salinan Al-Qur’an dan terjemahannya, serta buku-buku ritual dan manual lainnya yang didistribusikan kepada para jamaah tahun ini.

Tidak hanya itu, al-Hamdani juga menyebutkan kalau pihaknya sudah menyediakan perpustakaan elektronik di semua bandara internasional, pusat pelabuhan keluar, dan beberapa masjid. Di perpustakaan itu, buku-buku haji dan umrah tidak hanya versi tulis, tapi juga ada versi audionya juga. 

Dikutip dari laman kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, Rabu (17/7), program ini dimaksudkan agar para jamaah memiliki pengetahuan yang benar tentang tata cara melaksanakan haji dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

Diperkirakan, jumlah umat Islam yang datang ke Arab Saudi untuk melaksanakan haji tahun ini mencapai lebih dari 1,7 juta orang. Sementara jamaah umrah mencapai delapan juta orang. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG