IMG-LOGO
Esai

Perang Shiffin dan Akhir Perseteruan Jokowi-Prabowo

Sabtu 20 Juli 2019 2:15 WIB
Bagikan:
Perang Shiffin dan Akhir Perseteruan Jokowi-Prabowo
Lukisan karya Kunara 'Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo' (Foto. Fernando Fitusia)
Oleh Ahmad Romli

Di dekat hulu Sungai Furat yang kini terletak di Suriah, dua sahabat mulia Nabi, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan saling berhadapan. Keduanya terlibat perang besar yang konon bermula dari perselisihan perebutan tampuk kekuasaan. 

Peristiwa berdarah yang tercatat menewaskan sekitar 60 ribu orang itu dikenal dengan sebutan Perang Shiffin (waq’ah Shiffin). Perang selama 3 hari itu terjadi pada tahun 37 Hijriah atau bertepatan 657 tahun Masehi.  Perang Shiffin adalah noktah hitam dalam sejarah umat Islam. Semua menyayangkan perang saudara itu terjadi. Apalagi di antara sahabat Nabi masih banyak yang masih hidup.

Dalam literatur sejarah, Perang Shiffin ini berawal dari pengangkatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah ke-4 menggantikan Khalifah Utsman bin Affan yang wafat terbunuh. Muawiyah menolak membaiat Ali bin Abi Thalib sebelum keadilan atas pembunuh Utsman bin Affan ditegakkan. Ia mengetahui bahwa ada penumpang gelap dalam kubu Sayyidina Ali yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. 

Untuk menghindari terjadinya bentrok fisik antar kedua kubu, Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Muslim al-Khaulani untuk melakukan negosiasi. Upaya pertama tidak berhasil. Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib kemudian mengutus Abu ad-Darda’ dan Abu Umamah. Keduanya pun mengalami jalan buntu. Perang tak bisa dicegah.   

Di tengah ganasnya ladang peperang, berbagai upaya menghentikan terus dilakukan oleh kedua belah pihak. Puncaknya, kubu Muawiyah bin Abi Sufyan mengikatkan Al-Qur’an di ujung tombak sebagai isyarat penyelesaian konflik yang kemudian dikenal dengan istilah tahkim. Tahkim adalah perjanjian damai antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan yang dibuat berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun juru runding dari Sayyidina Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari, sedangkan dari pihak Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan diwakili oleh Amr bin Ash.

Upaya damai itu disambut positif oleh kedua belah kubu. Sebab sejak dari awal keduanya memang tidak bermaksud menyerang satu sama lain. Riwayat lain juga menyatakan  bahwa kedua kubu sebenarnya tidak berselisih mengenai jabatan kekhalifahan.

Meski demikian, ada sekelompok orang yang menghendaki untuk melanjutkan perang dan menolak tahkim. Sekelompok orang yang menolak itu kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Akhirnya, menantu Nabi itu terbunuh di tangan Abdurrahman bin Muljam. Di dalam sejarah, kelompok ini dikenal sebagai Khawarij. Siapa sejatinya khawarij? Dalam Syarh al-Kawakib al-Lama’ah, Syeikh Abul Fadl bin Abdusy Syakur Senori mengatakan bahwa mereka adalah setiap orang yang menolak atau menentang pemimpin yang sah yang telah disepakati baik di era sahabat, tabi’in, dan pemimpin-pemimpin di sepanjang zaman.  

Akhir pekan lalu, dua tokoh sentral yang menjadi rival dalam Pemilihan Presiden RI 2019 bertemu. Perjumpaan di depan publik antara Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi peristiwa penting di jagat politik nasional yang sudah dinanti banyak orang.

Pertemuan yang berlangsung Sabtu, 13 Juli itu adalah sinyal kuat tentang perdamaian, sekaligus menghapus narasi-narasi panas penuh rivalitas yang pernah digeser hingga medan perang badar. 

Keduanya —sekalipun tidak mengutip peristiwa berdarah dalam Perang Shiffin, menyadari bahwa permusuhan bukanlah jalan pilihan. Perseteruan kontraproduktif yang berlangsung cukup lama harus disudahi. 

Perselisihan, gontok-gontokan   diantara Jokowi dan Prabowo mencapai titik paripurna. Keduanya telah sepakat berdamai. Menyeru kepada pendukungnya untuk bersatu setelah sebelumnya terpolarisasi akibat perbedaan pilihan politik. 


"Tidak ada lagi 01, tidak ada lagi 02," 

Penyebutan "cebong" dan "kampret" yang selama ini dilontarkan masing-masing pendukung juga layak dihentikan.

"Tidak ada lagi namanya cebong, tak ada lagi namanya kampret," itu kata 01.

02 pun sepakat. "Sudahlah, enggak ada lagi cebong-cebong. Enggak ada lagi kampret-kampret".
 
Rekonsiliasi dua tokoh nasional ini tampaknya menemukan relevansinya dengan ceramah Kiai Cholil Bisri saat menghadiri haul Kiai Muhammad Munawwir di Krapyak tahun 1999. “Kita tidak boleh disengat kalajengking untuk kedua kalinya,”  Kewaspadaan itu diungkapkan setelah bangsa Indonesia berhasil menghindari perang saudara akibat krisis politik.


Penulis adalah Pengajar di SMA Islam Raudlatul Falah Gembong Pati

Bagikan:
Kamis 11 Juli 2019 6:0 WIB
Jangan Marah
Jangan Marah
null
Oleh Didin Sirojuddin AR
 
أن رجلا قال للنبى صلعم: "أوصنى", قال: "لا تغضب" فرددمراراقال: "لاتغضب".
 
Seorang lelaki  berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku wasiat."  Nabi menjawab: "Jangan marag!" (Karena terus-terusan bertanya), maka beliau berulang-ulang menjawab: "Jangan marah!" (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
 
Peristiwa "orang mengotori masjid" sudah ada contohnya. Di zaman Nabi SAW, seorang arab baduy tiba-tiba kencing di pojokan masjid. Para sahabat ngamuk dan ada yang berniat menggebukinya. 
 
Nabi mencegah dan segera menginstruksikan: "Ayo sekarang ambil ember air!" lalu beliau suruh guyur tuh air kencing sembarangan itu. Baduy yang gak tahu sopan-santun itu hanya dinasihati lalu disuruh pergi tanpa diinterogasi dan dihakimi luar dalam, karena semua sudah tahu dia orang bodoh.
 
Punten. Apa yang dilakukan Nabi SAW adalah standar hukum yang harus kita anut. Saya mah maunya seperti beberapa sahabat:  ngagebugan si baduy yang gak tau sopan-santun itu. Tapi kan Nabi melarang.
 
Abu Bakar juga pernah bersumpah menghukum dengan  memutuskan santunan rutin kepada Si Misthah, karena aktif memprovokasi dan memfitnah putri kesayangannya yang juga istri Nabi, Siti Aisyah (dalam peristiwa Haditsul Ifqi). Tapi Nabi melarang bahkan menyuruh Abu Bakar untuk menggandakan bantuannya.
 
Saya hanya melihat sikap Nabi yang lebih mendahulukan "memberi ampunan" daripada "menjatuhkan hukuman", apalagi kepada orang bodoh kayak si baduy. Si perempuan pembawa anjing juga tidak berbeda. Dia orang "bodoh" dan kita tidak bisa "menebak niatnya" untuk sengaja menyerang Islam atau "membawa agenda terselubung" hanya karena membawa-bawa anjing sambil pakai sepatu ke dalam masjid.
 
Menyerahkan perkaranya kepada polisi adalah tepat. Mengganti karpet masjid yang ternoda najis dengan karpet baru juga tepat. Saya juga setuju dengan harapan Kiai Dudung Abdul Gopar, "Mudah-mudahan si perempuan emosional itu mendapat hidayah Islam dan masuk ke barisan kita."
 
Tidak berarti hanya seperti itu sikap Nabi. Sebab beliau pun pernah menyuruh penggal kepala orang yang sudah kelewat saking bikin penghinaan-penghinaan terhadap beliau dan ajarannya. Lagi-lagi ketika manusia  sinting itu ampun-ampunan, Nabi membatalkan vonisnya.
 
Saya hanya dapat pelajaran menarik dari kasus "menjatuhkan keputusan hukum" cara Nabi. Ini "perang pemikiran" (الغزوالفكرى) yang harus dihadapi dengan pikiran cerdas dan pas.  Nabi sangat selektif, hati-hati, tidak terburu-buru memvonis. Bahkan "lebih baik keliru membebaskan daripada keliru menghukum" katanya.
 
Vonis Nabi pun hanya berdasarkan fakta lahiriah, seperti kata beliau:
 
نحن نحكم بالظواهر
 
Artinya, "Kami mengambil  keputusan hukum berdasarkan fakta-fakta lahiriah."
 
Ketika prajuritnya kadung membunuh musuh yang mengucap "La Ilaha illallah" karena dianggapnya hanya omdo,  lip service dan pura-pura, Nabi marah: "Kenapa tidak kamu belah saja dulu dadanya supaya kamu tahu isi hatinya?" Maksud Nabi, kalau jelas mengucap  لاإله إلاالله  ya gak boleh dibunuh. Soal dia pura-pura, hanya Allah yang tahu.
 
Akhirnya, saya  tertarik dengan ucapan Moh Hatta kepada para pendiri bangsa saat terjadi "debat panas" untuk menentukan dasar dan sendi negara kita: "Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin."  Wallahu alam.
 
 
Penulis adalah pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah. Ia juga pengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi.
Selasa 9 Juli 2019 1:0 WIB
Muasal Al-Athlal
Muasal Al-Athlal
Oleh Usman Arrumy 

Ibrahim Naji, seorang pemuda dari Hay Shubro, pamit kepada kekasihnya—kebetulan tetangga sendiri, berusia sekitar 16 tahun, untuk pergi sekolah kedokteran. Selama enam tahun tanpa kabar, dan begitu Naji lulus dan pulang ke kampung halaman, ia baru tahu kalau kekasihnya itu sudah lama menikah dengan lelaki asing.

Pada mulanya ia adalah seorang dokter. Ia lulus sekolah kedokteran pada usia 26 tahun. Setelah itu diangkat sebagai dokter di Kementerian Komunikasi, dan kemudian di Kementrian Kesehatan.
Masa remajanya, ia banyak membaca puisi para penyair kuno, sebut saja di antaranya; puisi-puisinya al-Mutanabbi dan Abu Nawas, menjadi corak dari bagaimana Naji menulis puisi.

Karirnya sebagai penyair dimulai sekitar tahun 1926, ketika Naji menerjemahkan puisi-puisinya Alfred de Musset, novelis dan penyair asal Perancis, dan kemudian diterbitkan di Koran mingguan. Lalu untuk pertama kalinya ia menerbitkan puisi-puisinya pada tahun 1934, ketika ia berusia 36—berjudul al-Waro’ al-Ghomam; Di balik Awan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1944, Naji menerbitkan puisi-puisinya Layaly al-Qohiroh; Malam Kairo. Itulah kumpulan puisi yang disebut fenomenal oleh banyak kalangan.

Dan, tragedi dimulai dari sini.

Di sebuah malam, pada musim dingin. Naji mendengar suara langkah kaki berderap dan suara pintu diketuk berulang-ulang, ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Seorang lelaki berusia 40 tahun berdiri di hadapannya, dengan tergopoh lelaki itu minta tolong agar membantu istrinya yang sedang dalam kondisi sulit melahirkan. Malam sudah larut.

Ibrahim Naji bergegas membawa peralatan medis secukupnya.

Di rumah lelaki itu, lampu menyala remang. Suhu udara sedang dingin-dinginnya. Naji mengikuti masuk dengan langkah gugup. Di dalam kamar, dengan pencahayaan yang remang-remang itu, terbaring perempuan hamil mengerang kesakitan. Dari erangan tersebut Naji sudah seperti mengenal dengan baik suaranya. Langkah kaki Naji semakin mendekat ke sisi ranjang, dan Naji terkejut. Sangat terkejut. Di hadapan Naji ternyata adalah seorang perempuan yang bertahun lampau pernah menjadi kekasihnya. 

Dan kini, Naji melihatnya sebagai orang lain yang sudah menjadi istri orang lain--menjadi calon ibu bagi bayi orang lain. Sebagai seorang dokter, Naji tentu profesional; ia bekerja dalam kapasitasnya sebagai dokter, bukan sebagai lelaki yang dilupakan kekasihnya dulu. Ia singkirkan perasaan antara sedih dan bahagia; sedih karena perempuan yang hamil itu kekasihnya, bahagia karena perempuan itu pernah ada dalam kehidupannya.

Cinta di hatinya jauh lebih besar dibanding kehancurannya menghadapi fakta bahwa perempuan yang akan ditolongnya adalah kekasih yang pernah menghuni jiwanya. Cinta itulah yang membuat Naji akhirnya berlapang dada untuk membantu mantan kekasihnya melahirkan bahkan ketika kini Naji sadar tidak menjadi bapak dari anak tersebut.

Anak telah lahir dengan selamat. Dan Naji menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ibu dari bayi tersebut dengan sebaik-baiknya, ia kerahkan segala upaya terbaiknya sebagai dokter untuk melayani dan merawat mantan kekasihnya.

Naji pulang. Dalam perjalanan pulang, ia melewati reruntuhan bangunan. Kepalanya menunduk, di hatinya terpapar sesuatu yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Ketika sampai rumah, ia duduk menghadap jendela, dipandangnya keluasan langit Kairo, terbayang olehnya satu masa saat senyumnya masih menjadi satu-satunya milik kekasihnya itu.

Ia mengambil pulpen dan kertas, dan mulailah Ibtahim Naji menulis puisi Al-Athlal. Menulis reruntuhan hatinya. Menulis puing-puing jiwanya.

Mantan kekasihnya melahirkan bayi.
Ibrahim naji melahirkan puisi.

tak berapa lama setelah al-Athlal ditulis, Ummi Kultsum merencanakan untuk menjadikannya sebagai lagu. Tapi, lekas Ummi Kultsum menyadari ketika tahu latar belakang puisi itu dibuat. Ummi Kulstum merasa tak sampai hati untuk mewujudkannya sebagai lagu. Ummi Kultsum seolah mau memberikan penghormatan kepada Naji dengan cara mengurungkan niatnya dalam menggubah Al-Athlal sebagai lagu—dengan alasan tidak hendak menambah beban kesedihan Naji.

Ummi Kultsum saat itu sudah terlampau populer, dan tiap lagu hampir bisa dipastikan akan mudah terkenal dalam durasi yang sangat cepat. Bila Ummi Kultsum jadi mewujudkan al-Athlal sebagai lagu pada saat itu juga, otomatis al-Athlal akan semakin dikenal. Dengan semakin dikenal, hatinya Ibrahim Naji akan semakin tak terperikan patahnya. Alasan itulah yang membuat Ummi Kultsum menundanya. 

13 tahun setelah Ibrahim Naji wafat, Ummi Kulstum baru merencanakan ulang untuk Al-Athlal. Tersebutlah penyair Ahmad Ramy, Komposer Riyadh Sumbaty, dan Ummi Kultsum sendiri; musyawarah.

Al-Athlal sendiri sebenarnya mempunyai susunan 125 bait, tapi demi efektivitas sebuah lagu, oleh Ahmad Ramy memangkasnya menjadi hanya 32 bait. 32 Bait itulah yang akhirnya dinyanyikan Ummi Kultsum. Bahkan tujuh bait di antaranya diambil dari puisinya Ibrahim Naji berjudul Al-Wada’—Perpisahan.

هل رأى الحب سكارى مثلنا    كم بنينا من خيال حولنا  
ومشينا في طريق مقمر      تثب الفرحة فبه قلبنا
وضحكنا ضحك طفلين معا        وعدونا فسبقنا ظلنا 

وانتبهنا بعد ما زال الرحيق       وأفقنا ليت أنا لانفبق
 يقظة طاحت بأحلام الكرى   وتولى الليل والليل صديق   
وإذا النور نذير طالع     وإذا الفجر مطال كالحريق    
وإذا الدنيا كما نعرفها     وإذ ا الأحباب كل ف طريق

Apakah cinta pernah melihat ada yang semabuk kita? 
Betapa banyak angan-angan telah dibangun di sekitar kita
Dan kita berjalan di bawah terang cahaya bulan, 
Kegembiraan melintas di hadapan kita
Kita tertawa seperti dua bocah yang bermain bersama. 
Dan kita berlomba mengejar bayangan kita masing-masing
 
Kita sadar meski euphoria masih tersisa, 
lalu mengapa kita tak terjaga saja?
Terjaga dari mimpi yang menakutkan, 
dan malam telah datang dan menjadi satu-satunya teman
Ketika cahaya itu menandai terbitnya matahari, 
ketika fajar berlesatan seperti lidah api
Ketika dunia seperti yang kita tahu, 
Ketika Para pecinta menapaki jalannya

Tujuh bait di atas merupakan petikan dari puisi al-Wada’—Ibrahim Naji, yang oleh penyair Ahmad Ramy disertakan di dalam lagu al-Athlal. Tidak hanya itu, bahkan penyair Ahmad Ramy mengubah awal lirik al-Athlal yang semula يا فؤادي رحم الله الهو menjadi seperti yang kita tahu selama ini. يا فؤادي لا تسل أين الهوى.

Betapa andil Ahmad Ramy di dalam keterlibatan al-Athlal begitu jauh dan penting. Tahun 1953, proyek al-Athlal dimulai. Pertama-tama, penetapan lirik dikerjakan oleh Ahmad Ramy. Dan posisi Riyadh Sumbati, sebagai composer, mengerjakannya sampai tahun 1962. Tahun itulah terjadi ketegangan internal antara Riyadh Sumbati dengan Ummi Kulsum. Ketegangan itu dipicu oleh selera nada yang beda. Sampai pada tahun 1966, Al-Athlal launching.

Kembali pada Ibrahim Naji, sang penyair yang menulis al-Athlal. Al-Athlal yang perkasa—musisi Riyadh Sumbati yang jenius menggubahnya menjadi sebuah lagu indah, juga suara Ummi Kulsum yang tak terbantahkan, ternyata semua itu berlatar peristiwa traumatis. Bertahun-tahun kemudian, di Indonesia, al-Athlal lebih dikenal sebagai ‘Sukaro’. 


Kini, mari kita lihat; di Indonesia kebanyakan, lagu al-Athlal dinyanyikan dengan nuansa riang gembira, tak tahu bahwa arti dari lirik yang dinyanyikannya adalah soal hati yang sudah kehilangan bentuknya, adalah soal kekasih yang dicampakkan kekasihnya. Dan kini, marilah kita lihat; ketika dunia bergantian menyanyikan al-Athlal dengan suka-cita, tak tahukah bahwa tiap baitnya bersumber dari kepedihan sang penyairnya. Ibrahim Naji.

Kairo, 30 Juni 2019


Penulis adalah seorang penyair, saat ini menjadi Mahasiswa Al-Azhar Kairo.

Rabu 3 Juli 2019 3:0 WIB
Menjadikan Buku sebagai Suluh
Menjadikan Buku sebagai Suluh
Gus Dur mengetik tulisan
Oleh Muhammad Ghufron

Suatu hari di waktu pagi yang cerah, sosok berjanggut tebal itu pernah mempunyai kebiasaan mulia. Duduk mematung di kursi sembari memangku buku ditemani secangkir kopi dan rokok sambil menghadap sinar matahari. Kebiasaan itu dilakukan sehabis bangun dari tidurnya di waktu pagi. Tak banyak yang dilakukan olehnya selain bersetia mencumbui buku-buku.Itulah Karl Marx. Sosok yang menjadikan buku sebagai jembatan menuju lorong-lorong ide dan pemikiran. Membaca buku seolah menjadi ibadah wajib bagi Marx.

Hingga terlahirlah ke dunia, aliran Marxisme yang membawa segudang misi ide-ide tentang Karl Marx. Das Kapital yang tebalnya berjilid-jilid itu merupakan kitab suci aliran ini. Pemikirannya secara gradual dikaji oleh para pemikir dan tokoh-tokoh dunia sebagai rujukan merevolusi tatanan masyarakat yang sedang mengalami kejumudan yang bertungkus-lumus dengan pengapnya ketertindasan. Itulah mengapa di masa rezim Orde Baru yang bobrok itu, buku ini dilarang terbit dan sempat sesekali dibreidel. 

Di saat getirnya rezim Orde Baru bertahta, muncullah sosok yang hadir membawa segudang ide ke tengah-tengah masyarakat republik Indonesia saat itu. Ia menawarkan wawasan visioner tentang bangsa. Sebut saja Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sosok yang dijuluki Sang Guru Bangsa tersebut merupakan representasi dari sebuah ikhtiar melepaskan bangsa dari tubir kehancuran.

Serupa dengan Karl Marx, Gus Dur merupakan pembaca buku yang ulung dan tekun.Semasih duduk di bangku MTs dirinya telah berhasil mengkhatamkan Das Kapital-nya Karl Marx yang tebalnya berjilid-jilid itu.Baginya mencumbui buku merupakan suluh mengimajinasikan bangsa dan rujukan menambah horizon pengetahuan. 

Barangkali wawasan kebangsaan yang lekat dengan pluralisme terlahir dari kebiasaan yang mulia satu ini. Sebab menjadi muskil membidani ide-ide segar tentang wawasan pluralisme jika tidak merujuk pada buku-buku.

Itulah Gus Dur dan Karl Marx. Dua sosok pembaca buku yang selalu mengakrabi aksara-aksara, menjadikan buku sebagai suluh menerangi kegelapan. Kini keduanya merupakan salah satu representasi sosok manusia abadi yang karya-karyanya tak akan lenyap begitu saja dalam rajutan narasi intelektual umat manusia.Kini keduanya telah mangkat, meninggalkan warisan berupa karya-karya yang patut kita renungi bersama.Tentunya ihwal laku literasi yang harus kita tiru. 

Ada Suluh dalam Diri Pembaca
Sekelumit dua sosok berkekasih buku seamsal Marx dan Gus Dur mengajarkan kita betapa redupnya jika dunia tanpa buku. Seisi manusia di muka bumi ini seketikaberubah menjadi janggal dan berpongah-pongahan jika masih menampikgairah literasi.

Ada yang jadi tukang jagal dengan karakter antagonisyang merindukan perkelahian sesama manusianya, ada juga yang selalu menyetubuhi kebencian hingga lahirlah anak haram yang dinamai permusuhan. Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang timbul akibat kita tidak mencumbui buku dan mengambil hikmah di dalamnya. 

Kini kegamangan dan rasa waswas untuk menepaki jalan masa depan semakin terasa.Kompleksitas kehidupan umat manusia terbelenggu oleh jalan buntu. Sebab ide-ide dan wawasan tak lagi mengalir secara jernih. Seketika menjadi beku. Inilah sepenggal gambaran nestapa yang tercipta akibat kita menarik diri dari buku- buku. Sains menjadi mati. Sastra seketika bungkam. Dan pemikiran pun ikut-ikutan macet. 

Lihatlah sejenak kondisi bebal pemuda-pemuda kita yang jauh dari buku-buku. Kita sungkan meratapi problem anak mudayang semakin mengacuhkan diri dari gairah literasi. Akan tampak ke permukaan perdebatan-perdabatan ngelantur tanpa makna yang dibuat untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang intelektual. Semuanya hanyalah bungkus yang terlalu bergagah-gagahan menang sendiri. Padahal apa yang dibicarakan nir- referensi. 

Jika kita hendak kembali sejenak megafirmasi diktum Latin yang berbunyi historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Maka kita akan kembali menemukan secercah inspirasi yang berpendar relevan untuk kita kontekstualisasikan hinggakini. Inspirasi itu berkelindan ihwal sejarah Indonesia merdeka yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kuatnya basis membaca founding fathers. 

Lihat saja pergumulan heroik Tan Malaka, Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan Bung Hatta dengan buku-buku. Tan Malaka misalnya, saat hendak studi ke Belanda seorang ibu kosnya berkata wajah Tan Malaka seolah berwarna hijau saking terlalu lamanya mencumbui buku. 

Hal serupa juga terjadi pada diri Bung Hatta saat diasingkan ke Digul. Dirinya masih menyempatkan diri mengemas buku-bukunya sebanyak 16 peti. Bahkan dari saking mulianya buku dalam diri Hatta, jangankan tangan manusia, setitik debu pun harus hilang dari setiap buku. Lain halnya dengan Bung Karno yang menjadikan buku sebagai mahar meminang sang istri, ibu Rahmi.

Tak ayal jika pada masa kolonial Belanda, ide-ide mereka sanggup mengisi relung-relung publik sebagai pemantik api perjuangan. Mereka sanggup menjadikan buku sebagai suluh mengimajinasikan bangsa dan menjadikan gairah literasi sebagai laku hidup mereka. 

Bagi mereka buku menjadi bungkus sekaligus substansi yang bisa menjadi penuntun ke arah pemuliaan adab bangsa Indonesia. Berusaha mengambil hikmah dibalik buku untuk kemudian dimanifestasikan dalam laku sehari-hari. Karenanya buku merupakan sirkulasi pengetahuanyang bisa dijadikan teman setia sambil merenungi hakikat diri sebagai manusia. Dengan begitu, buku menjadi semacam pemantik untuk mengaktualisasikan proses humanisasi dalam ranah praksis. 

Membungkus diri dengan buku, berarti kita telah berupaya membangun narasi intelektual. Kita lalu menjadi manusia yang tak hanya mematutkan diri seraya menghamba pada sampah-sampah peradaban. Sebab dalam diri kita telah tersublimasi hikmah adiluhung yang terdapat dalam buku-buku. Itulah mengapa K. H. Zainal Arifin Thoha pendiri komunitas Kutub berujar, “Bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama bersama pembaca buku”.

Tuhan kita telah memberi salah satu suluh itu dalam buku.Para pembaca bukumempunyai nyali untuk menapaki jalan terjal, berbatu, dan berduri dihadapan para pemujaanti kebenaran. Sebab dirinya telah terbekali oleh petunjuk Tuhan yang termanifestasi dalam buku. “Tuhan kita termanifestasi dalam buku,” ucap Azyumardi Azra suatu kali dalam Musyawarah Buku.

Tak perlu cemas menghadapi situasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin dinamis. Sebab kita telah mengantongi pundi-pundi pengetahuan yang bisa meluncurkan ide-ide untuk membidani lahirnya negara yang berdaulat. Bukankah secara historikideologi bangsa kita terlahir dari pergumulan ide-ide pendiri bangsa?

Akhirnya,melakukan ikhtiardengan membaca buku, kita seolah menerobos lorong-lorong pengap kejumudan. Pikiran pun seakan dibiarkan bertualang menjemput pengetahuan. Sekalipun raga di belenggu, namun pikrian akan tetap leluasa bertualang menyusuri taman-taman pengetahuan. “Kalian boleh saja memenjarakanku asalkan aku bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Demikian Bung Hatta berujar. 


Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsadan MA 1 Annuqayah Guluk- guluk, Sumenep Madura. Karya-karyanya pernah dimuat di sejumlah media seperti, Radar Madura, Kabar Madura, Mata Madura, NU Online dan Laduni.id. 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG