IMG-LOGO
Daerah

NU Care Cilacap Bangun Mushala Tak Layak di Pelosok Desa

Ahad 21 Juli 2019 5:0 WIB
Bagikan:
NU Care Cilacap Bangun Mushala Tak Layak di Pelosok Desa
Mushala Babussalam di Cihaur, Gitungreja, Gandrungmangu, Cilacap.

Jakarta, NU Care

NU Care-LAZISNU Cilacap menyalurkan bantuan untuk program bedah rumah ibadah. Kali ini menyentuh mushala BaitulMuttaqin di Dusun Cihaur RT 01/ RW 05 Desa Gitungreja, Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah.

 

Perhatian diberikan karena melihat kondisi mushala yang sudah rusak parah. Dari seluruh bangunan, terlihat tidak layak ditempati. Mulai dari lantai, dinding, jendela, hingga atap kondisinya memprihatinkan.

 

Karena bangunan kondisinya demikian, fasilitas lain juga turut memprihatinkan. Keberadaan pengeras suara, tempat wudu, perlengkapan shalat, MCK, penerangan, karpet, hingga bedug juga dalam kondisi buruk.

 

Tim NU Peduli dari NU Care-LAZISNU Cilacap, Ahmad Fauzi, mengunjungi dan menyerahkan bantuan tahap pertama untuk pembangunan mushala Baitul Muttaqin yang kini berganti nama menjadi mushala Babussalam.

 

“Pada sore ini alhamdulillah kami bersama Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Gandrungmangu, Kiai Mahfud Fauzi berjamaah di mushala Baitul Muttaqin yang sekarang berganti nama menjadi mushala Babussalam,” katanya, Jumat (19/7)

 

Ahmad Fauzi mengemukakan pertemuan digelar sekaligus menyerahkan bantuan. “Kami bertemu langsung dengan Bapak Tumirin selaku takmir mushala Babussalam,” terangnya.

 

Dirinya menjelaskan bahwa saat silaturahim diserahkan bantuan untuk memastikan bahwa mushala segera diperbaiki agar lebih layak dengan sejumlah fasilitas yang mengiringi.

 

Menurutnya, untuk tahap pertama tersebut bantuan yang diserahkan berupa uang tunai sebesar 5 juta rupiah. “Dana yang diserahkan bisa dimanfaatkan untuk memulai pembangunan,” jelasnya.

 

Menerima perhatian dan bantuan tersebut, Tumirin merasa senang. “Saya mengucapkan terima kasih kepada NU Care-LAZISNU atas bantuan yang diberikan. Semoga bantuan yang diserahkan bermanfaat bagi kami dan masyarakat di sekitar sini untuk pembangunan mushala yang lebih layak,” katanya.

 

Ucapan serupa disampaikan Kiai MahfudFauzi. “Bantuan dari NU Care-LAZISNU pasti akan sangat bermanfaat bagi pembangunan mushala di sini. Mudah-mudahan bisa menjadi jariyah di dunia dan sampai akhirat,” ungkapnya.

 

Dirinya turut berharap keberadaan mushala nanti bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh warga Dusun Cihaur, DesaGintungreja, dan umumnya kaum Muslimin dan Muslimat di kawasan setempat.

 

Perlu diketahui, untuk status tanah dari mushala Babussalam ini adalah sudah diwakafkan. “Pada kesempatan ini kami juga memohon kepada warga di manapun berada untuk bersama-sama bisa berdonasi lewat NU Care-LAZISNU agar keberadaan mushala Babussalam segera rampung dan digunakan warga,” pungkas Ahmad Fauzi. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 21:30 WIB
Tahun Ini Haji, Menpora Gabung KBIH Milik PCNU Sidoarjo 
Tahun Ini Haji, Menpora Gabung KBIH Milik PCNU Sidoarjo 
Menpora saat memberikan sambutan di KBIH milik PCNU Sidoarjo.
Sidoarjo, NU Online
Sabtu (2O/7) menjadi hari bersejarah bagi calon jamaah haji yang tergabung dalan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Rohmatul Ummah An-Nahdliyah Sidoarjo, Jawa Timur. 
 
Pasalnya dalam pelepasan tersebut dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga, H Imam Nahrawi yang juga menjadi salah satu rombongan KBIH milik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo itu. 
 
Dalam sambutannya, Ketua Umum Ikatan Alumni (Ika) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menceritakan haji pertama yang juga melalui KBIH yang sama. Ia terkesan dengan bimbingan dari para masyayikh yang berpengalaman dalam membimbing jamaah. Ia juga menyinggung tugasnya selaku Menpora yang banyak mengurusi bidang olahraga. 

"Ibadah haji itu banyak olahraganya. Tawaf ada unsur olahraga jalan. Sa'i ada unsur olahraga lari. Balang jumrah ada unsur lempar. Karena itu kesiapan fisik ini penting selain mental," tutur H Nahrawi.
 
Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo, H Maskhun menyempaikan terima kasih kepada calon jamaah haji yang telah mempercayakan bimbingannya kepada Rohmatul Ummah. 
 
“Kami berharap agar perjalanan dari tanah air hingga tanah suci berjalan lancar dan kembali ke tanah air dengan selamat serta membawa predikat haji mabrur,” katanya. 
 
Di tempat terpisah, Gus Ahid menyampaikan bahwa tahun ini Rohmatul Ummah memberangkatkan jamaah sebanyak 589. 450 berada berada di Kloter 70, sisanya di Kloter 68. 
 
Yang menarik, dalam Kloter 70 yang utuh akan dipimpin Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), Sholehuddin yang juga Ketua PC ISNU Sidoarjo. 
 
Tim Pembimbing Haji oleh Miftahul Arifin, yang aktivis NU. Sedangkan TKHI dokter Teguh juga pernah bertugas mendampingi Rohmatul Ummah. 
 
Selaku Ketua Kloter 70, Sholehuddin mengungkapkan, ini merupakan penghargaan tersendiri baginya bisa berkhidmah baik sebagai perwakilan Kemenag, maupun sebagai Ketua ISNU melayani jamaah yang notabene komunitasnya di PCNU. 
 
Apalagi di dalam rombongan ada Rais PCNU Sidoarjo KH Rofiq Siraj, dan para tokoh NU lainnya. "Sebuah kesyukuran yang yang tak terhingga. Saya sudah lama memimpikan hal ini, baru tahun ini Allah mengabulkan," papar Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya itu. (Ibnu Nawawi)
Ahad 21 Juli 2019 21:0 WIB
Kader IPNU-IPPNU Kubu Raya Kalbar Diharap Lebih Mandiri 
Kader IPNU-IPPNU Kubu Raya Kalbar Diharap Lebih Mandiri 
Kubu Raya, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kubu Raya, Kalimantan Barat menggelar sarasehan daerah perdana. Kegiatan untuk menjalin silaturahim bersama alumni yang dipusatkan di aula kantor Kecamatan Sungai Ambawang.
 
Ketua PC IPNU Kubu Raya, Misli Saputra menyampaikan bahwa acara ini guna memperkenalkan para senior kepada kader. “Ini juga demi mempererat silaturahim antarsesama kader dan senior IPNU dan IPPNU se-Kubu Raya. Sehingga ke mana arah kader akan dikerahkan usai purna dari IPNU dan IPPNU,” katanya, Sabtu (20/7).
 
Khomsiyaturrohmah selaku Ketua PC IPPNU Kubu Raya menyampaikan bahwa acara bertujuan memperkuat antar kader kepada senior. “Dan menyampaikan kepada kader bahwa walaupun kita telah belajar dari bangku SMA hingga tamat perkuliahan, akan tetapi para senior masih ingat kepada IPNU IPPNU,” paparnya. 
 
Abdurrahman Hamsy. selaku senior IPNU menyampaikan jangan jadikan berorganisasi di NU sebagai tempat mencari kehidupan. “Tapi kita dorong agar bisa lebih luas membesarkan jamiyah agar tidak hanya dijadikan penopang kehidupan bagi kita mencari keuntungan,” tegasnya.
 
Rokib menceritakan kisah kenangan bersama IPNU. “Bahwa butuh kesabaran dalam menghidupkan organisasi. Apalagi IPNU adalah organisasi dasar bisa memasuki gerbang mengenal Nahdlatul Ulama,” katanya. 
 
Sedangkan Jumiati selaku Ketua PC IPPNU Kubu Raya pertama menyampaikan pesan menanamkan dalam jiwa dalam mental wirausaha. 
 
Dan seterusnya berbagai masukan dan arahan senior, kuncinya adalah sebagai basis pelajar lakukan follow up perubahan yang lebih berdampak positif atas perkembangan potensi diri kader.
 
“Buktikan bahwa kita sudah berbuat sehingga pemerintah akan melirik, untuk mengakomodasi pendanaan. Tanamkan dalam jiwa dalam mental wirausaha, agar kader lebih mandiri tidak lagi menjual proposal,” ungkapnya.
 
Kegiatapun berakhir dengan mengabadikan foto bareng dan dilanjutkan dengan jamuan makan bersama dan ditutup hingga usai. (Ulil Abshor/Muhajir/Ibnu Nawawi)
 
Ahad 21 Juli 2019 20:0 WIB
NU Purbalingga Usung Perbaikan Tata Kelola dan Program Keumatan
NU Purbalingga Usung Perbaikan Tata Kelola dan Program Keumatan
Bupati bersama PCNU Purbalingga dan Ketua PWNU Jateng.
Purbalingga, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purbalingga melaksanakan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab). Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Minhajut Tholabah, Kembangan, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah sejak Sabtu hingga Ahad (20-21/7).
 
Dalam sambutan pembukanya, Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, KH Ahmad Muhdzir menyampaikan pentingnya tata kelola organisasi dan persoalan keumatan. Hal tersebut perlu dirumuskan dengan baik dalam musyawarah kerja.
 
"Ada titik fokus yang harus kita bahas, yaitu bagaimana tata kelola organisasi dapat berjalan dengan baik. Harapan kami dari musyawarah kerja ini akan melahirkan program kerja yang membawa kemanfaatan bagi warga NU khususnya dan masyarakat Purbalingga pada umumnya," ungkapnya.
 
Selain itu, menurut dia, Muskercab merupakan kesempatan untuk membuat peta mengenai langkah strategis yang mesti ditempuh, baik dalam jangka pendek, menengah maupun dalam jangka panjang. 
 
"Untuk itu kami berharap kepada seluruh jajaran PCNU, beserta lembaga dan Banomnya, beserta dukungan jajaran pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU)  dan stakeholder yang ada untuk senantiasa membangun komitmen kebersamaan yang berorientasi pada urusan keumatan," tegasnya.
 
Selanjutnya dirinya berharap kepada pemerintah daerah untuk senantiasa bisa membangun komunikasi dalam menentukan kebijakan yang membawa kemaslahatan bagi warga masyarakat.
 
Sementara, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Mohammad Muzammil mengingatkan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan yang secara tegas memperjuangkan nilai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah. 
 
"NU ini memiliki akidah, fikrah, amaliah dan harakah. Hal ini dikembangkan dari ajaran Nabi tentang iman, Islam dan ihsan, yang kini telah berkembang dalam disiplin keilmuan, baik tauhid, fiqh, tasawuf, dan berbagai macam ilmu alat yang mendukungnya, seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan seterusnya," ucapnya saat sambutan.
 
Lebih lanjut Kiai Muzammil menjelaskan bahwa Aswaja an-Nahdliyah sebagai manhaj jalan tengah (tawasuth) sebagai bagian dari karakter Aswaja yang memecah ketegangan teologi ektrem yang muncul kala itu. 
 
Aswaja muncul sebagai jalan tengah atau manhaj at-tawasuth dari kalangan yang menitikberatkan pada akal seperti ahlu al-ra'yu, dan di lain sisi terdapat kalangan yang hanya menitik beratkan pada wahyu atau ahlu al-hadits.
 
Kiai Muzammil berpesan tentang pentingnya bermadzhab kepada imam madzhab yang muktabarah, yang silsilah keguruan atau sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW sebagai sandaran keilmuan yang dapat dipertanggung jawabkan.
 
"Hal inilah yang dilanjutkan oleh Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy'ari dalam kitab Irsyadusy Syari dan kitab-kitab tulisan beliau," terangnya.
 
Di akhir sambutan, Kiai Muzammil juga berpesan untuk memegang teguh prinsip keNUan sebagaimana yang telah diajarkan pendiri. "Tugas kita sekarang adalah pertama, al-ma'rifatu bi Nahdlatul Ulama, memahami ilmu-ilmu dari ulama al-salaf al-shalih,” katanya. 
 
Sedangkan kedua, atsiqah bi Nahdlatul Ulama, yakin terhadap ilmu-ilmu tersebut.  “Ketiga, mengamalkan ilmu-ilmu itu dan keempat berjuang bersama NU, dan kelima bersabar di dalam NU, karena mencari ilmu dengan tekun dan selama hidup," tuturnya.
 
Hadir pada kegiatan ini Bupati Purbalingga, Diyah Hayuning Pratiwi, jajaran Forkominda, dan sejumlah tokoh masyarakat. (Rifqi Hidayat/Ibnu Nawawi )
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG