IMG-LOGO
Nasional
HARLAH KE-8 HPN

HPN Agendakan PeMuda Nusantara Summit Setiap Tahunnya

Ahad 21 Juli 2019 4:20 WIB
Bagikan:
HPN Agendakan PeMuda Nusantara Summit Setiap Tahunnya
Pengukuhan Pengusaha Muda HPN di Grand Sahid Jaya Jakarta, Sabtu (20/7) dalam rangka Harlah Sewindu HPN.
Jakarta, NU Online
Selebrasi dan Tasyakuran Sewindu Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) dilaksanakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (20/7). Rangkaian kegiatan pun dihelat dalam acara yang bertajuk Sinergi Sumber Daya Komunitas dengan Keunggulan Teknologi Digital Menggalang Arus Baru Ekonomi Indonesia ini.

Acara diawali dengan pengenalan departemen baru yang dibentuk Dewan Pengurus Pusat HPN pada 21 April 2019 lalu. Departemen tersebut dibentuk atas aspirasi generasi muda NU yang berkecimpung di dunia usaha. Departemen itu bernama Pengusaha Muda (PeMuda).

Ketua V DPP HPN Yasinta Wirdaningrum menegaskan, PeMuda merupakan wadah strategis bagi generasi muda Nahdliyin untuk memaksimalkan potensi usaha yang dimiliki para pemuda NU. Dia menegaskan bahwa konsolidasi PeMuda harus terus diperkuat melalui sinergi dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

“Sebab itu, PeMuda Nusantara Summit akan diadakan setiap tahunnya oleh HPN,” ujar Yasinta, Sabtu (20/7).

"Ini pengenalan mengenai pengusaha muda HPN. Pertemuan ini dihadiri dari berbagi daerah: dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, Kalimantan, dan Sulawesi," kata Rendi Prihartono, salah satu anggota PeMuda.

Menurut Rendi, sedikitnya 30 pengusaha muda NU berkumpul pada acara ini untuk mengemukakan program yang akan dilakukannya, yakni program rekrutmen, kaderisasi, pelatihan bisnis, kompetisi bisnis, pelatihan kepemimpinan, dan permodalan.

Adapun maksud dari pembentukan departemen ini, ialah mewadahi, memfasilitasi, menghimpun, dan mengkader para pengusaha Nahdliyin yang tersebar di seluruh dunia.

Sementara tujuannya, ialah agar pengusaha muda Nahdliyin dapat menginspirasi bagi generasi muda untuk bersama berikhtiar menjadi wirausahawan dan wirausahawati yang tangguh, gigih cerdas, dan santun.

Melalui departemen ini, para pengusaha muda HPN diharapkan dapat saling silaturahmi dan berkolaborasi antar anggota untuk pengembangan bisnis dan para pengusaha HPN dapat meningkatkan ilmu bisnis melalui program pendidikan dan pelatihan.

Rendi berharap, sesuai pertemuan ini, para pengusaha muda memperkenalkan ke daerah masing-masing bahwa di HPN terdapat Pengusaha Muda (PeMuda) Nusantara Summit.

"Nanti pulang ke daerah masing-masing mengenalkan (PeMuda Nusantara Summit) HPN," ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 23:15 WIB
IPNU Gelar 'Millenial Barista Nusantara'
IPNU Gelar 'Millenial Barista Nusantara'
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) bekerja sama dengan Bengkel Kreatif Hello Indonesia (BKHI) akan menggelar workshop Millenial Barista Nusantara pada Senin (29/7) mendatang.
Muhammad Holis Satriawan, pembina BKHI, mengungkapkan bahwa workshop tersebut akan melahirkan barista yang ke depan akan diberikan modal kedai. Kopi dipilih mengingat melaluinya lahir perbincangan dan obrolan tentang banyak hal.
 
“Karena dengan kopi bisa tukar informasi, tempatnya orang ngobrol sehingga bisa menyampaikan banyak hal di situ,” katanya kepada NU Online pada Sabtu (20/7).
 
Program kedai ini untuk wirausaha pemula, yakni para pemuda. Tujuannya guna menyejahterakan mereka secara ekonomi. “Untuk menyejahterakan secara ekonomi untuk generasi muda,” katanya.
 
Ia menargetkan seribu kedai untuk seribu orang, masing-masing orang satu kedai. Tentu harapan ke depannya, hal tersebut dapat ditularkan kepada yang lainnya. “Temannya bisa menduplikasi teman-temannya,” katanya.
 
Ia tak menargetkan secara waktu. Namun, Holis berharap secepatnya dapat tercapai. Meskipun demikian, ia sudah mempersiapkan segala rupanya dalam waktu tiga bulan. “Kita maunya target secepat mungkin. Kita punya produksi untuk memepersiapkan semua itu tiga bulan,” jelasnya.
 
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya akan melatih lebih dulu sebelum diberikan usaha. Mereka dilatih untuk mengenal aneka kopi, memahami,  meracik, hingga melayaninya.
 
“Akan kita latih lebih dahulu sebelum kasih usaha. Latih mengenal kopi, meracik, memahami, sampai melayani, hingga menciptakan harganya,” ujarnya.
 
Mereka yang sudah terlatih akan diberikan modal kafe kecil untuk dikembangkannya secara mandiri. “Dimulai dari yang kecil gedein sendiri. Dari kecil inilah kamu memulai usahamu sendiri. Nanti kalau udah enam bulan sudah milikmu sendiri,” katanya.
 
Kegiatan workshop ini bisa diikuti dengan kualifikasi usia maksimal 25 tahun dengan berkomitmen untuk belajar dengan penuh selama masa pelatihan.
 
Para calon peserta dapat mengirimkan riwayat hidup (curriculum vitae) dan motivation letter tentang pengembangan kafe mini melalui surel (email) baristamilenial@gmail.com sampai tanggal 24 Juli 2019.
Para pendaftar juga membayar uang pendaftaran Rp150 ribu. Dari situ, para peserta dapat modul pelatihan, akomodasi, konsumsi, satu set kafe mini (syarat dan ketentuan berlaku), sertifikat barista, dan apron. (Syakir NF/Abdulah Alawi)
 
Ahad 21 Juli 2019 23:0 WIB
Upaya NU Mandiri Sudah Berjalan, Tapi Perlu Terus Diperkuat
Upaya NU Mandiri Sudah Berjalan, Tapi Perlu Terus Diperkuat
Ketua NU Care-LAZISNU H Ahmad Sudrajat
Jakarta, NU Online 
Upaya NU untuk mandiri secara ekonomi sudah berjalan sejak lama. Bahkan dilakukan sejak awal. Tokoh-tokoh pendiri NU langsung terlibat di dalmnya seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Abdul Halim Leuwimunding, dan lain-lain. Hal itu terbukti dengan adanya Nahdlatut Tujjar (1924) dan Coperatie Kaoem Muslimin (CKM, 1928). 
 
Pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (1984-2000) hal serupa dilakukan melalui beragam cara, di antaranya dengan mendirikan bank. Namun, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah artikelnya pada tahun 1991, kiai yang biasa disapa Gus Dur itu mengatakan, transformasi kemandirian ekonomi NU tidak berhasil. Pasalnya, dalam bayangan dia, pada 2010 seharusnya NU sudah memiliki 2000 bank.   
 
Ketua NU Care-Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) H Ahmad Sudrajat mengatakan, upaya kemandirian ekonomi warga NU saat ini sudah berjalan di daerah-daerah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada yang dilakukan di tingkat PCNU seperti Sragen, bahkan ada yang dilakukan di tingkat ranting seperti di salah satu desa di Jombang. Di Jawa Barat, lanjutnya, sudah ada cabang yang melakukannya seperti di Sukabumi dan Karawang. 
 
“Harus diperkuat lagi dan diperkuat lagi karena belum semuanya melakukan, masih sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan jumlahnya warga NU,” katanya kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (18/7). 
 
Menurut Ajat, pola kemandirian yang dilakukan warga NU umumnya adalah dengan iuran seara berjamaah, misalnya melalui Koin NU. 
 
“Koin NU itu menjadi ikon dan terbukti banyak membantu NU di daerah-daerah, tapi lagi-lagi masih belum serentak berjamaah secara nasional,” katanya lagi. 
 
NU Care-LAZISNU, lanjut lulusan Jurusan Syariah Islamiyah Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Mesir ini, akan melakukan uji coba berjamaah iuran secara nasiona melalui program koin muktamar untuk membiayai Muktamar NU ke-34 yang akan berlangsung tahun depan. 
 
“Kita menunggu ketok palu PBNU menentukan tempat muktamarnya dulu. Lalu nanti kita akan membekali surat pengantar NU Care LAZISNU di daerah untuk melakukannya,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)
 
Ahad 21 Juli 2019 11:0 WIB
Rais PBNU: Muslim Jangan Menutup Diri
Rais PBNU: Muslim Jangan Menutup Diri
KH Ishomuddin (kanan)
Surabaya, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengkritik kelompok muslim yang menutup diri kelompok masyarakat lainnya. Menurutnya sikap tersebut bukan ajaran dari agama Islam yang ia yakini selama ini.
 
"Pemeluk agama Islam seharusnya terbuka kepada siapa saja, termasuk pada kalangan non muslim, jangan malah menutup diri. Karena Islam tidak mengajarkan yang demikian," ujar Kiai Ishom.
 
Pernyataan ini disampaikan karena melihat banyak pergerakan Islam di Indonesia yang hanya mau beli rumah bila ada label syar'inya, mau belanja di toko yang ada label syar'inya juga. Bahkan enggan berkumpul dengan anggota masyarakat yang mereka anggap tidak berpenampilan syar'i.
 
"Muslim jangan menutup diri untuk bergaul dengan warga negra lain hanya dengan alasan syar'i. Padahal Al-Qur'an mengajarkan kita untuk saling mengenal. Ini bahaya, bisa merusak persatuan dan kesatuan," katanya saat mengisi kajian titik temu ke-48 di Surabaya, Jumat (19/7).
 
Menurut dosen dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung ini sangat bahaya bila semua harus diberikan label syariah. Semisal jilbab syariat, bis syariah, pesta syariat, dan semua harus sesuai syariah versi pihaknya. 
 
"Nenek saya dulu tidak memakai jilbab seperti yang dianggap syar'i oleh kaum muda saat ini. Tapi hingga akhir hayatnya tetap muslimah," tambah Kiai Ishom.
 
Kiai Ishom menjelaskan, syariatisasi bukan tidak boleh diterapkan secara umum. Namun menurutnya, syariatisasi boleh diterapkan di Indonesia bila hal tersebut bersikap umum dan mewakili kepentingan orang banyak, tidak boleh dalam masalah individu.
 
Kiai Ishom lalu mencontohkan dalam produk undang-undang yang berlaku di Indonesia ada yang diambil dari hukum Islam. Hingga saat ini, undang-undang tersebut masih berlaku di Indonesia. Diambil hukum yang bersifat umum/publik agar tidak terjadi benturan antara individu di Infonesia.
 
"Coba buka UU nomor 1/1974 tentang perkawinan, kompilasi hukum Islam dan undang-undang wakaf, semua itu diambil dari hukum Islam. Karena asas manfaatnya bersifat umum," bebernya.
 
Namun secara tegas, Kiai Ishom menjelaskan akar perdebatan isu syariatisasi ini karena banyak umat Islam yang bersemangat mengamalkan ajaran Islam tapi memiliki ilmu sedikit. Sehingga salah paham dan cenderung menghakimi sikap yang berbeda dari kelompok lain.
 
Ia melihat banyak orang yang karena kurang ilmu agama, kurang baca, kurang diskusi yang mempersulit diri sendiri dengan takut pada simbol salib. Akhirnya, lihat tanda simbol "tambah" di ambulans takut, lihat tiang listrik juga takut, dan parno dengan simbol-simbol mirip salib.
 
"Akar masalah kita saat ini yaitu ada orang yang ilmu agamanya sedikit dan wawasan kebangsaannya tipis tapi ingin terlihat Islami. Ia tidak paham substansi dari agama yang dianutnya," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG