IMG-LOGO
Fragmen

Riwayat Puasa Kiai Wahid Hasyim

Senin 22 Juli 2019 5:15 WIB
Bagikan:
Riwayat Puasa Kiai Wahid Hasyim
KH Abdul Wahid Hasyim saat usia 18 tahun
“Ayah saya bercerita bahwa KH Wahid Hasyim pernah bertemu dengan Mama Cibaduyut (panggilan populer untuk Mama Ajengan KH Zarkasyi, ulama asal Bandung,” ungkap Habib Syarif Al-Aydarus menceritakan kisah ayahnya Habib Utsman Al-Aydarus Bandung (Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat 1960-1970) , pada diskusi menelisik sejarah NU Kota di Bandung yang digelar PCNU Kota Bandung, pertengahan bulan lalu. 

Kedua kiai itu, menurut Habib Syarif, jarang bertemu, tapi mereka saling mengetahui bahwa KH Wahid sering berpuasa. Begitupun sebaliknya. Saat bertamu ke rumahnya, Mama Cibaduyut berbuka puasa demi menghormati Kiai Wahid. Begitu juga sebaliknya.

“Tujuh tahun sebelum wafatnya, Kiai Wahid Hasyim tidak berhenti puasa,” ungkap Habib Syarif yang pernah jadi Ketua PWNU Jawa Barat pada masa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Umum PBNU. 

Apa yang diungkapkan Habib Syarif senada dengan apa yang diungkapkan putra KH Wahid Hasyim, KH Salahuddin Wahid, yang dimuat edisi khusus KH Wahid Hasyim di majalah Tempo 24 April 2011.

Tujuh tahun menjelang wafatnya, berarti KH Wahid Hasyim melakukan itu sejak tahun 1946 hingga 1953. Kebiasaan itu berarti pula dimulai setahun sebelum wafat ayahandanya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Kiai Wahid wafat di Cimindi, Bandung, pada sebuah perjalanan Jakarta-Sumedang, untuk urusan NU. Jika merujuk buku Nakhoda Nahdliyin, Biografi, Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU sejak 1926 hingga sekarang, berarti baru setahun ia menjadi Ketua Umum PBNU, menggantikan KH Nachrowi Thohir.   

Sebagaimana dikemukakan Habib Utsman dan Gus Solah, KH Wahid Hasyim berpuasa tanpa putus, kecuali pada hari-hari yang memang diharamkan secara syariat seperti hari raya dan hari tasyrik. Meskipun lupa sahur, KH Wahid Hasyim tetap berpuasa dan tidak tampak kelihatan lesu. 

Ada cerita lain terkait puasa Kiai Wahid yang dikemukan salah seorang putrinya, yaitu Lily Wahid. Cerita tersebut, sebagaimana dikemukakan Tempo, didapatkan Lily dari ibunya, Nyai Solehah.

Suatu ketika, selagi Kiai Ahid berpuasa, ia dan istrinya bertamu ke rumah seorang menteri. Wahid tak menolak ajakan sahibul bait makan bersama. Sambil berbicara Wahid tampak mengunyah. Padahal makanannya sudah dipindahkan ke piring istrinya ketika tuan rumah lengah. 

Di bagian lain liputan Tempo itu menceritakan pengakuan seorang abdi dalem selama 32 tahun di kediaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yiatu KH Imam Tauhid. Menurut Imam. Kiai Wahid telah melatih dirinya berpuasa sejak masih remaja, yaitu 12 tahun.

“Makan hanya sayuran, tempe tahu jarang, ikan sama sekali tidak pernah. Tiap malam ia selalu melakukan tahajud,” katanya. 

Menurut KH Salahuddin Wahid, dari seringnya berpuasa tersebut, membentuk ayahnya menjadi seorang yang memiliki karakter yang disiplin, penuh keramahan, dan kesabaran, dan berlaku adil.

Gus Solah menceritakan, Kiai Wahid pernah menegur istrinya, Nyai Solehah karena menolak memberi tumpangan kepada seorang anggota konstituante yang menyudutkannya dalam persidangan. 

“Urusan pekerjaan dan pribadi tak bisa dicampur aduk. Itu lain urusannya,” ungkap Gus Solah menirukan ungkapan ayahnya kepada ibunya.
 
Karena watak yang digembleng dirinya sendiri dan tentu keluarganya, dalam usia relatif muda, ia telah menjadi tokoh nasional. Ia menjadi orang termuda pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama Soekarno dan Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Ia juga menjadi orang yang pertama dalam usia muda menjadi pemimpin umat Islam Indonesia mewadahi 13 organisasi massa Islam di Indonesia yaitu di Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). (Abdullah Alawi) 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 3:15 WIB
Cara Tokoh NU Mendidik Anak-anaknya
Cara Tokoh NU Mendidik Anak-anaknya
null
“Pada suatu hari Abdullah Ubayd datang ke rumah kami dengan dua putra beliau yang masih kanak-kanak. Yag pertama berumur 7 tahun, dan yang kedua kira-kira 5 tahun. Kejadian itu kira-kira pertengahan tahun 1936.” 
 
Peristiwa itu diungkapkan KH Wahid Hasyim dalam sebuah tulisan yang terbit pada Agustus 1941 berjudul Abdullah Ubayd sebagai Pendidik
 
Abdullah Ubayd sendiri pada tahun itu telah tiada. Ia meninggal dunia pada tahun 1938 setelah NU melaksanakan muktamar yang ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten. Ia meninggal pada usia relatif muda yaitu pada usia 39 tahun. 
 
KH Wahid Hasyim menulis tentang KH Abdullah Ubayd karena ada pertautan yang sama dengan keduanya. KH Abdullah Ubayd merupakan seorang yang megabdikan hidupnya dalam pendidikan NU pada masa awal berdiri, yaitu menjadi seorang guru di Madrasah Nahdlatul Wathan, mendampingi KH Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur, di samping sebagai sekretaris majalah NU membantu KH Mahfudz Shiddiq di majalah dua mingguan Berita Nahdlatoel Oelama, dan Ansor Nahdlatoel Oelama. 
 
Sementara KH Wahid Hasyim juga seorang pendidik yang mendirikan Madrasah Nidzamiyah di pesantren ayahnya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di madrasah tersebut, ia melakukan terobosan baru di kalangan pesantrean jika ditakar pada masanya, yaitu memasukan pelajar umum 30 persen, disamping pendidikan agama. Di madrasah tersebut, di samping diajarkan bahasa Arab, juga Inggris dan Belanda. Suatu hal baru bagi kalangan pesantren tradisional pada masanya.  Di samping itu, KH Wahdi hasyim juga merupakan tokoh lembaga pendidikan NU pada masa awal berdiri, yaitu menjadi Ketua Ma’arif dan mengelola Soeloeh Nahdlatoel Oelama, sebuah majalah tentang pendidikan.   
 
Di dalam tulisan yang disampaikan di awal tulisan ini, KH Wahid Hasyim menceritakan bagaimana KH Abdullah Ubayd mendidik anak-anaknya. Menurut penilaian KH Wahid Hasyim, anak harus dibiasakan mengerjakan sesuatu dengan kemampuannya sendiri sebagaimana dipraktikkan KH Abdullah Ubayd. 
 
Di dalam tulisan tersebut, KH Wahid Hasyim menceritakan anak Abdulllah Ubayd tidak mau meminum teh dari gelasnya. Pasalanya takut tumpah dan membasahai bajunya. Ternyata KH Abdulllah Ubayd tidak mau membantu anaknya, malah membiarkannya. 
 
Lalu bagaimana KH Wahid Hasyim mendidik keenam anaknya? 
 
Putra-putri KH Wahid Hasyim adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Aisyah, Hamid Baidlowi, Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodidjah Wahid, dan Hasyim Wahid. Di dalam mendidik anak-anaknya, hanya kepada si cikal, KH Wahid Hasyim mendidik sampai usia belasan tahun karena ia meninggal dunia pada usia relatif muda pada tahun 1953 saat perjalanan dari Jakarta menuju Sumedang. 
 
Sebagian cara KH Wahid Hasyim mendidik anak-anak, terekam dari pandangan istrinya, Nyai Sohlihah binti KH Bisri Syansuri, yang diceritaka pada majalah Risalah Islamiyah. Ketika suaminya masih hidup, anak-anak sering mengaji kepada ayahnya  sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai menteri agama. Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.
 
Dalam pandangan keluarga Wahid, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya. Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.
 
Sementara Nyai Sholehah sendiri menekankan kepada anak-anaknya agar berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua. Karena menurutnya, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu dalam pandangan Nyai Sholehah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. (Abdullah Alawi)
  
 
Sabtu 20 Juli 2019 11:35 WIB
Upaya KH Wahab Chasbullah Kembali Bangun NU Pascaperang Kemerdekaan
Upaya KH Wahab Chasbullah Kembali Bangun NU Pascaperang Kemerdekaan
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan guru tidak tetap di Madrasah Muballighin yang didirikan Kiai Saifuddin Zuhri pada 1 Januari 1952. Madrasah ini didirikan sebagai hasil konkret Konferensi Dakwah tersebut. Madrasah ini merupakan salah satu upaya strategis untuk membangkitkan NU dalam bentuk pengkaderan.

Suatu kebanggaan, karena menjadi cerminan besarnya tanggung jawab dan kerja sama yang baik bahwa media pendidikan kader NU itu hanya disiapkan dalam tempo tiga bulan di tengah suasana membangun NU kembali pascaperang kemerdekaan dan revolusi bersenjata antara 1945-1950.

Kiai Saifuddin Zuhri menegaskan bahwa peran Konferensi Dakwah di Magelang tersebut besar dan berhasil menggali gairah dan semangat membangun kembali jam’iyah NU. ‘Semangat Magelang’ itu pula yang menghayati Konferensi Dakwah untuk mempelopori kebangkitan NU setelah perang kemerdekaan.

Sejumlah tokoh NU kala itu memberikan pengarahan di hadapan 131 juru dakwah  yang mewakili cabang-cabang NU di seluruh Indonesia, khususnya Jawa. Sebab, daerah di luar pulau Jawa masih sukar dicapai melalui jalur organisasi akibat perang kemerdekaan.

Tidak ada yang meragukan kemampuan KH Abdul Wahab Chasbullah dalam setiap lini kehidupan bangsa dan agama. Kiai yang dikenal ahli di bidang Ushul Fiqih ini menjadi motor penggerak umat Islam Indonesia, terutama kalangan pesantren dalam menghadapi penjajah bersama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lain.

Dalam pergerakan nasional, Kiai Wahab berjasa menumbuhkan dan mewariskan sikap nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia hingga saat ini. Madrasah Nahdlatul Wathan yang dibentuknya sekitar tahun 1916 untuk membentuk generasi muda cinta tanah air membuahkan warisan manis bagi persatuan bangsa Indonesia berdasar keyakinan agama para pemeluknya. Sejak dulu, para ulama pesantren menekankan bahwa cinta tanah air dan menjaga negara adalah kewajiban agama.

Besarnya jasa dan peran Kiai Wahab Chasbullah dalam membawa setiap pergerakan keagamaan dan kebangsaan ke arah persatuan dan kedaulatan bangsa membuatnya disebut sebagai seorang ‘sopir’, pengemudi, pengendali. Meskipun dirinya juga pernah menjadi sopir beneran ketika membawa para kiai ke sebuah kota di Banyumas, Jawa Tengah.

Perjuangan keras Kiai Wahab dalam membangkitkan pergerakan kaum pesantren juga telah dilakukan ketika menginisiasi pendirian Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar. Ketiga perkumpulan tersebut dikatakan oleh sejumlah pakar merupakan embrio pendirian Nahdlatul Ulama, yakni kebangkitan ulama yang didasari oleh cinta tanah air, kebangkitan ekonomi, dan tradisi pemikiran akademik pesantren.

Menyadari bahwa kekuatan organisasi NU bukan hanya terletak pada jumlah jamaahnya, tetapi juga sanad keilmuan dan gerakan-gerakan sosial yang telah jauh dilakukan, bahkan ketika NU dideklarasikan pada 31 Januari 1926. Namun, kekuatan di segala lini tersebut kerap tidak dipahami oleh sejumlah pengurus NU dan warganya sehingga membuat Kiai Wahab Chasbullah menegaskan sebuah kredo (pernyataan keyakinan).

Dalam kredonya, Kiai Wahab mengatakan, “Banyak pemimpin NU di daerah-daerah maupun di pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU.  Mereka  lebih menyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam tetapi hanya gelugu alias batang pohon kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tolol itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatannya sendiri.” (Sumber: KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013: 497)

Hal itu disampaikan oleh Kiai Wahab saat dirinya telah dipilih sebagai Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar di Jakarta tahun 1950. Kredo tersebut ditegaskan kembali pada Konferensi Dakwah yang berlangsung pada 29 September-1 Oktober 1951. (Fathoni)
Kamis 18 Juli 2019 17:15 WIB
Respon Gus Dur saat Disarankan Mundur dari Kursi Presiden
Respon Gus Dur saat Disarankan Mundur dari Kursi Presiden
Sampai sekarang saya sependapat andai saja Gus Dur mundur sendiri, itu jauh lebih baik. Namun, ya tidak apa-apa. Bangsa Indonesia tidak marah. Mereka menerima Gus Dur dan mengakui disitulah keanehan Gus Dur. (Franz Magnis Suseno dalam Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa, 2017: 136)

Romo Magnis merupakan salah seorang sahabat Gus Dur yang menyarankannya untuk mundur dari kursi presiden ketika dirinya didera politisasi kekuasaan dengan berbagai macam tuduhan. Namun, bukan Gus Dur namanya jika tidak mempunyai keteguhan pendirian. Apalagi posisi Gus Dur tidak terbukti bersalah secara hukum terhadap kasus yang menderanya.

Saat situasinya benar-benar diujung tanduk, Romo Magnis kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi. Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana.

Di istana ada putri Gus Dur yang senantias setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid. Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah. Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur.

Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu. Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional.

Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan humor: “Saya disuruh mundur? Maju saja dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa renyah kawan-kawan yang mengelilinginya.

Menjelang pelengserannya sebagai Presiden RI oleh parlemen dalam Sidang Istimewa (SI) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melakukan perlawanan. Langkah perlawanan Gus Dur bukan untuk mempertahankan dirinya sebagai presiden, tetapi melawan tindakan-tindakan inkonstitusional dan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Kompas pada 1 Agustus 2001 melaporkan bahwa menjelang tengah malam pada tanggal 22 Juli 2001, Gus Dur sempat mengadakan pertemuan bersama wakil sekjen PBNU yang kala itu dijabat oleh Masduki Baidlawi dan tujuh ulama sepuh di Istana Negara.

Mereka menyampaikan kepada Gus Dur perihal kondisi politik mutakhir yang berujung pada rencana percepatan SI MPR keesokan harinya, yaitu pada 23 Juli 2001. Kondisi pertemuan di Istana Negara kala itu dilaporkan berlangsung khidmat dan penuh keharuan.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Dengan dorongan para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu secara garis besar berisi penolakan terhadap keputusan Sidang Istimewa yang akan diselenggarakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena kelemahan dirinya menghadapi situasi politik saat itu, tetapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang mempunyai komitmen kuat untuknya. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur dilengserkan. Gus Dur menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada kerusuhan dan pertumpahan sesama anak bangsa.

Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyatakan bahwa persoalan yang menimpa dirinya merupakan murni persoalan politik kekuasaan yang dimanfaatkan oleh sejumlah orang. Sebab secara hukum, Gus Dur tidak pernah terbukti bersalah sehingga upaya pelengseran dirinya merupakan tindakan inkonstitusional.

Namun ia tidak mau terlalu larut dalam persoalan tersebut. Tak memiliki kekuasaan politik bukan akhir dari segalanya bagi Gus Dur. Suaranya masih lantang dalam membela hak-hak kaum minoritas dan kaum pinggiran. Sikap humanismenya menghadirkan kesejukan bagi semua umat beragama di Indonesia. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG