IMG-LOGO
Daerah

Mengamalkan Aswaja Sekaligus Menjalankan Tradisi dan Budaya

Senin 22 Juli 2019 16:30 WIB
Bagikan:
Mengamalkan Aswaja Sekaligus Menjalankan Tradisi dan Budaya
Peserta Sekolah Aswaja di Singkawang, Kalimantan Barat.
Singkawang, NU Online
Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) merupakan falsafah hidup yang membentuk sistem keyakinan, metode pemikiran dan tata nilai. Dengan cakupan itu, Aswaja menjadi sangat luas dan menyeluruh, sehingga bisa disebut way of life (cara hidup) sebagaimana Islam itu sendiri.
 
Hal tersebut disampaikan Irma Suryani saat pembukaan Sekolah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Kegiatan dipusatkan di aula Dinas Pendidikan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Ahad (21/7). Kegiatan mengambil tema Membumikan Tradisi, Menumbuhkan Generasi Cinta Agama dan NKRI.
 
Menurut Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Singkawang tersebut Sekolah Aswaja merupakan bukti bahwa PMII tidak meninggalkan prinsip Ahlussunah wal Jama’ah yang dianut Nahdlatul Ulama.
 
Sekolah Aswaja menyajikan lima materi kepada peserta, yaitu Islam Nusantara, sejarah dan perkembangan Aswaja, Aswaja dalam bidang fiqih, Aswaja dalam bidang tasawuf, serta Aswaja sebagai manhajul fikr dan manhajul harakah.
 
Irma Suryani mengatakan, mengamalkan ajaran Aswaja tidak hanya diniati sebagai ajaran agama, tetapi sekaligus juga dipahami sebagai tradisi dan budaya.
 
Menurutnya, para ulama ketika menyiarkan Islam melalui sarana tradisi dan budaya setempat, sehingga agama yang diajarkan bisa diterima di kalangan masyarakat setempat dan diresapi sebagai sarana hidup. “Ketika agama diletakkan dalam ranah tradisi, maka akan menjadi kokoh. Selama tradisi tersebut tidak bertentangan ajaran agama Islam," terangnya.
 
Sebagai contoh tahlilan bagi orang meninggal, yang artinya melakukan amalan untuk mendoakan arwah. Walaupun di kalangan Islam modernis menganggap itu bid’ah.
“Tetapi orang awam masih merasa harus menjalankan amalan tersebut. Karena ajaran itu juga sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi sejak zaman dulu," timpalnya.
 
Untuk itu, lanjut Irma, sebagai generasi muda harus selalu menjaga tradisi agar tetap utuh dan tetap ada. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak menjerumuskan ke ajaran yang menyesatkan.
 
Menurut Irma, keberagaman harus terjaga agar NKRI tetap tegak di bumi pertiwi. “Menjaga keutuhan NKRI merupakan kewajiban setiap warga Indonesia termasuk para generasi muda,” ungkapnya.
 
Sebagai generasi muda juga harus menyadari isu pihak yang ingin merongrong NKRI dengan mengatas namakan agama. “Kita sebagai warga Indonesia harus mencintai negara kita dengan berbagai keragaman budaya adat istiadat, agama, etnis yang ada,” ungkapnya. 
 
Dirinya mengingatkan jangan sampai terpengaruh oleh paham radikal yang sedang berkembang. Islam Indonesia merangkul, bukan saling membunuh, Islam yang ramah bukan marah dan Islam moderat bukan menjerat.  
 
“Kita sebagai generasi muda harus mencintai agama kita dan menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI. Indonesia adalah negara kesatuan. Jangan sampai kita terpecah belah oleh paham radikal yang ingin menghancurkan keutahan negara kita," tutupnya.
 
Sekolah Aswaja dihadiri Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Kota Singkawang, alumni PMII, pengasuh pesantren, dan pengurus remaja masjid. (Ibnu Nawawi)
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 22 Juli 2019 23:45 WIB
Peduli Warganya, UPZISNU Kepatihan dan Klinik MWCNU Jombang Jalin Kemitraan
Peduli Warganya, UPZISNU Kepatihan dan Klinik MWCNU Jombang Jalin Kemitraan
UPZISNU dan Klinik Pratama MWCNU Jombang jalin kemitraan
Jombang, NU Online
Unit Pengelola Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Desa Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur menjalin kemitraan dengan Klinik Pratama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Jombang terkait pelayanan kesehatan bagi warganya.
 
Ketua UPZISNU Kepatihan H Muhammad Manshur kepada NU Online, Senin (22/7) mengungkapkan, kerja sama tersebut sebagai upaya kepedulian UPZISNU serta Klinik Pratama MWCNU Jombang kepada warganya dalam hal kesehatan. 
 
"Ahad kemarin merupakan hari bersejarah buat PRNU Kepatihan setelah delapan bulan UPZISNU Kepatihan terbentuk terus melakukan terobosan dan inovasi. Tujuannya selain berkhidmat dan ngalap berkah dari para muassis dan masayikh, juga untuk kemaslahatan umat terutama Nahdliyin," katanya.
 
Dijelaskan, warga Kepatihan, khususnya yang menjadi peserta Gerakan Koin Kemandirian NU akan mendapatkan pelayanan kesehatan di Klinik Pratama MWCNU Jombang, dan pembiayaannya diambilkan dari sebagian dana Gerakan Koin Kemandirian NU. 
 
"Pelayanan kesehatan ini berlaku bagi donatur Koin NU, karena biaya berobat diambilkan dari sebagian dana Koin NU," jelasnya.
 
Dikatakan, peserta Gerakan Koin Kemandirian NU Kepatihan diberikan Kartu Sehat yang dibuat oleh UPZISNU Kepatihan dan Klinik Pratama MWCNU Jombang. Kartu ini juga harus dibawa saat hendak berobat ke Klinik milik NU satu-satunya di Jombang ini sebagai bukti yang bersangkutan adalah peserta Gerakan Koin Kemandirian NU Kepatihan.
 
"Mungkin UPZISNU Kepatihan ini masih satu-satunya yang bikin MoU dengan Klinik Pratama MWCNU Jombang setelah kami bikin Kartu Sehat untuk peserta Gerakan Koin Kemandirian NU," jelasnya.
 
Ia mengaku saat ini ada kurang lebih dari 600 peserta Gerakan Koin Kemandirian NU di Kepatihan. Mereka semuanya berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana yang disepakati antara UPZISNU Kepatihan dan Klinik Pratama MWCNU Jombang.
 
Adapun di antara kesepakatan yang dibangun oleh kedua belah pihak adalah pihak pertama (Klinik Pratama MWCNU Jombang) bersedia memberikan pelayanan kesehatan atau pengobatan rawat bagi pengelola UPZISNU Kepatihan sesuai jam pelayanan klinik. 
 
Di samping itu pihak pertama juga berkewajiban menjamin kualitas dan mutu pelayanan kesehatan yang ada di Klinik Pratama MWCNU Jombang. 
 
Sementara pihak kedua (UPZISNU Kepatihan) bersedia membayar biaya pengobatan bagi warga (peserta Gerakan Koin Kemandirian NU Kepatihan) yang berobat ke Klinik Pratama MWCNU Jombang dengan menunjukkan Kartu Sehat yang dikeluarkan oleh Klinik Pratama MWCNU Jombang yang bekerja sama dengan UPZISNU Kepatihan. 
Adapun pembayarannya dilakukan secara kolektif yang dibayarkan pada tanggal 1 hingga tanggal 5 di bulan berikutnya.
 
Untuk diketahui, pelayanan yang disediakan oleh Klinik Pratama MWCNU Jombang untuk pasien meliputi poli umum, poli gigi, laboratorium sederhana, dan KB. (Syamsul Arifin/Muiz)
Senin 22 Juli 2019 23:30 WIB
Militansi dan Wawasan Kader Ansor Dimulai Sejak Diklatsar Banser
Militansi dan Wawasan Kader Ansor Dimulai Sejak Diklatsar Banser
Anggota Banser.
Blitar, NU Online
Sebanyak 110 peserta mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang digelar Satkorcab Banser Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Para peserta berasal  dari  Kecamatan Kademangan dan sekitarnya dan dipusatkan di halaman Masjid Yayasan Amal Bakti Pancasila di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan.
 
Diklatsar Banser dengan mengangkat tema Berangkat dengan Ikhlas menuju Pengabdian Tanpa Batas tersebut diharapkan dapat memperteguh Islam Ahlussunah wal Jama’ah an-Nahdliyah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apalagi mereka adalah kader harapan di masa mendatang.
“Sedangkan materi yang diberikan pun beragam, mulai darit kegiatan olahraga fisik hingga materi wawasan kebangsaan dan juga paham Islam Aswaja an-Nahdliyah,” kata Ma’rifatul Romadon, Senin (22/7)
 
Secara khusus, Ketua Diklatsar PAC Kademangan ini menjelaskan bahwa pada kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, peserta mendapatkan sejumlah materi.
 
“Mulai materi wajib di antaranya NU, Aswaja, Banser dan Ansor, ditambah dengan materi pokok dan tambahan yakni organisasi, wawasan kebangsaan, PBB, lalu-lintas, deradikalisasi, anti Narkoba dan lain-lain,” katanya. Sesi ruang ditempatkan di aula masjid setempat,  sedangkan sesi luar dilaksanakan di lapangan Desa Jimbe, lanjutnya.
 
Menurut Romadon, Diklatsar ini juga merupakan ikhtiar menangkal radikalisme dan intolerasi. “Dan memang siapa saja yang ingin menjadi anggota Banser harus ikhlas, sehingga bisa memberikan pengabdian bagi agama bangsa dan negara,” tegasnya.
 
Romadon berharap, para peserta dapat menyerap materi yang telah diberikan selama tiga hari baik saat di dalam ruangan maupun olah fisik. “Sehingga usai Diklatsar Banser, mereka diharapkan akan menjadi kader berkualitas," harapnya.
 
Dirinya juga menandaskan bahwa materi yang disampaikan sejumlah narasumber sebagai upaya penguatan militansi kader NU. “Hal itu dikarenakan para peserta ini nantinya akan menjadi Banser dan kader inti dari GP Ansor,” terangnya.
 
Oleh sebab itu, sebagai kader inti, mereka tentu harus mempunyai skill yang mumpuni di semua aspek. “Baik fisik, pengetahuan, agama dan wawasan kebangsaan yang luas," pungkasnya. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)
Senin 22 Juli 2019 23:15 WIB
Kata KH Muhyiddin Abdusshomad soal Cinta Umat kepada NU
Kata KH Muhyiddin Abdusshomad soal Cinta Umat kepada NU
Konfercab NU Jember
Jember, NU Online
Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad menegaskan bahwa NU tidak pernah kehilangan cinta dan kesetiaan dari umat. Mereka cinta NU karena cinta kepada ulama. Sebab yang berinsiatif dan mendirikan NU adalah para ulama, yang notabene mempunyai keikhlasan luar biasa dalam menegakkan ajaran Islam.
 
“NU masih dicintai umat dan seterusnya akan dicintai umat,” tukasnya saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Sidang Komisi di Masjid Baitunnur, kompleks Pondok Pesantren Nuris, Antirogo Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahad (21/7).
 
Menurut Kiai Muhyiddin, salah satu indikasi kecintaan umat pada NU bisa dilihat dari kekompakan dan berduyun-duyunnya mereka dalam menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan NU, baik dalam skala lokal maupun nasional. Mereka hadir karena cinta NU  yang selalu memperjuangkan Islam yang sejuk, aman dan damai.
 
“Karena itu, loyalitas mereka harus kita hargai. Jangan disia-siakan, layani mereka dengan ikhlas,” tambahnya.
 
Sidang Komisi merupakan rangkaian acara (wajib) dari Konferensi Cabang (Konfercab) NU Jember yang akan digelar tanggal 28 Juli 2019 di kampus Universitas Islam Jember (UIJ). Sidang Komisi tersebut meliputi komisi rekomendasi, program, organisasi, dan bahtsul masail. Di sidang itulah dibahas program-program PCNU Jember untuk lima tahun kedepan di bawah kepemimpinan PCNU terpilih melalui Konfercab nanti.
 
“Setelah dibahas dan disetujui oleh peserta sidang, maka hasilnya akan dibawa di Konfercab nanti untuk diplenokan, dan menjadi keputusan resmi NU. Tinggal bagaimana nanti kepengurusan baru melaksanakan program-program tersebut,” tukas Sekretaris Panitia Pengarah Konfercab NU Jember 2019, Muhammad Nurul Huda kepada NU Online.
 
Menurut Huda, sapaan akrabnya, sebagian program-program yang dihasilkan di sidang komisi dan diplenokan di Konfercab hanyalah garis-garis besar yang nanti akan dipertajam dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU yang akan dihelat dalam beberapa bulan kedepan.
 
“Khusus untuk komisi program, di Muskercab  nanti akan dipertajam lagi, kalau perlu ditambah ya ditambah. Tapi untuk komisi yang lain, tinggal menindaklanjuti,” jelasnya. (Aryudi AR)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG