Mengamalkan Aswaja Sekaligus Menjalankan Tradisi dan Budaya

Mengamalkan Aswaja Sekaligus Menjalankan Tradisi dan Budaya
Peserta Sekolah Aswaja di Singkawang, Kalimantan Barat.
Peserta Sekolah Aswaja di Singkawang, Kalimantan Barat.
Singkawang, NU Online
Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) merupakan falsafah hidup yang membentuk sistem keyakinan, metode pemikiran dan tata nilai. Dengan cakupan itu, Aswaja menjadi sangat luas dan menyeluruh, sehingga bisa disebut way of life (cara hidup) sebagaimana Islam itu sendiri.
 
Hal tersebut disampaikan Irma Suryani saat pembukaan Sekolah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Kegiatan dipusatkan di aula Dinas Pendidikan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Ahad (21/7). Kegiatan mengambil tema Membumikan Tradisi, Menumbuhkan Generasi Cinta Agama dan NKRI.
 
Menurut Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Singkawang tersebut Sekolah Aswaja merupakan bukti bahwa PMII tidak meninggalkan prinsip Ahlussunah wal Jama’ah yang dianut Nahdlatul Ulama.
 
Sekolah Aswaja menyajikan lima materi kepada peserta, yaitu Islam Nusantara, sejarah dan perkembangan Aswaja, Aswaja dalam bidang fiqih, Aswaja dalam bidang tasawuf, serta Aswaja sebagai manhajul fikr dan manhajul harakah.
 
Irma Suryani mengatakan, mengamalkan ajaran Aswaja tidak hanya diniati sebagai ajaran agama, tetapi sekaligus juga dipahami sebagai tradisi dan budaya.
 
Menurutnya, para ulama ketika menyiarkan Islam melalui sarana tradisi dan budaya setempat, sehingga agama yang diajarkan bisa diterima di kalangan masyarakat setempat dan diresapi sebagai sarana hidup. “Ketika agama diletakkan dalam ranah tradisi, maka akan menjadi kokoh. Selama tradisi tersebut tidak bertentangan ajaran agama Islam," terangnya.
 
Sebagai contoh tahlilan bagi orang meninggal, yang artinya melakukan amalan untuk mendoakan arwah. Walaupun di kalangan Islam modernis menganggap itu bid’ah.
“Tetapi orang awam masih merasa harus menjalankan amalan tersebut. Karena ajaran itu juga sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi sejak zaman dulu," timpalnya.
 
Untuk itu, lanjut Irma, sebagai generasi muda harus selalu menjaga tradisi agar tetap utuh dan tetap ada. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak menjerumuskan ke ajaran yang menyesatkan.
 
Menurut Irma, keberagaman harus terjaga agar NKRI tetap tegak di bumi pertiwi. “Menjaga keutuhan NKRI merupakan kewajiban setiap warga Indonesia termasuk para generasi muda,” ungkapnya.
 
Sebagai generasi muda juga harus menyadari isu pihak yang ingin merongrong NKRI dengan mengatas namakan agama. “Kita sebagai warga Indonesia harus mencintai negara kita dengan berbagai keragaman budaya adat istiadat, agama, etnis yang ada,” ungkapnya. 
 
Dirinya mengingatkan jangan sampai terpengaruh oleh paham radikal yang sedang berkembang. Islam Indonesia merangkul, bukan saling membunuh, Islam yang ramah bukan marah dan Islam moderat bukan menjerat.  
 
“Kita sebagai generasi muda harus mencintai agama kita dan menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI. Indonesia adalah negara kesatuan. Jangan sampai kita terpecah belah oleh paham radikal yang ingin menghancurkan keutahan negara kita," tutupnya.
 
Sekolah Aswaja dihadiri Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Kota Singkawang, alumni PMII, pengasuh pesantren, dan pengurus remaja masjid. (Ibnu Nawawi)
 
BNI Mobile