IMG-LOGO
Nasional

Gus Yaqut Ungkap Pesan Tersirat Nazar Jalan Kaki Anggota Banser

Senin 22 Juli 2019 19:40 WIB
Bagikan:
Gus Yaqut Ungkap Pesan Tersirat Nazar Jalan Kaki Anggota Banser
Maskhun Hidayat saat menceritakan perjalanannya dari Mesuji ke Jakarta kepada Ketum GP Ansor Gus Yaqut.
Jakarta, NU Online
Tangis Maskhun Hidayat (48) pecah saat bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Dia  memeluk erat Yaqut yang juga tak kuasa membendung air matanya. 

Setelah beberapa saat momen haru tersebut berlangsung, Maskhun pun mengungkapkan kebahagiaannya dapat bertemu dengan Gus Yaqut, sapaan akrab Ketum GP Ansor, yang merupakan pimpinannya dalam berkiprah di Barisan Ansor Serbaguna (Banser). 

Maskhun adalah anggota Banser di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Kemiring Ilir, Sumatera Selatan, yang bernazar berjalan kaki menuju Jakarta jika Jokowi dan KH Ma'ruf Amin terpilih sebagai Presiden dan Wapres RI. Nadzar itu kini telah ia tunaikan. 

"Nazar ini sebagai ungkapan syukur atas terpilihnya Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wapres. Saya bahagia sudah dapat mewujudkannya. Semoga Presiden dan Wapres terpilih dapat mengayomi, melindungi semua golongan," ungkapnya kepada NU Online di kantor PP GP Ansor Jakarta, Ahad (21/7). 

Selain bernazar berjalan kaki ke ibu kota, Maskhun juga berkeinginan bertemu langsung dengan Gus Yaqut. Kesempatan itu baru terlaksana hari ini karena saat tiba di Jakarta dan mengunjungi kantor GP Ansor beberapa hari lalu, Gus Yaqut tengah berada di Mesir untuk mengukuhkan kepengurusan PC GP Ansor Mesir. 

"Saya kembali bersyukur bisa bertemu langsung dengan Gus Yaqut, pimpinan tertinggi Banser. Sebelumnya saya juga sudah bertemu langsung dengan Kiai Ma'ruf dan Ketum PBNU Kiai Said. Saya juga menyampaikan harapan untuk dapat bertemu dengan Pak Jokowi," harapnya. 

Gus Yaqut menyatakan kekagumannya atas tekad kuat Maskhun menunaikan nazar tersebut. 

"Ini bukan soal jalan kakinya. Ini lebih karena tekad yang kuat, keikhlasan, dan niat yang luar biasa dari sahabat Maskhun. Kalau tidak punya tekad, ikhlasan, dan niat, nazar ini tidak akan terwujud. Dulu ada tokoh nasional yang juga bernazar jalan kaki dari Jogja ke Jakarta, tapi sampai hari ini tidak terjadi," kata Gus Yaqut. 

Menurut dia, nazar dari Maskhun ini memiliki pesan tersirat yang harus ditangkap semua komponen bangsa, yakni pertarungan politik tak seharusnya mencerai beraikan warga bangsa. 

"Kita ini sejak dari dulu hidup dalam perbedaan itu sudah biasa. Masak hanya karena beda pilihan politik lantas pecah. Tidak boleh. Mari hidup bersama kembali dalam keberagaman, berbeda-beda tapi tetap satu untuk Indonesia," ucap Gus Yaqut. 

Gus Yaqut berharap, kontestasi sudah usai. "Saatnya bersama membangun Indonesia dalam harmoni. Untuk itu mari kita jaga Indonesia dari segala potensi yang akan memecah belah bangsa. Ansor dan Banser akan selalu teguh pada prinsip dan nilai-nilai kebenaran. Jangan takut kepada cacian, bulian. Asal semua atas restu para kiai, jalan saja," ujarnya. (Red: Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Senin 22 Juli 2019 23:0 WIB
KH Abbas Buntet: Waspada Neo Wahabi
KH Abbas Buntet: Waspada Neo Wahabi
KH Abbas Buntet acara haul di Garut
Garut, NU Online
Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat KH Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim mengingatkan kepada umat Islam agar waspada terhadap neo Wahabi yang berkedok Ahlussunnah Waljamaah.
 
"Mereka menyamar dengan cara menamakan amaliyahnya ahlussunnah waljamaah, padahal itu cuma kedok agar kita tidak curiga atas gerakan mereka," ungkapnya.
 
Hal tersebut disampaikan dalam acara haul Ke-70 KHA Muhammad Ishaq bin Syekh KHA Muhammad Umar Bashri dan haul Ke-13 KHA Muhammad bin Syekh KHA Muhammad Umar Bashri di Pesantren Fauzan Sukaresmi, Garut Ahad (21/7).
 
Dijelaskan, Wahabi membiaskan dirinya dengan membuat nama pesantren, madrasah, sekolah, dan lain-lain dengan nama yang lazim digunakan oleh warga NU pada umumnya. Hanya saja, kurikulum dan muatan yang mereka sampaikan berfaham Wahabi.
 
"Jika dikaitkan dengan nilai-nilai dasar agama, sejarah manusia pertama nenek moyang manusia, yakni Nabi Adam AS, mendapatkan perintah mengamalkan 3 syariat Islam, pertama yaitu menikah, kedua dilarang merusak alam, dan ketiga meneteskan darah," bebernya.
 
Dikatakan, Wahabi mengajarkan untuk saling membunuh karena tidak sepaham dengan mereka, karena yang tidak sepaham dengan mereka dianggap toghut, bahkan tidak tanggung-tanggung dianggap kafir yang halal darahnya. Jadi sangat aneh jika agama kita mendidik kita seperti karena tidak sesuai nilai-nilai luhur agama islam itu sendiri.
 
Kiai Abbas menjelaskan makna dari tanah haram di Arab Saudi. Menurutnya, tanah haram merupakan tanah yang tidak boleh meneteskan darah. Jangankan darah manusia, darah hewan pun tidak boleh. Sehingga bagi muslim yang sedang ihram dilarang untuk membunuh nyamuk sekalipun, juga dilarang merusak alam walaupun itu adalah rerumputan.
 
"Ini sejalan dengan tugas Nabi Adam AS, jadi jika ada yang memiliki faham menghalalkan darah atas nama agama maupun atas nama apapun, hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam yang kita anut," tuturnya. 
 
Kiai Abbas juga berpesan agar masyarakat masuk ke dalam NU atau kembali ke NU, dan memahami NU secara holistik (menyeluruh), karena tidak sedikit kiai, santri, masyarakat yang mengaku NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan lainnya. Namun harakah (gerakan) dan fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat. 
 
Hadir dalam acara tersebut Kabag Yansos Pemerintah Provinsi Jawa Barat Sufri, Pimpinan Pesantren Hidayatul Faizin sekaligus Mustasyar PWNU Jawa Barat KH Abdul Mimar Hidayat, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KHA Abdul Mujib, Pengurus PCNU Garut, Camat Sukaresmi Heri Hermawan, Camat Bayongbong Santari, Kapolsek Cisurupan Iptu Tito Bintoro, ratusan ajengan, pimpinan pesantren dan ribuan masyarakat Sukaresmi. (Muhammad Salim/Muiz)
Senin 22 Juli 2019 22:45 WIB
Ketika Sekjen PBNU dan Sekum PP Muhammadiyah Saling Lempar Canda
Ketika Sekjen PBNU dan Sekum PP Muhammadiyah Saling Lempar Canda
Jakarta, NU Online
Kedua Sekretaris organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah saling mengungkapkan candaannya tentang peran kedua organisasinya dalam membangun bangsa Indonesia.

Keduanya mengungkapkan saat menjadi pembicara pada acara Dialog Peradaban Bangsa, Islam, dan TNI yang diselenggarakan DPP PA GMNI di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/7). Dialog itu mengusung tema Siapa Melahirkan Republik Harus Berani Mengawalnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H Helmy menyatakan bahwa pendiri pergerakan Budi Utomo, dr Soetomo mengakui tentang peran pesantren. Kata Helmy, mengutip Sutomo, jauh sebelum pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah, pesantren telah menjadi sumber pengetahuan dan mata air ilmu bagi masyarakat nusantara.

"Meskipun (NU) berdirinya tahun 26 (1926), tapi pemikiran, gagasan tentang bagaimana bangsa ini insyaallah telah mendahului Muhammadiyah," kata Sekjen Helmy disambut tawa peserta dialog.

Candaan Helmy kembali keluar. Kali ini, tentang tentang konsep berbangsa dan bernegara. Muhammadiyah sebagaimana diketahui menetapkan konsep darul ahdi was syahadah pada 2015. Sementara NU, menurutnya, sebelum Indonesia merdeka, tepatnya saat Muktamar 1936 di Banjarmasin menetapkan bahwa Indonesia itu  darus salam (negara damai).

"Sementara NU untuk konsep berbangsa dan bernegara itu tahun 36 (1936)," ucapnya kembali disambut tawa hadirin.

Sebelumnya, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan bahwa organisasinya telah melahirkan banyak kader yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia, seperti presiden pertama Indonesia Soekarno, penjahit bendera merah putih Fatmawati, anggota Pandu Hizbul Wathan Jenderal Soedirman, dan tokoh BPUPKI Ki Bagus Hadikusumo.

"Nah, yang tidak dilahirkan oleh Muhammadiyah itu hanya NU saja," ucapnya disambut tawa hadirin.

Muara pergerakan dan perjuangan para tokoh nasionalis seperti Soekarno, Panglima Soedirman, Soetomo, dan lain-lain yaitu para kiai. Sebab, dalam memutuskan sesuatu yang bersifat penting, taktis, dan strategis, para tokoh nasionalis kerap meminta nasihat dan fatwa pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, terutama saat penentuan tanggal proklamasi 17 Agustus 1945 dan perang kemerdekaan 10 November 1945 di Surabaya.

Pada dialog itu hadir Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, dan Sekjen DPP PDIP Hasto Krisyanto. (Husni Sahal/Fathoni)
Senin 22 Juli 2019 22:15 WIB
Selama Negara dan Agama Tak Dibenturkan, Indonesia Terbebas dari Konflik
Selama Negara dan Agama Tak Dibenturkan, Indonesia Terbebas dari Konflik
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini saat mengisi diskusi di Kantor GMNI Cikini, Senin (22/7).
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini menyatakan bahwa tesis ilmuwan politik dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Samuel P. Huntington yang menyatakan dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) bahwa paska perang dingin, agama dan kebudayaan menjadi sumber konflik terbantah di negeri Indonesia.

Ia menjelaskan, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini tidak menjadikan agama dan negara sebagai dua kutub yang harus dibenturkan, melainkan keduanya saling menguntungkan. Hubungan saling menguntungkan itu disebut sebagai paradigma simbiotik.

"Beberapa negara di Timur Tengah nyata terjadi konflik, tapi tidak terjadi dengan Indonesia, meskipun dengan beragam pola dan gerakan, paham-paham transnasional yang masuk melalui berbagai hal, seperti media sosial, dan berbagai macam jaringan," kata Sekjen Helmy saat mengisi Dialog Peradaban Bangsa, Islam, dan TNI yang diselenggarakan DPP GMNI di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/7). Dialog itu mengusung tema Siapa Melahirkan Republik Harus Berani Mengawalnya.

Menurutnya, pengambilan paradigma simbotik itu melahirkan semangat atau spirit kebangsaan di dalam masyarakat Indonesia, khususnya para ulama. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia menjadi titik temu dari agama dan negara.

"Jadi sebetulnya Pancasila iti titik temu di mana pergulatan relasi agama dan negara ini berstu. Sila pertama 'Ketuhanan Yang Maha Esa' itu sangat jelas religius," ucapnya.

Untuk itu, Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu II pada era Susilo Bambang Yudhoyono ini menyatakan bahwa Indonesia layak menjadi contoh bagi negara lain sebagai sebuah negara yang melahirkan peradaban. Peradaban, sambungnya, lahir dari kearifan-kearifan lokal.

"Maka saya sering mengatakan bahwa pada akhirnya puncak pengetahuan itu kebijaksanaan karena kebijaksanaan lahir dari kearifan-kearifan lokal.

Kita memilikin tepo seliro, tenggang rasa, gotong royong. Jadi banyak sekali kearifan-kearifan lokal kita yang melahirkan peradaban," jelasnya.

Selain paradigma simbiotik, terdapat juga paradigma integralistik atau universalistik, yakni meletakkan hubungan agama dan negara itu sama, dan paradigma sekularistik yang memisahkan sama sekali urusan agama dan urusan negara sebagaimana Turki. Indonesia tidak mengambil kedua paradigma tersebut.

Pada dialog itu, hadir Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, dan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. (Husni Sahal/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG