IMG-LOGO
Humor

Respons Gus Dur Ketika Diminta Mundur Romo Magnis

Selasa 23 Juli 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Respons Gus Dur Ketika Diminta Mundur Romo Magnis
null
Salah seorang sahabat Gus Dur di Forum Demokrasi Romo Franz Magnis Suseno kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi. Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan pada 23 Juli 2001, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana.

Di istana ada putri Gus Dur yang senantias setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid. Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah.

Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur.

Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu. Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional.

Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan joke: “Saya disuruh mundur? Maju saja masih dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa kawan-kawannya itu. (Fathoni)
 

*) Disarikan dari buku ‘Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa’ (2017)
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 23 Juli 2019 9:15 WIB
Ketika Aktivis IPNU dan PMII Mendemo Gus Dur
Ketika Aktivis IPNU dan PMII Mendemo Gus Dur
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)
IPNU dan PMII adalah organisasi sayap NU di ranah kepelajaran, kepemudaan, dan kemahasiswaan, meski yang satu hubungannya adalah struktural dan yang lainnya ideologis. Keduanya adalah keluarga besar NU, ibarat santri kepada kiainya.
 
Sebagai bagian dari keluarga besar NU, tentu kebijakan kedua organisasi kepemudaan (OKP) ini tak akan bertentangan apalagi melawan orang tua mereka. Kultur ketakziman orang muda terlebih santri kepada orang tua: ulama atau kiai, begitu kental di NU dan dunia pesantren, sampai saat ini.
 
Namun ada yang aneh di akhir-akhir Gus Dur menjabat sebagai ketua umum PBNU. Hal ini pernah diceritakan oleh almarhum KH Bukhori Masruri (alias Abu Ali Haidar) Semarang, pencipta lagu-lagu Nasida Ria yang melegenda itu, dalam suatu ceramahnya.
 
Waktu itu, bangsa Indonesia akan memilih pemimpin baru. Poros Tengah yang dikomandani oleh Amien Rais mengusulkan nama Gus Dur sebagai calon Presiden Republik Indonesia.
 
Tak lama berselang, ada demo yang dilakukan anak-anak IPNU dan PMII. Mereka berorasi dan membawa spanduk bertuliskan, antara lain: "Gus Dur Jangan Mau Jadi Presiden! Itu hanya akal-akalan Amien Rais", dan sejenisnya. Intinya: IPNU dan PMII menolak Gus Dur dicalonkan sebagai presiden, karena hanya akan dibuat main-main.
 
Kiai Bukhori yang setelah itu berada di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor bertemu dengan anak-anak yang demo tersebut. Ia penasaran, kemudian bertanya kepada salah satu dari mereka.
 
"Kamu ngapain demo? Siapa yang menyuruh?" tanya Kiai Bukhori.

"Gus Dur yang menyuruh, Kiai," jawabnya, yang membuat Kiai Bukhori semakin bertanya-tanya dalam hati: kok Gus Dur yang meyuruh, keperluannya untuk apa?
 
Benarlah, setelah demo itu, muncul statemen dari Amin Rais yang menegaskan bahwa Poros Tengah tidak main-main mengusung Gus Dur sebagai calon presiden Republik Indonesia.
 
Mengetahui hal itu, Kiai Bukhori yang bersahabat karib dengan Gus Dur sedari kecil itu pun berseloroh: "Oalah, ya memang statemen itulah yang diharapkan. Dasar Gus Dur ini memang kancil, banyak akalnya!" 😂😂😂 (Ahmad Naufa)
Kamis 18 Juli 2019 15:30 WIB
Kenapa Tak Berhenti dari Politik, Gus?
Kenapa Tak Berhenti dari Politik, Gus?
null
Setahun sebelum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia, dan menjelang ulang tahunnya pada 2008, sahabat Gus Dur, Franz Magnis Suseno atau Romo Magnis pernah bertanya tentang aktivitas politik dan kebangsaan Gus Dur.

Mengingat kondisi politik yang menimpanya pada 2001 silam, Romo Magnis bertanya mengapa Gus Dur tidak juga berhenti dari kegiatan politik? Mengapa tidak cukup menjadi guru bangsa saja?

Romo Magnis bertanya demikian, namun Gus Dur tidak mau berhenti dari hiruk-pikuk politik yang menurutnya tetap bisa menjadi saluran aspirasi kepentingan bangsa.

Dua minggu kemudian di perayaan ulang tahunnya, ia mengatakan dalam ceramahnya:

“Ya, Romo Magnis meminta supaya saya berhenti dari politik, tapi sekarang belum. Kalau yang lain nggak berani bilang seperti itu ke saya,” canda Gus Dur disambut tawa Romo Magnis. (Fathoni) 


*) Disarikan dari buku 'Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa' (2017)
Senin 15 Juli 2019 13:30 WIB
Hari Pertama Masuk Sekolah
Hari Pertama Masuk Sekolah
Ilustrasi humor
Kursi, dalam artian jabatan selalu menjadi rebutan, tak terkecuali kursi anggota DPR. Posisi-posisi itu dikejar oleh banyak orang melalui proses pemilihan umum.

Ada kursi kepala desa dalam pilkades, ada kursi bupati dan wali kota dalam pilkada kabupaten dan kota, dan ada juga kursi gubernur serta presiden dalam pilgub dan pilpres.

Lantas kenapa kursi sebegitu menariknya untuk diperebutkan? Hal ini menjadi pertanyaan di benak Rokimin, pemuda kritis di sebuah desa yang belum lama ini telah mengantarkan anaknya di hari pertama masuk sekolah.

Rokimin sedang berbincang santai dengan temannya bernama James (nama aslinya Jamhari). Soal kekritisan, Jamhari tidak kalah dengan Rokimin.

“Kenapa ya orang-orang kita senangnya rebutan kursi?” tanya Rokimin.

“Loh, generasi kita memang sejak dini didik untuk rebutan kursi. Coba pikir, sampeyan di pagi buta anter anak ke sekolah di hari pertama biar apa?” kata Jamhari alias James.

“Biar dapet kursi,” jawab Rokimin. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG