IMG-LOGO
Nasional

Hari Anak Nasional, Gizi Anak Masih Jadi Masalah Pelik

Selasa 23 Juli 2019 11:15 WIB
Bagikan:
Hari Anak Nasional, Gizi Anak Masih Jadi Masalah Pelik
Ilustrasi gizi anak (via Yell Saints)
Jakarta, NU Online
Memperingati Hari Anak Nasional, persoalan gizi anak masij jadi masalah pelik. Masalah gizi anak masih cukup tinggi di Indonesia meskipun dalam enam tahun ini sudah mengalami penurunan.
 
Prevalensi stunting pada anak balita yaitu 37,2 persen pada tahun 2013 dan 30,8 persen pada 2018. Lalu, diikuti oleh masalah kekurangan gizi lainnya yaitu gizi kurang dan gizi buruk 19,6 persen (tahun 2013) dan 17,7 persen (tahun 2018), gizi kurus 12,1 persen (tahun 2013) dan 10,2 persen (tahun 2018). Sementara untuk gizi lebih adalah 11,8 persen (tahun 2013) turun menjadi 8,0 persen (tahun 2018). 

Melihat fakta demikian, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Ahmad Syafiq mengungkapkan bahwa faktor masih tingginya masalah kekurangan gizi di Indonesia secara langsung berhubungan dengan masalah kurangnya konsumsi zat gizi. Hal itu, menurutnya, akibat pola konsumsi yang tidak memadai dan seringnya anak menderita sakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan.

“Secara tidak langsung, pola asuh, akses layanan kesehatan, serta aspek sanitasi lingkungan dan higiene perorangan memainkan peran penting. Akar masalahnya ada di status sosial dan ekonomi terutama pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan,” katanya kepada NU Online pada Senin (22/3).

Kurangnya gizi, menurutnya, dapat mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak dapat berjalan maksimal. Bahkan hal tersebut dapat mengganggu mental dan kognitifnya. “Akibat kekurangan gizi maka potensi tumbuh dan kembang anak menjadi sulit tercapai dan kualitas anak merosot. Pencapaian tinggi badan tidak optimal, perkembangan mental dan kognitif pun terganggu,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa orang-orang terdekat memiliki peranan penting dalam rangka mengurangi angka tersebut. Pasalnya, mereka adalah lingkungan gizi pertama bagi seorang anak. “Ibu dan keluarga adalah lingkungan gizi pertama bagi anak,” ujar Syafiq.

Di samping itu, asupan makan yang cukup, beragam, dan seimbang sesuai kebutuhan adalah kunci bagi keberhasilan pengasuhan gizi bagi anak. “Jangan lupa protein hewani baik itu berbagai jenis daging dan susu adalah sangat penting bagi pertumbuhan anak,” ucap dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.

Saat ini, konsumsi protein hewani dan susu di Indonesia disinyalir masih rendah. Bahkan konsumsi susu Indonesia adalah yang terendah dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurutnya, perlu dipikirkan bagaimana agar susu dan protein hewani dapat dijangkau oleh lapisan masyarakat berpendapatan rendah.

Langkah Cepat Pemerintah

Saat ini, upaya pemerintah, menurutnya, sudah intensif dan ekstensif dengan program gizi spesifik dan sensitif. Syafiq melihat hal tersebut perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan lagi dengan memperkuat kemitraan melibatkan berbagai pihak termasuk dunia akademik dan sektor industri makanan dan minuman.

Di samping  itu, akademisi asal Pondok Buntet Pesantren Cirebon itu menyampaikan bahwa pemerintah juga perlu menyebarluaskan informasi gizi yang tepat masalah dan tepat sasaran. Hal ini harus dilakukan agar masyarakat, tanpa kecuali, mengetahui panduan gizi yang baik dan benar yaitu pedoman gizi seimbang.

“Sebenarnya kepedulian masyarakat mengenai gizi itu tinggi namun perlu diimbangi dengan promosi, informasi dan edukasi gizi yang intensif,” ungkapnya.

Selain itu, masyarakat secara individu juga perlu meningkatkan literasi gizinya agar melek gizi dan mampu mengenali kebutuhan gizi agar tidak mudah tersesat di belantara informasi gizi dan serta mampu menemukan solusi tepat dan praktis bagi diri dan keluarganya ketika menghadapi masalah gizi.

Sebagai informasi, masalah gizi (malnutrisi) secara sederhana dapat dibagi menjadi masalah kekurangan gizi (under nutrition) dan kelebihan gizi (over nutrition). Gizi kurang atau gizi buruk, menurutnya, adalah salah satu masalah kekurangan gizi yang dicirikan oleh rendahnya berat badan anak menurut standar usianya.

Di samping gizi kurang dan gizi buruk (underweight), juga dikenal masalah kekurangan gizi lainnya yaitu kurus (wasting) dan stunting. “Kurus artinya anak memiliki berat badan rendah untuk standar tinggi badannya, sedangkan stunting artinya anak memiliki tinggi badan rendah untuk standar usianya,” pungkasnya. (Syakir NF/Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 23 Juli 2019 23:4 WIB
Rais Aam Bersilaturahim dengan Pengurus NU Seluruh Banten
Rais Aam Bersilaturahim dengan Pengurus NU Seluruh Banten
Rais Aam dan Katib Aam PBNU (ketiga dan keempat) di bagian belakang bersama pengurus NU se-Banten
Serang, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar bersilaturahim dengan seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang NU se-Provinsi Banten. Kegiatan berlangsung di Gedung PWNU Banten di Kemang, Kota Serang, Selasa (23/7).
 
Hadir pada  pertemuan itu Mustasyar PBNU KH Hakim (Abah Hakim), Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Ketua PWNU Banten KH Benyamin, kiai sepuh Banten KH Anwar Ariman, dan sejumlah kiai sepuh lain serta puluhan pengurus wilayah dan pengurus cabang dari berbagai daerah di Banten.
 
Pada sambutanya, Ketua PWNU Banten berharap mendapatkan arahan langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar makanya pihaknya mengundang secara khusus agar fungsionaris NU di Banten mendapat pencerahan terkait Nahdlatul Ulama di tanah jawara tersebut.
 
Ia juga mengajak kepada seluruh warga NU di Banten untuk bersama-sama membesarkan NU terutama agar NU semakin berani dan terdepan dalam segala bidang. Terutama spirit menegakan harokah dan fikrah an-nahdlyiah oleh seluruh jajaran pengurus NU.
 
“Kedepan NU Banten mampu dan bisa bersama-sama, ada kemauan untuk membesarkan menggerakan NU Banten,” tuturnya.
 
Dihadapan Kiai Miftahul Akhyar, Kiai Benyamin meminta doa agar NU Banten terus berkembang kaitannya dalam mengembankan Islam rahmatan lil alamin.
 
Sementara itu, KH Miftachul Akhyar mengatakan setelah pergantian jabatan Rais Aam PBNU dari Kiai Ma’ruf Amin ke dirinya beberapa bulan yang lalu, tidak ada perubahan signifikan mengenai arah gerak organisasi NU.
 
Ia berterimakasih karena sudah diundang ke Banten, sejak muktamar ke-33 di Jombang  4 tahun yang lalu baru kali ini dirinya mengunjungi tanah Banten. Baginya, Banten adalah tempat yang memiliki sejarah tersendiri terkait Nahdlatul Ulama sebab ada tokoh muassis yang berperang  terhadap perkembangan pemikiran Kiai-kiai NU yaitu Syekh Nawawi Al-Bantani.
 
“Mendekati Muktamar saya pertama kali turun ke Banten, tanah muassis ulama NU, Syekh Nawawi Al-Bantani,” ucapnya.
 
Banten memiliki putra daerah menjadi Rais Aam PBNU dan Wakil Presiden RI maka harus semakin kokoh dalam menggerakan konsep Islam rahmatan lil alamin. Ia optimis NU di Banten semakin kokoh jika seluruh pengurus semakin solid dan kuat.
 
“Selain dikenal di pesantren NU juga harus dikenal dalam segala kalangan,” ungkapnya (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)
 
Selasa 23 Juli 2019 22:0 WIB
GP Ansor dan Darul Ifta Mesir Jalin Kerja Sama Antisipasi Radikalisme
GP Ansor dan Darul Ifta Mesir Jalin Kerja Sama Antisipasi Radikalisme
Ketua PP GP Ansor Luthfi Thomafi (kanan) dan Falahuddin Nur Halim, anggota Syuriyah PCI NU Mesir, foto bersama Syeikh Dr Mukhtar Muhsin, Kepala Bagian Pelatihan Darul Ifta’ Mesir.
Kairo, NU Online
Radikalisme dinilai mengganggu kenyamanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu diperlukan strategi dalam menghadapinya. Salah satunya adalah dengan memperkuat pemahaman Islam moderat bagi para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir. Hal inilah yang mengilhami Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor melebarkan sayap dengan mendirikan cabang di beberapa negara, termasuk Mesir. 

“Keberadaan cabang Ansor di luar negeri dibutuhkan selain tujuan kaderisisasi juga untuk memberikan wawasan tentang Islam Ahlussunnah wal Jamaah atau Islam moderat bagi para mahasiswa,” jelas Luthfi Thomafi, Ketua PP GP Ansor di Kairo, Mesir, Senin (22/7).

Menurut Luthfi, diperlukan pelatihan khusus dalam upaya meningkatkan pemahaman dan wawasan Islam moderat bagi para mahasiswa tersebut dengan menjalin kerja sama dengan lembaga yang kompeten di Mesir. Pihaknya kemudian menjajaki kerja sama dengan Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa) Mesir untuk mengadakan pelatihan khusus untuk itu.

“Kami sudah bertemu dengan Syekh Mukhtar Muhsin, Kepala Bagian Pelatihan Darul Ifta’, untuk menjalin kerja sama pelatihan dakwah Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) atau Islam moderat. Kegiatan pelatihan dan peningkatan wawasan keislaman moderat bagi kader-kader GP Ansor ini sangat diperlukan terutama oleh mahasiswa Indonesia di Mesir,” kata Luthfi, didampingi Falahuddin Nur Halim, Pengurus Syuriyah PCINU Mesir.

Syekh Mukhtar Muhsin, jelasnya, menyambut positif lahirnya GP Ansor di Mesir sebagai wadah peneguhan Islam moderat melalui ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. “Selain itu, beliau juga memberikan pengantar terkait pentingnya para pemuda dan kader Ansor di Mesir mempunyai kesadaran akan bahaya ideologi Islam radikal,” ujar Luthfi, mengutip Syekh Mukhtar. 

“Syekh Mukhtar juga menyampaikan maraknya gerakan-gerakan yang mengaku sebagai islami namun pada kenyataannya justru merusak Islam itu sendiri dan dunia . Beliau juga mewaspadai gerakan salafi-wahabi karena sebagai awal dari munculnya radikalisme, bahkan mengarah pada terorisme,” imbuhnya. 

Menurut Luthfi, dalam pertemuan itu juga dibahas kesiapan Lembaga Pelatihan Darul Ifta’ Mesir untuk membantu para kader GP Ansor di Mesir dalam mematangkan manhaj atau metode pengajaran Ahlussunnah wal Jamaah di kalangan mereka mahasiswa.

Dalam kesempatan itu Luthfi menyampaikan pentingnya GP Ansor Mesir dibekali manhaj atau metode moderasi Islam melalui kerjasama antara GP. Ansor dengan Lembaga Pelatihan di bawah Darul Ifta Mesir. (Red: Fathoni)
Selasa 23 Juli 2019 20:0 WIB
KH Ma'ruf Amin: Pemuda Harus Dibentengi Ideologi Pancasila yang Kokoh
KH Ma'ruf Amin: Pemuda Harus Dibentengi Ideologi Pancasila yang Kokoh
GP Ansor saat berkunjung ke kediaman KH Ma'ruf Amin, Senin (22/7).
Jakarta, NU Online
Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin berharap Ansor dan Nahdlatul Ulama memiliki peran yang  penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penegasan itu diutarakan KH Ma'ruf Amin saat menerima kunjungan jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor di kediamannya, Senin (22/7). 

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Kiai Ma'ruf meminta NU, termasuk di dalamnya Ansor dan Banser untuk dapat terus menjadi benteng NKRI, khususnya, dalam mengadang massifnya faham radikalisme agama. 

"Radikalisme agama menjadi pekerjaan rumah saat ini. Jika tidak dibendung maka NKRI terancam. Ansor juga harus ikut berperan aktif dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut," kata Yaqut, Senin (22/7).

Yaqut mengatakan, ke depan tantangan anak muda bangsa ini semakin berat, selain ancaman ideologi transnasional, juga kemajuan teknologi informasi yang semakin maju.

"Pemuda harus dibentengi dengan ideologi Pancasila yang kokoh. Selain itu pemuda harus melek teknologi dan informasi, supaya dapat juga berperan membangun narasi kebangsaan, keberagaman, dan cinta tanah air. Begitu juga dengan Ansor. Ansor juga dapat menyiapkan konten dakwah tentang Islam yang ramah, dakwah yang teduh," ujar Gus Yaqut, sapaan akrabnya, mengutip Kiai Ma'ruf. 

Dalam kesempatan itu, Gus Yaqut juga meminta kesediaan Kiai Ma'ruf untuk hadir dan membuka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) VII GP Ansor, yang akan diselenggarakan pada awal September mendatang. Gus Yaqut juga meminta izin menggunakan Pondok Pesantren Syekh Nawawi Al Bantani milik Kiai Ma'ruf sebagai tempat PKN VII GP Ansor. 

Menurut Gus Yaqut, Kiai Ma'ruf mendukung mendukung kegiatan kaderisasi tersebut. Kiai Ma'ruf, lanjut dia, meminta kaderisasi di lingkungan NU dan Ansor harus dilakukan secara berjenjang dan terarah. 

"Pengkaderan bisa dilakukan secara formal dan informal secara kreatif untuk menjawab tantangan bangsa ke depan, " ujar Gus Yaqut yang didampingi Sekjen Abdul Rochman, 
Bendahara Umum Zainal Abidin, Ruchman Basori (Ketua), Hasan Sagala (Ketua), Affan Rozi (Wasekjen), dan Wibowo Prasetyo (infokom). 

Di samping itu, jelas Yaqut, Kiai Maruf juga berpesan agar penguatan sistem kaderisasi NU dan Ansor harus menyeimbangkan dengan daerah-daerah di luar Jawa.

"Daerah-daerah yang masih belum kuat perlu diperkuat dan harus mencakup prinsip Akidah, Fikroh, Amaliah, Harokah dan Jami'yah," pungkas Gus Yaqut. (Red: Fathoni)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG