IMG-LOGO
Tokoh

Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang

Selasa 23 Juli 2019 21:15 WIB
Bagikan:
Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang
Hj Nur Rohmah (kiri) penerus Pesantren Kemadu, Sulang, Rembang
Bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya, nama Hj Shofiyah Syahid, atau biasa dikenal dengan Ibu Nyai Syahid cukup dienal. Ia adalah istri dari seorang ulama KH Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah, pendiri Pesantren Alhamdulillah, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
 
Setiap acara haul, ribuan santri dari penjuru daerah pasti datang memadati halaman pesantren. Karena area pemakaman Mbah Syahid dan Nyai Shofiah berlokasi di komplek pesantren. Apalagi jumlah santri lulusan pesantren yang di asuh Mbah Syahid, panggilan akrab KH Ahmad Syahid, sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
 
Setiap haul, para ulama besar seperti KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), dan Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tak jarang, para anggota DPRI RI hadir dalam acara rutinan, yang sudah lestari setiap tahun.
 
Dalam beberapa kesempatan KH Yahya Cholil Staquf pernah mengungkapkan ketokohan Hj Shofiyah. Menurut Gus Yahya, almarhumah merupakan sosok wanita hebat yang setia mendampingi Mbah Syahid dalam merintis pondok dan mengajar masyarakat serta santri belajar tentang agama Islam.
 
Gus Yahya mengisahkan, pernikahan Mbah Syahid dengan Nyai Hj Shofiah beda usia. Usia Nyai Shofiah jauh lebih dewasa jika dibandingkan Mbah Syahid.
 
"Nyai Hj Sofiyah wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada Mei 1994. Semasa hidup, beliau sangat total membantu Kiai Syahid mengembangkan pondok," cerita Gus Yahya dihadapan ribuan hadirin haul Nyai Hj Shofiah.
 
Saat Mbah Syahid dikhitan di usia kanak-kanak, Mbah Shofiyah sebagai tetangga bersama wanita dewasa lainnya sudah ikut membantu orang tua Mbah Syahid mempersiapkan masakan untuk kondangan. Hal itu menunjukkan perbedaan usia antara keduanya.
 
Namun diperjalanan keduanya dipertemukan sebagai sepasang suami istri, dan belakangan menjadi dua orang pengasuh pesantren yang diberi nama Ponpes Alhamdulillah. Dalam perjalanannya, Mbah Syahid sangat menghormati sang istri, begitu juga sebaliknya.
 
Nyai Shofiyah bisa dikatakan perempuan sangat hebat karena rela berkorban untuk mendukung kiprah sang suami merintis sebuah lembaga pendidikan yang bernama pondok pesantren.
 
Dikatakan Gus Yahya, pernah suatu ketika Kiai Syahid berkata "Orang-orang itu salah sangka, dikiranya aku ini keramat. Padahal yang punya keramat itu sebenarnya ya Nyai (Mbah Shofiyah red). Aku bisa begini ini karena Nyai. Kalau bukan karena dia, mustahil aku bisa istiqamah," cerita Gus Yahya menirukan Kiai Syahid.
 
Hj Shofiyah Syahid merupakan sosok pertama yang mendampingi KH Ahmad Syahid. Sepeninggal Nyai Shofiyah, Kiai Syahid menikah dengan Nyai Hj Nur Rohmah Syahid dan dikaruniai dua orang putra yakni Rabbi' Lutfi (Gus Obi') dan Safiqoh Samiyah (Neng Sa).
 
Sepintas, tidak ada bedanya peringatan haul yang digelar oleh keluarga besar Pesantren Alhamdulillah, dengan hal yang digelar di pondok yang lain. Namun jika ditelusuri lebih mendalam, ada kekhasan yang menjadi kebiasaan yang sudah turun – temurun semasa Hj Shofiyah Syahiddan KH Ahmad Syahid semasa hidupnya.
 
Kebiasaan ini masih diteruskan oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid, sebagai penerus pesantren. Di pesantren ini sangat memuliakan tamu, dengan jamuan khasnya. Ternyata jamuan tersebut biasa dilakukan sejak zaman pesantren itu berdiri. Salah satu jamuan yang di kangeni para tamu adalah nasi jagung, yang dipadukan dengan nasi beras, lengkap dengan lalapan serta sayur dan ikan. Seluruh makanan yang disajikan di pesantren sebagian besar merupakan hasil pertanian yang digarap para santri dan pengurus pondok.
 
Bagi masyarakat Desa Kemadu Kecamatan Sulang saat itu, Nyai Shofiyah tergolong kaya raya. Kebun dan sawahnya luas. Nyai Shofiyah mewakafkan lahan untuk membangun pesantren bagi Kiai Syahid, suaminya.
 
Singkat kata, dengan dukungan Nyai Shofiyah, Mbah Syahid bisa fokus dan istikamah mengajar santri dan masyarakat, tanpa harus terbebani urusan ekonomi keluarga. Tak hanya itu, Nyai Shofiyah juga merelakan hasil panen pertaniannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
 
Pondok Kemadu sendiri didirikan sekitar tahun 1950 - an oleh KH Ahmad Syahid bin Sholikhun bersama istri pertamanya, Nyai Shofiyah. Pondok ini terletak di Jalan Rembang - Blora KM 14, tepatnya di Desa Kemadu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang.
 
Tepat pada hari Jumat, 3 September 2004, Kiai Syahid wafat pada usia 78 tahun. Kiai Syahid dimakamkan di sebelah pusara istri pertamanya, Nyai Shofiyah yang berada di komplek pondok.
 
Sepeninggal Kiai Syahid, Pondok Kemadu diasuh dan dipimpin oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid. Saat itu, Gus Obi' dan Neng Sa masih kecil. Saat ini, Gus Obi' masih mondok di sebuah pesantren ternama di Pare. Ia juga tengah menyelesaikan studi S-1 di sebuah perguruan tinggi ternama di Malang.
 
Usai merampungkan studinya, Gus Obi' berencana membantu ummi panggilan Gus Obi' kepada Nyai Hj Nur Rohmah 'nggulowentah' santri-santri di Pesantren Kemadu melanjutkan perjuangan sang ayah, Kiai Syahid. (Ahmad Asmui)
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 20 Juni 2019 21:30 WIB
Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan
Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan
Kiai Abdul Kholiq (kiri)
Semasa hidup Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari, banyak santri yang kemudian menjadi ulama dan terlebih dahulu belajar ke Kiai Hasyim di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Salah satu santri yang rajin mengaji ke Kiai Hasyim adalah KH Nur Salim.

Kiai Nur Salim berasal dari Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bahkan saat putra kandungnya lahir, Kiai Nur masih sedang mengikuti pengajian Kiai Hasyim Asy'ari. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat Legi tanggal 18 Syawal 1355 H atau bertepatan pada tanggal 1 Januari 1937 M. Saat itu KH Nur Salim masih meneruskan mondok di Pesantren Tebuireng Jombang setelah menikah.

"Sehingga terpaksa harus disusul ke Tebuireng untuk memberitahukan kelahiran anaknya," jelas cicit KH Nur Salim kepada NU Online, Muhammad Fajrul Falah Afandi, Kamis (20/6).

Setelah sampai di rumah, istrinya melahirkan seorang putra dan langsung diberi nama Abdul Kholiq. Nama tersebut diberikan karena tafa'ulan dan tabarukan dengan nama putra Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari. Sosok Kiai Hasyim Asy'ari bagi keluarga KH Nur Salim begitu berarti. Pendiri Nahdlatul Ulama tersebut menjadi rujukan setiap problem yang dihadapi.

Kiai Nur Salim aslinya bernama Soko, ia menikah dengan Kasiyat putri H Siroj atau Kamso. Cerita pernikahan ini berawal saat ia pulang dari nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Sidogiri Pasuruan. Saat itu H Siroj sangat terkesan dengan sosok santri yang sudah dikenal sifat bagus dan kealimannya, sehingga kemudian dinikahkan dengan anaknya. 

H Siroj juga sangat mendukung menantunya, baik secara mental maupun material dalam langkah perjuangan KH Nur Salim. KH Nur Salim memiliki 11 putra-putri, yaitu Ghozi (meninggal waktu kecil), Ashari (meninggal waktu kecil), Abdul Kholiq, Abdul Wahid (meninggal waktu kecil), Hasyim Bisyri, Hasan Bisyri, Siti Aminah, Masda'i, Ni'mah, Muhsin, dan Abdullah Munif.

Salah satu putranya yang bernama KH Abdul Kholiq kemudian hari kelak menjadi tokoh ulama yang mendedikasikan dirinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Kholiq tercatat pernah menjadi Wakil Rais Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Babat tahun 1980 dan Rais MWC NU Babat tahun 1985.

Kemudian menjadi Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan. Hingga akhirnya menjadi Rais PCNU Lamongan, menggantikan KH Abdullah Iskandar. Pernah juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI) NU Lamongan.

Akan tetapi beliau KH Nur Salim tidak berkehendak mendirikan pesantren secara institusi seperti umumnya santri KH Hasyim Asy'ari saat itu. Ia cukup mendirikan mushala untuk berjamaah dan mengajar ngaji bagi masyarakat yang membutuhkannya. Itupun masih sangat sederhana, ngaji sorogan, bandongan sampai ia wafat pada tanggal 09 Ramadhan 1386 H atau 22 Desember 1966 M.

Dalam berdakwah, Kiai Nur Salim banyak dibantu oleh putranya KH Abdul Kholiq. Suatu hari KH Abdul Kholiq berkeinginan mendirikan madrasah akan tetapi masih kurang direspon oleh ayahnya. Saat itu sang ayah mengatakan "Liq, gawe madrasah opo maneh ngopeni teruse iku abot, wis sing penting kapan ono sing njalok wulang ngaji yo diulang (kalau buat madrasah apa lagi mengurusinya itu berat, yang penting kapan ada yang minta diajar ngaji ya diajar)".

"Begitulah karakter KH Nur Salim yang tidak ingin neko-neko (ambil resiko)," ujar pria yang akrab disapa Gus Falah ini.

Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan keadaan masyarakat, banyak yang mendesak KH Abdul Kholiq untuk mendirikan pesantren, di antaranya KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdulloh Faqih pengasuh Pesantren Langitan. Waktu sowan ke KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdullah Faqih oleh KH A Marzuqi Zahid, Kiai Kholiq dikatakan kiai yang tidak pantas. 

Kemudian ia memberanikan diri bertanya kepada Kiai Marzuqi "Apa maksud kiai yang tidak pantas, yai? ". Jawab Kiai Marzuqi "Kamu itu alim, kamu tidak pantas kalau tidak punya pondok" lalu Kiai Marzuqi menyuruh untuk mendiriikan pesantren. Hal ini kemudian dihaturkan ke romo KH Abdullah Faqih, oleh KH Abdullah Faqih, rencana tersebut didukung bahkan diberi modal uang untuk segera membangunnya. 

Namun baru setelah benar-benar yakin dan mantap, tepat pada tanggal 1 Rabiul Awwal 1406 H atau 14 November 1985 M dibentuklah panitia pembangunan pondok yang diberi nama 'Nurus Siroj'.

Nurus Siroj diambil dari gabungan dua kata yaitu Nur nama dari ayahnya yaitu KH Nur Salim dan Siroj nama dari kakeknya yaitu H Siroj. Dengan tujuan mengenang keduanya telah berjasa atas keberadaan dirinya secara material, mental, dan spiritual. 

Putra KH Nur Salim bernama KH Abdul Kholiq ini memang sudah kelihatan memiliki keunggulan sejak usia remaja. Seperti ketekunan, kerja keras, kepemimpinan dan kemauan yang keras untuk mencapai cita-cita. KH Abdul Kholiq meninggalkan rumah untuk menimba ilmu pada awal tahun 1950-an, ia berangkat menuju rumah Kiai Abdul Hadi Zahid, saat itu menjadi Pengasuh Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Belum puas dengan keilmuan yang telah dimiliki, pada tahun 1954 ia melanjutkan perjalanan menimba ilmu kepada Syech Masduqi Lasem Rembang, Jawa tengah. Di pesantren asuhan KH Masduqi inilah ia mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi kehidupan KH Abdul Kholiq. Ia juga berhasil menguasai dengan baik kitab-kitab besar seperti Jamul Jawami, Uqudul Juman, Asybah Wan Nadloir, Fathul Wahhab, dan Ad-Dasuqi.

"Dalam menambah pengetahuan dan pengalaman, ia menyempatkan berguru thoriqot ke KH Romli At-Tamimi asal Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang," tambah Gus Falah.

Setelah banyak menghabiskan waktunya dari pesantren satu ke pasantren yang lain. Akhirnya KH Abdul Kholiq melangsungkan pernikahan dengan gadis dari Desa Mulyo Agung Singgahan Tuban, bernama Siti Masruroh.

Dalam pengabdianya dan menyebarkan ilmunya, KH Kholiq tetap berusaha menata ekonomi keluarga, di antaranya mendirikan usaha-usaha seperti membuka toko di pasar Moropelang (1966), membuat penggilingan padi/selep (1980) di beberapa daerah, membuat setrum aki (1981), dan mendirikan pabrik tahu (1983).

KH Abdul Kholiq termasuk seorang yang mempunyai kecintaan yang sangat dalam kepada tanah kelahiranya, seorang tokoh masyarakat yang mengabdikan hidupanya untuk desa tempat kelahirannya. Banyak kemajuan-kemajuan Desa Tritunggal berkat langkah-langkah strategisnya. 

Ia juga sangat dekat dengan masyarakat dan suka membantu. Maka tak heran keluarga KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq sangat disegani, dihormati, dan dicintai warga masyarakat Tritunggal dan sekitarnya. 

Pada tahun 1966 KH Kholiq berangkat haji dengan transportasi kapal laut, selama kurang lebih 3 bulan. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang perempuan tua (Syehoh Abbasiyyah) yang ia anggap sebagai guru dan orang tua sendiri. Karena kebaikan budi pekerti KH Abdul Kholiq,  perempuan itu memberi hadiah yaitu tambahan nama Afandi yang berarti As-Sayyid (Tuan) sehingga menjadi KH Abdul Kholiq Afandi.

Kamis legi 5 shafar 1425 H atau 25 Maret 2004 M ba'da Ashar KH Abdul kholiq Afandi wafat di rumah sakit Islam Nasrul Ummah Lamongan. Dan dimakamkan setelah shalat Jumat di sebelah timur Pondok Putra Nurus Siroj. Hingga kini masih sangat banyak masyarakat dari berbagai kalangan berdatangan untuk ziarah dan memberikan penghormatan kepadanya.

"Semoga santri Pesantren Nurus Siroj bisa meneruskan perjuangan KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq Afandi," tandas alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang ini.

Syarif Abdurrahman, Kontributor NU Online Jombang, Jawa Timur
Kamis 30 Mei 2019 16:15 WIB
OBITUARI
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
KH Tolchah Hasan. (Foto: Channel Youtube Unisma)
Nama Kiai Tolchah Hasan sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia, lebih-lebih warga Malang, Jawa Timur. Ia masyhur sebagai sosok ulama yang aktif di dunia pergerakan dan dekat dengan masyarakat. Karirnya di Ansor pada tahun 1960-an membuat namanya populer di masyarakat sebagai seorang organisator yang ulung dan rajin. Selain itu, ia juga terkenal sebagai seorang pendidik yang sangat dihormati.

Ada kisah menarik datang kepada saya mengenai Kiai Tolchah Hasan sebagai seorang ulama yang juga pendidik ini. Cerita ini saya dapatkan dari seorang dosen Universitas Islam Malang (Unisma), kampus NU yang beliau dirikan bersama Kiai Masjkur dan Kiai Oesman Mansjur. Dosen yang bercerita kepada saya adalah Dr Masyhuri, salah seorang dosen penelitian di pascasarjana Unisma.

Ketika penulis sedang kuliah pascasarjana di Unisma pada tahun 2016 lalu, Dr Masyhuri mengatakan bahwa Kiai Tolchah sampai usianya yang ke-80 tahun masih merupakan sosok yang gemar membaca. Untuk mempersiapkan mengisi kuliah di Unisma (baik S-2 maupun S-3), beliau bisa menghabiskan berpuluh kitab atau buku sebagai bahan mengajar. Dari kitab-kitab itu Kiai Tolchah lalu membuat satu makalah. Dalam kebiasaannya, makalah tersebut digandakan sendiri oleh Kiai Tolchah untuk disebarkan kepada para mahasiswa yang ia beri kuliah.

“Kiai Tolchah itu setiap mau mengajar di kelas, malamnya harus membaca minimal 20 kitab,” tutur Masyhuri di hadapan para mahasiswa.

Setelah membaca berbagai referensi, Kiai Tolchah biasanya akan meminta kepada salah satu menantunya untuk membuat tayangan power point berdasarkan ringkasan konsep yang dibuatnya dalam tulisan tangan. 

Penulis juga pernah mendengar dengan telinga penulis sendiri bahwa Kiai Tolchah telah membaca 10 kitab dan buku dalam satu malam untuk menyiapkan sebuah seminar bagi mahasiswa baru di Unisma.

“Makalah ini saya siapkan dalam satu malam, sampai jam satu malam tadi saya menyiapkan ini dengan 10 kitab sebagai referensi,” paparnya di hadapan sekitar 1000 mahasiswa baru Unisma.

Kiai Tolchah sebagai seorang kiai pesantren, ia juga selalu memberikan dorongan positif kepada para mahasiswa yang juga merupakan santri di pesantren. Beliau ingin mengangkat nama baik para santri dan pesantren agar tidak terpinggirkan. 

Salah satu mahasiswa beliau di Unisma yang juga merupakan salah satu ustadz di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah, Mujiharto, turut memberikan testimoni tentang ini. Di dalam kelas perkuliahan suatu ketika Kiai Tolchah menyampaikan pesan, “Santri itu harus rajin membaca, menulis, dan penelitian,” kata pria yang akrab dipanggil pak Muji itu menirukan Kiai Tolchah.

Sekitar bulan April kemarin dalam sebuah kesempatan memberikan mauidhah hasanah di hadapan para wali santri Pondok Pesantren Al-Islahiyah Putri, Kiai Tolchah menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan hati para hadirin:

"Jika bulan depan saya masih diberi kesempatan hidup oleh Allah maka saya akan berumur 84 tahun," katanya perlahan tapi jelas sekali. 

Entah itu isyarat atau bukan, pada bulan Mei ini bertepatan dengan minggu terakhir bulan Ramadhan beliau telah dipanggil oleh Sang Khaliq.

Demikianlah Kiai Tolchah Hasan, kiai dengan segenap kealiman; kiai dengan segenap kepiawaian dan kecakapan hidup. Tapi selama hidupnya sepi dari hiruk pikuk pembicaraan orang dan liputan media.


R Ahmad Nur Kholis, alumnus Program Pascasarjana Unisma Malang; kontributor NU Online

Ahad 19 Mei 2019 19:45 WIB
KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok
KH Ahmad Syaikhu Tokoh NU Pendiri Pesantren Al-Hamidiyah Depok
Jika melakukan pencarian Ahmad Syaikhu di Google, maka mesin pencari itu akan mengarahkan kepada seorang pejabat di Bekasi dan segala aktivitasnya. Padahal ada Ahmad Syaikhu lain yang populer di masa orde lama dan orde baru. Dialah tokoh pendiri Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok. Juga tokoh NU kenamaan yang perannya tak hanya nasional, tapi juga internasional. 

Namun, peran dan jasa KH Ahmad Syaikhu jarang sekali diketahui orang, bahkan mungkin oleh warga NU sendiri. Penulisan namanya pun tidak seragam ada yang menulis Achmad Syaichu, Achmad Syaikhu, Ahmad Syaichu, Ahmad Syaikhu. Untuk memudahkan, dalam tulisan ini menggunakan yang disebut terakhir.  

Riwayat Masa Kecil dan Pendidikannya
KH Ahmad Syaikhu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny Hj Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Ahmad Syaikhu bersama kakaknya, Achmad Rifa'i, diasuh ibunya. 

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaikhu belajar kepada Kiai Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Qur'an 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. 

Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Tashwirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, dan KH Dahlan Ahyad. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaikhu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Syaikhu kembali ke bangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu fikih.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Hasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaikhu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaikhu. Setamat dari Nahdlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja di bengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaikhu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Ma'shum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan KH Ma'shum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaikhu mempersunting Solichah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan. 

Berjuang melalui NU
Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaikhu mulai terlibat di organisasi NU. 

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (tanfidziyah), bersama KH Thohir Bakri, KH Thohir Syamsuddin dan KH A. Fattah Yasin. Karier Syaikhu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaikhu terpilih menjadi ketua LAPUNU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. 

Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH Ahmad Syaikhu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH Ahmad Syaikhu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. 

KH Ahmad Syaikhu yang dikenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH Ahmad Syaikhu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren. 

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH Ahmad Syaikhu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG