IMG-LOGO
Opini

Pemakzulan Presiden Gus Dur: Skenario Elite Politik

Selasa 23 Juli 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Pemakzulan Presiden Gus Dur: Skenario Elite Politik
KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Foto: The Jakarta Globe)
Oleh Virdika Rizky Utama
 
22 Juli 2001 tentara yang dipimpin RR show off power menentang rencana dekrit. Di sekitaran istana, Jalan Medan Merdeka,  Jakarta Pusat, puluhan ribu pendukung dan pengkritik Gus Dur membentuk blok. Rencananya, pukul 19.00 presiden akan membacakan dekrit. Namun hal itu ditunda lantaran presiden masih ingin mendengarkan beberapa pihak tentang perlu atau tidaknya dekrit. Sementara di parlemen, lawan politik sedang wait and see. Kalau Gus Dur keluarkan dekrit, mereka akan segera menggelar sidang istimewa untuk memakzulkan.
 
Tanggal 23 Juli 2001, pukul 01.00 dini hari, Gus Dur akhirnya mengeluarkan dekrit yang dibacakan oleh Yahya Cholil Staquf. Salah satu isi dekrit adalah bubarkan Golkar, karena dianggap bagian dari rezim lama yang membuat kekacauan baik politik maupun ekonomi.
 
Langkah Gus Dur sudah diantisipasi oleh Golkar dan sekutunya. Saat itu AT langsung mengirimkan surat ke ketua MA, BM untuk mengeluarkan fatwa bahwa tindakan Gus Dur inkonstitusional.
 
Menariknya, BM saat itu dekat dengan Golkar. Gus Dur sudah menentang dilantiknya BM menjadi Ketua MA. Tapi Gus Dur tak punya pilihan, calon lainnya M, juga dekat dengan Golkar. Inilah pertarungan politik Gus Dur sesungguhnya. Ia harus melawan kekuatan sisa Orde Baru yang masih kuat di segala lini pemerintahan. Mereka banyak menempatkan kaki untuk melemahkan Gus Dur.
 
Kita ke awal saat Gus Dur terpilih jadi Presiden. Gus Dur didukung hampir seluruh kekuatan yang ada di parlemen termasuk kekuatan lama. Oleh sebab itu, banyak yang ragu Gus Dur akan berani membersihkan rezim lama.
 
Kabinet Gus Dur merupakan hasil kompromi. Banyak yang kecewa tentunya. Tapi bukan berarti Gus Dur akan menyerah dan tersandera. Misal, AR tokoh reformasi saat itu meminta jatah Menkeu harus dari partainya. Tak tanggung, AR meminta FB sebagai Menkeu. Kalau tidak, ia akan menarik dukungan.
 
Gus Dur pintar, dia tahu FB ini korup bukan main dan juga bagian dari rezim lama. Ia menyetujui Menkeu dari partai AR, tapi Gus Dur yang memilih orangnya. Akhirnya BS jadi Menkeu.
 
Di Kantor Berita Antara, Gus Dur memecat PH. Ia dianggap sebagai bagian rezim lama. Dan memang tak dapat disangkal oleh PH sendiri. Awalnya PH terima dipecat, tapi dia akhirnya menuntut Gus Dur.
 
Gubernur BI juga tak luput dari pembersihan Gus Dur. SS saat itu dekat dengan Golkar, bahkan diduga terlibat korupsi Bank Bali. Tapi mendapat perlawanan dari Golkar. Akhirnya SS tetap menjadi Gubernur BI.
 
Gus Dur makin membuat jengkel partai-partai koalisi karena ia berani memecat Menteri LS dari PDIP dan JK dari Golkar. Tak tanggung-tanggung, Gus Dur menyebut dua orang itu terlibat KKN. Momen ini yang semakin membesarkan niat mereka untuk jatuhkan Gus Dur.
 
Masalahnya saat itu Gus Dur tak mau atau tak bisa membuktikan pernyataannya. Kritik saya, komunikasi politik Gus Dur agak buruk. Karena tak bisa membuktikan hal itu, dua kekuatan terbesar di DPR itu mencapai titik temu. PDIP melalui anak kosnya melakukan interpelasi bersama Golkar.
 
Di internal PDIP sendiri ada dinamika, anak kos dan kader lama berebut perhatian dan pengaruh M. Lambat tapi pasti anak kos berhasil meyakinkan M dan suaminya TK.
 
Interpelasi bergulir cepat karena ada kasus buloggate dan bruneigate. Saya punya dokumen bagaimana PDIP dan Golkar mengadakan rapat untuk melengserkan Gus Dur. Salah satunya di rumah AP dari PDIP, 22 Juni 2000. Rapat itu dihadiri Kapolri dan petingginya serta partai-partai yang sudah muak dengan Gus Dur. Rencana awal adalah memainkan interpelasi. Meyakinkan partai-partai di DPR untuk melemahkan Gus Dur. PKB akhirnya hanya berdiri sendiri mendukung Gus Dur.
 
Selain itu, manuver DPR terhadap Gus Dur adalah isu skandal buloggate dan bruneigate. Mereka memaksa Gus Dur untuk hadir di Pansus. Hadirnya Gus Dur akan semakin melemahkan legitimasi dan kepercayaan publik. Tak hanya di parlemen, AP, FB, PBS, AT juga meminta Kapolri untuk memanggil Gus Dur dan membuat kasusnya mengambang. Dengan begitu, Gus Dur akan menjadi bulan-bulanan media.
 
AP, AT dkk juga memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk menekan Gus Dur. HMI melalui Ketumnya MF kepada saya mengakui hal itu. Mereka berjejaring dengan segala pihak anti-Gus Dur terutama tentara.
 
Di tentara, Gus Dur juga harus menghadapi kekuatan lama yakni W. Meski sudah dipecat, W masih banyak loyalis. Tentara pro-Gus Dur yakni AWK harus pontang panting hadapi ini.
 
Gus Dur ingin menjalankan amanat reformasi. Tentara kembali ke barak. Itu sejalan dengan AWK dan Gus Dur memanfaatkan jaringan Bondan Gunawan di tentara, seperti dalam bukunya BG.
 
Akibat dianggap mengintervensi tentara, Gus Dur dan Bondan diserang isu dokumen "Bulak Rantai". Suatu skenario untuk melemahkan tentara dan melakukan infiltrasi ke TNI.
 
Dalam dokumen rapat di rumah AP, ditulis bahwa dokumen "Bulak Rantai" itu rencana mereka yang berhasil. Gus Dur benar-benar kewalahan melawan sisa rezim lama.
 
Ada sebuah dokumen bocor yakni dokumen pembacaan situasi. Di sana ditulis lengkap rapat-rapat, siapa yg hadir, termasuk rencana tentara melakukan teror melalui serangkaian bom di Jakarta.
 
Begitu diteliti, jenis bom yang meledak spesifikasinya sama dengan apa yang ditulis di dokumen pembacaan situasi. Pada titik ini Gus Dur sudah kehilangan kendali di tentara.
 
Kembali ke parlemen, akhir Januari 2001 Gus Dur mendapat memorandum I. Ini adalah tahap selanjutnya untuk impeachment, ini diakui oleh FB saat saya wawancara. Menariknya, dua minggu sebelum memorandum I ada dokumen yang dibuat FB untuk AT. FB menyebut rencana mereka dengan nama ‘Semut Merah’. FB menulis itu adalah salah satu rencana dan menghabiskan dana sebesar 4T rupiah. Dana itu didukung oleh FM, bendahara Golkar dan BT, anak Suharto.
 
Sebagai pembalasan memorandum I, Gus Dur mulai mengejar dan mengadili seluruh kroni Suharto, terutama GKS dan FB. Tapi lagi-lagi terkendala karena kekuatan Orde Baru masih cukup besar.
 
Dekrit hanya langkah terakhir Gus Dur dari gagalnya melawan kekuatan lama. Politisi, tentara, beberapa organ mahasiswa, organisasi partai, dan paramiliter bersatu melawan Gus Dur.
 
Lantas bagaimana dengan M? Apa dia berperan. Ya, hanya blessing in disguise saja. TK dalam biografinya mengakui hal itu, tugas dia meyakinkan M.
 
Dalam surat FB ke AT, disebutkan bahwa M hanya alat sebelum nanti akan dijatuhkan pula. Tak hanya itu, FB menulis, mari kita rebut kejayaan kita yang direbut selama reformasi.
 
Gus Dur menjalankan politik tanpa kompromi, meski itu sangat janggal dalam politik praktis. Akibatnya, Gus Dur tak kuasa melawan kekuatan tersebut.
 
Setelah Gus Dur lengser, politik hanya sekadar bagi-bagi kue. Terutama kekuatan rezim Orde Baru yang masih bercokol baik di politik maupun ekonomi.
 
Banyak yang bilang, kalau dekrit itu atas desakan LSM dan teman-teman Gus Dur di Fordem. Tapi, Fordem bahkan menolak dekrit. Kalau pun dekrit, jangan bubarkan parlemen. Cukup bubarkan Golkar dan percepat pemilu. Kenapa demikian? agar kekuatan lama tak dapat melakukan konsolidasi kekuasaan. Bahkan PBS menceritakan AT sudah terpojok dan bingung kalau Golkar dibubarkan.
 
Tapi sekali lagi, dekrit adalah ide Gus Dur bahkan pilihan diksinya juga dari Gus Dur. Dia tahu bahwa dia sudah kalah dan upaya terakhirnya ya hanya dengan dekrit.
 
Setelah impeachment, di media berkembang bahwa Gus Dur tak mau meninggalkan istana. Gus Dur bukannya tak mau, dia menunggu surat dari RT, RW, dan kelurahan setempat bahwa ia tak lagi akan tinggal di istana.
 
Pasca-Gus Dur lengser, kekuatan politik sebenarnya tak jauh berbeda. Aktor-aktornya pun masih sama dengan yang menjatuhkan Gus Dur.

 
Penulis adalah jurnalis. Saat ini menjadi peneliti di  Narasi.TV
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 15 Juli 2019 21:0 WIB
Negara dalam Tawa: Belajar dari Gus Dur
Negara dalam Tawa: Belajar dari Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Oleh Fathoni Ahmad

Sekitar tahun 1970-an dan 1980-an, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak menuangkan pemikiran dan gagasan lewat tulisan di media massa. Progresivitas pemikiran dan gerakannya menginspirasi sejumlah kalangan, baik dalam skala nasional maupun global.

Namun, perilaku santai tetap ditunjukkan oleh Gus Dur dalam momen-momen krusial menurut orang lain. Saat itu Gus Dur diundang menjadi salah satu narasumber untuk membincang Islam dan Negara, Islam dan Kebangsaan, serta Islam dan Demokrasi.

Gus Dur tampil dengan pemikiran dan gagasannya yang brilian, sebagaimana biasanya dalam setiap foum yang ia ikuti. Gus Dur mengurai satu per satu konsep yang pernah ada dan pernah dibicarakan oleh pemikir dan cendekiawan Muslim dunia.

Tak hanya menguraikan, Gus Dur juga menyampaikan kelebihan dan dan mengkritik kekurangan pemikiran mereka masing-masing. Tetapi, dari uraian tersebut, Gus Dur mengakhiri pemaparannya dengan kesimpulan yang cukup membingungkan para peserta seminar.

Saat itu, Matori Abdul Jalil yang mendampingi Gus Dur merasa resah dan gelisah. Dia khawatir Gus Dur diserang habis-habisan oleh para pakar yang hadir dan tidak bisa menjawabnya. Karuan saja ada yang bertanya tentang, bagaimana konsep negara dalam Islam. Kekhawatiran Matori betul-betul mencuat. Pertanyaan jelasnya: Apakah ada konsep atau sistem dan bentuk negara menurut Islam?

Dari pertanyaan tersebut Gus Dur menjawab dengan santai: “Itu yang belum saya rumuskan.” Hadirin terbahak. Tidak sedikit yang menilai bahwa jawaban Gus Dur luar biasa cerdas dan brilian, meski dengan cara jenaka.

Gus Dur ingin menegaskan bahwa Islam tidak mengatur formalisasi syariat ke dalam sistem negara. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mendirikan negara Islam. Agama Islam cukup dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di segala bidang, tak terkecuali bidang politik pemerintahan. Islam hendaknya menjadi jiwa dalam praktik berbangsa dan bernegara, bukan menjadi dasar negara.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh yang paling diingat humor-humor cerdasnya, tentu saja selain jasanya yang luar biasa dan pemikirannya yang cemerlang. Membaca humor-humor Gus Dur tidak lain ialah bagaimana seseorang belajar menertawakan diri sendiri.

Di tengah persoalan yang banyak mendera bangsa, tidak sedikit yang mengatakan kenapa Gus Dur justru banyak melucu? Bagi sebagian orang, berhumor terkesan tidak serius, tetapi bagi Gus Dur humornya adalah keseriusannya. Sehingga persoalan serius kerap selesai dengan sendirinya lewat humor.

Seperti ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengibarkan bintang kejora. Banyak yang mengecam bendera OPM tersebut. Namun, Gus Dur mengatakan kepada para ajudannya bahwa bendera-bendera tak ubahnya umbul-umbul. “Anggap saja itu umbul-umbul,” kata Gus Dur.

Saat menjabat sebagai Presiden, banyak juga yang menolak keputusan Gus Dur karena mengizinkan kegiatan Kongres Papua yang identik dengan gerakan-gerakan makar. Bagi Gus Dur, keinginan masyarakat Papua harus ditampung. Hal ini yang tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah.

Justru kegiatan tersebut bisa menjadi sarana atau wadah bagi pemerintah RI untuk menampung aspirasi masyarakat Papua, juga sebagai sarana memberikan penjelasan terhadap program-program pemerintah. Bagi masyarakat Papua, kehadiran negara penting. Sebab itu, langkah Gus Dur untuk mewujudkan kerinduan masyarakat Papua akan kehadiran negara.

Kilas humor-humor Gus Dur tak lekang di makan zaman karena sarat konteks. Bahkan masyarakat bisa belajar banyak dari humor-humornya. Misal ketika di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terjadi konflik. Konflik ini seakan tak menemui titik ujung sehingga tidak sedikit menguras elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Diceritakan oleh KH Maman Imanulhaq dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), cucu KH Hasyim Asy’ari tersebut tetap memperlihatkan optimisme tinggi kepada para kadernya. Mereka menyadari bahwa setiap konflik menyimpan banyak pendewasaan terhadap diri seseorang.

Gus Dur memandang seluruh masalah dengan optimisme. Menurutnya, masalah itu dibagi menjadi tiga; ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada yang bisa diselesaikan tetapi lambat, dan ada yang tidak bisa diselesaikan. Sebab itu, serahkan semuanya kepada Allah, tawakaltu ‘alallah.

Gus Dur pun menegaskan bahwa yang benar ialah penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Karena kalau pemecahan, maka satu masalah bisa ‘pecah’ jadi beberapa masalah. Karenanya, kata Gus Dur, partai ini banyak dikatakan orang sebagai PKB, yaitu Partai Konflik Berkepanjangan.

Seketika, orang-orang di sekelilingnya tertawa mendengar plesetan kepanjangan tersebut. Mereka memang sedih mendengarnya, tetapi campur bahagia karena salah satu keistimewaan Gus Dur ialah mampu menertawakan kekurangannya sendiri.


Penulis adalah Redaktur NU Online
Jumat 12 Juli 2019 8:45 WIB
Ibnu Khaldun dan Penyebab Runtuhnya Khilafah
Ibnu Khaldun dan Penyebab Runtuhnya Khilafah
Patung Ibnu Khaldun di Tunisia (syafiqb.com)
Oleh Nadirsyah Hosen

Dalam kitabnya yang terkenal al-Muqaddimah, sejarawan ternama Ibnu Khaldun (wafat 17 Maret 1406) menganalisa penyebab hancurnya Bani Umayyah dan juga Abbasiyah. Ibn Khaldun menyebut faktor penerus para khalifah Umayyah yang lebih cinta duniawi dan melupakan perjuangan pendahulu mereka.

Lantas datanglah periode Khilafah Abbasiyah yang berhasil menumbangkan Umayyah dan mencapai kekuasaan puncak. Awalnya mereka berupaya mengarahkan jalannya kekuasaan menuju kebenaran, lantas tiba pada generasi anak cucu Harun ar-Rasyid memegang kekuasaan, semuanya berubah.

Di antara mereka, menurut Ibnu Khaldun, terdapat orang yang saleh dan orang yang jahat sekaligus, sehingga kekuasaan menjadi sarana bermegah-megahan dan mereka para Khalifah Abbasiyah tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Mereka melanggar nilai-nilai agama secara terang-terangan, kata Ibnu Khaldun, sehingga Allah mencabut kekuasaan dari tangan orang Arab secara total. Allah lantas mengizinkan bangsa-bangsa lain merebut kekuasaan mereka.

Ibnu Khaldun, yang wafat di era Dinasti Mamluk, menegaskan bahwa Allah tidak pernah berbuat kedzaliman sedikit pun kepada para hamba-Nya. Seolah beliau hendak menegaskan bahwa kehancuran Khilafah Umayyah dan Abbasiyah akibat ulah mereka sendiri. Ibnu Khaldun menggarisbawahi bahwa bagi siapa yang mau mengamati perjalanan sejarah para khalifah maka akan mengetahui kebenaran pernyataan beliau ini.

Ibnu Khaldun lantas mengutip al-Mas’udi, sejarawan Arab klasik yang wafat tahun 956, yang mengisahkan hal yang sama mengenai tingkah laku Bani Umayyah, ketika Abu Ja’far al-Manshur, Khalifah kedua Abbasiyah, menemui pamannya. Mereka mencari info tentang Bani Umayyah. Abu Ja’far menjawab:

“Khalifah Abdul Malik itu penguasa yang otoriter dan tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Khalifah Sulaiman itu hanya memikirkan isi perut dan kemaluannya saja. Sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Azis itu bagaikan orang yang buta sebelah di kawanan orang yang buta kedua matanya. Orang yang menjadi pemimpin itu adalah Khalifah Hisyam.”

Ibnu Khaldun melanjutkan kutipan Abu Ja’far yang bercerita lebih lanjut bahwa di awal mulanya Bani Umayyah memenuhi tanggung jawabnya, lantas mereka memuaskan hawa nafsunya dan durhaka kepada Allah. Karena kelalaian inilah Allah memakaikan baju kehinaan kepada mereka.

Kemudian Abu Ja’far memanggil Abdullah bin Marwan yang menceritakan pertemuannya dengan Raja Nubia (ini kawasan antara Mesir dan Sudan) ketika dia melarikan diri dari pengejaran Khalifah As-Saffah (Khalifash Abbasiyah pertama). Dikisahkan dialog antara sang Raja Nubia dengan Abdullah bin Marwan.

Raja Nubia bertanya: “Mengapa anda minum minuman keras yang dilarang dalam kitab suci anda?”

Abdullah menjawab: “Budak dan pengawal kami yang melakukannya.”

“Mengapa Kalian merusak tanaman dan hewan ternak, bukannya itu perbuatan yang diharamkan?”

Abdullah sekali lagi menjawab: “Budak dan pengikut kami yang berbuat itu karena kebodohan mereka”

Raja bertanya lagi: “Mengapa kalian memakai sutera dan emas padahal itu diharamkan atas kalian?”

Abdullah menjawab: “Kekuasaan kami dihancurkan bangsa non-Arab (Persia). Mereka masuk agama kami dan mereka memakai sutera dan emas, padahal kami membencinya.”

Mendengar semua jawaban ngeles dari Abdullah ini, Raja Nubia berkata: “Budak kami, pengawal kami, pengikut kami, bangsa non-Arab!!! Kenyataanya tidak seperti yang anda katakan. Kalian lah yang menghalalkan apa yang diharamkan. Kalian melakukan perbuatan yang dilarang dan menyalahgunakan kekuasaan sehingga Tuhan menimpakan bencana kehinaan kepada kalian (Bani Umayyah).

Raja Nubia dengan gusar melanjutkan: “Aku khawatir jika Tuhanmu menimpakan azab-Nya kepada kalian sekarang sedangkan kalian tengah berada di negeriku, aku pun akan terkena musibah bersama kalian. Bertamu hanya tiga hari, setelah itu keluarkah dari negeriku!”

Ibnu Khaldun lantas memberi komentar yang menohok atas kisah di atas: “Jelaslah bagi anda kini bagaimana kekhilafahan berubah menjadi kekuasaan duniawi semata.”

Dari penjelasan Ibnu Khaldun ini maka berhentilah kita untuk selalu menyalahkan orang lain. Sudah saatnya kita bersikap jujur terhadap kenyataan dan fakta sejarah masa lalu. Kalau generasi terbaik di masa lampau saja tidak tahan godaan duniawi dan syahwat kekuasaan, apa jaminannya kalau anak-anak HTI yang koar-koar soal khilafah bisa lebih baik dari generasi masa lalu? Tidakkah kita khawatir akan kecemplung masuk lubang kehinaan sekali lagi?

Jangan double standard: kalau ada yang baik dari periode khilafah masa lalu, langsung koar-koar betapa hebatnya khilafah sebagai solusi saat ini. Kalau ditunjukkan khilafah masa lalu juga ada cacatnya, buru-buru ngeles kayak gaya jawaban Abdullah di atas: seolah kejelekan itu pada masa kerajaan, bukan pada masa khilafah. Yang baik diaku masa khilafah, yang jelek diaku masa kerajaan. Padahal sama-sama bicara periode Umayyah dan Abbasiyah.

Modus anak-anak HTI yang lugu dan lucu itu adalah mengkritik sistem demokrasi, lantas menyebutkan fakta kehebatan khilafah masa lalu sebagai solusi masa kini. Ketika tulisan-tulisan saya mengungkapkan bahwa sejarah khilafah juga banyak yang bermasalah, mereka kejang-kejang dan marah kepada saya karena modus mereka langsung tumbang berantakan.

Akhirnya saya dibilang liberal dan kafir oleh anak-anak HTI. Semoga setelah membaca tulisan saya ini, mereka tidak lantas mengatakan Ibnu Khaldun itu liberal dan kafir.

Tabik,

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School

Teks Asli dari kitab al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun:

فكان ذلك مما دعا الناس إلى أن نعوا عليهم أفعالهم وأدالوا بالدعوة العباسية منهم. وولي رجالها الأمر فكانوا من العدالة بمكان، وصرفوا الملك في وجوه الحق ومذاهبه ما استطاعوا، حتى جاء بنو الرشيد من بعده فكان منهم الصالح والطالح. ثم أفضى الأمر إلى بنيهم فأعطوا الملك والترف حقه، وانغمسوا في الدنيا وباطلها، ونبذوا الدين وراءهم ظهرياً، فتأذن الله بحربهم، وانتزاع الأمر من أيدي العرب جملة، وأمكن سواهم منه. والله لا يظلم مثقال ذرة.
ومن تأمل سير هؤلاء الخلفاء والملوك واختلافهم في تحري الحق من الباطل علم صحة ما قلناه. وقد حكى المسعودي مثله في أحوال بني أمية عن أبي جعفر المنصور، وقد حضر عمومته وذكروا بني أمية فقال: " أما عبد الملك فكان جباراً لا يبالي بما صنع، وأما سليمان فكان همه بطنه وفرجه، وأما عمر فكان أعور بين عميان، وكان رجل القوم هشام " . قال: ولم يزل بنو أمية ضابطين لما مهد لهم من السلطان يحوطونة ويصونون ما وهب الله لهم منه، مع تسنمهم معالي الأمور، ورفضهم دنياتها، حتى أفضى الأمر إلى أبنائهم المترفين، فكانت همتهم قصد الشهوات، وركوب اللذات من معاصي الله جهلاً باستدراجه وأمناً لمكره، مع اطراحهم صيانة الخلافة، واستخفافهم بحق الرياسة وضعفهم عن السياسة، فسلبهم الله العز وألبسهم الذل، ونفى عنهم النعمة " . ثم استحضر عبد الله بن مروان فقص عليه خبره مع ملك النوبة لما دخل أرضهم فاراً أيام السفاح، قال: " أقمت ملياً ثم أتاني ملكهم فقعد على الأرض وقد بسطت له فرش ذات قيمة، فقلت له ما منعك من القعود على ثيابنا؟ فقال: إني ملك! وحق لكل ملك أن يتواضع لعظمة الله إذ رفعه الله. ثم قال: لم تشربون الخمر وهي محرمة عليكم في كتابكم؟ فقلت: اجترأ على ذلك عبيدنا وأتباعنا بجهلهم! قال: فلم تطؤون الزرع بدوابكم والفساد محرم عليكم، قلت: فعل ذلك عبيدنا وأتباعنا بجهلهم! قال: فلم تلبسون الديباج والذهب والحرير وهو محرم عليكم في كتابكم؟ قلت: ذهب منا الملك وانتصرنا بقوم من العجم دخلوا في ديننا فلبسوا ذلك على الكره منا. فأطرق ينكت بيده في الأرض ويقول: عبيدنا وأتباعنا وأعاجم دخلوا في ديننا ثم رفع رأسه إلي وقال: " ليس كما ذكرت! بل أنتم قوم استحللتم ما حرم الله عليكم، وأتيتم ما عنه نهيتم، وظلمتم فيما ملكتم، فسلبكم الله العز وألبسكم الذل بذنوبكم. ولله نقمة لم تبلغ غايتها فيكم. وأنا خائف أن يحل بكم العذاب وأنتم ببلدي فينالني معكم. وإنما الضيافة ثلاث. فتزود ما احتجت إليه وارتحل عن أرضي. فتعجب المنصور وأطرق.
فقد تبين لك كيف انقلبت الخلافة إلى الملك، وأن الأمر كان في أوله خلافة، ووازع كل أحد فيها من نفسه وهو الدين، وكانوا يؤثرونه على أمور دنياهم وإن أفضت إلى هلاكهم وحدهم دون الكافة.
Selasa 9 Juli 2019 12:22 WIB
Pancasila dan Tiga Mazhab Kewarganegaraan
Pancasila dan Tiga Mazhab Kewarganegaraan
Oleh Nanang Qosim

Setidaknya, jika menelusuri khazanah teori kewarganegaraan dalam sejumlah literatur, kita bisa mengidentifikasi tiga mazhab utama. Pertama, kewarganegaraan republik yang mengutamakan keutuhan negara. Di sini, warga negara utama adalah manusia patriotis yang rela mengorbankan jiwa raga untuk membela negara.

Efek negatifnya, mazhab ini bernuansa militer dan condong menghasilkan negara militeristik yang membelokkan cita-cita negara menjadi semata visi penguasa. Bahkan, mereka yang berbeda dari penguasa tidak dianggap sebagai warga negara dan dipasung hak-haknya. Indonesia masa Orde Baru adalah penganut mazhab ini.

Kedua, kewarganegaraan liberal. Berdasarkan literatur mazhab ini mewarisi atau meneruskan semangat Aufklarung (Pencerahan) yang ingin membebaskan akal manusia dari belenggu doktrin agama kala itu. Orang muak pada penundukan akal terhadap wahyu gereja di Eropa yang mengeras menjadi persekusi oleh kekuasaan raja yang bersekutu dengan gereja. Sehingga, manusia ingin berpikir bebas dan mendesakkan hak asasinya. Dari sini, muncullah Bill of Rights di Inggris yang menjadi cikal-bakal konsep hak asasi manusia (HAM) universal sebagaimana kita kenal.

Konsekuensi dari pemerdekaan akal adalah kepercayaan diri manusia bahwa mereka bisa merumuskan hukum-hukum umum alam dengan rasio. Alhasil universalitas berbagai hal, termasuk konsep HAM, menjadi dominan. Dampak buruknya, universalitas HAM meminggirkan kelompok minoritas. Sebab, mereka dianggap sebagai anomali bagi hukum-hukum universal yang sudah dicapai akal.

Sebagai contoh, jika universalitas konsep agama dianggap hanya mencakup agama-agama besar dunia—katakanlah Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu—maka para penganut agama di luar itu, seperti agama lokal, akan dianggap sebagai warga negara kelas dua. Karena itu, kelemahan mazhab liberal ini adalah ia meniscayakan budaya minoritas meleburkan diri ke dalam budaya universal mayoritas (asimilasi). Jadi, sebagai contoh, kaum beragama di luar agama-agama yang diakui negara harus meleburkan diri ke dalam salah satu agama yang ada, termasuk ketika mencantumkan status agama dalam kartu identitas.

Ketiga, kewarganegaraan multikultural. Beranjak dari kelemahan mazhab liberal dan republik, kewarganegaraan multikultural menyatakan kelompok budaya seyogianya diberikan kesempatan untuk mengada dalam vernacular alias konteks identitasnya yang khas (Will Kymlicka, Kewargaan Multikultural, 2004). Oleh karena itu, mazhab ini ingin merangkul dan memberikan ruang setara kepada semua warga negara. Sebab, semua warga negara dianggap unik dan berhak mengada dengan segala kekhasan karakternya.

Namun, mazhab ini bukannya tanpa kelemahan. Yaitu, ia justru memperkeras identitas kelompok hingga berpotensi melahirkan eksklusivitas sempit dan pandangan berorientasi ke dalam (inward-looking). Ujung-ujungnya, pengadopsian mazhab multikultural bisa berujung pada potensi besar konflik horizontal antaragama, antarsuku, dan lain sebagainya. Sebab, masing-masing merasa memiliki klaim kebenaran khas yang dianggap unggul.

Pancasila sebagai Sintesis

Akhirnya, timbul pertanyaan: jika ketiga mazhab kewarganegaraan yang ada memiliki kelemahan inheren, apa mazhab yang cocok bagi Indonesia? Tanpa perlu repot mencari, kita sudah punya jawabannya: Pancasila. Mengapa? Sebab, Pancasila adalah sintesis yang mengakomodasi kekuatan dari ketiga mazhab kewarganegaraan di atas. Sebagai awal, prinsip negara demokrasi ideal adalah memberikan ruang bagi percakapan antarsesama warga untuk mencari jalan memenuhi kebutuhan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Namun di sisi lain, percakapan itu harus diwadahi oleh satu wahana "netral" tempat semua pihak berada dalam posisi asali atau original position (John Rawls, Theory of Justice, 1994).Maksudnya, posisi sama antara warga negara sehingga percakapan itu fair. Wahana netral itu adalah batas minimal yang memberikan semua warga negara akses setara pada proses diskursif seputar masalah publik. Jadi, warga negara haruslah terlibat secara bebas dan setara dalam praktik mempertahankan kebaikan bersama (common good). Kualitas warga dinilai dari kesertaannya memperjuangkan kemaslahatan umum.

Wahana netral itulah yang kita kenal sebagai Pancasila. Lebih dari sekadar filsafat dasar negara, Pancasila sejatinya adalah konsensus yang menjamin semua warga memiliki kesamaan hak dan kewajiban seraya tunduk pada rule of law (supremasi hukum). Jadi berbekal Pancasila, warga minoritas mendapatkan ruang untuk ikut berpartisipasi dalam pemecahan masalah umum tanpa perlu takluk terhadap kebudayaan dominan. Ini menambal kelemahan mazhab kewarganegaraan liberal.

Kemudian, Pancasila sebagai titik muka berdiskusi akan menangkal ekslusivitas. Sebab, eksklusivitas khas setiap kelompok terakomodasikan dalam Pancasila sebagai wahana netral. Sekaligus, ini menutupi kelemahan mazhab kewarganegaraan multikultural.

Terakhir, posisi Pancasila sebagai batas minimal bernegara membuat negara tidak perlu takut akan memiliki warga negara yang kurang spartan membela kedaulatan wilayah. Justru, Pancasila akan merasuki kesadaran para warga negaranya sehingga mereka dapat menghayati nilai Pancasila dalam tingkah laku tanpa terbatas pada aspek pertahanan fisik bela negara. Patriotisme jadinya bisa mencakup berbagai bidang: sosial, ekonomi, dan sebagainya. Alhasil, kelemahan kewarganegaraan republik pun teratasi.

Akhirnya, berbagai masalah yang mengoyak rajutan hubungan antarwarga negara di bumi pertiwi ini seyogianya menjadi momentum bagi kita untuk kembali ke Pancasila sebagai mazhab kewarganegaraan ideal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.


Penulis adalah Pengurus Ikatan Sarjana NU Kabupaten Demak

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG