IMG-LOGO
Daerah

NU Purworejo Dukung Pengobatan Masal dengan Ruqyah Aswaja

Rabu 24 Juli 2019 20:0 WIB
Bagikan:
NU Purworejo Dukung Pengobatan Masal dengan Ruqyah Aswaja
Sebelum ruqyah masal digelar pengajian bandongan
Purworejo, NU Online
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo Achmad Rohadi menjelasan, kegiatan pengobatan masal yang dilakukan MWCNU Bagelen dengan menggandeng Tim Ruqyah Awaja diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan pengobatan alternatif.
 
"Kami berharap pengobatan ini bisa membantu kesehatan masyarakat seperti program pemerintah Kabupaten Purworejo yang saat ini sedang digalakkan peningkatan di bidang kesehatan," tandasnya.
 
Hal itu disampaikan saat dirinya menghadiri kegiatan pengobatan dengan metode Al-Qur'an yang digelar Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pada Selasa (23/7).
 
Dikatakan, Pemerintah Kabupaten Purworejo saat ini sedang menggalakkan program peningkatan kesehatan masyarakat. Jika pemerintah melakukan bersama tim medis dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas yang ada.
 
"Kalau di NU itu bertujuan yang sama meski dengan cara yang berbeda, di mana kita bisa bekerjasama dengan Jamiyah Ruqyah Aswaja yang ada di Purworejo," jelasnya. 
 
Pelaksanaan ruqyah masal yang pertama kali di laksanakan oleh Tim ​​​​​​​Ruqyah Imam Puro Cabang Purworejo bekerjasama dengan tim dari Kulonprogo Yogyakarta berlangsung di Masjid Al-Jariyyah, Desa Dadi Rejo, Kecamatan Bagelen.
 
Pimpinan ruqyah masal Kiai Muh Adro'i menjelaskan, kegiatan ruqyah masal dengan metode Al-Qur'an sekaligus untuk menjalin silaturahim antar praktisi Ruqyah Aswaja dari Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kulonprogo.
 
"Pengobatan Thibbun Nabawi ini adalah wujud dakwah dari tim ruqyah ​​​​​​​Purworejo dengan metode Al-Qur'an sebagai pengenalan bahwa metode ini merupakan obat pertama dan utama bagi manusia," ujarnya.
 
Diungkapkan, dirinya sangat terkesan dengan kegiatan ruqyah aswaja, karena dengan washilah pengobatan, dirinya bisa silaturahim antar nahdliyin dan ini sebagai bukti wujud bahwa Jamiyah Ruqyah Aswaja adalah salah satu motor pengerak NU. 
 
Rais MWCNU Bagelen, Purworejo KH Dahlan Nuri mengatakan, model pengobatan dengan metode baca Al-Qur'an yang biasa disebut pengobatan ruqyah aswaja bisa bermanfaat untuk umat, tidak saja di lingkungan nahdliyin tapi untuk seluruh masyarakat yang membutuhkan.
 
"Saya sangat berharap kehadiran tim ruqyah bisa bermanfaat sebagai pengobatan dengan metode membaca Al-Qur'an di Purworejo khususnya bisa maju dan terus berkembang menjadikan pengobatan yang pertama dan utama," katanya.
 
Ruqyah masal diikuti ratusan masyarakat dengan penuh antusias yang sebelumnya diisi pengajian bandongan rutinan malam rabu yang oleh KH Dahlan Nuri. (Achmad Rohadi/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 24 Juli 2019 23:30 WIB
Peduli Kekeringan, Banser Boyolali Bantu Air Bersih ke Desa
Peduli Kekeringan, Banser Boyolali Bantu Air Bersih ke Desa
Bantuan air bersih dari Ansor Boyolali untuk desa terdampak kekeringan
Boyolali, NU Online
Kekeringan yang melanda di sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, membuat sejumlah daerah mengalami krisis air bersih. Hal inilah yang menjadi keprihatinan para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Boyolali dan tergugah untuk ikut membantu warga dengan mengirimkan bantuan air bersih.
 
Bantuan air bersih yang diangkut dengan menggunakan truk dan mobil bak terbuka, disalurkan ke beberapa titik yang mengalami kekeringan air mendapat sambutan yang luar biasa dari warga di Desa Bengkle dan Garangan Kecamatan Wonosamudro.
 
“Penyaluran bantuan air bersih ke Desa Bengkle dan Garangan Kecamatan Wonosamudro, telah kita laksanakan Jumat tanggal 19 Juli lalu. Semoga bantuan yang kecil tersebut bermanfaat untuk warga,” terang Ketua PC GP Ansor Boyolali Husein Ahmadi kepada NU Online, Rabu (24/7).
 
Ditambahkan Husein, dana bantuan air ini didapatkan dari sumbangan kader Ansor dan Banser se-Boyolali, khususnya dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamudro, Kabupaten Boyolali

“Selain dibagikan langsung ke warga, bantuan ini juga disalurkan ke beberapa tampungan air yang ada di masjid dan mushala,” kata dia.

Pihaknya juga memberikan masukan kepada beberapa pihak berwenang, terkait siklus musim kekeringan air ini. Menurut dia, hampir di semua desa di Wonosamudro setiap musim kemarau seperti sekarang ini mengalami kesulitan air bersih. Sehingga pemerintah dan warga perlu mencari solusi yang lebih tepat untuk menyelesaikan persoalan tahunan ini.
 
“Pertama, bisa mencari sumber air di sekitar wilayah terdampak sekaligus pembuatan sumur. Tentu tidak mudah, tapi dengan kerjasama berbagai pihak terkait akan semakin mempercepat terealisasinya program ini,” tutur Husein.
 
Kemudian yang kedua lanjutnya, yakni dengan alternatif melanjutkan progam PDAM, yang sekarang sudah sampai di Kecamatan Wonosegoro. Ketiga, reboisasi atau penanaman hutan kembali.  "Terutama tanaman penyimpan air yang banyak, misalnya pohon beringin,” jelas dia.
 
Masukan yang terakhir, yakni kebijakan pendanaan dari APBD maupun sumber dana lainnya, yang berpihak dan mencukupi. Baik untuk pembuatan sumur, penyaluran PDAM, maupun reboisasi. Dengan beberapa kebijakan tersebut, diharapkan warga tidak lagi mengalami kesulitan mencari air bersih. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Rabu 24 Juli 2019 22:0 WIB
Muslimat NU Solo Diminta Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Sayuran
Muslimat NU Solo Diminta Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Sayuran
PC Muslimat NU Solo, Jawa Tengah
Solo, NU Online
Kaum ibu memiliki peran sangat penting dalam keluarga. Untuk itulah, ia mesti belajar banyak hal. Salah satunya, yang tidak kalah penting, yakni belajar bagaimana memanfaatkan pekarangan/lahan keluarga yang ada di sekitar rumah. Bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, yang kebanyakan tidak memiliki lahan luas, tentu hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri.
 
"Pemanfaatan lahan pekarangan di rumah dengan menanam sayur mayur maupun tanaman konsumsi lainnya merupakan bentuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Selain itu memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam tanaman pangan juga akan membantu meningkatkan perekonimian masyarakat," ujar Tri Setiawan.
 
Hal itu disampaikan  Staf Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta dalam acara yang diselenggarakan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Surakarta bekerjasama dengan Dinas Pertanian, tentang Pemanfaatan Pekarangan dan Lahan Keluarga Untuk Peningkatan Gizi dan Ekonomi Keluarga di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta, Rabu (24/7).
 
“Minimal masyarakat bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Daripada membeli, dengan menanam sendiri sayuran dan memanennya akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.
 
Ditambahkan dia, dalam konteks masyarakat perkotaan seperti Kota Solo, yang lahannya terbatas, warga bisa melakukan penanaman dengan metode hidroponik. Pemanfaatan lahan tersebut bisa dilakukan dengan menanam langsung tanaman dan membudidayakannya.

Ketua PC Muslimat NU Surakarta Hj Nur Hidayah Idris mengungkapkan pihaknya menyambut baik dengan adanya kegiatan pelatihan pemanfaatan pekarangan atau lahan keluarga ini.
 
“Banyak sekali hal yang bisa kita manfaatkan dari lahan pekarangan di sekitar lingkungan kita. Dengan pelatihan ini semoga semakin menambah pengetahuan dan kreatifitas kita untuk pemanfaatan lahan pekarangan,” kata dia.
 
Program pemanfaatan pekarangan dan lahan keluarga ini, merupakan program yang diselenggarakan Kementerian Pertanian bekerja sama dengan kelompok wanita, antara lain PKK, Muslimat NU dan lain sebagainya.
 
Sejak tahun 2018 lalu, Gerakan Peran Serta Masyarakat dalam Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga Indonesia telah dilaksanakan secara serentak di 10 provinsi. Sepuluh provinsi tersebut yaitu Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
 
Dari program ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga serta peningkatan pendapatan, yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga sehingga mampu mewujudkan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Rabu 24 Juli 2019 21:30 WIB
Fatayat NU Bojonegoro Ingatkan Orang Tua Maraknya Kasus Asusila Usia Anak
Fatayat NU Bojonegoro Ingatkan Orang Tua Maraknya Kasus Asusila Usia Anak
PC Fatayat NU Bojonegoro, Jatim
Bojonegoro, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Bojonegoro, Jawa Timur Ifa Khoiriyah Ningrum menyoroti kasus asusila yang melibatkan anak-anak di Kabupaten Bojonegoro harus menjadi perhatian serius, karena jumlah kasus terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dimungkinkan perbuatan tidak pantas tersebut bisa menjadi ancaman generasi muda.
 
"PC Fatayat NU Kabupaten Bojonegoro perlu mengingatkan para orang tua agar mengajarkan anaknya agar berhati-hati. Sesuai data yang dihimpun dari Kantor Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak ( P3A) Kabupaten Bojonegoro menyebutkan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani P3A Kabupaten Bojonegoro ditahun 2018, terkait kasus persetubuhan anak menangani 2 kasus. Namun ditahun 2019 sampai bulan Juli, P3A sudah mendapatkan laporan 5 kasus persetubuhan anak," jelasnya.
 
Dijelaskan, hal tersebut belum lagi kasus yang lainnya yang dialami anak-anak di Kabupaten Bojonegoro selain persetubuhan juga pemerkosaan, pencabulan dan yang lainnya. Setidaknya kasus anak yang ditangani P3A ditahun 2019 sampai bulan Juli mencapai 22 kasus. Dibandingkan selama tahun 2019, kasus yang menimpa anak sebanyak 23 kasus.
 
Kepada NU Online, Rabu (24/7) Ifa Khoiriyah berharap perlu adanya upaya bersama supaya kejadian tersebut tidak semakin banyak dan melibatkan semua pihak."Butuh semua pihak bergandeng untuk memujudkan anak-anak yang sehat ​​​​​​​fisik, psikis dan spiritual," terangnya.
 
Ifa yang juga dosen IAI Sunan Giri Bojonegoro itu menilai, keluarga sebagai benteng pertama anak sangat diperlukan untuk memberi ​​​​​​​informasi, ilmu, dan teladan yang nyata bagi anak-anak. Pasalnya, banyak penyebab terjadinya kasus kekerasan terhadap anak dan juga ​​​​​​​perempuan.
 
"Ada banyak hal yang menjadi penyebab kasus ini, dan dibutuhkan ​​​​​​​kesungguhan ketahanan keluarga yang kuat, pemerintah yang peduli dengan melibatkan institusi pendidikan lewat sekolah atau pesantren yang memberi isi," bebernya. 
 
Ketua Divisi Pendampingan dan Advokasi P3A Kabupaten Bojonegoro, Umu ​​​​​​​Hanik membenarkan banyaknya kasus yang dialami anak. Termasuk banyak ​​​​​​​faktor yang melatarbelakangi anak-anak menjadi korban kekerasan.
 
"Faktornya dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), karena KDRT yang berujung rebutan anak. Termasuk pascaperceraian yang tak ada ​​​​​​​nafkah buat anak," jelasnya. (M Yazid/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG