Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kekerasan Pemuda Menurut Radhar Panca Dahana

Kekerasan Pemuda Menurut Radhar Panca Dahana
Radhar Panca Dahana (berkemeja pputih) pada bedah buku 'Pemuda di Lingkaran Konflik Kekerasan', Jumat (19/7).
Radhar Panca Dahana (berkemeja pputih) pada bedah buku 'Pemuda di Lingkaran Konflik Kekerasan', Jumat (19/7).
Jakarta, NU Online
Kekerasan sering kali dipahami oleh banyak orang selalu bersifat fisik. Padahal, kekerasan juga bisa merambah ke sektor lain, seperti jiwa, mental, dan batin.
 
"Kita selalu memahami kekerasan fisik materil. Kekerasan anak muda itu lebih bersifat mental, intelektual, dan spiritual," kata budayawan Radhar Panca Dahana, saat membedah buku Pemuda di Lingkaran Konflik Kekerasan di Gedung Perpustakaan Nasional lantai 4, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (19/7) lalu.
 
Manusia itu, menurutnya, setidaknya harus memiliki empat kesadaran, yakni kesadaran badan fisikal, kesadaran akal intelektual, kesadaran jiwa mental, kesadaran batin spiritual. Namun, saat ini, banyak pemuda yang justru hilang kesadarannya sehingga empat hal tersebut justru malah rusak.
 
"Saya melihat anak-anak muda sekarang ini berani membuat statemen 95 persen geblug (malas), 95 persen cuprut. Karena antara lain mereka terpapar, menjadi korban dari permaiann yang mengakibatkan kerusakan di tingkat mental, intelektual, sampai spiritual," katanya.
 
Peristiwa pilihan presiden kemarin, menurutnya, menunjukkan hal tersebut. Bahkan, Radhar mengatakan bahwa bangsa ini tengah berada di titik paling bawah.
 
"Bangsa Indonesia di negeri ini menempati titik paling nadir selama 5000 tahun ini," katanya.
 
Pasalnya, penulis buku kumpulan puisi Manusia Istana itu mengungkapkan bahwa manusia, khususnya pemuda, saat ini kehilangan kebudayaan dirinya masing-masing.
 
"Kita semua tidak hidup dalam adat dan budaya sendiri, kita hidup dalam budaya baru. Itu namanya fake culture yang kita jalani," terangnya.
 
Karenanya, persoalan utama, menurutnya, adalah hilangnya pondasi kita sebagai manusia. "Fondasinya itu apa? Budaya menunjukkan bangsa," katanya.
 
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar kaula muda mempelajari kebudayaannya masing-masing. "Masuk kembali dapatkan apa yang selama ini menuntun nenek moyang leluhurmu menjadi manusia," ujar penulis buku kumpulan cerpen Cerita-cerita dari Negeri Asap itu.
 
Selain itu, ia juga meminta agar anak-anak kecil tidak dulu menggunakan telepon genggam dan media sosial dengan bebas. Sebab, itulah faktor penyebab hilangnya otoritas.
 
"Jangan medsos sampai SMA. Melarang medsos sampai SMA. Hilangnya authority. Itu dilakukan banyak oleh anak kecil," pungkasnya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
BNI Mobile