Penjelasan Kiai Luqman Hakim terkait ‘Allah Berdzikir untuk Diri-Nya’

Penjelasan Kiai Luqman Hakim terkait ‘Allah Berdzikir untuk Diri-Nya’
KH Luqman Hakim (DOk. NU Online)
KH Luqman Hakim (DOk. NU Online)
Jakarta, NU Online
KH Luqman Hakim mengatakan, sebelum manusia dan alam semesta berdzikir kepada-Nya, Allah sendiri berdzikir untuk diri-Nya sendiri. Menurutnya, dzikir yang dilakukan Allah SWT telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai dzikir yang agung atau puncak dari dzikir itu sendiri tepatnya pada kalimat wa la dzikrullahi akbar

Ia menjelaskan, ketika seseorang berdzikir, dzikir tersebut merupakan efek dari dzikir Allah. Untuk itu, ketika seseorang berdzikir, jangan berharap mendapatkan sesuatu, sebab sebelum manusia berdzikir Allah, telah melakukannya. 

“Bagaiman dengan perintah Allah, fadzkurni adzkurkum, (artinya, red.) dzikirlah kepada-Ku, Aku akan ingat kepadamu. Itu adalah perintah kepada orang-orang yang lalai sebab jika tidak dimotivasi manusia tidak mau berdzikir,” jelasnya saat mengisi pengajian rutin kitab Al-Hikam karya Syekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atho’illah As-Sakandari seperti disaksikan NU Online melalui chanel youtube NU, Kamis (25/7). 

Penjelasan Allah berdzikir untuk Diri-Nya, ujar Kiai Luqman, juga terungkap dari pernyataan seorang waliyullah Abu Yazid Al-Bustami. Menurut Abu yazid, dirinya melakukan 4 kesalahan. Pertama, menyangka dirinya bisa berdzikir. Kedua, aku mencinta-Nya. Ketiga, menemukan pengetahuan baru. Keempat, aku bisa mencari Allah. 
 
Keyakinan itu, kata Abu Yazid yang disampaikan Kiai Luqman, ternyata salah, sebab sebelum dirinya berdzikir, Allah telah melakukannya. Allah telah "mengingat" Abu Yazid sebelum Abu yazid mengingat Allah. 

“Makannya kita harus mulai belajar ketika shalat, ketika baca Al-Qur’an, ketika itu diusahakan engkau sedang mengingat Allah. Lalu ingat semua dari Allah. Itu baru anda mengingat Allah. Baru Anda merasakan indahnya dzikir karena berinteraktif dengan Allah,” tuturnya. 

Sementara dzikir hanya mengandalkan suara yang lantang dengan keyakinan kita yang mengingat Allah, tetapi merasa pikirannya kosong, tidak berinteraksi dengan Allah, berarti kita tidak "diingat" Allah. Artinya, jika manusia tidak "diingat" Allah, maka manusia tidak akan berdzikir. 

“Ini mengerikan sebenarnya, mengerikan banget,” ujarnya. 

Kemudian, Abu Yazid merasa mencintai Allah, ternyata Allah telah "mencintai" Abu Yazid sebelum dirinya sadar jika dirinya mencintai Allah. Sebab, perasaan cinta tidak akan tumbuh jika Allah sendiri tidak mencintai hamba-Nya. 

Lalu, terkait ilmu pengetahuan baru di dunia, jauh sebelum pengetahuan itu muncul, Allah sudah menciptakan segala sesuatu yang tidak pernah ditemukan manusia. Termasuk ketika Abu Yazid "mencari" Allah, Allah-lah yang "mencari" Abu Yazid, sebab Allah tidak pernah menghilang, Allah selalu ada untuk hamba-Nya. 

“Allah itu 'alimul ghaibi, Allah sendiri tidak gaib karena itu jangan dicari,” ungkapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)
 
BNI Mobile