Sejarawan Didorong Tulis Perjuangan Indonesia Sejak Awal Abad 19

Sejarawan Didorong Tulis Perjuangan Indonesia Sejak Awal Abad 19
Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy
Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy
Jakarta, NU Online
Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy mendorong agar sejarawan mulai menulis ulang perjuangan kemerdekaan Indonesia dari awal abad ke-19. Sebab dalam amatannya, sejumlah disertasi sejarah tentang perjuangan kemerdekaan yang ada dihiasi oleh penulisan sejak awal abad 20.
 
"Saya beranggapan kemerdekaan Indonesia harus ditulis kembali dimulai dari awal abad 19, yaitu dimulai dari Diponegoro. Bukan dari akhir abad 19 atau awal abad 20," kata Suaedy.
 
Hal itu disampaikan saat memberikan testimoni pada peluncuran buku Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19 karya Zainul Milal Bizawie di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).
 
Menurut Suaedy, akibat sejarah kemerdekaan yang dimunculkan tidak dari awal abad 19, membuat yang tampak berperan dalam kemerdekaan Indonesia adalah politik etis, yakni kemerdekaan dianggap berkat kemurahan Belanda.
 
"Politik etis yang menjadi sasaran adalah para karyawan Belanda yang tujuannya membuat tenaga kerja yang terampil dan murah, tetapi para kiai, santri yang berjuang sejak abad 19 hampir tidak dimunculkan," katanya.
 
Akibat lainnya sambung Suaedy, seolah-olah yang paling berjasa bagi kemerdekaan Indonesia adalah gerakan-gerakan kemerdekaan Islam di luar negeri, seperti gerakan Islam di Mesir dan Turki.
 
"Jarang sekali para sejarawan atau penulis buku tentang awal abad 19 seperti apa yang ditulis Milal ini," ucapnya.
 
Ia menyebut Diponegoro sebagai seorang kosmopolit karena mengikuti informasi yang berkembang dan mempunyai bacaan yang luas, yakni buku-buku babon tentang Jawa, Islam Jawa, dan literatur-literatur Islam klasik, khususnya tentang tasawuf.
 
"Dan jangan lupa yang keempat, beliau mengikuti pemberitaan dunia Islam, khususnya Turki Utsmani," ucapnya.
 
Selain Suaedy, hadir juga tokoh lain yang mengemukakan testimoninya, yaitu Katib Syuriyah PBNU KH Miftah Faqih, Akademisi UIN Syarif Hidayatullah M Ikhsan Tanggok, Jubir BIN Wawan Hari Purwanto, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi, dan Direktur Islam Nusantara Center A Ginanjar Sya'ban. (Husni Sahal/Muiz)
BNI Mobile