IMG-LOGO
Nasional

PBNU: Pembatalan Kelulusan Dokter Gigi Bertentangan dengan UU  

Jumat 26 Juli 2019 19:15 WIB
Bagikan:
PBNU: Pembatalan Kelulusan Dokter Gigi Bertentangan dengan UU  
Dokter Gigi Romi (foto: detik.com)
Jakarta, NU Online
Lembaga Bahstul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan bahwa tindakan bupati Solok Selatan, Sumatera Barat yang membatalkan kelulusan dokter gigi Romi Syofpa Ismael tidak hanya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, tetapi juga bertentangan dengan hasil Munas-Konbes NU.
 
Sebabnya, menurut Sarmidi, dokter Romi memiliki kemampuan menjadi dokter. Dalam tes seleksi CPNS sendiri, Romi bukan hanya lulus, tetapi mendapat nilai terbaik. 
 
"Tindakan bupati itu bertentangan dengan Undang-undang disabilitas dan dengan hasil Munas NU," kata Sekretaris LBM PBNU H Sarmidi Husa kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).
 
Menurutnya, UU Penyandang Disabilitas mewajibkan kepada pemerintah, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. 
 
"Semua warga negara itu memiliki hak yang sama. Jadi ketika lulus ya harus diberi kesempatan. Bahkan pemerintah kan harusnya memberikan fasilitas kepada dokter itu, bukan malah membatalkannya," ucapnya.
 
Sementara hasil Munas-Konbes NU 2017 yang diselenggarakan di Lombok, NTB berisi dorongan kepada pemerintah agar memberikan akses dan fasilitas yang ramah untuk penyandang disabilitas. Islam memandang bahwa semua manusia itu sama.
 
"Munas mendorong supaya negara itu memberikan akses yang layak, terutama di ruang-ruang publik: baik masjid, kantor, termasuk dalam hal pekerjaan," ucapnya.
 
Dikutip dari Kompas.com Dokter Gigi Romi sebagai PNS di Pemkab Kabupaten Solok Selatan dibatalkan karena dia penyandang disabilitas. 
 
Padahal Romi telah mengabdi di daerahnya di Solok Selatan, salah satu daerah tertinggal di Sumatera Barat sejak 2015 lalu. Romi mulai mengabdi di Puskesmas Talunan yang merupakan daerah terpencil sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT). 
 
Sayang bagi dirinya, tahun 2016 seusai melahirkan, Romi mengalami lemah tungkai kaki. Namun, keadaan itu tidak menghalangi dirinya untuk tetap bekerja memberikan pelayanan kepada masyarakat di Puskesmas itu. Pada tahun 2017, karena dedikasinya, Romi mendapat perpanjangan kontrak dan diangkat sebagai tenaga honorer harian lepas. 
 
Kemudian tahun 2018, Romi mengikuti seleksi CPNS. Romi diterima karena menempati ranking satu dari semua peserta. Namun, kelulusan Romi dibatalkan karena kondisi fisiknya. (Husni Sahal/Muiz)
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 26 Juli 2019 19:40 WIB
Ketum PBNU Resmikan Kampus STEI NU Depok
Ketum PBNU Resmikan Kampus STEI NU Depok
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj sesaat setelah meresmikan STEI NU Arridho Cilodong, Depok, Jumat (26/7).
Depok, NU Online
Perekonomian Islam memiliki prospek dan pertumbuhan yang luar biasa. Seiring maraknya bisnis halal, ekonomi dengan ciri keislaman mendapat tempat yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Demikian dikatakan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj dalam acara peresmian kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Nahdlatul Ulama Arridho, Cilodong, Depok, Jawa Barat Jumat (26/7).

Kiai Said merasa senang dengan hadirnya kampus berbasis keilmuan ekonomi islam di Kota Depok ini. 

Kiai asal Cirebon tersebut berharap kampus ini nantinya melahirkan intelektual dan para ahli ekonomi Islam yang berkontribusi untuk kemaslahatan umat. 

Selain itu, kampus ini juga diharapkan memiliki pusat kajian dan kebijakan ekonomi Islam.

Ketua Yayasan Pembangunan Arridho KH Ahmad Buchori mengatakan, dengan adanya STEI NU, masyarakat dapat mempersiapkan diri menuju ekonomi halal yang sangat menjanjikan, bahkan di negara-negara non-Muslim.

Ekonomi halal telah menjadi idola baru perekonomian global yang kapitalisasinya terus meningkat.

Pemerintah juga telah menyiapkan perangkat hukum melalui UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang esensinya mengatur kehalalan suatu produk guna melindungi kepentingan konsumen domestik terhadap barang impor yang sudah teruji kehalalannya serta mengamankan ekspor produk komoditas agar dapat diterima terutama ke negara negara Timur Tengah dan OKI.
 
Yayasan Arridho yang telah lama memiliki SLTP, SLTA dan pondok pesantren merasa perlu hadir di masyarakat dalam bentuk pendidikan yang terkait dengan ekonomi halal. 

Kemudian hal ini disambut PBNU yang mendukung pendiriannya. “Model kerjasama antara yayasan dengan Nahdlatul Ulama semoga juga dapat diterapkan di tempat lain," tambah Ahmad Bukhori.

Rektor STEI NU Arridho, Fatkhuri Wahmad menambahkan, pemerintah telah menerbitkan Masterplan Ekonomi Syariah, hal ini merupakan tantangan yang harus dijawab dengan melahirkan sumberdaya manusia yang unggul, kompetitif, dan berkarakter di bidang Ekonomi Islam.
 
“Maka STEI NU Arridho akan berfokus mengembangkan SDM tersebut,” pungkasnya.

Acara ini juga disertai dengan penandatanganan prasasti peresmian kampus STEINU Arridho oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj. (Red: Fathoni)
Jumat 26 Juli 2019 18:15 WIB
Lewat Destana, LPBINU Dakwah Pengurangan Risiko Bencana
Lewat Destana, LPBINU Dakwah Pengurangan Risiko Bencana
Kegiatan Destana 2019, LPBINU kenalkan pengurangan risiko bencana pada para siswa.
Jakarta, NU Online
Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) dan beberapa kementerian, serta lembaga non-kementerian yang berlangsung sejak 12 Juli 2019, saat ini akan memasuki segmen kedua. 
 
Setelah menyelesaikan segmen pertama di Jawa timur yaitu Kabupaten Banyuwangi, Kota Jember, Kabupaten Lumajang, Malang, Blitar, Tulung agung, Trenggalek dan terakhir di Kabupaten Pacitan. Selama Ekspedisi Destana, di beberapa titik tersebut LPBINU sudah melakukan beberapa kegiatan seperti sosialisasi tentang penanggulangan bencana, dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).
 
Hal tersebut disampaikan Zuliati dari LPBINU Pusat, menurutnya, dirinya sangat terbantu dengan adanya pengurus-pengurus LPBINU daerah, diantaranya Ahmad Djuwarni Mukhtar (Ponorogo), Ramadhan AP (Ponorogo), Yoga Dwi Irawan (Ponorogo), Sairin (LPBI NU Ponorogo), Yazid Busthomy (Pacitan), dan Wawan Boger (BPBD Pacitan) yang sangat aktif dan solid berkerjasama untuk terus mendakwahkan isu PRB.
 
"Selain pesantren dan pelajar SMK Kesehatan Bakti Indonesia Medika Pacitan, kami juga mengajak peran serta seluruh masyarakat untuk mengikuti sosialisasi Sekolah Aman Bencana Desa Tangguh bencana, simulasi bagaimana ketika terjadi bencana, juga penanaman pohon di pinggir pantai," ujar Zuliati, Kamis (25/7).
 
Zuliati menuturkan bahwa ada beberapa hal yang ditemui tim LPBINU di lokasi, seperti papan informasi jalur evakuasi belum ada, padahal sekolah dekat dengan wilayah pantai, kemudian mayoritas belum mengetahui tentang penyelamatan ketika terjadi gempa dan tsunami, hal tersebut selain dikarenakan belum pernah ada sosialisasi tentang kebencanaan dari instansi terkait.
 
Dari data temuan di atas, menurut Zuliati jika pada mengacu pada tahun 2017 pernah terjadi Banjir di kelurahan Sidoharjo. Saat itu banyak rumah warga yang terbawa banjir, dan banyak kerugian. Oleh karena itu perlu adanya program atau kebijakan pembuatan jalur evaluasi.
 
Mengakhiri rangkaian kegiatan ekspedisi Destana Tsunami di Kabupaten Pacitan tersebut, Zuliati menyampaikan apresiasi terhadap pengurus LPBINU daerah yang terlibat, karena dengan adanya sinergitas sesama pengurus, maka apa yang menjadi tujuan bersama akan mudah untuk direalisasikan.
 
"Terima kasih kepada semua tim yang terlibat, dengan tak kenal lelah walaupun dengan kondisi medan yang berat di sepanjang titik pelaksanaan Ekspedisi Destana Tsunami 2019," tutup Zuli. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)
Jumat 26 Juli 2019 17:45 WIB
Tulis Diponegoro, Zainul Milal Bizawie Disebut 'Penggali Gorong-gorong Sejarah'
Tulis Diponegoro, Zainul Milal Bizawie Disebut 'Penggali Gorong-gorong Sejarah'
Zastro Al-Ngatawi (Dok. NU Online)
Jakarta, NU Online
Salah satu tokoh yang hadir pada peluncuran buku berjudul 'Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19' karya Zainul Milal Bizawie yang diadakan di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, Kamis (25/7), ialah Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi.

Di forum itu, Zastrouw mengibaratkan Zainul Milal Bizawie sebagai penggali gorong-gorong sejarah Nusantara karena menulis sejarah Nusantara pada awal abad 19 dan tidak mainstream disebabkan tokoh yang ditulis bukan pemenang.

"Mas Milal ini Ibaratnya Orang Menggali gorong-gorong," kata Zastrouw.

Hal itu menurut Zastrouw berbalik dengan sejarah yang selama ini dibangun, yakni memgungkapkan pemenang sehingga memiliki banyak data dan bukti. Selain itu, ia prihatin, penulisan sejarah yang ada dimilai awal abad 20, seperti Gerakan Budi Utomo. Sementata sejarah awal abad 19 seperti Diponegoro, yang telah menanamkan nasionalosme belum banyak yang mengungkapkan.

"Mas Milal luar biasa, dia adalah penggali gorong-gorong sejarah yang mencoba mencari, mengurutkan rute-rute sejarahan ini san menemukan mutiara di situ untuk diasah, untuk diolah dan kemudian dipancarkan kembali menjadi mutiara dan intan yang selama ini terpendam. Jadi Mas Milal ini luar biasa," kata Zastrouw.

Keprihatinan Zastrouw bertambah karena selama ini dalam anggapannya, bangsa Indonesia belum memahami keindahan intan, mutiara, atau emas yang ada di Indonesia (maksudnya sejarah dan khazanah ulama Nusantara).

"Kita sia-siakan bongkahan emas itu, kita buang butiran mutiara itu, bahkan bonhkahan emas itu kita pegang untuk jadikan alat saling memukul dan melempar sesama. Dia tidak mengerti kehebatan warisan leluhur dan jejak sejarah ulama ulama Nusantara ini," ucap pria yang juga akademisi Unusia Jakarta ini.

Ketidakpahaman itu diibaratkan Zastrouw seperti kera yang hanya mencari sebuah pisang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mereka saling berebut sebuah pisang untuk memenuhi perutnya.

"Ini yang terjadi (di Indonesia)," katanya. 

Selain Zastrouw hadir juga tokoh lain yang mengemukakan testimoninya, yaitu Katib Syuriyah PBNU KH Miftah Faqih, Akademisi UIN Syarif Hidayatullah M Ikhsan Tanggok, Jubir BIN Wawan Hari Purwanto, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy, dan Direktur Islam Nucantara Center A Ginanjar Sya'ban. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG