IMG-LOGO
Nasional

Dialog Gus Sholah dan Ulama Lebanon

Sabtu 27 Juli 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Dialog Gus Sholah dan Ulama Lebanon
PCINU Lebanon berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang.
Jombang, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon bersama Mustasyar PCINU Lebanon Syekh Abdul Hadi Al-Khorsah Ad-Dimasqyi, melakukan kunjungan silaturahi, ke kediaman pendiri NU di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
 
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah) mengatakan pondok pesantren di Indonesia sebetulnya sudah berdiri dan berperan aktif untuk masyarakat sejak 500 tahun yang lalu. Salah satu pesantren tua yang sampai saat ini masih kokoh berdiri adalah Pesantren Sidogiri yang berumur hampir 300 tahun. 

Kemudian jumlah pondok pesantren dan madrasah diniyah yang terhitung sampai saat itu berkisar 28.000 buah. Rata-rata tidak dibantu dana oleh pemerintah kecuali sangat sedikit sekali. "Mereka membangun secara mandiri serta mengembangkan dengan bantuan tangan-tangan dermawan beserta masyarakat," kata Gus Sholah.
 
Ia juga menyampaikan ke depan pondok pesantren mau tidak mau harus siap menerima tantangan global, di mana ada persoalan seperti ekonomi dunia, konflik Timur Tengah sedang dikuasai oleh Barat. "Maka pondok pesantren harus siap menanggulangi itu dengan cara memperkuat ekonomi Islam yang kembalinya kepada maslahat umat," ujarnya

Disebutkan Gus Sholah, para alumni Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah berkiprah adalah KH Wahid Hasyim (Menteri Agama Pertama), KH Abdurrahman Wahid (Presiden ke-4 RI), para pendiri pesantren seperti Lirboyo, Tegalrejo, dan lainnya.
 
Gus Sholah mendoakan semoga konflik yang ada di Timur Tengah terutama Syiria dan Yaman bisa secepatnya padam dengan izin Allah Swt. 

Mendengar banyaknya jumlah pesantren yang ada di Indonesia Syaikh Abdul Hadi pun terkejut. "MasyaAllah, bayangkan jika setiap pondok saja ada 1000 orang santrinya kemudian dikali 28.000 jumlah seluruh pondok. Itu sudah berjumlah 28 juta penuntut ilmu. Sedangkan ada beberapa pondok-pondok besar yang jumlahnya sampai 5000 sampai 7000 orang santrinya," ujarnya.
 
Syaikh Abdul Hadi juga berpesan kepada kaum muda harus mengikuti jejak Syaikh Sholahuddin (Gus Sholah) yang menggabungkan antara dunia dan akhirat. "Semoga kalian bisa menjadi penerus-penerus beliau," katanya.

Esok harinya Syaikh Abdul Hadi mengisi seminar di depan para mahasiswa Ma’had Aly Tebuireng. Inti dari pesannya, disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa setiap penuntut ilmu itu harus melakukan tazkiyah sebelum taklim.
 
Hal itu juga disebutkan dalam Surah Al-Jumuah ayat 2, Surat Al-Baqarah ayat 129 kalimat tazkiyah sesudah kalimat taklim. "Itu artinya bahwa barangsiapa bertazkiyah (mensucikan diri) sebelum belajar dan dianjurkan untuk bertazkiyah juga sesudahnya maka Allah akan memberikannya hikmah dan futuh di dalam hati mereka," paparnya.

Setelah itu Syaikh beserta rombongan menyempatkan ziarah ke makam Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, Gus Dur, dan KH Wahid Hasyim. 
 
Sebelum meninggalkan Tebuireng, ia mengungkapkan syukurnya karena sekarang ia bisa menulis di sejarah kehidupannya, sudah pernah menginap di rumah pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari. (Abdul Fathir Kautsar/Kendi Setiawan)
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 27 Juli 2019 23:30 WIB
Moderasi Beragama Diperlukan agar Politik Identitas Tidak Muncul  
Moderasi Beragama Diperlukan agar Politik Identitas Tidak Muncul  
Dialog kebangsaan di Purwakarta, Jabar
Purwakarta, NU Online
Moderasi beragama di Indonesia dinilai perlu diwujudkan oleh semua kalangan, mengingat banyak sekali dampak buruk disebabkan oleh pemahaman agama yang keliru terutama pemahaman ajaran islam garis keras.
 
Radikalisme yang berkembang di Indonesia tidak hanya menyusupi masyarakat secara langsung, kaum fundamentalis di Indonesia memanfaatkan sistem bernegara untuk mewujudkan kepentingan politiknya seperti menciptakan politik identitas.
 
Hal itu menjadi kekuatan tersendiri agar dinamika politik di Indonesia terus memanas, puncaknya pergantian sistem dari demokrasi menjadi sistem yang berasas selain Pancasila dan UUD 45 bisa terlaksana.
 
Pernyataan tersebut terungkap saat kegiatan Talk Show Kebangsaan  yang diselenggarakan Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kebijakan dan Pembangunan (Elkap) Purwakarta, di Menteng Food Zone, di Ciseureh Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (27/7).
 
Kegiatan diskusi yang mengangkat tema terkait dengan dinamika Pemilu dan Kebangsaan di Indonesia tersebut turut dihadiri Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Ahmad Ikhsan Faturrahman, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purwakarta, KH Ahfaz Fauzi Asyiqien dan Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) KHEZ Muttaqien, Ramlan Maulana dan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Purwakarta.
 
Akademisi STAI KHEZ Mutaqien, Ramlan Maulana mengatakan, Indonesia merupakan negara yang  mampu mengelola konfliknya sendiri sehingga pengamalan ajaran Islam yang moderat sangat tepat diwujudkan oleh bangsa Indonesia.
 
Menurut tokoh muda NU Purwakarta ini, Pemilu 2019 kemarin semua elemen bangsa dihadapkan dengan masalah agama yang sengaja diciptakan oleh kelompok Islam tertentu. Kelompok Islam Populis tersebut ingin memanfaatkan agama untuk merengkuh kepentingan politik.
 
“Misalnya kita sudah saksikan pada rangkaian Pemilu 2019 kemarin, KPU diterpa hoaks, bahwa KPU sebagai tangan panjang dari rezim. KPU setiap daerah juga dikatakan sudah berpihak kepada pemerintah, termasuk KPU saat mengumumkan hasil pleno dikatakan melakukan kecurangan dengan mencuri waktu,” katanya.
 
Magister Humaniora ini menilai, kelompok Islam populis tersebut menyerang seluruh lembaga negara karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran islam yang mereka anut. Untuk itu, sangat diwajarkan jika terjadi benturan ideologi antara kelompok islam moderat dan kelompok islam radikal.
 
“Untuk menghadapi persoalan tersebut, kita sebagai mahasiswa dalam menyikapi pemilu hari ini dijadikan pmbelajaran untuk masyarakat, menjadi penerang dan bukan menjadi penyebar hoaks,” ucapnya.  
 
Pascaputusan di Mahkamah Konstitusi (MK) satu bulan yang lalu menjadi putusan final dan mengikat. Sehingga semua elemen bangsa harus kembali merajut persatuan dan kesatuan agar kerukunan kembali tercipta.
 
Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Ahmad Ikhsan Faturrahman menungkapkan, persatuan dan kesatuan telah dilakukan oleh para pendiri bangsa ratusan tahun yang lalu. Pada persatuan itu kemudian lahirlah sebuah falsafah bangsa yang dijadikan rujukan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila.
 
Untuk itu, menurut aktivis Muhamadiyah yang juga Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Purwakarta itu, setelah putusan MK  seharusnya dinamika politik yang menghancurkan persatuan anak bangsa terhenti. Apalagi perdebatan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik, sudah wajib hilang.
 
“Dan hilanglah semua premodealis yang terkapling-kapling. Berbicara mengenai bangsa yang besar, maka kita harusnya fokus dan saatnya berpikir di era golden power untuk tidak mudah terkontaminasi oleh isu-isu hoaks,” tuturnya.
 
Menurut dia, segala ketentuan sifatnya mutlak yaitu tidak ada lagi pertarungan atau perpecahan antar kubu pasangan calon. Dengan memikirkan, bagaimana anak muda dapat mewujudkan cita-cita negara  Indonesia supaya menjadi bangsa yang besar.
 
“Merajut persatuan dan kesatuan adalah suatu hal yang utama agar tidak terjadi pepecahan. Kita lepaskan semua perbedaaan karena berbeda bukan berarti harus terpecah belah. Kita sebagai anak muda juga harus bisa memfilter tentang sesuatu yang sifatnya  mengarah ke persatuan ataupun perpecahan,” pungkasnya. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz
Sabtu 27 Juli 2019 20:0 WIB
Habib Husein: Budaya Indonesia Membangun Kedamaian
Habib Husein: Budaya Indonesia Membangun Kedamaian
Habib Husein Ja'far Hadar (pakai batik lengan panjang) saat mengisi Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) di Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (26/7).
Jakarta, NU Online
Dai muda Habib Husein Ja'far Hadar menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang penuh dengan keragaman ini terlampau damai. Menurut Habib Husein, suasana damai ini terjadi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kebudayaannya.
 
"Kita hidup di Indonesia yang negeri terlampau damai, bukan damai, (melainkan) terlampau damai," kata Habib Husein saat mengisi Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) di Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (26/7).
 
Ia lantas mengemukakan praktik keseharian masyarakat Jawa misalnya, ketika kaki seseorang terinjak oleh kaki orang lain, ia tidak serta merta marah, tetapi justru meresponsnya dengan sopan.
 
"Orang Sunda, orang Jawa itu kalau diinjak kakinya masih (bicara dengan dengan halus) 'Nyuwun sewu, kaki saya keinjek'," katanya.
 
Respons berbeda akan terjadi kalau kasusnya di Arab Saudi. Kalau di Arab, katanya, ketika kaki seseorang terinjak maka yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata kasar.
 
"Kalau orang Arab kan terinjak (ngomong) 'Hai, mal'un (terkutuk) ente, himar, keledai'," ucapnya.
 
Menurut Habib Husein, kebudayaan di Indonesia yang memiliki karakteristik halus itu membuat masyarakatnya tidak mudah kemasukan ideologi yang keras. Adapun beberapa kekerasan atas nama agama itu terjadi karena faktor lain.
 
"Makanya di Indonesia ya walau pun mau didakwahkan seperti apa, yang namanya kekerasan tidak akan laku sebagai basis budaya Indonesia. Ajaran itu (kekerasan yang puncaknya terorisme) mau dijejalkan seperti apa tidak akan laku," jelasnya.
 
Menurutnya, mengamati berbagai hasil riset dari Wahid Foundation atau Setara Institute, rata-rata gerakan yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama, baik kekerasan berupa pikiran maupun tindakan memiliki penyandang dana untuk melancarkan agendanya. Karena itu, mereka, para agen kekerasan, aksi yang dilakukannya tidak natural.
 
Dalam rangka memudahkan tentang proses kontrol otak seseorang, ia menggambarkannya melalui film Hotel Mumbai. Film itu menceritakan bagaimana keberadaan headset yang tidak lepas dari telinga seorang teroris. Melalui headset itu, otak seseorang terus dikontrol atau didoktrin. Sebab, sambungnya, jika otaknya kembali normal, maka tidak akan mungkin mau malakukan aksi yang kejam, seperti pembunuhan.
 
"Kemudian 'keluargamu biar saya yang nanggung nanti'. Anda coba tonton Hotel Mumbai, (di film itu) tidak sedetik pun dia lepas itu headset. Jadi ada orang yang terus mengatakan 'saya akan kasih terus kamu duit, keluargamu aman. Kamu harus berjihad di jalan Allah', itu didoktrin, jadi tidak natural," katanya menggambarkan. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sabtu 27 Juli 2019 19:30 WIB
Para Dai Harus Piawai Berdakwah di Dunia Nyata dan Maya
Para Dai Harus Piawai Berdakwah di Dunia Nyata dan Maya
Peserta pelatihan dai milenial dan Medsos yang diselenggarakan PB LDNU.
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar (PB) Lembaga Dakwah Nahdhatul Ulama (LDNU) menyelenggarakan Pelatihan Dai Milenial dan Medsos yang dipusatkan di Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe, Jakarta Selatan. Pelatihan tersebut mengangkat tema Antara Peluang dan Tantangan Radikalisme, Sabtu (27/7).
 
Saat pembukaan tampak Kiai Kholid Arrifa'i panitia pelaksanaan, serta beberapa anggota PB LDNU. Dihadiri pula Wakil Wali Kota Jakarta Selatan yakni H Benyamin Nafi'i, juga Direktur SEAMOLEC UT R Alfan Ali Rahman, termasuk kader NU milenial dari seluruh Nusantara.
 
“Setelah selesai pelatihan, para kader bisa membantu dalam bidang IT untuk menangkal paham radikal serta menebar konten yang positif terhadap publik melalui media sosial,” kata R Alfan Ali Rahman saat sambutan. 
 
Selanjutnya dirinya mengisyarahkan bahwa kegiatan ini berkelanjutan yakni akan ada seleksi dai yang akan di kirim ke luar negeri baik Mesir, Jepang, Jerman, serta banyak negara lain. “Guna memperkenalkan Islam ala Nusantara yakni Islam rahmatan lil alamin,” ungkapnya.
 
Pelatihan dai milenial dan Medsos ini merupakan hal yang sangat  penting untuk dilaksanakan. "Karena di lapisan generasi anak muda modern  atau milenial, semua berkaitan tentang teknologi. Pekerjaan rumah kita sekarang adalah belum bisa membuat filter yang baik dalam mengatasi dari sisi negatif era revolusi industri 4.0 ini,” kata H Benyamin Nafi’i. 

Harapan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan ini jangan sampai dengan semakin cepatnya teknologi malah dikuasai oleh konten yang tidak mendukung Islam rahmatan lil alamin. “Akan tetapi seharusnya kitalah yang bisa menguasai teknologi dan dipergunakan dengan sebaik mungkin,” pesannya.

Dalam pandangannya, Islam rahmatan lil alamin memiliki sejumlah nilai dan norma. “Kecanggihan teknologi harus didorong untuk semakin meluaskan konten yang ada. Yakni nilai kultural, tradisional, sosial dan agama harus kita jaga dan lestarikan dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Kiai Kholid Arrifa'i menyampaikan laporan bahwa peserta yang hadir pada kegiatan kali ini sebanyak 160 dari seluruh Nusantara. “Dari pelatihan ini diharapkan menghasilkan kader unggulan yang bisa berdakwah baik di dunia maya juga di dunia nyata,” tandasnya. (Abdul Aziz/Ibnu Nawawi)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG