IMG-LOGO
Tokoh

Abah Anom; Wali Sakti dari Tanah Sunda

Ahad 28 Juli 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Abah Anom; Wali Sakti dari Tanah Sunda
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencimu tangan Abah Anom
Oleh Yanuar Arifin
 
Tokoh wali ini lebih dikenal dengan nama Abah Anom. Dalam bahasa Sunda, Abah Anom berarti "Kiai Muda". Nama aslinya ialah KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin. Ia lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah putra dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), pendiri Pesantren Suryalaya, dan ibu yang bernama Hajjah Juhriyah.

Abah Anom mengawali pendidikan dari ayahnya sendiri, Abah Sepuh yang mengajarinya dasar-dasar ilmu agama. Pendidikan formalnya ditempuh saat ia berusia delapan tahun dengan bersekolah di Sekolah Dasar di Ciamis. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya dengan masuk sekolah tingkat menengah di Ciawi, Tasikmalaya. Sejak tahun 1930, ia nyantri ke beberapa pesantren di Jawa Barat, karena orang tuanya berkeinginan agar Abah Anom kelak dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai pengasuh Pesantren Suryalaya.

Semula Abah Anom nyantri di sebuah pesantren di Cicariang, Cianjur. Kemudian, pindah ke Pesantren Jambudwipa Cianjur selama lebih dari dua tahun. Ia lalu pindah ke Pesantren Gentur Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. Dua tahun kemudian, tepatnya sejak tahun 1935 sampai 1937, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Cireungas, Cimelati, Sukabumi yang saat itu diasuh oleh Ajengan Aceng Mumu, seorang ahli hikmah dan ilmu silat. Di pesantren terakhir inilah, ia mulai mematangkan keilmuannya, tidak hanya di bidang keilmuan Islam, tetapi juga dalam ilmu bela diri dan lain-lain.

Berbekal keilmuannya, Abah Anom memberanikan diri menikahi gadis bernama Euis Siti Ruyanah pada usia 23 tahun. Tak lama kemudian, tepatnya pada tahun 1938, ia berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Kala bermukim di Makkah selama kurang lebih tujuh bulan, ia sangat rajin mengikuti pertemuan bandungan di Masjidil Haram yang disampaikan guru-guru yang berasal dari Makkah dan Mesir. Ia juga aktif mengunjungi Ribat Naqsabandi di Jabal Gubaisy, untuk muzakarah (ngaji) kitab tasawuf karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yakni kitab _Sirr al-Asrar dan Ghaniyyat at-Talibin, kepada Syekh Romli, seorang ulama dari Garut.

Sepulang dari Makkah, Abah Anom ikut serta memimpin Pesantren Suryalaya mendampingi ayahnya. Namun, karena tahun 1939 sampai 1945 merupakan masa-masa menjelang kemerdekaan, ia lebih aktif sebagai pejuang yang turut menjaga keamanan dan ketertiban NKRI. Ketika terjadi gerakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa Barat, ia memutuskan segera bergabung dengan TNI untuk melawan gerakan tersebut. Dengan demikian, pada masa akhir sampai awal kemerdekaan, ia sangat berkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik dari penjajahan bangsa asing maupun dari gerakan makar saudara sebangsa sendiri.

Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya secara penuh ketika ayahnya, Abah Sepuh wafat pada tahun 1956. Ketika itu, DI/TII terus bergerak aktif melakukan perlawanan menentang pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Sukarno. Tidak kurang dari tiga puluh delapan kali Pesantren Suryalaya mendapat teror dari DI/TII, terhitung sejak tahun 1950 sampai 1960. Untuk menghadapi teror dan serangan DI/TII, Abah Anom selaku pemimpin Pesantren Suryalaya selalu menginstruksikan kepada para santri dan pengikutnya untuk memberikan perlawanan secara gigih. Atas kontribusinya tersebut, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah RI.

Abah Anom adalah seorang kiai yang dikenal memiliki karamah berupa kesaktian. Konon, ada banyak kisah yang tersebar mengenai karamah Abah Anom, seperti yang dituliskan di buku-buku latar belakang dan perkembangan Pesantren Suryalaya. Di antaranya, kisah seorang kapten sakti yang ingin menjajal ilmu kesaktian Abah Anom berikut.

Alkisah, pada suatu hari, seorang kapten yang sakti dan beberapa anak buahnya datang berkunjung ke Pesantren Suryalaya. Kapten itu membawa sebuah batu kali sebesar kepalan tangan di kantongnya. Batu itu lantas dikeluarkan dan diletakkan di tangannya. Dengan sekali pukul, sang kapten berhasil membelah batu tersebut menjadi dua. Setelah unjuk kebolehan, kapten itu dengan sombong menyerahkan batu kalinya pada Abah Anom agar si tuan rumah mempertontonkan kemampuannya.

Abah Anom hanya tersenyum seraya menerima batu kali dari tangan si kapten. Batu kali itu segera diremasnya. Secara ajaib, batu kali berubah bentuk menjadi tepung yang halus. Si kapten terbelalak, seolah tidak percaya dengan kesaktian yang dipertontonkan oleh Abah Anom. Bila si kapten hanya mampu membelah batu kali menjadi dua, Abah Anon justru membuatnya menjadi seperti tepung.

Beberapa saat kemudian, Abah Anom meminta segelas air yang di dalamnya terdapat seekor ikan kepada salah seorang santrinya. Gelas air berisi ikan itu kemudian diberikan kepada si kapten. Dengan sikap yang masih sombong, si kapten segera bergaya seperti orang yang memancing. Dengan gayanya itu, ia berhasil membuat ikan di dalam gelas seakan benar-benar terpancing. Si kapten pun kembali menyombongkan kemampuannya di hadapan Abah Anom.

Giliran Abah Anom yang unjuk kebolehan. Ia kemudian memberikan isyarat jari telunjuk, tiba-tiba ikan dalam gelas itu berpindah ke hadapannya. Ikan itu seolah terkait dengan pancingan telunjuknya. Tidak sampai di situ, Abah Anom kembali memperlihatkan kesaktiannya yang lain. Ia memberikan isyarat tangan yang seolah-olah memegang ketapel. Ia lalu mengarahkan tangannya ke langit untuk membidik sesuatu. Dengan sekali bidik, seekor burung tiba-tiba jatuh di hadapannya.

Melihat kesaktian Abah Anom tersebut, si kapten hanya bisa takjub.Ia seolah tidak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Si kapten yang sakti nan sombong itu kemudian bersujud di hadapan Abah Anom, seraya meletakkan lututnya pada lutut Abah Anom. Ia mengaku kalah dan segera meminta maaf akan kesombongannya. Selain itu, ia juga minta ditalqinkan untuk menganut dan mengamalkan tarekat yang dipimpin oleh Abah Anom. Sejak itulah, ia menjadi pengikut ajaran Abah Anom.

Abah Anom wafat pada 5 September 2011. Ia dikenal sebagai wali yang istimewa. Keistimewaannya tentu tidak sekadar karena karamahnya, tetapi lebih-lebih karena ia adalah seorang ulama yang ahli ibadah, dzikir, dan ilmu. Dengan kapasitasnya ini pantas bila ia begitu disegani oleh kalangan ulama di tanah air.
 
Penulis adalah santri Kutub dan editor di Jogjakarta
 
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 23 Juli 2019 21:15 WIB
Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang
Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang
Hj Nur Rohmah (kiri) penerus Pesantren Kemadu, Sulang, Rembang
Bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya, nama Hj Shofiyah Syahid, atau biasa dikenal dengan Ibu Nyai Syahid cukup dienal. Ia adalah istri dari seorang ulama KH Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah, pendiri Pesantren Alhamdulillah, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
 
Setiap acara haul, ribuan santri dari penjuru daerah pasti datang memadati halaman pesantren. Karena area pemakaman Mbah Syahid dan Nyai Shofiah berlokasi di komplek pesantren. Apalagi jumlah santri lulusan pesantren yang di asuh Mbah Syahid, panggilan akrab KH Ahmad Syahid, sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
 
Setiap haul, para ulama besar seperti KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), dan Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tak jarang, para anggota DPRI RI hadir dalam acara rutinan, yang sudah lestari setiap tahun.
 
Dalam beberapa kesempatan KH Yahya Cholil Staquf pernah mengungkapkan ketokohan Hj Shofiyah. Menurut Gus Yahya, almarhumah merupakan sosok wanita hebat yang setia mendampingi Mbah Syahid dalam merintis pondok dan mengajar masyarakat serta santri belajar tentang agama Islam.
 
Gus Yahya mengisahkan, pernikahan Mbah Syahid dengan Nyai Hj Shofiah beda usia. Usia Nyai Shofiah jauh lebih dewasa jika dibandingkan Mbah Syahid.
 
"Nyai Hj Sofiyah wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada Mei 1994. Semasa hidup, beliau sangat total membantu Kiai Syahid mengembangkan pondok," cerita Gus Yahya dihadapan ribuan hadirin haul Nyai Hj Shofiah.
 
Saat Mbah Syahid dikhitan di usia kanak-kanak, Mbah Shofiyah sebagai tetangga bersama wanita dewasa lainnya sudah ikut membantu orang tua Mbah Syahid mempersiapkan masakan untuk kondangan. Hal itu menunjukkan perbedaan usia antara keduanya.
 
Namun diperjalanan keduanya dipertemukan sebagai sepasang suami istri, dan belakangan menjadi dua orang pengasuh pesantren yang diberi nama Ponpes Alhamdulillah. Dalam perjalanannya, Mbah Syahid sangat menghormati sang istri, begitu juga sebaliknya.
 
Nyai Shofiyah bisa dikatakan perempuan sangat hebat karena rela berkorban untuk mendukung kiprah sang suami merintis sebuah lembaga pendidikan yang bernama pondok pesantren.
 
Dikatakan Gus Yahya, pernah suatu ketika Kiai Syahid berkata "Orang-orang itu salah sangka, dikiranya aku ini keramat. Padahal yang punya keramat itu sebenarnya ya Nyai (Mbah Shofiyah red). Aku bisa begini ini karena Nyai. Kalau bukan karena dia, mustahil aku bisa istiqamah," cerita Gus Yahya menirukan Kiai Syahid.
 
Hj Shofiyah Syahid merupakan sosok pertama yang mendampingi KH Ahmad Syahid. Sepeninggal Nyai Shofiyah, Kiai Syahid menikah dengan Nyai Hj Nur Rohmah Syahid dan dikaruniai dua orang putra yakni Rabbi' Lutfi (Gus Obi') dan Safiqoh Samiyah (Neng Sa).
 
Sepintas, tidak ada bedanya peringatan haul yang digelar oleh keluarga besar Pesantren Alhamdulillah, dengan hal yang digelar di pondok yang lain. Namun jika ditelusuri lebih mendalam, ada kekhasan yang menjadi kebiasaan yang sudah turun – temurun semasa Hj Shofiyah Syahiddan KH Ahmad Syahid semasa hidupnya.
 
Kebiasaan ini masih diteruskan oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid, sebagai penerus pesantren. Di pesantren ini sangat memuliakan tamu, dengan jamuan khasnya. Ternyata jamuan tersebut biasa dilakukan sejak zaman pesantren itu berdiri. Salah satu jamuan yang di kangeni para tamu adalah nasi jagung, yang dipadukan dengan nasi beras, lengkap dengan lalapan serta sayur dan ikan. Seluruh makanan yang disajikan di pesantren sebagian besar merupakan hasil pertanian yang digarap para santri dan pengurus pondok.
 
Bagi masyarakat Desa Kemadu Kecamatan Sulang saat itu, Nyai Shofiyah tergolong kaya raya. Kebun dan sawahnya luas. Nyai Shofiyah mewakafkan lahan untuk membangun pesantren bagi Kiai Syahid, suaminya.
 
Singkat kata, dengan dukungan Nyai Shofiyah, Mbah Syahid bisa fokus dan istikamah mengajar santri dan masyarakat, tanpa harus terbebani urusan ekonomi keluarga. Tak hanya itu, Nyai Shofiyah juga merelakan hasil panen pertaniannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
 
Pondok Kemadu sendiri didirikan sekitar tahun 1950 - an oleh KH Ahmad Syahid bin Sholikhun bersama istri pertamanya, Nyai Shofiyah. Pondok ini terletak di Jalan Rembang - Blora KM 14, tepatnya di Desa Kemadu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang.
 
Tepat pada hari Jumat, 3 September 2004, Kiai Syahid wafat pada usia 78 tahun. Kiai Syahid dimakamkan di sebelah pusara istri pertamanya, Nyai Shofiyah yang berada di komplek pondok.
 
Sepeninggal Kiai Syahid, Pondok Kemadu diasuh dan dipimpin oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid. Saat itu, Gus Obi' dan Neng Sa masih kecil. Saat ini, Gus Obi' masih mondok di sebuah pesantren ternama di Pare. Ia juga tengah menyelesaikan studi S-1 di sebuah perguruan tinggi ternama di Malang.
 
Usai merampungkan studinya, Gus Obi' berencana membantu ummi panggilan Gus Obi' kepada Nyai Hj Nur Rohmah 'nggulowentah' santri-santri di Pesantren Kemadu melanjutkan perjuangan sang ayah, Kiai Syahid. (Ahmad Asmui)
Kamis 20 Juni 2019 21:30 WIB
Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan
Lagi Ngaji, Santri Mbah Hasyim Dijemput karena Istri Melahirkan
Kiai Abdul Kholiq (kiri)
Semasa hidup Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari, banyak santri yang kemudian menjadi ulama dan terlebih dahulu belajar ke Kiai Hasyim di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Salah satu santri yang rajin mengaji ke Kiai Hasyim adalah KH Nur Salim.

Kiai Nur Salim berasal dari Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bahkan saat putra kandungnya lahir, Kiai Nur masih sedang mengikuti pengajian Kiai Hasyim Asy'ari. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat Legi tanggal 18 Syawal 1355 H atau bertepatan pada tanggal 1 Januari 1937 M. Saat itu KH Nur Salim masih meneruskan mondok di Pesantren Tebuireng Jombang setelah menikah.

"Sehingga terpaksa harus disusul ke Tebuireng untuk memberitahukan kelahiran anaknya," jelas cicit KH Nur Salim kepada NU Online, Muhammad Fajrul Falah Afandi, Kamis (20/6).

Setelah sampai di rumah, istrinya melahirkan seorang putra dan langsung diberi nama Abdul Kholiq. Nama tersebut diberikan karena tafa'ulan dan tabarukan dengan nama putra Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari. Sosok Kiai Hasyim Asy'ari bagi keluarga KH Nur Salim begitu berarti. Pendiri Nahdlatul Ulama tersebut menjadi rujukan setiap problem yang dihadapi.

Kiai Nur Salim aslinya bernama Soko, ia menikah dengan Kasiyat putri H Siroj atau Kamso. Cerita pernikahan ini berawal saat ia pulang dari nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Sidogiri Pasuruan. Saat itu H Siroj sangat terkesan dengan sosok santri yang sudah dikenal sifat bagus dan kealimannya, sehingga kemudian dinikahkan dengan anaknya. 

H Siroj juga sangat mendukung menantunya, baik secara mental maupun material dalam langkah perjuangan KH Nur Salim. KH Nur Salim memiliki 11 putra-putri, yaitu Ghozi (meninggal waktu kecil), Ashari (meninggal waktu kecil), Abdul Kholiq, Abdul Wahid (meninggal waktu kecil), Hasyim Bisyri, Hasan Bisyri, Siti Aminah, Masda'i, Ni'mah, Muhsin, dan Abdullah Munif.

Salah satu putranya yang bernama KH Abdul Kholiq kemudian hari kelak menjadi tokoh ulama yang mendedikasikan dirinya untuk Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Kholiq tercatat pernah menjadi Wakil Rais Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Babat tahun 1980 dan Rais MWC NU Babat tahun 1985.

Kemudian menjadi Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan. Hingga akhirnya menjadi Rais PCNU Lamongan, menggantikan KH Abdullah Iskandar. Pernah juga menjadi Ketua Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI) NU Lamongan.

Akan tetapi beliau KH Nur Salim tidak berkehendak mendirikan pesantren secara institusi seperti umumnya santri KH Hasyim Asy'ari saat itu. Ia cukup mendirikan mushala untuk berjamaah dan mengajar ngaji bagi masyarakat yang membutuhkannya. Itupun masih sangat sederhana, ngaji sorogan, bandongan sampai ia wafat pada tanggal 09 Ramadhan 1386 H atau 22 Desember 1966 M.

Dalam berdakwah, Kiai Nur Salim banyak dibantu oleh putranya KH Abdul Kholiq. Suatu hari KH Abdul Kholiq berkeinginan mendirikan madrasah akan tetapi masih kurang direspon oleh ayahnya. Saat itu sang ayah mengatakan "Liq, gawe madrasah opo maneh ngopeni teruse iku abot, wis sing penting kapan ono sing njalok wulang ngaji yo diulang (kalau buat madrasah apa lagi mengurusinya itu berat, yang penting kapan ada yang minta diajar ngaji ya diajar)".

"Begitulah karakter KH Nur Salim yang tidak ingin neko-neko (ambil resiko)," ujar pria yang akrab disapa Gus Falah ini.

Seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan keadaan masyarakat, banyak yang mendesak KH Abdul Kholiq untuk mendirikan pesantren, di antaranya KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdulloh Faqih pengasuh Pesantren Langitan. Waktu sowan ke KH Ahmad Marzuqi Zahid dan KH Abdullah Faqih oleh KH A Marzuqi Zahid, Kiai Kholiq dikatakan kiai yang tidak pantas. 

Kemudian ia memberanikan diri bertanya kepada Kiai Marzuqi "Apa maksud kiai yang tidak pantas, yai? ". Jawab Kiai Marzuqi "Kamu itu alim, kamu tidak pantas kalau tidak punya pondok" lalu Kiai Marzuqi menyuruh untuk mendiriikan pesantren. Hal ini kemudian dihaturkan ke romo KH Abdullah Faqih, oleh KH Abdullah Faqih, rencana tersebut didukung bahkan diberi modal uang untuk segera membangunnya. 

Namun baru setelah benar-benar yakin dan mantap, tepat pada tanggal 1 Rabiul Awwal 1406 H atau 14 November 1985 M dibentuklah panitia pembangunan pondok yang diberi nama 'Nurus Siroj'.

Nurus Siroj diambil dari gabungan dua kata yaitu Nur nama dari ayahnya yaitu KH Nur Salim dan Siroj nama dari kakeknya yaitu H Siroj. Dengan tujuan mengenang keduanya telah berjasa atas keberadaan dirinya secara material, mental, dan spiritual. 

Putra KH Nur Salim bernama KH Abdul Kholiq ini memang sudah kelihatan memiliki keunggulan sejak usia remaja. Seperti ketekunan, kerja keras, kepemimpinan dan kemauan yang keras untuk mencapai cita-cita. KH Abdul Kholiq meninggalkan rumah untuk menimba ilmu pada awal tahun 1950-an, ia berangkat menuju rumah Kiai Abdul Hadi Zahid, saat itu menjadi Pengasuh Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Belum puas dengan keilmuan yang telah dimiliki, pada tahun 1954 ia melanjutkan perjalanan menimba ilmu kepada Syech Masduqi Lasem Rembang, Jawa tengah. Di pesantren asuhan KH Masduqi inilah ia mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi kehidupan KH Abdul Kholiq. Ia juga berhasil menguasai dengan baik kitab-kitab besar seperti Jamul Jawami, Uqudul Juman, Asybah Wan Nadloir, Fathul Wahhab, dan Ad-Dasuqi.

"Dalam menambah pengetahuan dan pengalaman, ia menyempatkan berguru thoriqot ke KH Romli At-Tamimi asal Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang," tambah Gus Falah.

Setelah banyak menghabiskan waktunya dari pesantren satu ke pasantren yang lain. Akhirnya KH Abdul Kholiq melangsungkan pernikahan dengan gadis dari Desa Mulyo Agung Singgahan Tuban, bernama Siti Masruroh.

Dalam pengabdianya dan menyebarkan ilmunya, KH Kholiq tetap berusaha menata ekonomi keluarga, di antaranya mendirikan usaha-usaha seperti membuka toko di pasar Moropelang (1966), membuat penggilingan padi/selep (1980) di beberapa daerah, membuat setrum aki (1981), dan mendirikan pabrik tahu (1983).

KH Abdul Kholiq termasuk seorang yang mempunyai kecintaan yang sangat dalam kepada tanah kelahiranya, seorang tokoh masyarakat yang mengabdikan hidupanya untuk desa tempat kelahirannya. Banyak kemajuan-kemajuan Desa Tritunggal berkat langkah-langkah strategisnya. 

Ia juga sangat dekat dengan masyarakat dan suka membantu. Maka tak heran keluarga KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq sangat disegani, dihormati, dan dicintai warga masyarakat Tritunggal dan sekitarnya. 

Pada tahun 1966 KH Kholiq berangkat haji dengan transportasi kapal laut, selama kurang lebih 3 bulan. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang perempuan tua (Syehoh Abbasiyyah) yang ia anggap sebagai guru dan orang tua sendiri. Karena kebaikan budi pekerti KH Abdul Kholiq,  perempuan itu memberi hadiah yaitu tambahan nama Afandi yang berarti As-Sayyid (Tuan) sehingga menjadi KH Abdul Kholiq Afandi.

Kamis legi 5 shafar 1425 H atau 25 Maret 2004 M ba'da Ashar KH Abdul kholiq Afandi wafat di rumah sakit Islam Nasrul Ummah Lamongan. Dan dimakamkan setelah shalat Jumat di sebelah timur Pondok Putra Nurus Siroj. Hingga kini masih sangat banyak masyarakat dari berbagai kalangan berdatangan untuk ziarah dan memberikan penghormatan kepadanya.

"Semoga santri Pesantren Nurus Siroj bisa meneruskan perjuangan KH Nur Salim dan KH Abdul Kholiq Afandi," tandas alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang ini.

Syarif Abdurrahman, Kontributor NU Online Jombang, Jawa Timur
Kamis 30 Mei 2019 16:15 WIB
OBITUARI
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
Kiai Tolchah Hasan, Ulama dengan Segudang Referensi
KH Tolchah Hasan. (Foto: Channel Youtube Unisma)
Nama Kiai Tolchah Hasan sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia, lebih-lebih warga Malang, Jawa Timur. Ia masyhur sebagai sosok ulama yang aktif di dunia pergerakan dan dekat dengan masyarakat. Karirnya di Ansor pada tahun 1960-an membuat namanya populer di masyarakat sebagai seorang organisator yang ulung dan rajin. Selain itu, ia juga terkenal sebagai seorang pendidik yang sangat dihormati.

Ada kisah menarik datang kepada saya mengenai Kiai Tolchah Hasan sebagai seorang ulama yang juga pendidik ini. Cerita ini saya dapatkan dari seorang dosen Universitas Islam Malang (Unisma), kampus NU yang beliau dirikan bersama Kiai Masjkur dan Kiai Oesman Mansjur. Dosen yang bercerita kepada saya adalah Dr Masyhuri, salah seorang dosen penelitian di pascasarjana Unisma.

Ketika penulis sedang kuliah pascasarjana di Unisma pada tahun 2016 lalu, Dr Masyhuri mengatakan bahwa Kiai Tolchah sampai usianya yang ke-80 tahun masih merupakan sosok yang gemar membaca. Untuk mempersiapkan mengisi kuliah di Unisma (baik S-2 maupun S-3), beliau bisa menghabiskan berpuluh kitab atau buku sebagai bahan mengajar. Dari kitab-kitab itu Kiai Tolchah lalu membuat satu makalah. Dalam kebiasaannya, makalah tersebut digandakan sendiri oleh Kiai Tolchah untuk disebarkan kepada para mahasiswa yang ia beri kuliah.

“Kiai Tolchah itu setiap mau mengajar di kelas, malamnya harus membaca minimal 20 kitab,” tutur Masyhuri di hadapan para mahasiswa.

Setelah membaca berbagai referensi, Kiai Tolchah biasanya akan meminta kepada salah satu menantunya untuk membuat tayangan power point berdasarkan ringkasan konsep yang dibuatnya dalam tulisan tangan. 

Penulis juga pernah mendengar dengan telinga penulis sendiri bahwa Kiai Tolchah telah membaca 10 kitab dan buku dalam satu malam untuk menyiapkan sebuah seminar bagi mahasiswa baru di Unisma.

“Makalah ini saya siapkan dalam satu malam, sampai jam satu malam tadi saya menyiapkan ini dengan 10 kitab sebagai referensi,” paparnya di hadapan sekitar 1000 mahasiswa baru Unisma.

Kiai Tolchah sebagai seorang kiai pesantren, ia juga selalu memberikan dorongan positif kepada para mahasiswa yang juga merupakan santri di pesantren. Beliau ingin mengangkat nama baik para santri dan pesantren agar tidak terpinggirkan. 

Salah satu mahasiswa beliau di Unisma yang juga merupakan salah satu ustadz di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah, Mujiharto, turut memberikan testimoni tentang ini. Di dalam kelas perkuliahan suatu ketika Kiai Tolchah menyampaikan pesan, “Santri itu harus rajin membaca, menulis, dan penelitian,” kata pria yang akrab dipanggil pak Muji itu menirukan Kiai Tolchah.

Sekitar bulan April kemarin dalam sebuah kesempatan memberikan mauidhah hasanah di hadapan para wali santri Pondok Pesantren Al-Islahiyah Putri, Kiai Tolchah menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan hati para hadirin:

"Jika bulan depan saya masih diberi kesempatan hidup oleh Allah maka saya akan berumur 84 tahun," katanya perlahan tapi jelas sekali. 

Entah itu isyarat atau bukan, pada bulan Mei ini bertepatan dengan minggu terakhir bulan Ramadhan beliau telah dipanggil oleh Sang Khaliq.

Demikianlah Kiai Tolchah Hasan, kiai dengan segenap kealiman; kiai dengan segenap kepiawaian dan kecakapan hidup. Tapi selama hidupnya sepi dari hiruk pikuk pembicaraan orang dan liputan media.


R Ahmad Nur Kholis, alumnus Program Pascasarjana Unisma Malang; kontributor NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG