IMG-LOGO
Fragmen

Mahbub Djunaidi dan Kontroversi Khittah Plus NU

Sabtu 27 Juli 2019 12:15 WIB
Bagikan:
Mahbub Djunaidi dan Kontroversi Khittah Plus NU
H. Mahbub Djunaidi (Ilustrasi: NU Online)
Mahbub Djunaidi bukan hanya memiliki pemikiran tegas dan berkelas melalui tulisan-tulisannya yang tajam dan jenaka, tetapi pria kelahiran Jakarta, 27 Juli 1933 lalu ini juga memiliki kemampuan menerjemahkan konsep pemikiran ke dalam realitas praktis. Melalui kritiknya, Mahbub melihat bahwa Khittah NU 1926 belum bisa dijalankan oleh beberapa pengurus NU untuk melepaskan diri dari politik praktis sehingga melontarkan gagasan Khittah Plus NU.

Mahbub sendiri merupakan salah seorang tokoh perumus Khittah NU pada Munas Alim Ulama 1983 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Ia juga tergabung dalam tim yang bertugas merumuskan konsep hubungan Islam dengan Pancasila.

KH Achmad Siddiq menegaskan bahwa Khittah NU tidak dirumuskan berdasarkan teori yang ada, tetapi berdasarkan pengalaman yang sudah berjalan di NU selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Tujuan kembali ke khittah juga selain mengembalikan organisasi pada rel awal pendirian organisasi, kepentingan bangsa dalam setiap keputusan organisasi juga dijunjung tinggi karena pokok pikiran dalam rumusan khittah memuat unsur keagamaan, sosial-kemasyarakatan, kebangsaan, kepemimpinan ulama, dan keindonesiaan.

Naskah Khittah Nahdliyah KH Achmad Siddiq kemudian dioperasionalkan dan merumuskan perangkat kelembagaan yang dilakukan oleh para aktivis NU di antaranya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Bersama para aktivis lain macam H Mahbub Djunaidi, Fahmi D. Saifuddin, dan lain-lain, Gus Dur dan Gus Mus juga merumuskan naskah hubungan Islam dengan Pancasila pada momen Munas NU 1983 di Situbondo itu yang bersumber dari pemikiran dan pandangan KH Achmad Siddiq dan para kiai sepuh lain.

Menurut kesaksian Gus Mus, gagasan kembali ke khittah 1926 baru bisa diputuskan berkat pikiran-pikiran brilian sekaligus pribadi-pribadi bersih penuh kharisma dari kedua tokoh besar, KH Achmad Siddiq dan Gus Dur.  (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Atas gagasan Khittah Plus NU yang digelindingkan oleh Mahbub Djunaidi, kedua tokoh besar (KH Achmad Siddiq dan Gus Dur) tidak sepenuhnya sepakat dengan pandangan tersebut. Sebab dalam perjalannya, Khittah Plus NU ini mengalami banyak tantangan. Tantangan terbesar adalah dari tokoh besar NU yang mencetuskan ide Khittah NU 1926 itu sendiri, yaitu KH. Ahmad Siddiq dan KH. Abdurrahman Wahid. (Lihat Eka Edi Setiawan, Mahbub Djunaidi dan Khittah Plus NU: Latar Belakang dan Pemikiran, 2018)

Khittah Plus NU adalah kritik atas Khittah NU 1926 yang dianggap oleh Mahbub tidak realistis dan strategis, karena menurutnya hanya menjadi bentuk slogan yang dalam realitas nyatanya tidak pernah ditaati secara penuh oleh para pengurus NU sendiri dan mengebiri kader NU dalam beraktivitas di dunia politik praktis untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Mahbub mensinyalir, meskipun isi dari Khittah Plus adalah meninggalkan politik praktis, hal tersebut tak akan serta merta bisa dilakukan oleh kader-kader NU yang ada di kepengurusan. Karena sesuai dengan catatan perjalanan sejarah di atas, kultur politik yang sudah melekat dalam tubuh NU tidak akan dapat luntur begitu saja. Oleh sebab itu, Mahbub melontarkan ide Khittah Plus NU yang dijadikan agenda pembahasan utama dalam Konbes NU pada tanggal 15-18 Nopember 1987 di Cilacap, Jawa Tengah.

Meskipun pada Konbes NU di Cilacap 1987 Mahbub tidak sedikit mendapat dukungan tentang Khittah Plus ini, tetap tidak bisa menandingi kharisma KH Abdurrahman Wahid yang dilindungi oleh KH Ahmad Siddiq dan KH Ali Maksum. Dengan kata lain, kelompok pendukung Khittah NU lebih banyak dari pada kubu pendukung Khittah Plus Mahbub.

Muhammad Rouf (2019) mencatat, walaupun Khittah Plus NU memantik kontroversi yang panas dalam tubuh NU, tetap memiliki nilai positif yang berimplikasi pada perumusan ideal menyangkut hubungan NU dengan politik. Atau dalam bahasa yang lain memberikan pedoman kepada seluruh kader NU dalam berpolitik, bahwa berpolitiknya warga NU adalah politik kebangsaan dan politik kenegaraan, bukan politik yang mementingkan kepentingan sempit individual.

Hal itu seperti yang ditegaskan oleh KH MA Sahal Mahfudh dalam Rapat Pleno PBNU pada 2013 di Wonosobo, Jawa Tengah. Praktik politik seperti itulah yang digagas oleh KH MA Sahal Mahfudh (2013) sebagai siyasah ‘aliyah samiyah (politik tingkat tinggi), bukan politik tingkat rendah (siyasah safilah).

Menurut Kiai Sahal Mahfudh, politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah adalah porsi  partai politik bagi warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan atai individu. Sedangkan NU sebagai lembaga atau organisasi, harus steril dari politik semacam itu. Kepedulian NU terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi, yakni politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan etika berpolitik.

Muara dari Khittah NU 1926 dan Khittah Plus NU ialah warga NU secara individu dipersilakan melaksanakan aktivitas politik dengan tidak membawa-bawa bendera organisasi NU. Aktivitas politik yang dilakukan oleh warga NU harus tetap pada prinsip dan tujuan kerakyatan, kebangsaan, dan etika. NU memandang bahwa politik hanya instrumen bukan ghayyah (tujuan). Jika politik dijadikan tujuan, maka yang terjadi penghalalan segala cara. (Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 23 Juli 2019 9:10 WIB
23 Juli, Saat Presiden Gus Dur Dilengserkan secara Politis
23 Juli, Saat Presiden Gus Dur Dilengserkan secara Politis
KH Abdurrahman Wahid (Dok. Pojok Gus Dur)
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan secara politis oleh parlemen melalui Sidang Istimewa (SI) MPR RI pada 23 Juli 2001. Sebelum pelaksanaan sidang, Gus Dur melawan dengan mengeluarkan Dekrit Presiden. Perlawanan tersebut bukan untuk mempertahankan jabatannya sebagai presiden, tetapi menolak langkah parlemen yang menurutnya inkonstitusional. Sejumlah tuduhan yang diarahkan kepadanya juga tidak terbukti secara hukum.

Kompas pada 1 Agustus 2001 melaporkan bahwa menjelang tengah malam pada tanggal 22 Juli 2001, Gus Dur sempat mengadakan pertemuan bersama salah seorang Wakil Sekjen PBNU Masduki Baidlawi dan tujuh ulama sepuh di Istana Negara.

Mereka menyampaikan kepada Gus Dur perihal kondisi politik mutakhir yang berujung pada rencana percepatan SI MPR keesokan harinya, yaitu pada 23 Juli 2001. Kondisi pertemuan di Istana Negara kala itu dilaporkan berlangsung khidmat dan penuh keharuan.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Dengan dorongan para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Dekrit itu secara garis besar berisi penolakan terhadap keputusan Sidang Istimewa yang akan diselenggarakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena kelemahan dirinya menghadapi situasi politik saat itu, tetapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang mempunyai komitmen kuat untuknya. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur dilengserkan.

Gus Dur menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Ia tidak mau ada kerusuhan dan pertumpahan sesama anak bangsa. Laporan Kompas menyebut bahwa 300.000 relawan berani mati siap berangkat ke Jakarta untuk membela Gus Dur dari upaya pelengseran oleh parlemen.

Namun, jauh-jauh hari Gus Dur menyambangi sejumlah ulama di beberapa pesantren. KH Muhammad Yusuf Chudlori Tegalrejo, Magelang dalam Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) mengungkapkan pesan Gus Dur berupa satu kalimat yang menurutnya terus terngiang di telinga, membekas di hati, dan tidak akan pernah hilang.

Gus Dur berkata, “Kalau tawakal, Anda berani dan layak hidup”. Pesan tersebut disampaikan Gus Dur kepada para kiai menjelang pelengseran dirinya sebagai presiden. Kalimat tersebut seperti diuji dan benar-benar jitu menjadi pembuktian bagi Gus Dur setelah lengser. Tawakal menjadi sumber kekuatan Gus Dur yang semakin berani menjalani kehidupannya untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Saat itu, dalam pertemuan dengan sejumlah ulama yang salah satunya terjadi pada peringatan 100 Tahun Berdirinya Pondok Pesantren Futuhiyah di Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Gus Dur berpesan agar ulama tidak terpancing amarahnya atas nama solidaritas umat Muslim.
 

Menurut dia, ulama seharusnya tidak boleh terlalu larut dalam politik. Dengan tegas, Gus Dur meminta ulama, kiai, dan santri di lingkungan NU untuk tidak pergi berunjuk rasa dan membuat kegaduhan di Jakarta. Sebaliknya, ia meminta agar segenap pendukungnya tetap meyakini kapabilitas pemerintah dalam menuntaskan persoalan politik.


"Sesama orang Islam itu bersaudara. Kenyataan ini harus dipahami bahwa tindakan kekerasan tidak menyelesaikan persoalan. Jika banyak warga NU ke Jakarta, kemudian membuat gegeran malah akan menambah keributan di Jakarta," ujar Gus Dur dilansir Tirto.

Pada kesempatan yang sama, Gus Dur juga berujar bahwa dirinya masih bisa mengatasi persoalan di ibu kota secara diplomatis. Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (1984-1999) itu juga mengingatkan pentingnya solidaritas umat Muslim dalam tradisi pondok pesantren.

"Ada beda antara keras dan tegas. Ibarat pepatah nenek moyang, pohon tinggi harus berani menentang angin yang bertiup keras. Nanti kalau saya tidak lagi sanggup mengatasi persoalan itu, saya kan bisa bengok-bengok (teriak minta tolong) sama ulama. Ke mana lagi kalau tidak minta tolong ke ulama, itu kan juga tradisi orang pondok pesantren," tegas Gus Dur.

Romo Magnis merupakan salah seorang sahabat Gus Dur yang menyarankannya untuk mundur dari kursi presiden ketika dirinya didera politisasi kekuasaan dengan berbagai macam tuduhan tersebut. Namun, bukan Gus Dur namanya jika tidak mempunyai keteguhan pendirian. Apalagi posisi Gus Dur tidak terbukti bersalah secara hukum terhadap kasus yang menderanya.

Saat situasinya benar-benar diujung tanduk, Romo Magnis (2017) kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi. Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana.

Di istana ada putri Gus Dur yang senantiasa setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid. Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah. Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur.

Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu. Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional.

Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan humor: “Saya disuruh mundur? Maju saja dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa renyah kawan-kawan yang mengelilinginya.

Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyatakan bahwa persoalan yang menimpa dirinya merupakan murni persoalan politik kekuasaan yang dimanfaatkan oleh sejumlah orang. Sebab secara hukum, Gus Dur tidak pernah terbukti bersalah sehingga upaya pelengseran dirinya merupakan tindakan inkonstitusional. (Fathoni)
Senin 22 Juli 2019 5:15 WIB
Riwayat Puasa Kiai Wahid Hasyim
Riwayat Puasa Kiai Wahid Hasyim
KH Abdul Wahid Hasyim saat usia 18 tahun
“Ayah saya bercerita bahwa KH Wahid Hasyim pernah bertemu dengan Mama Cibaduyut (panggilan populer untuk Mama Ajengan KH Zarkasyi, ulama asal Bandung,” ungkap Habib Syarif Al-Aydarus menceritakan kisah ayahnya Habib Utsman Al-Aydarus Bandung (Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat 1960-1970) , pada diskusi menelisik sejarah NU Kota di Bandung yang digelar PCNU Kota Bandung, pertengahan bulan lalu. 

Kedua kiai itu, menurut Habib Syarif, jarang bertemu, tapi mereka saling mengetahui bahwa KH Wahid sering berpuasa. Begitupun sebaliknya. Saat bertamu ke rumahnya, Mama Cibaduyut berbuka puasa demi menghormati Kiai Wahid. Begitu juga sebaliknya.

“Tujuh tahun sebelum wafatnya, Kiai Wahid Hasyim tidak berhenti puasa,” ungkap Habib Syarif yang pernah jadi Ketua PWNU Jawa Barat pada masa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Umum PBNU. 

Apa yang diungkapkan Habib Syarif senada dengan apa yang diungkapkan putra KH Wahid Hasyim, KH Salahuddin Wahid, yang dimuat edisi khusus KH Wahid Hasyim di majalah Tempo 24 April 2011.

Tujuh tahun menjelang wafatnya, berarti KH Wahid Hasyim melakukan itu sejak tahun 1946 hingga 1953. Kebiasaan itu berarti pula dimulai setahun sebelum wafat ayahandanya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Kiai Wahid wafat di Cimindi, Bandung, pada sebuah perjalanan Jakarta-Sumedang, untuk urusan NU. Jika merujuk buku Nakhoda Nahdliyin, Biografi, Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU sejak 1926 hingga sekarang, berarti baru setahun ia menjadi Ketua Umum PBNU, menggantikan KH Nachrowi Thohir.   

Sebagaimana dikemukakan Habib Utsman dan Gus Solah, KH Wahid Hasyim berpuasa tanpa putus, kecuali pada hari-hari yang memang diharamkan secara syariat seperti hari raya dan hari tasyrik. Meskipun lupa sahur, KH Wahid Hasyim tetap berpuasa dan tidak tampak kelihatan lesu. 

Ada cerita lain terkait puasa Kiai Wahid yang dikemukan salah seorang putrinya, yaitu Lily Wahid. Cerita tersebut, sebagaimana dikemukakan Tempo, didapatkan Lily dari ibunya, Nyai Solehah.

Suatu ketika, selagi Kiai Ahid berpuasa, ia dan istrinya bertamu ke rumah seorang menteri. Wahid tak menolak ajakan sahibul bait makan bersama. Sambil berbicara Wahid tampak mengunyah. Padahal makanannya sudah dipindahkan ke piring istrinya ketika tuan rumah lengah. 

Di bagian lain liputan Tempo itu menceritakan pengakuan seorang abdi dalem selama 32 tahun di kediaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yiatu KH Imam Tauhid. Menurut Imam. Kiai Wahid telah melatih dirinya berpuasa sejak masih remaja, yaitu 12 tahun.

“Makan hanya sayuran, tempe tahu jarang, ikan sama sekali tidak pernah. Tiap malam ia selalu melakukan tahajud,” katanya. 

Menurut KH Salahuddin Wahid, dari seringnya berpuasa tersebut, membentuk ayahnya menjadi seorang yang memiliki karakter yang disiplin, penuh keramahan, dan kesabaran, dan berlaku adil.

Gus Solah menceritakan, Kiai Wahid pernah menegur istrinya, Nyai Solehah karena menolak memberi tumpangan kepada seorang anggota konstituante yang menyudutkannya dalam persidangan. 

“Urusan pekerjaan dan pribadi tak bisa dicampur aduk. Itu lain urusannya,” ungkap Gus Solah menirukan ungkapan ayahnya kepada ibunya.
 
Karena watak yang digembleng dirinya sendiri dan tentu keluarganya, dalam usia relatif muda, ia telah menjadi tokoh nasional. Ia menjadi orang termuda pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama Soekarno dan Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Ia juga menjadi orang yang pertama dalam usia muda menjadi pemimpin umat Islam Indonesia mewadahi 13 organisasi massa Islam di Indonesia yaitu di Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI). (Abdullah Alawi) 
Ahad 21 Juli 2019 3:15 WIB
Cara Tokoh NU Mendidik Anak-anaknya
Cara Tokoh NU Mendidik Anak-anaknya
null
“Pada suatu hari Abdullah Ubayd datang ke rumah kami dengan dua putra beliau yang masih kanak-kanak. Yag pertama berumur 7 tahun, dan yang kedua kira-kira 5 tahun. Kejadian itu kira-kira pertengahan tahun 1936.” 
 
Peristiwa itu diungkapkan KH Wahid Hasyim dalam sebuah tulisan yang terbit pada Agustus 1941 berjudul Abdullah Ubayd sebagai Pendidik
 
Abdullah Ubayd sendiri pada tahun itu telah tiada. Ia meninggal dunia pada tahun 1938 setelah NU melaksanakan muktamar yang ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten. Ia meninggal pada usia relatif muda yaitu pada usia 39 tahun. 
 
KH Wahid Hasyim menulis tentang KH Abdullah Ubayd karena ada pertautan yang sama dengan keduanya. KH Abdullah Ubayd merupakan seorang yang megabdikan hidupnya dalam pendidikan NU pada masa awal berdiri, yaitu menjadi seorang guru di Madrasah Nahdlatul Wathan, mendampingi KH Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur, di samping sebagai sekretaris majalah NU membantu KH Mahfudz Shiddiq di majalah dua mingguan Berita Nahdlatoel Oelama, dan Ansor Nahdlatoel Oelama. 
 
Sementara KH Wahid Hasyim juga seorang pendidik yang mendirikan Madrasah Nidzamiyah di pesantren ayahnya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di madrasah tersebut, ia melakukan terobosan baru di kalangan pesantrean jika ditakar pada masanya, yaitu memasukan pelajar umum 30 persen, disamping pendidikan agama. Di madrasah tersebut, di samping diajarkan bahasa Arab, juga Inggris dan Belanda. Suatu hal baru bagi kalangan pesantren tradisional pada masanya.  Di samping itu, KH Wahdi hasyim juga merupakan tokoh lembaga pendidikan NU pada masa awal berdiri, yaitu menjadi Ketua Ma’arif dan mengelola Soeloeh Nahdlatoel Oelama, sebuah majalah tentang pendidikan.   
 
Di dalam tulisan yang disampaikan di awal tulisan ini, KH Wahid Hasyim menceritakan bagaimana KH Abdullah Ubayd mendidik anak-anaknya. Menurut penilaian KH Wahid Hasyim, anak harus dibiasakan mengerjakan sesuatu dengan kemampuannya sendiri sebagaimana dipraktikkan KH Abdullah Ubayd. 
 
Di dalam tulisan tersebut, KH Wahid Hasyim menceritakan anak Abdulllah Ubayd tidak mau meminum teh dari gelasnya. Pasalanya takut tumpah dan membasahai bajunya. Ternyata KH Abdulllah Ubayd tidak mau membantu anaknya, malah membiarkannya. 
 
Lalu bagaimana KH Wahid Hasyim mendidik keenam anaknya? 
 
Putra-putri KH Wahid Hasyim adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Aisyah, Hamid Baidlowi, Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodidjah Wahid, dan Hasyim Wahid. Di dalam mendidik anak-anaknya, hanya kepada si cikal, KH Wahid Hasyim mendidik sampai usia belasan tahun karena ia meninggal dunia pada usia relatif muda pada tahun 1953 saat perjalanan dari Jakarta menuju Sumedang. 
 
Sebagian cara KH Wahid Hasyim mendidik anak-anak, terekam dari pandangan istrinya, Nyai Sohlihah binti KH Bisri Syansuri, yang diceritaka pada majalah Risalah Islamiyah. Ketika suaminya masih hidup, anak-anak sering mengaji kepada ayahnya  sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai menteri agama. Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.
 
Dalam pandangan keluarga Wahid, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya. Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.
 
Sementara Nyai Sholehah sendiri menekankan kepada anak-anaknya agar berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua. Karena menurutnya, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu dalam pandangan Nyai Sholehah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. (Abdullah Alawi)
  
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG