IMG-LOGO
Fragmen

Raden KH Khasan Mimbar, Pendakwah Islam Pertama di Tulungagung

Senin 29 Juli 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Raden KH Khasan Mimbar, Pendakwah Islam Pertama di Tulungagung
Situs Masjid Al-Mimbar Tulungagung peninggalan Raden KH Khasan Mimbar. (ist)
Masjid berbentuk limas di Desa Majan, Tulungagung itu menjadi saksi sejarah bahwa Islam disebarkan dengan damai di Tulungagung. Bentuk bangunan awal masjid ini adalah serambinya, tidak ada dinding yang mengelilingi. Gerbang masjid terbuat dari batu-bata merah yang disusun hingga berbentuk pintu masuk khas Kesultanan Mataram.

Pendiri desa ini adalah Raden KH Khasan Mimbar, yang masih terhitung sebagai keluarga Kesultanan Mataram Islam saat dipimpin oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II di Kartasura. Pada tahun 1727 M ia diberi tugas oleh Raja Mataram melalui Bupati Ngrowo I (cikal bakal Tulungagung) Adipati Kiai Ngabehi Mangundirono untuk berdakwah sekaligus melaksanakan urusan pernikahan secara islam.

Perdikan Majan saat itu diberikan kebebasan untuk tidak membayar pajak kepada Hindia Belanda karena masih punya jejak historis dengan Mataram. Pada abad ke 16-17 M, penduduk Kadipaten Ngrowo memang sudah banyak yang memeluk agama Islam. Namun tradisi dan tata cara beribadah mereka masih campur aduk dengan tradisi agama Hindu. Terutama dalam keseharian adat-istiadat seperti tradisi sesajen, penghormatan terhadap arwah, pernikahan adat, dan upacara-upacara adat lainnya.

Karena hal itulah, sangat susah memisahkan asal tradisi antara ajaran Islam dengan ajaran Hindu. Di sini peran Raden KH Khasan Mimbar memasukkan unsur Islam dalam setiap keseharian masyarakat Kadipaten Ngrowo sebagai langkah dakwah untuk memisahkan mana ajaran Islam dan meninggalkan ajaran yang tidak sesuai syariat. Sekaligus syiar agama Islam melalui kajian kitab dan Al-Qur’an.

Jika ditelusuri secara silsilah keturunan, Raden KH Khasan Mimbar adalah putra Kiai Ageng Wiroyudo bin Raden Tumenggung Sontoyudo II bin Raden Tumenggung Sontoyudo I bin Raden Mas Ayu Sigit bin Kanjeng Ratu Mas Sekar bin Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (Sultan ke-II Kesultanan Mataram) bin Panembahan Senopati alias Danang Sutwijoyo, alias Raden Ngabehi Loring Pasar (Sultan ke-I Kesultanan Mataram)

Bukti kuat jika Tanah Perdikan Majan punya posisi penting di pemerintahan Kadipaten Ngrowo, yaitu beberapa Bupati Ngrowo dimakamkan di sini. Di antaranya adalah R.M.T. Pringgodiningrat (Bupati keempat), R.M.T. Djajadiningrat (Bupati kelima), R.M.T. Pringgokoesomo (Bupati kesepuluh), dan Kanjeng Pangeran Haryo Kusumo Yudho (Patih ke-III Kesultanan Yogyakarta), dan makam keluarga lainnya yang masih terhitung kerabat kerajaan.

Sebagai pendakwah, ajaran utama Raden KH Khasan Mimbar kepada murid-muridnya adalah tauhid yakni dzikir lailaha illallah. Bagaimana sikap seorang hamba kepada tuhannya bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran tauhid melalui dzikir ini masih sering dilantunkan jamaah di Masjid Al-Mimbar hingga sekarang.

Sebagaimana halnya ulama Nusantara lainnya yang mempunyai Pondok Pesantren untuk mempermudah dakwah ke murid-muridnya, Komplek Masjid Al-Mimbar juga terdapat Pondok Nggrenjol. Di Pondok inilah, para keturunan Raden KH Khasan Mimbar dahulu berdakwah dan tempat para santri untuk menimba ilmu. Namun sayang di pondok ini belum ada lagi santri mukim karena keterbatasan dana untuk pengembangannya.

Tugas menyebarkan agama Islam ini kemudian dilanjutkan oleh keturunan Raden KH Khasan Mimbar setelah wafat hingga Tanah Perdikan Majan diambil alih pemerintah Indonesia pada tahun 1979. Adapun proses dakwah Islam masih tetap berlanjut sampai saat ini di Masjid Al-Mimbar dengan imam utamanya Raden KH Moh. Yasin. (Bagus Rosyid)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Senin 29 Juli 2019 14:0 WIB
Di Antara Riwayat Ngopi Para Ulama Pesantren
Di Antara Riwayat Ngopi Para Ulama Pesantren
Ilustrasi forum para ulama pesantren. (Dok. Perpustakaan PBNU)
Bersama para santri, KH Anwari Siroj, waliyullah dari Payaman, Magelang, Jawa Tengah. Saat itu tengah membahas kenapa saat membaca kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah dengan menggeleng-nggelengkan kepala. Menurut Riwayat yang diceritakan Habib Umar Muthohar Semarang (2016), para santri tersebut sedang melakukan bahtsul masail, yakni bahtsul masail diniyah atau pembahasan masalah-masalah keagamaan.

Santri-santri itu mencari-cari kitab yang menjelaskan dasar membaca tauhid dengan menggeleng-nggelengkan kepala. Tentu saja tidak ketemu-ketemu. Tak berapa lama, Mbah Siroj mampir dan minta dibuatkan kopi. Segan terhadap ulama besar tersebut, para santri menghentikan bahtsul masail dan segera menyuguhkan kopi. Waliyullah tersebut lalu menikmati kopi dengan menyeruputnya.

“Nikmatnya,” ucap Mbah Siroj sambil menggeleng-nggelengkan kepala, begitu selama tiga kali kemudian pergi tanpa membantu santri yang sedang mencari landasan membaca kalimat tauhid dengan menggeleng-nggelengkan kepala.

Sepeninggal Mbah Siroj tersebut, para santri gamang, melanjutkan pembahasan atau tidak. Namun seorang santri menjawab tidak perlu diteruskan sehubungan waliyullah itu sudah mengurai persoalan mereka dengan cara santun dan sederhana, yakni menikmati kopi.

Serupa kisah di atas, riwayat menikmati kopi di masa-masa sulit kerap ditemukan ketika melakukan perjuangan melawan penjajah. Seperti diketahui, perjuangan tak kenal lelah untuk mencapai kemerdekaan lahir dan batin terus ditempuh oleh para aktivis, santri, dan ulama pesantren. Berbagai langkah telah dilakukan, baik melalui diplomasi damai, perlawanan kultural hingga bentrokan fisik. Namun, kondisi melelahkan tersebut tidak ingin terlalu dirasakan oleh para pejuang. Mereka tetap sesekali melepas penat dan bersantai dengan menghirup dan menyeruput kopi.

KH Saifuddin Zuhri mengungkapkan bahwa antara 1940-1942 merupakan waktu di mana perjuangan mengalami pasang surut gejolaknya. Sebagai salah satu pimpinan Gerakan Pemuda Ansor kala itu, Zuhri hendak sowan ke salah seorang ulama di Purbalingga, Kiai Hisyam, pimpinan Pesantren Kalijaran, Purbalingga.

Sebuah pesantren dengan lebih kurang 700 orang santri yang datang dari berbagai pelosok Jawa Tengah dan sebagian dari Jawa Timur. Pesantren ini terletak di derah pegunungan, jauh dari kota. Tidak ada kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai pesantren tersebut. Memakai sepeda pun amat susah karena harus berkali-kali menyeberangi sungai yang deras airnya dan penuh dengan batu-batu kali di tebing-tebingnya.

Setelah bersusah payah menempuh perjalanan ke Pesantren Kalijaran, Zuhri tiba di waktu ashar dan langsung diterima oleh Kiai Hisyam. Saat itu Kiai Hisyam juga sedang menerima tamu yaitu Kiai Raden Iskandar dari Karangmoncol. Ketika sejumlah kiai yang duduk bersama, tidak lain untuk membicarakan konsolidasi perjuangan melawan kolonialisme. Kesadaran untuk mengusir penjajah sudah melekat pada diri kiai karena saking dekatnya dengan masyarakat, kelompok yang kerap menjadi korban kekejaman penjajah.

Baik Kiai Hisyam dan Kiai Raden Iskandar menanyakan hal yang sama, Zuhri menempuh perjalanan dengan mamakai apa dan dengan siapa? Pertanyaan ini muncul karena memang susahnya akses untuk mencapai Pesantren Kalijaran. Letak pesantren seperti ini secara otomatis sulit juga dijangkau oleh penjajah yang pergerakannya tidak luput untuk menelusuri jejak tokoh-tokoh penting untuk diperangi.

Di tengah obrolan mengenai pergerakan nasional, Kiai Hisyam memanggil santrinya untuk membuat kopi untuk Saifuddin Zuhri. “Santri, bikinkan kopi tubruk yang kental, pakai cangkir besar, cangkir tutup,” ucap Kiai Hisyam menyuruh khadamnya untuk membuat kopi istimewa. (Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001)

Zuhri tahu betul kebiasaan para kiai. Kopi tubruk yang kental dan manis dengan cangkir tutup yang besar adalah suatu hidangan kehormatan dan hanya disuguhkan kepada orang yang dipandang harus dihormati. Kalau seseorang itu disuguhi kopi, baik siang atau malam, pertanda kehormatan besar. Apalagi jika dengan cangkir besar yang bertutup. Ini suatu kehormatan istimewa. Minum teh, apalagi memakai gelas dianggap bukan suguhan, Cuma sekadar pembasah tenggorokan.

Di tengah menyeruput kopi, tiga tokoh pesantren tersebut membicarakan perihal Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang mengungsi ke London karena Hitler dengan pasukan Nazi-nya telah menduduki Belanda. Tentu saja ‘hijrah’-nya Wilhelmina agar dapat meneruskan pemerintahan terhadap negara-negara jajahannya, termasuk tetap memegang kendali penuh Hindia Belanda di Indonesia. Informasi tersebut di antaranya didapat oleh Kiai Hisyam dengan membaca koran.

Perbincangan ini tentu saja terkait dengan strategi geopolitik internasional untuk kepentingan diplomasi dan perjuangan rakyat Indonesia. Penguasan Nazi Jerman di Belanda turut mempengaruhi eksistensi Hindia Belanda yang kemungkinan harus berhadapan dengan Jepan (Nippon), sekutu Hitler. Langkah ini penting untuk menentukan perjuangan selanjutnya. Dalam hal ini, kopi tubruk membuat obrolan menjadi terang benderang di tengah lelahnya berjuang melawan kolonialisme. Selain dilakukan dengan santai, obrolan kiai juga tidak pernah luput dari guyon (humor).

Meskipun meminum kopi dianggap oleh sebagian orang merupakan aktivitas yang menghabiskan banyak waktu, tetapi tidak dengan para kiai yang tetap menyeduh kopi ketika membicarakan hal-hal genting. Artinya, pembahasan genting harus dikemas dengan suasana santai dengan menyeduh kopi.

Bahkan, pada sekitar tahun 1650-an, Mark Pendergrast dalam bukunya Sejarah Kopi mengungukapkan, kedai-kedai kopi di Eropa dipenuhi oleh banyak orang. Kedai kopi menjadi tempat bukan hanya untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga sebagai ruang bertukar gagasan. Revolusi Perancis dirancang di kedai-kedai kopi. Sementara itu, kopi yang mereka sesap berasal dari perbudakan orang-orang Afrika di Koloni Perancis di Karibia. Budak-budak yang menggarap perkebunan kopi ini nantinya melakukan revolusi kulit hitam pertama yang sukses. (Fathoni)
Ahad 28 Juli 2019 16:0 WIB
Pidato Gus Dur saat Mahbub Djunaidi Wafat
Pidato Gus Dur saat Mahbub Djunaidi Wafat
Mahbub Djunaidi (Historia)
KH Abdurrahman Wahid dan Mahbub Djunaidi merupakan dua sahabat. Karena Mahbub lebih tua, terpaut tujuh tahun, Gus Dur memanggilnya Kak Abu. Persahabatan keduanya merupakan lanjutan dari persahabatan ayah mereka berdua, yaitu KH Wahid Hasyim dan KH Moh. Djunaidi ketika mengurus NU dan Departemen Agama.

Gus Dur dan Mahbub, dua-duanya terampil menulis, pemikir, senang guyon, dan sama-sama aktivis NU.Karena sama-sama pemikir, keduanya kerap berbeda pandangan. Karena dua-duanya penulis pandangan masing-masing disampaikan di koran. Kadang ejek mengejek secara halus terjadi. Misalnya ketika Gus Dur memperkenalkan pesantren sebagai subkultur, Mahbub Djunaidi mengomentarinya bahwa istilah itu kurang cocok karena biasanya disematkan kepada kalangan hippies di Barat sana. 

Di kesempatan lain, dalam pengantar buku Gus Dur, Melawan dengan Lelucon, yang diterbitkan Tempo, Gus Dur menulis tentang Filipina. Dua hari kemudian, tulisannya ditebang Mahbub Djunaidi di Harian Kompas. Mahbub memang pernah menulis panjang tentang Filipina melalui buku Pergolakan Islam di Filipina. Di sisi lain, dibandingkan Gus Dur, Mahbub adalah orang koran yang mempunya banyak kliping data. 

Kabar tulisannya dihajar Mahbub Djunaidi disampaikan orang kepada Gus Dur. Bukan marah apalagi akan membalasnya, Gus Dur malah mengatakan, saya ngomong apa, dia (Mahbub) ngomong apa. Saya ke kanan, dia kiri. Begitu kira-kira. 

Di NU sendiri kedua sahabat ini sering berbeda pendapat. Misalnya soal khittah NU 1926. Jika Gus Dur tidak ada embel-embelnya, Mahbub Djunaidi menambahkannya, menjadi khittah plus. 

Ketika Mahbub Djunaidi meninggal, dia tak sempat datang bertakziah. Namun, pada hari keempat puluh, Gus Dur datang bersama Said Budairy, dan KH Yusuf Hasyim. Dalam kesempatan itu, Gus Dur berpidato, yang dimuat Harian Pikiran Rakyat. Berikut kutipan, pidato Gus Dur yang dikutip dari artikel milik Umar Said:

”Mahbub Djunaidi merupakan tokoh gerakan, pejuang ideologi, jurnalis, dan rekan bergaul yang kerapkali kocak alias lucu. Aset perjuangan Mahbub terhadap bangsa Indonesia cukup banyak dan tergolong besar. Dia memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rakyat kekinian dan di masa mendatang.  Ketika di masa Orde Lama, Mahbub yang waktu itu merupakan guru dan kakak saya di lingkungan anak-anak muda NU, sudah memikirkan tentang suatu masa kelak. Masa yang dipikirkannya dan dimaksudkannya ternyata menjadi kenyataan yakni Orde Baru. Mungkin, dan ini yang kita tidak tahu, ketika beliau masih hidup di masa Orde Baru, tentu sudah memikirkan kelak akan ada masa lain di Indonesia. Bukankah Allah SWT akan mempergilirkan masa. 

Menurut Umar Said, Gus Dur mengatakan, dengan tiadanya Mahbub Djunaidi, bangsa Indonesia sebenarnya kehilangan salah satu putra terbaiknya.  Diharapkannya kelak akan lahir “Mahbub-Mahbub” yang baru yang meneruskan cita-cita dan perjuangannya. Karena itulah, sebenarnya penghargaan yang wajar bagi Mahbub bukanlah sekedar piagam atau bintang jasa. Akan tetapi, peng hargaan dalam bentuk kesediaan segenap bangsa Indonesia melanjutkan pemikiran, cita-cita dan perjuangan almar hum semasa hidupnya. 

”Memang, Mahbub hingga kini tidak pernah menerima bintang jasa apa pun. Mungkin, ini karena kita merupakan suatu bangsa yang tidak bisa dan tidak terbiasa menghargai para pahlawannya. Mahbub sebenarnya layak dapat bintang. Sebagai tokoh jurnalis, dia cukup terkenal. Bahkan selanjutnya menjadi tokoh PWI. Karenanya, kalau waktu itu Mahbub mau ikut “bernyanyi” di masa awal Orde Baru, tentu dia bisa jadi Menpen. Bila dia jadi Menpen, insyaAllah, dia tidak akan terpeleset mengucapkan sesuatu”, ujar Gus Dur. 

“Ketika orang-orang di negeri ini berlomba-lomba mencari dan mempertahankan hidup dengan “cari muka” dan “berbuat tak karuan”, ungkap Gus Dur, “Mahbub justru menunjukkan kepolosan dan usahanya meraih kemajuan dalam hidup dengan ketulusan dan kejujuran. Banyak capaian yang diupayakan Mahbub yang tergolong penting dan besar bagi bangsa Indonesia (kutipan habis).” (Abdullah Alawi)
 
Ahad 28 Juli 2019 10:15 WIB
Mahbub Djunaidi dan KH As’ad Syamsul Arifin
Mahbub Djunaidi dan KH As’ad Syamsul Arifin
Mahbub Djunaidi (Dok. NU Online)
Penulis masyhur kelahiran Jakarta yang dijuluki orang sebagai pendekar pena, H Mahbub Djunaidi (1933-1995) memiliki kedekatan khusus dengan tokoh besar NU asal Situbondo, Jawa Timur, KHR. As’ad Syamsul Arifin, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syfi’iyah Asembagus. Lebih dari itu, Mahbub sepertinya ada ketaatan khusus kepada Kiai As’ad. 

Dalam sebuah tulisannya yang dimuat mingguan Eskponen yang terbit di Yogyakarta, edisi 13-7 April 1985, ia menulis artikel berjudul 'Lagi-lagi Situbondo'. 

“Buat orang Bandung seperti saya, kota Situbondo itu jauhnya bukan alang-kepalang. Membayangkannya saja sudah ngos-ngosan. Bayangkan dari: Surabaya saja mesti naik mobil 200 km di alam yang gersang, sungguh bukan main. Kalau bukan perlu benar, tak bakalan rasanya cukup tenaga sampai ke situ. Awak sudah terkulai sebelum berangkat,” ungkapnya di paragraf pertama tulisan itu. 

Di paragraf selanjutnya, Mahbub mengakui ia sudah puluhan kali untuk menemui Kiai As’ad. 

“Seperti sudah puluhan kali saya alami, tanggal 18 Maret lalu saya dapat tilpun dari Kiai As’ad Syamsul Arifin disuruh datang menemui beliau, secepatnya. Dari Surabaya, dianjurkan lewat Jember, jemput Kiai Ahmad Shiddiq dan bawa ke Situbondo.” 

Bagi Mahbub, telpon Kiai As’ad tersebut adalah perintah yang tak bisa dibantah. Karenanya, meskipun ngantuk, ia terbang ke Surabaya bersama seorang temannya, Syah Manaf. Sesampai di Jember, ia merasakan tubuhnya serasa digebukin. Saking ringseknya kelelahan. Maklum pada saat itu, Mahbub Djunaidi mengidap penyakit jantung setelah dua tahun dipenjara tanpa pengadilan bersama tokoh-tokoh lain, di antaranya Bung Tomo dan Ismail Suni. Pasal tuduhannya adalah subversif kepada pemerintahan Orde Baru. 

Penulis novel Dari Hari ke Hari dan Angin Musim ini, dalam tulisan lain mengungkap sosok Mustasyar Aam PBNU tersebut. Dari caranya ia bercerita, tampak memiliki kedekatan tersendiri.  

“Kepada saya, sang kiai ngobrol penuh jenaka tentang romantika masa mudanya. Kepada saya, kiai bicara perihal keadaan negara dan pikiran pemecahan masalah tingkat tinggi. Kepada saya, kiai mempersoalkan apa yang pernah ditulis Suzanne Keller dalam dia punya “Beyond the Rulling Class”-nya: pengelompokan elite golongan atas dengan segala akibatnya. Kepada saya, kiai menandaskan keblingeran Ayatullah Khomeini.”

Ungkapan Mahbub tersebut, menunjukkan horizon ilmu pengetahuan Kiai As’ad tidak hanya kitab kuning dan NU melulu, melainkan juga ilmu umum. Kiai As’ad mampu mengkritik tokoh-tokoh dunia waktu itu. 

Lanjutan tulisan tersebut, dengan menunjukkan kehebatan Kiai As’ad, sekaligus mengkritik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Seperti diketahui, STA menolak fondasi pendidikan nasional berdasrakan dari pesantren, tapi seharusnya dari Barat. Pendapat STA berlawanan dengan tokoh-tokoh senior seperti Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Sanusi Pane, dan Ki Hajar Dewantara. Silang pendapat mereka diabadikan dalam Polemik Kebudayaan yang didokumentasikan Achdiat Kartamihardja. 

Di sisi lain, tulisan Mahbub yang dimuat Tempo, 27 Februari 1982 ketika Orde Baru sedang giat-giatnya menganggap agama sebagai residu. Agama dalam hal ini, adalah kalangan Nahdliyin (pesantren). Kalangan penghambat dan beban pembangunan. 

Dengan tulisan itu pula, Mahbub sepertinya ingin menunjukkan kepada Orba bahwa kalangan pesantren itu pemahamannya tidak bisa dikatakan penghambat pembangunan. Lihatlah Kiai As’ad dengan pemikirannya. Mahbub menunjukkan bukti tersebut: 

“Dan kepada saya, Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo ini memikirkan cara bagaimana menerapkan teknologi madya kaum nelayan sepanjang lor Jawa dan seantero Madura dengan pulau-pulau yang tak sanggup saya hafal namanya. Jika ada waktu luang, baik juga Prof. Sutan Takdir Alisyahbana bertukar pandangan dengan beliau seraya santap capcay di rumah makan turis Pasirputih,” ujar Mahbub pada tulisan ”Di Suatu Masa, Sebuah Persoalan” tersebut. 

Hubungan Kiai As’ad dan Mahbub Djunaidi diakui Isfandiari, anak bungsu Mahbub. Kepada sebuah media online, Isfan menyampaikan kesaksian persentuhan ayahnya dengan kiai tersebut. 

“Paling teringat saat bertemu kali pertama dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin di Situbondo, kiai kharismatik yang berselera humor tinggi, juga toleran. Ia pernah mengajak saya ke “gubuknya” di sudut pesantren yang saat itu sudah megah. Kediamannya hanya terdiri atas dipan dan perabot seadanya. Sangat sederhana. Saat itu saya saksi hidup persahabatan ayah dengan Kiai As’ad,” katanya. (Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG