IMG-LOGO
Nasional

Alumni Al-Azhar Mesir Perkuat Pemahaman Moderasi Islam

Selasa 30 Juli 2019 14:36 WIB
Bagikan:
Alumni Al-Azhar Mesir Perkuat Pemahaman Moderasi Islam
Talkshow kebangsaan Alumni Al-Azhar yang digelar di Pondok Pesantren Wali, Salatiga, Jawa Tengah, Ahad lalu.
Salatiga, NU Online
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dari Indonesia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghadang penyebaran pemahaman Islam radikal melalui sosialisasi toleransi dan moderasi Islam ke berbagai lapisan masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan talkshow kebangsaan Menolak Radikalisme Agama yang digelar di Pondok Pesantren Wali, Salatiga, Jawa Tengah, Ahad lalu. 

"Penyebaran radikalisme agama kian memprihatinkan di tengah tengah masyarkat kita, maka peran alumni Universitas Al-Azhar Mesir sebagai perguruan tinggi Islam tertua di dunia sangat diperlukan," papar KH Ahmad Nadzif, salah seorang alumni Al-Azhar dan Pimpinan Pusat GP Anshor yang menjadi narasumber pada acara tersebut.

Menurutnya, Al-Azhar sejak dahulu konsisten mengajarkan nilai-nilai toleransi dan moderasi Islam kepada para mahasiswanya yang belajar di sana, termasuk para mahasiswa dari Indonesia. 

Hal senada ditegaskan oleh KH Sidqon Maesur, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Jateng-DIY dalam sambutannya. "Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan gambaran akan pentingnya toleransi dan moderasi Islam bagi kehidupan dan persatuan Indonesia ke depan," ungkap Kiai Sidqon. 

Dalam talkshow yang dihadiri alumni-alumni Al-Azhar dan puluhan santri mahasiswa itu, Kiai Sidqon juga mengajak para peserta untuk lebih proaktif ikut serta menebarkan pemahaman Islam moderat di tengah tengah masyarakat. "Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah rumah besar kita yang harus bersama sama diselamatkan dari ancaman radikalisme agama yang bisa merorong persatuan kita," tegasnya. 

Bahkan, kata KH Ahmad Nadzif, Indonesia bisa tercerai-berai bila akar-akar radikalisme agama yang sudah akut penyebarannya saat ini tidak segera disikapi. "Kami Alumni Al-Azhar Mesir merasa terpanggil untuk ikut berperan aktif dalam mengokohkan NKRI dari ancaman pemahaman keislaman yang radikal, tidak toleran dan cenderung ingin merusak tatanan kenegaraan Indonesia yang sudah bersama sama disepakati oleh seluruh elemen dan komponen bangsa sejak diproklamasikan pada 17 Agustus 1945," imbuhnya. 

Pada acara itu, para alumni Al-Azhar yang tergabung dalam OIAA sebagai organisasi resmi alumni yang diakui oleh Universitas Al Azhar Mesir juga berkomitmen untuk melakukan berbagai gerakan intelektual dan budaya guna menghadang upaya upaya penyebaran dan pembentukan khilafah Islamiyah  seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ormas-ormasi keagamaan radikal lain yang makin gencar di Indonesia.

"Toleransi dan Moderasi Islam akan terus kami kampanyekan demi tegaknya NKRI," ungkap Kiai Sidqon. 

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Wali, KH Anis Maftuhin, menyatakan mendukung kegiatan kegiatan positif untuk persatuan dan kesatuan Indonesia. "Pesantren pesantren harus menjadi garda terdepan penyelamat keutuhan NKRI," tandasnya. 

Acara Talkshow Kebangsaan ini diprakarsai oleh OIAA dan  akan dilakukan di berbagai pesantren dan kampus di Indonesia. Hadir sebagai narasumber : KH Ahmad Nadzif (Pimpinan Pusat GP Ansor), KH Sidqon Maesur (Ketua OIAA), Marbawi A. Katon (Ketua Gerakan Kebangsaan Rakyat Indonesia/GNKRI) dan Mayor Kav Burhanudin ST (Kasdim 0714 Salatiga). (Red: Fathoni)
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 30 Juli 2019 23:0 WIB
Cegah Perdagangan Anak, Gerakan Sosiokultural Harus Dioptimalkan
Cegah Perdagangan Anak, Gerakan Sosiokultural Harus Dioptimalkan
Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah. (istimewa)
Jakarta, NU Online
Perdagangan anak masih banyak terjadi di Indonesia. Tidak hanya antarkota, tetapi juga antarnegara. Anak-anak dikirim untuk mengisi ruang-ruang kerja seperti asisten rumah tangga (ART) dan sebagainya secara ilegal.
 
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, mengungkapkan, orang tua yang bermigrasi membuat anak-anak rentan dieksploitasi. Tak jarang juga, mereka yang pergi untuk memperbaiki kehidupan justru berakhir pada kematian.
 
"NTT (Nusa Tenggara Timur) menjadi lokus prioritas dalam pencegahan dan program pengawasan karena memang selalu berakhir dengan peti jenazah," katanya kepada NU Online pada Selasa (30/7).
 
Hal itu menjadi tantangan besar pemerintah hari ini. Karenanya, pemerintah memiliki rancangan aksi nasional meliputi berbagai kementerian terkait. Ai menilai, perdagangan anak banyak terjadi karena potensi sumber dayanya yang rendah mengingat keduanya merupakan hal yang tidak terpisahkan.
 
"Kalau saya mengamati ada rangkaian yang tidak terpisah antara orang yang bermigrasi mendapat uang banyak dengan kemampuan potensinya sumber dayanya," ujarnya.
 
Pendidikan yang rendah dengan keterampilan yang minim berbanding terbalik dengan animo mereka yang ingin secara cepat mengubah keadaan. Risiko-risiko yang ditimbulkan harus menjadi gerakan sosiokultural. 
 
Menurut Ai, tokoh agama juga memiliki peran pendampingan dalam mencegah perdagangan anak. Gerakan sosiokultural berjalan atas swadaya dan prakarsa masyarakat itu sendiri, tetapi hal itu masih kurang optimal. Untuk itu, gerakan-gerakan sosiokultural ini harus digarap dengan optimal.
 
"Akan tetapi sejauh mana menjadi gerakan local wisdom, jadi antibodi masyarakat sendiri. Mereka punya dukungan moral, etis, sakral, perintah keagamaan pasti sangat relevan. Sayangnya, hal tersebut belum terorganisasi dengan baik,” paparnya. 
 
Di samping itu, lanjutnya, aparat penegak hukum memandangnya bukan sebagai tindak pidana. Sebaliknya, oknum petugas pemerintah turut membantu proses perdagangan anak, misalnya dengan memalsukan dokumen. 
 
“Malah beberapa ASN justru memalsukan dokumen," jelas aktivis Fatayat NU ini.
Dia menjelaskan, ada banyak kerugian yang bakal dialami orang yang diperdagangkan. Mulai dari bayaran yang rendah, keluarganya terlantar, hingga kematian. Belum lagi harus membayar orang yang menyelundupkannya.
 
Oleh karena itu, Ai menambahkan, persepsi aparat hukum harus diubah untuk membuat orang jera melakukan hal tersebut.
Pencegahan perdagangan anak
 
Pencegahan tentu lebih murah biayanya ketimbang penanganan. Hal ini bisa dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Ai menilai, keluarga merupakan ‘kawah candradimuka’ perlindungan anak.
 
"Karena kerentangan anak yang ditinggal orang tua bekeraja ia menderita kekerasan dan lain-lain," katanya.

Ia mendorong, orang tua sebisa mungkin harus mengontrol pergaulan anak serta memastikan pendidikannya berjalan dengan baik. Dengan itu, maka perdagangan anak akan bisa ditekan. "Pendidikan utuh maka ruang untuk bekerja ke luar negeri dan kota bisa diminimalisasi," jelasnya. (Syakir NF/Muchlishon)
Selasa 30 Juli 2019 21:30 WIB
Pemda Diminta Berperan Bentuk Iklim Demokrasi Sehat di Jawa Barat
Pemda Diminta Berperan Bentuk Iklim Demokrasi Sehat di Jawa Barat
Bandung, NU Online
Komisoner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat, Titik Nurhayati meminta semua pihak ikut sert a membentuk iklim demokrasi yang sehat di kawasan Jawa Barat termasuk pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Menurutnya, demokrasi bukan hanya terkait Pemilihan Umum (Pemilu) melainkan siklus sehingga keberadaanya terus menerus berada di masyarakat. 

“Kita harus melihat Demokrasi itu sebagai siklus jadi tidak berhenti soal pemilu yang selesai tetapi siklus demokrasi memang terus-menerus, setelah terpilih.  Artinya yang dilakukan daerah adalah peran DPRD, peran pemerintah dalam mendukung iklim demokrasi dalam meminmalisir SARA soal kelompok minoritas dan sebagainya,” kata Titik yang juga kader muda NU ini, saat diminta tanggapan suasana kebangsaan Pasca Pemilu di Jawa Barat, Selasa (30/7).

Jawa Barat, kata Titik banyak disorot oleh kalangan aktivis demokrasi di Indonesia sebab tumbuh suburnya penyebaran hoaks. 

Sebagai antisipasinya, semua elemen harus mendorong nilai substansial dari setiap informasi yang berkembang di masyarakat. Hal itu menjadi kunci agar pemerintah sebagai pemangku kebijakan bisa lebih tenang menjalankan proses kebijakan tersebut. 

“Kalau informasi tentang pemerintah daerah positif, Pemda juga akan tenang menyelenggarakan proses kebijakan itu dengan maksimal. Misalnya mau bangun sekolah atau jembatan yang ramai soal isu pengannggarannya dulu,” ucapnya. 

Kemudian, misalnya Pemda akan membangun jembatan, lalu yang ramai di masyarakat soal siapa yang berperan, siapa yang bermain. Padahal ada banyak hal yang juga sesugguhnya penting dibahas misalnya kebermanfaatan fasilitas umum itu untuk siapa. 

Seperti diketahui, pada pesta demokrasi di Indonesia setiap tahunnya, Provinsi Jawa Barat kerap menjadi perhatian. Selain suasananya yang hangat, di kawasan Jawa Barat banyak ber munculan politik identitas yang mengancam persatuan dan kesatuan seperti hoaks. 

Menurut, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tahun 2018 ada tiga daerah yang tingkat penerimaan informasi bohong atau hoaks sangat tinggi. Tiga daerah tersebut adalah Aceh, Jawa Barat, dan Banten.

LIPI ingin memotret tingkat intoleransi di sembilan provinsi di Indonesia yaitu Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Selasa 30 Juli 2019 21:0 WIB
Kagum dengan Pesantren, Rombongan Dokter Asal Hongkong Kunjungi Tebuireng
Kagum dengan Pesantren, Rombongan Dokter Asal Hongkong Kunjungi Tebuireng
Rombongan tim medis dari Hongkong kunjungi Pesantren Tebuireng Jombang
Jombang, NU Online
Yayasan Medical Education Hongkong melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Puluhan tim dari Hongkong ini terdiri dari dokter, mahasiswa (Medical Education), serta pelajar.
 
"Tim yang datang ini sekitar tiga puluh peserta," kata Pengurus Pesantren Tebuireng bidang Protokoler Teuku Azwani, Senin (29/7).
 
Pihak Pesantren Tebuireng menyambut hangat kehadiran tamu dari Hongkong ini. Rombongan tersebut disambut oleh Mudir Pesantren Tebuireng H Lukman Hakim, Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng H Abdul Ghofar, dan Bidang Pendidikan Pesantren Tebuireng dan penjamin mutu pendidikan Pesantren Tebuireng Kusnadi.
 
Pengurus pesantren yang didirikan oleh KH M Hasyim Asy'ari ini menyampaikan pemaparan terkait kepesantrenan dan pendidikan. Selanjutnya, para tamu ini terlibat diskusi terkait Islam dan pendidikan.
 
Penyampaian diskusi ini didampingi langsung oleh dr Jimmy yang bertugas menerjemahkan percakapan pihak Tebuireng ke bahasa Mandarin. dr Jimmy adalah dokter asli Hongkong yang sudah belajar bahasa Indonesia selama sembilan tahun di Konsulat Jendral Republik Indonesi (KJRI). Ia juga salah satu penasihat Rumah Sakit di Surabaya.
 
Dengan adanya kunjungan ini, Pihak Pesantren Tebuireng berharap ada kelanjutan kerja sama. Supaya mempermudah santri Tebuireng yang hendak kuliah, tukar pelajar, bahkan beasiswa di Hongkong.
 
"Setiap tahun di Hongkong ada Summer Break (libur hawa panas), dokter Jimmy mengajak dokter-dokter, guru-guru, dan sedikit murid-murid ke Indonesia untuk memberikan pengobatan gratis serta belajar di Pesantren Tebuireng," ungkapnya. 
 
Menurut Teuku Azwani, relasi antara dr Jimmy dengan Tebuireng itu sudah dekat. Setiap Jimmy ke Indonesia selalu mampir ke Tebuireng. Kali ini dokter yang hadir terdiri dari profesor khusus jantung, dokter mata, dokter lambung, dokter internis, dan dokter umum.
 
"dr Jimmy setahun bisa tiga sampai empat kali beliau mengajak dokter-dokter, mahasiswa Medical Education dan siswa ke Tebuireng untuk belajar tentang budaya Pesantren Tebuireng serta budaya Indonesia, juga pernah datang sendirian," ungkapnya.
 
Menurut Azwan, kunjungan kali ini belum mengadakan pengobatan gratis, karena pertengahan tahun ini masih banyak agenda di Pesantren Tebuireng.
 
Setelah pertemuan dengan pimpinan Tebuireng di meeting room Aula Yusuf Hasyim lantai 2, dr Jimmy beserta rombongan menuju Trensains untuk sharing tentang pentingnya kesehatan dengan para santri Trensains. "Semoga membawa berkah," pungkasnya. (Syarif Abdurahman/Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG