IMG-LOGO
Internasional

Belajar Jadi Jamaah Haji Mandiri ala Mbah Panut

Selasa 30 Juli 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Belajar Jadi Jamaah Haji Mandiri ala Mbah Panut
Mbah Panut (92), jamaah calon haji asal Pringsewu saat di Makkah. (Foto: M Faizin/NUO)
Makkah, NU Online
Namanya Supanut, biasa disapa Mbah Panut. Walau sudah berumur 92 tahun, jamaah calon haji dari Kabupaten Pringsewu, Lampung ini masih memiliki semangat membara untuk menyelesaikan rangkaian ibadah haji yang memang membutuhkan kesehatan dan tenaga prima.
 
Di hari pertamanya menjalankan ibadah sa’i, Senin (30/7), Mbah Panut harus tertinggal oleh rombongan. Pasalnya, setelah prosesi thawaf dilanjut shalat sunah thawaf ia tertidur di Masjidil Haram. Ia mengantuk lantaran setelah menempuh perjalanan pesawat sembilan jam. Malam harinya, mulai pukul 23.00 waktu setempat, ia ikut menyelesaikan ibadah thawaf dan sa’i.
 
“Saya ngantuk banget, Mas. Siangnya nggak tidur, malamnya langsung thawaf. Ketiduran, habis bangun rombongan sudah nggak ada,” kata jamaah dari Kecamatan Banyumas ini mengisahkan awal mula tercecer dari rombongan.
 
Di tengah kerumunan ribuan banyak jamaah dari berbagai penjuru dunia tentu tidak mudah bagi jamaah apalagi usia lanjut untuk mengingat pintu keluar Masjidil Haram dan kembali ke pemondokan. Namun, Mbah Panut mampu menunjukkan diri sebagai jamaah yang mandiri.
 
Pria kelahiran 1928 yang sudah memiliki 42 cucu dan cicit ini dengan segera mencari petugas haji Indonesia untuk diarahkan ke tempat sa’i untuk menyelesaikan rangkaian ibadah umrahnya.
 
“Alhamdulillah bisa selesai sai sendiri sebanyak 7 kali perjalanan,” kata Mbah Panut kepada NU Online sembari menunjukkan gelang karet di tangan kirinya untuk menghitung dan mengingat jumlah perjalanan.
 
Haji Teladan
Untuk kembali ke hotel yang terletak di wilayah Syisyah pun, Mbah Panut bisa pulang sendiri dengan selamat. Kondisi itu bisa menjadi teladan bagi setiap jamaah agar senantiasa mandiri dalam menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. 
 
Hal ini juga yang ditekankan Bupati Pringsewu KH Sujadi saat melepas jamaah calon haji dari kabupaten yang dipimpinnya. Ia meminta para jamaah calon haji untuk bisa mandiri dan bisa saling menolong serta membantu sesama jamaah haji yang lain jika menemui permasalahan.
 
Kemandirian ini terwujud dalam bentuk tidak selalu menggantungkan diri kepada petugas dan pembimbing baik sebelum keberangkatan, selama berada di Tanah Suci, hingga kembali pulang. 
 
Para jamaah sebaiknya mempelajari sendiri situasi dan kondisi Makkah, Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya. Selain mandiri dalam perjalanan dan manasik, jamaah juga diimbau mandiri dalam kesehatan.
 
Hal ini dimaksudkan bagi jamaah yang memiliki penyakit tertentu dan membutuhkan obat-obatan khusus atau penanganan tertentu, hendaknya mempersiapkannya sejak dari Tanah Air. (Muhammad Faizin/Musthofa Asrori)
 
Bagikan:
Senin 29 Juli 2019 23:59 WIB
Kakak Raja Salman, Pangeran Bandar bin Abdulazis Meninggal Dunia
Kakak Raja Salman, Pangeran Bandar bin Abdulazis Meninggal Dunia
Raja Salman (kiri) bersama dengan almarhum Pangeran Bandar (Arab News)
Riyadh, NU Online
Kakak laki-laki Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis, Pangeran Bandar bin Abdulazis al-Saud, dikabarkan meninggal dunia pada Ahad (28/7) petang waktu setempat. Dia wafat di usia 96 tahun.  

“Yang Mulia Pangeran Bandar bin Abdulaziz al-Saud meninggal dunia di usia 96 tahun," kata pengadilan kerajaan, seperti diberitakan kantor berita resmi Saudi, SPA. 
 
Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematian sang pangeran. Tapi beberapa lokal memberitakan bahwa almarhum telah menderita penyakit selama beberapa tahun. 

Jenazah Pangeran Bandar akan dishalatkan pada hari ini, Senin (29/7) setelah Shalat Isya di Masjidil Haram, Makkah. "Shalat jenazah akan digelar untuk arwah almarhum, pada Senin (29/7/2019), di Masjidil Haram, Mekah,” imbuh pernyataan tersebut.

Almarhum Pangeran Bandar adalah putra kesepuluh dari pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdulazis, dan anggota tertua dari keluarga yang berkuasa. Dilaporkan, dia bukan lah anggota politik aktif dari keluarga Kerajaan al-Saud.
 
Namun demikian, anak-anak almarhum Pangeran Bandar menduduki beberapa posisi strategis. Diantaranya Pangeran Abdullah bin Bandar menjabat sebagai Kepala Garda Nasional Arab Saudi dan Pangeran Faisal bin Bandar sebagai Gubernur Riyadh. (Red: Muchlishon)
Senin 29 Juli 2019 21:0 WIB
Negosiasi Myanmar-Rohingya Soal Kewarganegaraan Berakhir tanpa Kesepakatan
Negosiasi Myanmar-Rohingya Soal Kewarganegaraan Berakhir tanpa Kesepakatan
Para pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh (Reuters).
Cox’s Bazar, NU Online
Delegasi Myanmar dan wakil Rohingya bertemu dalam sebuah forum di Cox’s Bazar, Bangladesh, akhir pekan kemarin untuk membahas hak kewarganegaraan Rohingya. Namun pembicaraan itu masih buntu alias tidak menghasilkan kesepakatan pada kedua belah pihak.

Salah satu dari 35 perwakilan Rohingya yang ikut dalam dialog tersebut mengatakan, pihak Myanmar masih belum bersedia untuk mengubah Hukum Kewarganegaraan 1982. Menurutnya, peraturan tersebut sangat kontroversial.

“Mereka (pemerintah Myanmar) masih belum sepakat untuk mengubah Hukum Kewarganegaraan 1982, yang kontroversial, untuk memberi hak kewarganegaraan buat Rohingya dan mereka ingin kami pulang sebagai migran baru atau pendatang baru," katanya, dilaporkan kantor berita Anadolu, Ahad (28/7).

Menurutnya, delegasi Myanmar menawari para pengungsi Rohingya sebuah kartu. Kartu itu nantinya berfungsi untuk mengidentifikasi mereka sebagai pendatang baru atau migran. Dia menyebut, kebijakan itu bukanlah hal yang baru bagi warga Rohingya.
 
"Ini bukan hal baru bagi kami. Jika kami menyetujui proposal ini, berarti kami kembali menjadi mengsa pihak berwenang Myanmar," katanya.

Delegasi Rohingya itu menegaskan, para pengungsi Rohingya sangat berharap pemerintah Myanmar memberikan status kewarganegaraan kepada mereka. Ia menilai, jaminan keamanan yang diberikan UNFP (Dana Populasi PBB) dan UNDP (Program Pembangunan PBB) tidak cukup bagi mereka, tanpa hak kewarganegaraan.

Sementara Komisaris Pemulangan dan Bantuan Pengungsi di Bangladesh (RRRC) Abul Kalam Azad mengatakan, delegasi Myanmar telah mencatat semua tuntutan pengungsi Rohingya. Mereka akan kembali ke Myanmar dan mendiskusikan tuntutan pengungsi Rohingya tersebut dengan pemimpinnya. Diketahui, delegasi Myanmar dipimpin oleh Sekretaris Permanen Urusan Luar Negerinya U Myint Thu.

Ini merupakan tahap kedua pembicaraan antara delegasi Myanmar dan perwakilan pengungsi Rohingya. Negosiasi berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Sabtu (27/7), berlangsung selama tiga jam tanpa ada terobosan. Pertemuan kemudian dilanjutkan pada Ahad (28/7) selama tiga jam setengah. Akan tetapi, lagi-lagi tidak ada kesepakatan mengenai hak kewarganegaraan di pertemuan hari kedua ini. (Red: Muchlishon)
Senin 29 Juli 2019 19:15 WIB
Gaul dengan Muslim Indonesia, Warga Jepang Baca Syahadat di Masjid Nusantara
Gaul dengan Muslim Indonesia, Warga Jepang Baca Syahadat di Masjid Nusantara
Proses masuk Islam Ryo Ishiwatari (membelakangi kamera).
Jakarta, NU Online
Ryo Ishiwatari banyak bergaul dengan masyarakat Muslim Indonesia yang tengah menjalani kehidupan di Jepang. Pria berusia 29 tahun itu melihat berbagai kegiatan keagamaan yang dilakoni mereka. Tak ayal, ia tertarik untuk turut memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw itu.
 
Ryo mengikrarkan diri memeluk agama Islam di Masjid Nusantara, Akihabara, Tokyo, Jepang, Sabtu (27/7). Ia dibimbing langsung oleh Ustadz Mahbuby, Imam Masjid Nusantara. Sebelum menuntunnya membacakan kalimat syahadat, ia lebih dulu menegaskan bahwa keinginannya masuk Islam bukan karena terpaksa.

"Kami menanyakan, apakah Anda masuk Islam dalam keadaan terpaksa?" tanyanya, seperti dalam video yang diterima NU Online, Senin (29/7).
 
"Tidak," jawabnya.
 
Ustadz Mahbuby pun menjelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. "Masuk Islam harus tidak ada paksaan," jelasnya.

Setelah membaca syahadat, Ustadz Mahbuby menyampaikan ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan selepas orang menjadi Muslim, yakni melakukan lima rukun Islam, yakni membaca syahadat, melaksanakan shalat, puasa Ramadhan, menunaikan zakat, dan berhaji bila mampu.
 
Pembacaan syahadat itu disaksikan langsung oleh Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang Miftakhul Huda dan Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jepang Muhammad Anwar, serta jamaah Masjid Nusantara.

Muhammad Anwar memberikan nama tambahan Musa untuk Ryo Ishiwatari. Pasalnya, kata terakhir namanya, katanya, berarti yang membelah. Dalam sejarahnya, Nabi Musa as merupakan sosok  yang mendapat mukjizat membelah lautan.
 
"Karena arti dari Ishiwatari yang membelah sesuatu, dan Musa dengan mukjizatnya membelah lautan. Itu alasannya," katanya.

Sementara itu, Ketua PCINU Jepang Miftakhul Huda berpesan bahwa Islam merupakan agama damai. Jangankan membunuh, minum alkohol saja dilarang.
 
"Islam adalah agama damai, jadi kalau sudah masuk Islam, jangankan membunuh orang tak bersalah, minum alkohol aja sudah tidak boleh sama sekali," ujarnya kepada pria asal Chiba, Jepang itu.
 
Ia pun menandatangani sertifikat bukti keislamannya bersama dua saksi dan pembimbingnya. Selepas itu, seluruh jamaah yang hadir berdiri melantunkan shalawat dengan diiringi hadrah. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG