IMG-LOGO
Nasional

Semangat ‘Menjadi Suci kembali’ Melalui Ibadah Haji

Rabu 31 Juli 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Semangat ‘Menjadi Suci kembali’ Melalui Ibadah Haji
Sumber https://qz.com

Jakarta, NU Online

 

Bagi umat Islam, Ibadah Haji merupakan salah satu ibadah yang sangat sakral. Ibadah ini diwajibkan untuk semua umat Islam sekali seumur hidup. Allah SWT menjanjikan imbalan Surga untuk hamba Allah yang berhasil menjalankan Haji Mabrur.

 

Ibadah satu ini dipercaya memiliki hikmah yang sangat besar bagi muslim yang mampu menjalankannya. Jamaah haji akan merasakan spirit kehidupan yang mencakup penciptaan, sejarah, tauhid, aqidah Islam hingga semangat ukhuwah yang medalam selama proses ibadah ini.

 

“Siapapun yang menghayati ritual ibadah Haji, maka ia akan menemukan hakikat penciptaan. Kita terlahir dalam keadaan suci dan kembali dalam keadaan suci,” ujar tokoh muda Nahdlatul Ulama, kang Maman Imanulhaq di Jakarta, Rabu (31/7).

 

Maman menambahkan bahwa dalam manasik haji ditiupkan kesadaran tentang kelahiran yang suci dan merdeka. Ia mengutip pernyataan Umar bin Khattab, yang pernah mengingatkan “Bagaimana kalian bisa menjajah manusia padahal mereka terlahir merdeka oleh sang ibu," ucapnya.

 

Dalam ibadah Haji ini, para jamaah dingatkan tentang kepulangan sebagai sebuah proses menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, dan nilai. Karenanya, perjalanan haji tidak cukup hanya dengan kepulangan di tanah air dengan sebutan atau gelar “Haji”, lebih dari itu harus membawa kemabruran atau kehidupan yang lebih baik.

 

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka ini menggambarkan bagaimana haji menghadirkan figur-figur penting seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar. Mereka mewariskan kesalehan, keteguhan dan keteladanan. “Kemabruran seseorang akan terlihat dari kesalehan yang ia lakukan, baik kesalehan personal maupun sosial,” tuturnya.

 

Kesalehan sosial yang dimaksudkannya antara lain adalah sikap menanggalkan ego, nafsu dan keangkuhan, sebagaimana yang tersirat pada puncak haji saat wukuf di Arafah, di mana seorang muslim hanya mengenakan selembar kain ihram. (Red: Ahmad Rozali)

Bagikan:

Baca Juga

Rabu 31 Juli 2019 23:40 WIB
Di Hadapan Dedy Corbuzier, Kiai Said: Islam Bisa Hapus Dosa yang Telah Lalu
Di Hadapan Dedy Corbuzier, Kiai Said: Islam Bisa Hapus Dosa yang Telah Lalu
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Deddy Corbuzier dalam istighotsah di Gedung PBNU, Rabu (31/7) malam.
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa Dedy Corbuzier masuk Islam bukan karena paksaan atau teror dari pihak manapun, melainkan semata-mata atas hidayah dari Allah SWT. Menurut Kiai Siad, setelah resmi masuk Islam, dosa-dosa Dedy yang telah lalu pun hangus atas ampunan Allah.

“Islam itu bisa menghapus dosa-dosa yang telah lalu,” kata Kiai Said saat memberikan sambutan pada Istighotsah yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (31/7).

Secara lebih luas, Kiai Said mengingatkan peserta istighotsah agar tidak putus asa terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya. Sebab ampunan Allah tiada permulaan dan tidak berujung. 

Kiai alumnus Universitas Ummul Qurra Mekkah, Arab Saudi itu lantas mencontohkan, jika ada seseorang hidup selama 100 tahun, maka dosanya hanya seusianya atau terbatas.

“Jadi dosanya kita ini, orang yang 100 tahun dosa, itu seperti air satu tetes jarum dari air laut. Siapa pun manusia dosanya besar, terbatas dengan usianya, 100 tahun, 150 tahun kek, tapi maghfiratullah la bidayah wa la nihayah,” jelasnya.

Kiai Said lantas menjelaskan tentang makna Islam. Menurutnya, Islam berasal dari kata salam atau salamatun, yakni selamat. Sehingga menurutnya, muslim harus bisa memberikan keselamatan, rasa aman dan damai kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya.

“Kalau tetangganya orang Islam gelisah, resah, bahkan takut, itu islamnya belum selesai,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, Islam juga bisa berasal dari kata taslim, yakni menyerah total kepada Allah. Menurutnya, Siapa pun tidak ada yang bisa diandalkan oleh makhluk, kecuali Allah.

“Itu namanya Islam dari kata taslim,” ucapnya.

Penceramah pada istighotsal kali ini diisi oleh Ustadz Miftah Maulana Habiburrahman. Hadir pada istighotsah, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Sekjen PBNU H A. Helmy Faishal Zaini, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, H Eman Suryaman, Habib Salim bin Jindan, Sekretaris LD PBNU H Bukhori Muslim, dan Mentalis Dedy Corbuzier. (Husni Sahal/Fathoni)
Rabu 31 Juli 2019 23:15 WIB
TWEET TASAWUF
Pentingnya Terus Bersyukur Bagi Setiap Muslim
Pentingnya Terus Bersyukur Bagi Setiap Muslim
Ilustrasi (via iStock)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menekankan pentingnya bersyukur bagi setiap Muslim. Karena menurutnya, amalan tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menambah kemuliaan di sisi-Nya.

“Terus bersyukur, bertambah usia, ilmu dan iman. Bertambah dekat kepada Allah SWT, bertambah kemuliaan hati melimpah, hingga bertambah tak peduli pada selain Allah, hingga sangat-sangat peduli kepada selain-Nya karena Dia. Terus bersyukur karena memandang-Nya dibalik Ciptaan-Nya,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Rabu (31/7) lewat twitternya.

Menurut Direktur Sufi Center itu, siapa yang tidak bersyukur, tidak akan bersabar. Siapa yang tidak bersabar tidak akan tawakal. Siapa yang tidak tawakal tidak bisa ridho kepada-Nya, siapa yang tidak ridho kepada-Nya, ia tak akan mengembalikan diri kepada-Nya.

“Yang tidak bisa kembali kepada-Nya, tidak akan bisa melihat-Nya,” jelas Kiai Luqman.

Mengapa orang yg tidak bersyukur jadi tersiksa? Menurutnya, karena ia telah terhijab dari Sang Pemberi Nikmat. Hakikat siksa adalah terhijab dari-Nya.

“Seluruh nikmat yang dianugerahkan padamu agar kamu dekat kepada-Nya dan memandang-Nya. Semua siksa yang menimpamu, karena engkau jauh terhijab dari-Nya,” ungkap penulis buku Jalan Ma’rifat ini.

Lebih jauh Kiai Luqman menjelaskan bahwa perilaku syukur juga harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena sebagai warga negara, tahap bersyukur merupakan hal penting.

Ia melihat, bangsa Indonesia ini lebih yakin kepada diri sendiri, pada persoalan moneter, perusahaan, dan kekuasaan. Tahap bersyukur merupakan langkah penting untuk memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki negara.

“(Kita) lebih yakin pada diri sendiri, pada moneter, pada perusahaan, dan pada kekuasaan,” tutur Praktisi Tasawuf ini.

Dengan kata lain, menurut Kiai Luqman, bangsa ini mengalami krisis syukur kepada Allah. Hal ini tidak sebanding dengan ungkapan rasa syukur bangsa ini pada situasi dan dukungan yang hadir kepadanya.

“Bangsa ini mengalami krisis syukur kepada Allah, lebih syukur pada situasi dan dukungan. Bangsa ini krisis ikhlas, lebih senang dengan riya' dan takjub diri,” tandasnya. (Fathoni)
Rabu 31 Juli 2019 22:45 WIB
Mengenang Mahbub Djunaedi Sang Pendekar Pena
Mengenang Mahbub Djunaedi Sang Pendekar Pena
PW LTNNU NTB gelar diskusi mengenang Mahbub Djunaedi
Mataram, NU Online
Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nadhlatul Ulama (LTNNU) Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperingati Hari Lahir ke-85 Mahbub Djunaedi bertempat di De Lima Caffe Jln Bungkarno Kota Mataram, Rabu (31/07) sore.
 
Kegiatan yang menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan tokoh akademisi,  politisi,  dan praktisi. Hadir pula wartawan senior yang juga Pimred Lombok Post TV Rudi Hidayat, Akademisi UIN Mataram Moh Saleh Ending, Sekretaris IKA PMII NTB Akhdiansyah, dan sekitar 50 kader Badan Otonom NU serta PMII yang ada di Kota Mataram. 
 
Dalam kegiatan tersebut Akhdiansyah menjelaskan bahwa gagasan Mahbub Djunaedi memberikan peran penting dalam partisipasi politik kebangsaan dengan lahirnya khitah plus untuk mendirikan PKB. 
 
"Salah satu gagasan politik kebangsaannya adalah khitah plus untuk lahirnya PKB dari tubuh NU," ungkap politikus sekaligus Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) NTB ini. 
 
Pimred Lombok Post TV Rudi Hidayat menjelaskan juga sosok Mahbub Djunaedi, dirinya berharap lahir dari kalangan generasi aktivis muda milenial sekarang supaya dunia jurnalis semakin kuat. 
 
"Kita butuh sosok Mahbub Djunaedi era milenial, sosok jurnalis yang kuat," ungkapnya. 
 
Akademisi dan WD 2 Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Mataram, Saleh Ending menerangkan bahwa kehadiran Mahbub Djunaedi adalah tonggak rumah generasi muda yakni Pergerakan Mahasiswa IsIam Indonesia (PMII). 
 
"Beliau adalah sosok pendiri sekaligus Ketua Umum pertama PB PMII tahun 1960 dan merupakan dasar kebangkitan generasi muda Indonesia," kata Pengurus NU NTB ini. 
 
"Kenangan terbaik untuk sosok Mahbub Djunaedi adalah doa dan gagasan-gagasannya perlu dihidupkan kembali," imbuhnya. 
 
Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta, 27 Juli 1933 dan meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, 1 Oktober 1995 pada umur 62 tahun. Dia seorang sastrawan Indonesia.
 
Ayahnya, H Djunaidi adalah seorang tokoh NU dan anggota DPR pemilu 1955. Ia merupakan anak pertama dari 13 saudara. Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta, tetapi harus pindah ke Solo karena kondisi di Jakarta yang sedang bergejolak. Selama di Solo, ia bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum. 
 
Pada saat itulah, ia mulai mengenal beragam karya sastra mulai dari Mark Twain, Sutan Takdir Alisyahbana dan lain-lain. Ia terkenal sebagai tokoh wartawan dan sastra. Selain itu, ia merupakan aktivis PMII dan Ketua Umum PB PMII pertama. Karya-karyanya banyak beredar. (Hadi/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG