IMG-LOGO
Pustaka

Gus Dur dan Negara Bukan-Bukan

Kamis 1 Agustus 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Negara Bukan-Bukan
Buku Negara Bukan-Bukan karya Nur Khalik Ridwan.
Pergolakan dalam membangun negara dengan segala sistemnya telah mewarnai bangsa Indonesia. Hal itu terlihat ketika sejumlah kelompok berupaya melakukan pemberontakan agar sistem yang menjadi cita-citanya diterapkan di Indonesia. Namun, berkat briliannya para pendiri yang bangsa yang pemikiran moderat dan terbuka membuat masyarakat Indonesia tetap bersatu sebagai sebuah negara bangsa dengan pondasi kokoh Pancasila.

Buku yang ditulis Nur Khalik Ridwan ini berusaha mengulas prisma pemikiran Gus Dur tentang negara bangsa yang berlandaskan Pancasila. Penguatan negara bangsa terus dilakukan oleh Gus Dur karena secara kultur dan kemajemukan, rakyat Indonesia lebih tepat untuk hidup bersama yang diikat oleh konsensus kebangsaan. Bukan negara agama, bukan juga negara yang memisahkan diri dari agama (sekuler).

Karena Indonesia bukanlah negara agama tetapi negara orang-orang beragama dan bukan pula negara sekuler, Almarhum KH Ahmad Hasyim Muzadi pernah melontarkan guyonan bahwa negara Indonesia adalah ‘negara yang bukan-bukan’. Dari humor menggelitik tapi penuh makna tersebut, Nur Khalik Ridwan berupaya melacaknya lewat pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang negara Pancasila.

Penulis buku menyadari bahwa masih ada sekelompok Muslim yang masih mempersoalkan Pancasila. Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang banyak menginspirasi masyarakat Indonesia akan arti kebangsaan yang harus terus dijaga, dirawat, dan dimajukan demi kehidupan kemanusiaan yang lebih luas. Gus Dur bersama ulama-ulama pesantren juga menggagas penerimaan negara Pancasila di kalangan Muslim serta bangsa Indonesia sambil memberi catatan-catatan dan isi yang progresif.

Muktamar NU 1984 menjadi tonggak sejarah bagi NU, organisasi para kiai pesantren ini untuk kembali ke Khittah 1926. NU menegaskan diri sebagai Jami’yyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi sosial kegamaan) sesuai amanat pendirian organisasi pada 1926, bukan lagi sebagai organisasi politik praktis.

Dalam Muktamar itu ada tiga komisi, salah satunya adalah komisi khittah yang membahas paradigma, gagasan dasar, dan konsep hubungan Islam dan Pancasila. Dua komisi lain membahas tentang keorganisasian yang dipimpin oleh Drs Zamroni dan komisi AD/ART dipimpin oleh KH Tholhah Mansur. Dengan jumlah anggota rapat komisi yang cukup banyak, mereka membahas secara terpisah di tempat yang berbeda.

Gus Dur memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Salah seorang cucu Hadhtrassyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari  (1871-1947) ini kemudian menunjuk lima orang kiai sebagai anggotanya, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, KH Hasan dari Medan, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, dan dr Muhammad dari Surabaya.

Gus Dur membuka rapat dengan bertanya kepada anggotanya satu per satu soal pendapatnya tentang hubungan Islam dan Pancasila. Mereka menyampaikan pandangannya terhadap satu per satu sila dalam Pancasila disertai sejumlah argumen keagamannya. Gus Dur mendengarkan dan menyimak dengan penuh perhatian.

Pada dasarnya, Pancasila menurut para kiai dalam subkomisi ini tidak bertentangan dengan Islam, justru sebaliknya sejalan dengan nilai-nilai Islam. “Pancasila itu Islami,” simpul mereka seperti diungkapkan Gus Mus.

Usai mereka menjawab, Gus Dur berkata, “Bagaimana jika ini (Pancasila itu Islami, red) saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” tanya Gus Dur. Tanpa pikir panjang, mereka setuju, sepakat bulat, lalu rapat ditutup. “Al-Fatihah!” Menurut pengakuan Gus Mus, kala itu Gus Dur tersenyum manis, ya manis sekali.

Lalu Gus Mus memberikan kesaksian, “Gus Dur hebat sekali. Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing.”

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Gus Dur melihat perlunya dikembangkan pemikiran untuk mencari nilai-nilai dasar bagi kehidupan bangsa. Nilai-nilai dasar itu bisa ditarik dari dua arah. Pertama, nilia-nilai agama dan kepercayaan, karena ajaran agama akan tetap menjadi referensi umum bagi Pancasila.

Kedua, bisa juga dilihat dengan cara bahwa agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan harus memperhitungkan eksistensi Pancasila sebagai ‘polisi lalu lintas’ yang akan menjamin semua pihak bisa menggunakan jalan raya kehidupan bangsa tanpa terkecuali. Selamat membaca!

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, penulis buku "Islam Nusantara dalam Pemikiran KH Abdurrahman Wahid"

Identitas buku
Judul: Negara Bukan-Bukan: Prisma Pemikiran Gus Dur tentang Negara Pancasila
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit: IRCiSoD
Cetakan: Pertama, April 2018
ISBN: 978-602-7696-29-7
Tebal: 255 halaman
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 15 Juli 2019 12:26 WIB
Rujukan Hadits Amaliyah Warga NU
Rujukan Hadits Amaliyah Warga NU
null
Dinamika keilmuan Islam hari ini selalu berbicara hadis. "Apakah yang anda bicarakan ada hadisnya?" Jika ada, maka anda yang memenangkan diskusinya. Jika tidak ada, maka tuduhan bid'ah dan anggapan menambah-nambahkan harus siap anda terimanya. Pernahkah anda melihat seseorang -atau segolongan umat muslim- yang sedikit-sedikit bicara bid'ah karena amaliahnya berbeda dengan amaliah mereka?

Ketika globalisasi yang dibawanya kian memasuki sendi-sendi kehidupan, maka apa-apa yang awalnya sulit kini telah menjadi tanpa batas. Setiap orang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara mudah, meski dengan jarak yang relatif jauh. Kalau dulu harus berjam-jam untuk sampai ke suatu tempat, sekarang sudah bisa dilalui dengan waktu yang relatif singkat. Karena itu, modernitas telah mengubah pola komunikasi yang dibatasi oleh ruang dan waktu menjadikan pola konsumsi informasi tanpa batas.

Coba anda saksikan saat ini, sudah banyak orang-orang yang telah menggunakan teknologi. Tua maupun muda. Fahrur Rozi dalam Jawa Pos Radar Madura, Berpuasa Media Sosial pada, 23 Mei 2019 menulis bahwa, dalam analisis we are sosial Hootsuite menyebutangkan 150 juta jiwa atau 56 persen dari populasi penduduk Indonesia. 

Lewat riset yang dirilis pada Januari 2019 tersebut, ditemukan juga bahwa pengakses media sosial lewat ponsel 130 juta jiwa. Ini menandakan bahwa pengakses melalui ponsel -sampai batas tertentu- jauh lebih banyak ketimbang lewat laptop maupun komputer.

Dari analisis di atas, benar apa yang dituturkan Rozi bahwa besarnya data ini menunjukkan bahwa media sosial kita memiliki banyak penghuni. Dari media ini seringkali terjadi cekcok antara yang satu dengan yang lain. Pun demikian, pemelintiran data seringkali ditemukan di media sosial ini.

Karena itu, Prof KH Abd. A'la Basyir menegaskan agar kaum muslim harus bersatu padu dan menyatukan langkah untuk menentukan agenda transformatif yang menjadikan bangsa benar-benar berdaya, tidak kehilangan jati diri, dan memiliki daya saing tinggi dalam era globalisasi ini.

Di era globalisasi ini penting kiranya ada tindak lanjut penyelamatan terhadap agama maupun akidah sempalan yang terkadang memanfaatkan teknologi. Untuk membentengi diri kaum muslimin, maka diperlukan strategi dakwah sebagai upaya membentengi agama dan akidah dari pemahaman yang tidak sesuai dengan akidah yang benar.

Era modern saat ini cukup signifikan bagi kalangan tertentu yang tidak suka pada NU untuk menggoyangkan pemahaman Nahdliyin dengan bumbu-bumbu yang sangat rapi dengan dibungkus agama. Mereka ini menjadikan teknologi informasi sebagai instrumen memasarkan dagangannya.

Mereka mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, kemudian dengan jumawa mengafir-syirikkan kelompok lain; merasa paling intelek hanya dengan mengutip satu dua baris pendapat; hanya tahu sangat sedikit tentang jauh lebih sedikit hal, tapi merasa tahu banyak tentang sangat banyak hal.

KH Hasyim Asy'ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, menyampaikan bahwa ada suatu golongan yang dengan sengaja terjun ke lautan fitnah dan mereka melakukan bid'ah di luar Sunnah Rasulullah SAW. Walaupun demikian, orang mukmin yang tahu akan kebenaran, bersikap diam dan tidak bergerak memberantas perbuatan bid'ah tersebut.

Maka, golongan ahli bid'ah dengan seenaknya saja memutar balikkan kenyataan atau kebenaran. Yang baik dilingkari, yang mungkar dijalani. Mereka ahli-ahli bid'ah tersebut kelihatannya mengajak kembali ke Alquran, akan tetapi sebenarnya mereka sendiri tidak berbuat demikian...dengan demikian bertambah besarlah debu kegelapan sehingga orang-orang yang tidak menerima Taufik dan hidayah Allah akan tertarik oleh gerakan mereka.

Kehadiran buku kecil ini datang di saat-saat yang sangat tepat karena hadir dalam konteks di mana tradisi menyambung sanad keilmuan agaknya kurang begitu diperhatikan akhir-akhir ini. Banyak orang-orang sudah melupakan guru yang pertama kali mengajarkan alif sampai ya dan lebih memilih ustadz-ustadz yang tiba-tiba muncul di medsos.

Ternyata, amaliah NU memiliki banyak dalil hadits, dan ini diamalkan oleh umat Islam di berbagai dunia. Buku ini merangkum 40 hadis sahih yang menjadi dalil akidah dan amaliahnya warga NU, bahkan cinta tanah air. Karena itu, buku ini tidak sekadar menarik, tetapi juga penting.


Peresensi adalah Ashimuddin Musa, alumnus MA Tahfidh Annuqayah asal Prang Alas Pakamban Daya Pragaan Sumenep

Identitas buku
Judul: 40 Hadis NU
Penulis: M. Ma'ruf Khozin
Penerbit: PW LTNNU Jawa Timur
Tahun Terbit: Februari 2019
Tebal Halaman: xiv+46 halaman
ISBN: 978-602-50207-7-3
Rabu 10 Juli 2019 13:0 WIB
Memahami Pokok Ajaran Islam: Belajar dari Quraish Shihab
Memahami Pokok Ajaran Islam: Belajar dari Quraish Shihab
Akhir-akhir ini isu agama sering diangkat dan diperbincangkan bukan hanya oleh kalangan masyarakat kampung yang identik dengan rutinitas budaya ritual dan spiritualnya, namun juga oleh para kalangan elit yang identik dengan popularitas dan ambisi politiknya. Dalam menyikapi fenomena ini, di satu sisi umat muslim patut bersyukur karena pada kenyataannya Islam sudah berkembang dan diterima oleh hampir semua lapisan masyarakat.

Namun, di sisi lain, mereka juga patut prihatin atas isu-isu negatif yang kerap kali dilekatkan pada ajaran Islam seperti intoleran, fanatisme, radikalisme, anarkisme, dan terorisme. Apalagi setelah selama hiruk pikuk politik beberapa bulan terakhir ini, umat Islam ditampilkan seperti sedang ‘berperang’ melawan saudaranya sendiri, maka semakin melekatlah cap-cap negatif tersebut.

Menanggapi situasi di atas, banyak ulama dan dai Indonesia tampil untuk mengetengahkan permasalahan umat yang sedang terjadi sekaligus meluruskan pandangan negatif terhadap Islam. Sebut saja Gus Mus, Gus Baha, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, dan dai-dai kondang lainnya tak terkecuali sekaliber Prof Dr M. Quraish Shihab, penulis buku yang sedang dibahas dalam tulisan ini. Sebagai cendekiawan Muslim, selain mengisi pengajian umum, mufassir kebanggaan Indonesia tersebut memberikan kontribusinya dalam mengayomi umat dengan menulis sebuah buku yang membahas dasar-dasar pokok ajaran Islam berjudul Islam yang Saya Anut: Dasar-Dasar Pokok Ajaran Islam.

Umum diketahui, sebuah teks tidak lahir dari rahim kekosongan. Setiap teks mempunyai konteks yang melahirkannya. Buku ini lahir dalam konteks di mana Islam marak dipertanyakan oleh banyak orang awam. Ketika Islam mulai diterima oleh khayalak, dan mereka pun tertarik untuk mendalami ajaran Islam, kondisi masyarakat Muslim yang tampil 'tidak akur' mungkin saja memberi kesan yang buruk.

Mereka acapkali disuguhkan berita mengenai sikap sebagian kelompok muslim yang merasa paling benar sendiri dan menganggap kelompok lain –yang kadang juga merasapaling benar-salah bahkan sampai berani mengkafirkan masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka. Kondisi ini kemudian memicu munculnya pertanyaan besar di benak mereka, seperti inikah ajaran Islam?

Sesuai dengan judulnya, dalam buku ini Quraish Shihab mencoba merangkum ajaran-ajaran pokok Islam yang menjadi fondasi dasar keberagamaan umat muslim. Dimulai dengan pengantar tentang asal muasal keragaman pendapat dalam Islam, sejarah dan pengertian agama, dan manusia serta evolusinya, penulis mengajak pembaca menelusuri sejarah untuk memahami konteks beragama saat ini. Hal tersebut penting agar pembaca tidak ahistoris terhadap kondisi keragaman beragama umat manusia masa kini, terutama umat muslim yang menjadi objek buku ini. Tiga bahasan penting tersebut menjadi latar penulis untuk memberikan penjelasan mengenai ajaran-ajaran pokok Islam.

Sama seperti buku-buku ajar Islam pada umumnya, Quraish Shihab menjadikan aqidah, syariah, dan akhlak sebagai bahasan utama. Pembahasan tema-tema tersebut diuraikan secara gamblang mulai dari hal umum –seperti rukun iman dan islam- hingga mengerucut pada hal-hal khusus –terkait berbagai macam rincian pengamalan dari yang umum tadi- termasuk yang dianut oleh penulis. Tak hanya itu, dalam pemaparannya, Quraish Shihab tak segan memberikan dalil naqli (al-Qur’an, Hadis, ijma’, dan qiyas) dan ‘aqli (rasional) terkait apa dan mengapa ia menganut aliran tertentu. Dengan begitu, penulis telah memetakan posisinya dalam pengamalan agama agar dimaklumi oleh pembaca.

Melalui buku ini, Quraish Shihab tampaknya ingin memberi pengertian pada khalayak umum, bahwa apa yang telah dipilihnya bukan berarti harus diikuti oleh orang lain. Dalam Islam, perbedaan dalam mengamalkan rincian agama Islam adalah hal lumrah. Sejak dulu, perbedaan pendapat antar ulama sering terjadi. Bahkan, perbedaan bisa juga terjadi antara dua orang nabi yang hidup semasa dan di lokasi yang sama dengan kasus yang sama. Selain faktor internal dari pemahaman atas teks al-Qur’an dan Hadis, ada beberapa faktor eksternal seperti kebiasaan suatu masyarakat yang tidak bertentangan dengan tuntunan agama yang bersifat pasti (qath’i), perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial masyarakat, serta kecenderungan pribadi masing-masingmenjadi alasan penting untuk memahami perbedaan (hlm. 4).

Toh, pada akhirnya yang paling penting adalah saling menghargai pendapat. Pendapat-pendapat tersebut sama-sama berpotensi salah dan benar. “Pendapat kami benar, tapi mengandung kemungkinan salah; pendapat yang berbeda dengan kami salah, tapi mengandung kemungkinan benar.” (hlm. 21)

Selain itu, Quraish Shihab juga menekankan bahwa dalam pengaplikasian ajarannya, Islam mengedepankan akhlak. Dalam hal ini, ia mengartikulasikan term akhlak sebagai sopan santun. Hal inilah yang perlu diacuhkan, dicamkan, dan dipraktikkan oleh umat Muslim dewasa ini. “Kita dapat berkata bahwa akhlak dan sopan santun yang diajarkan Islam mencakup sekian banyak nilai luhur yang hendaknya menghiasi kepribadian Muslim. Nilai-nilai ini disebut secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, di antaranya ketulusan, rahmat dan kasih sayang, amanat, kejujuran, kesungguhan, lapang dada dan toleransi, sabar, rasa malu, harga diri/kemuliaan, menghargai waktu, dan lain-lain.” (hlm. 305)

Menilik pernyataan di atas, tampak sekali bahwa Quraish Shihab ingin mengingatkan umat muslim akan jati dirinya yang seharusnya berjiwa dan bertindak secara positif. Di sisi lain, ia juga menegaskan kepada para pembaca bahwa Islam tidak pernah sekalipun mengajarkan nilai-nilai yang negatif. Islam adalah agama yang damai, indah, dan santun. Dengan demikian, maka tertolaklah anggapan negatif yang dikaitkan dengan ajaran Islam selama ini. Kalau pun masih ada cibiran atas nama Islam, adalah tugas umat Muslim mengintrospeksi dirinya sendiri. Seberapa baik ia mengamalkan ajaran agamanya?

Pada akhirnya, buku ini sangat mencerahkan dan patut dibaca oleh mereka yang ingin mengenal Islam lebih dalam. Membaca buku ini seperti mengingat kembali pelajaran-pelajaran dari kitab kuning yang dulu pernah disampaikan oleh guru-guru madrasah dan kiai-kiai pesantren. Hanya saja, buku ini lebih sederhana namun isinya cukup mengena. Meminjam perumpamaan salah satu dai kondang, Gus Muwafiq, isi buku ini ibarat nasi yang tinggal disantap.Tak perlu susah payah menggiling padi dan memasak berasnya. Semuanya sudah diolah oleh Quraish Shihab, yang ‘alim dan tak perlu diragukan lagi kapasitas keilmuannya.

Mari kita nikmati saja sajian dari ahlinya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Tentunya, demi persatuan umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia.

Peresensi adalah Faris Maulana Akbar, Pegiat Komunitas Saung Ciputat, Tangerang Selatan, Banten

Judul : Islam yang Saya Anut: Dasar-dasar Ajaran Islam
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Penerbit Lentera Hati
Cetakan : Ketiga, 2018
Tebal : x + 338 halaman
ISBN : 978-602-7720-74-9
Sabtu 6 Juli 2019 20:30 WIB
Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu
Meluruskan Tuduhan Kondisi Islam di Negeri Tirai Bambu
Perhatian terhadap Muslim Uigur di Xinjiang sangat besar terutama negara Barat, lebih suka memfokuskan perhatian pada isu pelanggaran hak asasi manusia yang diduga dilakukan rezim komunis di bawah kepemimoinan Xi Jinping. Terlebih saat pemerintah Tiongkok membangun kamp-kamp pendidikan dan pelatihan vokasi. Bahkan masyarakat Indonesia menyoroti hal ini dengan sentimen agama. Apalagi dengan suhu politik di Indonesia yang sangat panas terlebih masa Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin. Terlebih saat bulan Ramadhan banyak media yang memberitakan bahwa Muslim di Xinjiang dilarang untuk berpuasa.

Padahal Isu tersebut adalah isu lama kurang lebih sudah 23 tahun konflik horizontal. Tetapi kini isu Xinjiang diangkat kembali di tengah memanasnya hubungan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat dan juga sekutunya. Ini kebetulan atau tidak, tetapi faktanya isu ini mengemuka pada saat perang dagang antara kedua pemimpin ekonomi dunia sedang  berkecamuk.

Terkait kamp-kamp pendidikan yang ada di Xinjiang, seorang peserta didik  Kamp Vokasi, Mirkamiljan mengatakan:  “Bagaimana tidak senang berada di sini. Keterampilan bisa kami dapat, berbagai keperluan juga difasilitasi,” kata pria 20 tahun dari etnis Uigur ini mengaku bahwa keikutsertaannya dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi atas keinginan sendiri, tidak ada paksaan dari pihak mana pun (h. 11). 

Gubernur Xinjiang Shohrat pernah menyampaikan secara terbuka kepada media dan para duta besar negara sahabat Tiongkok.  “Apakah ada yang salah dengan cara kami memperbaiki kualitas hidup warga kami agar tidak semakin terperosok dalam jurang kemiskinan. Kalaupun di kamp diajarkan bahasa nasional dan pemahaman tentang undang-undang negara, maka itu sudah kewajiban bagi pemerintah manapun untuk memfasilitasinya.”

Selain mengulas terkait isu Muslim Uigur buku “Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok” yang ditulis oleh para pelajar Indonesia di Tiongkok juga mengulas bagaimana kondisi Islam sesungguhnya di Tiongkok. Buku ini terdiri atas empat bagian. Bagian pertama menjelaskan pengalaman keislaman di Tiongkok, pada bagian pertama penulis juga menggambarkan bagaimana masyarakat Islam lokal menjalankan ibadah serta pandangan masyarakat non-Islam terhadap Islam. 

Dalam bagian ini juga bisa dijadikan referensi bagi pembaca untuk mencari tempat wisata religi juga bagaimana cara mendapatkan makanan halal di Tiongkok. Salah satu cara mengatehui makanan halal, kita harus tahu karakter 清真 (qīngzhēn dibaca chingchen), selain karakter China itu biasanya tertulis  dengan bahasa Arab yang bermakna makanan Muslim. Banyak sekali makanan dengan lebel halal tersebut. Jadi tidak usah khawatir jika berwisata ke Tiongkok. 

Muslim Tiongkok sangat cinta terhadap tanah airnya sendiri. Seperti yang terdapat di pintu masuk Masjid Agung Changchun, Provinsi Jilin. Ada sebuah prasasti besar yang bertuliskan hubbul wathan minal iman dalam bahasa Arab dan di bawahnya tertulis dalam bahasa mandarin 爱国是信仰的一部分(baca: Àiguó shì xìnyǎng de yībùfèn) yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman, tulisan serupa juga banyak dijumpai di masjid-masjid di Tiongkok lainnya. (h. 71). Pada 21 Juni 2019 lalu Institut Pendidikan Islam Lanzhou (兰州伊斯兰教学院) mewisuda 106 mahasantri. Ada empat poin yang ditekankan oleh Dekan Institut Pendidikan Islam Lanzhou, Ma Xuezhi (马学智) kepada para wisudawan, yaitu: 1. Cinta tanah air dan juga menyebarkan sikap patriotrik, 2. Menjadi komunikator Islam di Tiongkok, 3. Menjadi pelopor perilaku positif, 4. Menjaga persatuan dan keharmonisan.

Artinya spirit nasionalisme ini terus ditumbuhkan kepada kader-kader penerus Islam di Tiongkok. Dengan mencintai tanah air, tentunya warga Muslim Tiongkok akan semakin peduli pada negara dan berupaya terus untuk semakin memajukannya. Ketika semua warga negara menunjukkan cinta dan kepeduliannya secara nyata, tidak bisa dibendung lagi, negara Tiongkok akan menjadi negara yang populasi Islam terbesar.

Tidak hanya berbicara tentang kondisi keislaman di Tiongkok, pada bagian kedua para penulis menceritakan  proses pendaftaran beasiswa Tiongkok, juga kemajuan Tiongkok baik dalam teknologi maupun ekonomi digital yang pesat. Berdasarkan laporan dari Boston Consulting Group, saat ini nilai ekonomi berbasis digital di Tiongkok sudah melampaui $16 trillion dan menjadi salah satu negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di dunia. 

Ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi berbasis internet, (h. 115). Hal tersebut bisa dijadikan alasan mengapa Tiongkok sebagai pilihan negara untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Tidak kalah pentingnya, buku ini juga menjelaskan persaudaraan bagsa Indonesia dan masyarakat Tiongkok yang sudah terbangun dari ratusan tahun yang lalu. Selama abad ke-15 dan ke-16 masehi, pengaruh Etnis Tinghoa di Jawa sangat kuat. Terbukti ukiran batu di Mantingan Jepara, Masjid kuno, pecinan di Banten, konstruksi pintu di makam Sunan Giri Gresik, arsitektur keraton Cirebon, kontruksi masjid Agung Demak khususnya tiang penyangga masjid, dan kontruksi Masjid Agung Semarang, (h. 142). 

Kejadian yang paling penting dalam penyebaran Islam Tionghoa di Indonesia dilakukan oleh Cheng Ho. Dia adalah seorang duta diplomatik dari Dinasti Ming. Dia disambut dengan hangat oleh masyarakat Indonesia. Tim ekspedisi Cheng Ho datang bersama ke Indonesia menggunakan 208 kapal. Anak buah kapal yang paling banyak adalah beragama Islam. 

Buku ini tidak hanya menyajikan data-data yang diambil dari arsip dan buku yang ditulis oleh orang asing, namun juga menyertakan gambar penting tentang suasana kehidupan berislam di Tiongkok. Dengan membaca buku ini, kebencian-kebencian terhadap etnis Tionghoa yang selama ini muncul karena salah sangka dan turbulensi politik dapat terkurangi dengan menyelami lebih mendalam silang budaya maupun kisah-kisah kehidupan di Tiongkok yang ada di dalamnya.

Peresensi, Waki Ats Tsaqofi adalah Mahasiswa Master di Chongqing University, China serta Wakil Ketua PCINU Tiongkok.

Identitas Buku:

Judul Buku: Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok
Editor: Ahmad Syaifuddin Zuhri, dkk.
Cetakan: April 2019
Tebal buku: xxiv+220
Ukuran: 14,8 cm x 21 cm
ISBN: 978-602-61490-4-6
Penerbit: Aswaja Nusantara Press
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG