IMG-LOGO
Nasional

Kemnaker Apresiasi GNIK Konsisten Dukung Program Pemagangan

Jumat 2 Agustus 2019 10:45 WIB
Bagikan:
Kemnaker Apresiasi GNIK Konsisten Dukung Program Pemagangan
Sekjen Kemnaker Khairul Anwar dalam Seminar dan Talkshow Pemagangan Nasional di Jakarta, Rabu (31/7).
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan memberikan apresiasi Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) atas konsistensinya mendukung program pemagangan sebagai wujud pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi prioritas pembangunan pemerintah di tahun 2019.
 
Karena itu, praktisi SDM memiliki tugas mengelola dan mengembangkan SDM agar dapat menjadi garda depan dalam mendukung pembangunan SDM di Indonesia. 
 
"Praktisi SDM memiliki tantangan yang cukup berat dalam tren perkembangannya saat ini. Salah satunya, kemampuan praktisi SDM ini untuk terus mencetak tenaga profesional di Indonesia dengan jumlah yang banyak dan merata," kata Menaker dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekjen Khairul Anwar dalam Seminar dan Talkshow Pemagangan Nasional di Jakarta, Rabu (31/7).
 
Seminar bertema Sumber Daya Manusia Unggul di Era Industri 4.0 dihadiri di antaranya oleh Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono; Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Kunjung Masehat; Sugeng Bahagijo, Direktur Pemagangan Darwanto; Anggota Komite Pelatihan Vokasi Nasional (KPVN) Sugeng Bahagijo; Ketua Dewan Pengarah Gerakan Nasional SDM Indonesia Kompeten (GNIK) Ahmad S Ruky; dan Yunus Tryonggo, selaku Inisiator GNIK.
 
Khairul Anwar mengatakan pentingnya peran praktisi SDM dalam mengatasi problem missmatch ketenagakerjaan di Indonesia, salah satunya terkait dengan relevansi kompetensi SDM dengan permintaan di pasar kerja atau dunia industri. 
 
"Karena itu, bagaimana membangun ekosistem ketenagakerjaan bisa kondusif, dan bisa berkolaborasi dengan praktisi SDM. Pengakuan sertifikasi kompetensi kita akan lakukan dimulai dari para praktisi SDM, dan nantinya akan dirasakan para tenaga kerja kita," kata Sekjen Khairul.
 
Menurut Khairul, hal mendasar mendesak dilakukan yaitu melakukan perbaikan data ketenagakerjaan secara akurat. Langkah perbaikan itu sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP).
 
"Saya mendorong kepada GNIK bisa mensosialisasikan kepada perusahaan untuk melapor kondisi perusahaan melalui WLKP secara online. Saat ini baru 152 ribu perusahaan yang baru melapor. Tanpa data valid, kita akan sulit inisiasi program yang benar-benar efektif," katanya. 
 
Selain WLKP online yang outputnya akan menghasilkan data yang bisa digunakan oleh pemerintah pusat, maupun daerah. Kemnaker juga sedang mengembangkan sistem layanan masyarakat terutama kepada pencari kerja (pencaker) dalam pelayanan untuk mendaftar secara online. 
 
"Sehingga di masa depan, praktisi SDM akan mudah mengakses data-data tenaga kerja yang kompeten di bidangnya masing-masing. Tugas Kemnaker yakni mempertemukan supply and demand," kata Sekjen Khairul Anwar.
 
Sedangkan Dirjen Bambang Satrio Lelono menambahkan untuk memperluas pelaksanaan pemagangan di perusahaan, Binalattas sedang mengembangkan program dan skema pemagangan di sektor otomotif, pertanian, informatika, garmen, alas kaki, kecantikan, ketahanan pangan, UMKM, wirausaha dan aviasi.
 
Bambang Satrio mengungkapkan pihaknya bersama Asosiasi Human Resources Organization (HRO) Perusahaan, Kadin, Apindo, GNIK dan Asosiasi Industri telah melakukan sosialisasi pola pemagangan ke perusahaan di berbagai wilayah. Dari sosialisasi tersebut terhimpun 2648 perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, perikanan, ritel dan pariwisata, perbankan menyatakan komitmen untuk mendukung program pemagangan yang dicanangkan Kemnaker.
 
Direktur Pemagangan Darwanto mengatakan pihaknya juga telah melaksanakan program pemagangan dan sertifikasi sebanyak 210 ribu. Hasil pemetaan kebutuhan pemagangan di 34 provinsi, terkompilasi sebanyak 740 perusahaan yang bersedia menggelar program pemagangan.
 
"Kami berharap seluruh pihak yang hadir mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kompetensi SDM melalui program pemagangan dengan akselerasi terbangun atau terbentuknya infrastruktur terkait pemagangan dan sertifikasi kompetensi," kata Darwanto. (Red: Kendi Setiawan)
 
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 2 Agustus 2019 20:0 WIB
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Jakarta, NU Online
Radikalisme menjadi virus yang terus mewabah ke dunia pelajar saat ini. Beberapa hasil penelitian menyebutkan sudah lebih dari 20 persen para pelajar terjangkiti virus yang membahayakan bangsa Indonesia ke depannya ini.
 
Tak ayal, ramai-ramai orang mendiskusikan hal tersebut guna mengatasi dan mengobati para pelajar yang sudah terkena. Pun mencegah pelajar lainnya agar tidak sama menambah persentase yang terpapar.

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (2/8).

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Noer Fajrieansyah dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa tugas IPNU adalah membuat langkah praktis untuk mencegah pemahaman radikal itu merasuk ke benak para pelajar.

Hal itu, menurutnya, bisa dilakukan dengan memasuki dunia digital yang saat ini menjadi dunianya pelajar. Terlebih, mereka adalah warga asli dunia digital (digital native). “Jangan kader IPNU malah tidak masuk ke ranah digital,” katanya.

Lebih lanjut, Fajrie juga mengungkapkan bahwa langkah praktis dalam mencegah berkembangnya paham radikal yang dilakukan oleh IPNU harus berupa program yang konkret menyentuh ke pelajar secara langsung. “Program konkret untuk mencegah radikalisasi. Berikan kami program untuk membuat produk,” katanya.

IPNU, menurutnya, harus melahirkan produk yang dapat membuat siswa tidak lagi tertarik untuk bergabung ke dalam kelompok radikal ataupun terkena virusnya. “Pikirkan apa produk yang bisa lahirkan untuk menyibukkan siswa,” ucapnya.

Sebab, katanya, siswa yang terpapar radikalisme biasanya terkena aarena kesibukannya pada rutinitas bermain gim, seperti teroris yang melakukan aksinya di Selandia Baru atau terpapar dari komunitasnya.

Selain Fajrie, kegiatan ini juga menghadirkan Sekretaris Pengurus Pusat (PP) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Harianto Oghiw. Hadir mengikuti kegiatan ini para pengurus IPNU dan IPPNU dari berbagai tingkatan di wilayah Jakarta. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:15 WIB
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Sebuah getaran gempa terjadi di Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya, Jumat (2/8).  Guncangan juga terasa dari lantai lima gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

“Gempa, gempa, gempa,” teriak sejumlah orang yang kemudian berusaha berlindung di balik meja. 

Beberapa teman di Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan juga mengaku merasakan hal yang sama. Guncangan membuat banyak orang berhampuran keluar rumah sebagai langkah antisipasi. Grup-grup Whatsapp pun ramai dengan testimoni kewaspadaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa terjadi pada pukul 19.03.21 WIB dengan kekuatan 7,4 SR dan berada di kedalaman 10 km. Getaran berpusat di 7.54 LS, 104.58 BT (147 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten).

Situs resmi BMKG juga merilis bahwa gempa berpotensi tsunami dan berharap informasi diteruskan kepada masyarakat. 

“Peringatan dini tsunami untuk wilayah: Banten, Bengkulu, Jabar, Lampung,” tulis BMKG dalam laman resminya.
 
BMKG mengeluarkan status peringatan siaga untuk daerah Pandeglang Bagian Selatan, Pandeglang Pulau Panaitan, dan Lampung-Barat-Pesisir Selatan. Hingga berita ini dimuat, BMKG baru mengeluarkan peringatan dini pertama.

(Mahbib)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:0 WIB
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Anggota MPR RI Zainut Tauhid Sa'adi (Dok. NU Online)
Jakarta, NU Online
Anggota MPR RI H Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan tentang respons negara-negara lain yang mengagumi penerapan Islam yang moderat di Indonesia. Hal itu karena dilihatnya berjalan dengan baik, sehingga terciptanya keadamaian.

“Ini barangkali kita harus pertahankan: Islam yang ramah, Islam yang moderat, Islam yang tawasuth, yang menjadi kekuatan kita,” kata Zainut saat mengisi Sosialisasi 4 Pilar yang diselenggarakan PP IPNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Indonesia juga disebut tercatat sebagai negara Islam yang berhasil menjalankan demokrasi dengan baik. Keadaan ini tidak terjadi di negara-negara yang ada di Timur Tengah, seperti Syiria, yakni terjadi konflik yang berkepenjangan. Bahkan, katanya, akibat dari konflik itu membuatnya menjadi negara gagal.

“Sementara Indonesia dengan mayoritas menganut agama Islam bisa melaksanakan kehidupan demokrasi dengan baik,” ucapnya. 

Pria yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat ini mencontohkan bagaimana Indonesia telah mengadakan beberapa kali Pemilu dan Pilpres, tapi berjalan dengan lancar dan damai. 

“Pemilu terakhir yang kita khawatirkan kita akan menjadi negara di Syria sana,   alhamdulillah tokoh-tokohnya bisa kembali rukun, bisa merajut perdamaian, keadamaian yang kemudian membangun dialog. Mudah-mudahan ke depan tokoh-tokoh negarawan ini bisa terus mengembangkan demokrasi yang baik,” terangnya.

Menurutnya, perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan kebinekaan adalah anugerah yang harus disyukuri. Bukan sebaliknya, yakni menjadikan sesuatu yang dipertentangkan.
Ia lantas menggambarkan keindaha perbedaan dengan beragam warna bunga. Menurutnya, jika dalam suatu taman hanya berisi bunga yang berwarna merah atau hijau, terlihatnya tidak indah. Berbeda jika dalam taman tersebut terdapat beragama warna: merah, hijau, kuning, maka menjadi pemandangan yang indah.

“Kebinekaan adalah sebuah hal yang niscaya yang harus kita pertahankan,” ucapnya.

Ia meminta kepada peserta agar terus menumbuhkan toleransi terhadap penganut agama lain agar kerukunan tetap berlangsung. Dalam perjalanan bangsa Indonesia, umat Islam yang merupakan pendudukan mayoritas, telah menjadi warga yang toleran. Di antara contoh yang dapat disebut, ialah penerimaan terhadap Bhineka Tunggal Ika. 

Menurutnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang menganut agama Buddha. Namun, sambungnya, walau pun dari Buddha, umat Islam mampu menerimanya.

“Ini bentuk toleransi yang sangat luar biasa dan itulah menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Kebinekaan itu harus kita pertahankan,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG