IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Cerita Gus Muwafiq tentang Awal Mula Islam Diajarkan di Makkah

Jumat 2 Agustus 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Cerita Gus Muwafiq tentang Awal Mula Islam Diajarkan di Makkah
Gus Muwafiq
Jakarta, NU Online
KH Ahmad Muwafiq atau biasa disapa Gus Muwafiq menceritakan bagaimana respons kaum Yahudi dan Nasrani ketika Islam mulai diajarkan oleh Rasulullah SAW di Makkah. Menurut Gus Muwafiq, kala itu dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad benar-benar ditolak karena tidak sesuai dengan prilaku yang waktu itu dilakukan kebanyakan penduduk.

Gus Muwafiq mengatakan, ketika mengetahui jika nabi terakhir adalah Muhammad saw, kaum Yahudi dan Nasrani seolah membanggakan nabi-nabi mereka sebelumnya. Seperti Nabi Ibrahim yang tidak bisa dibakar dan Nabi Daud yang memiliki kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.

Kemudian, saat Nabi Muhammad mulai mengajarkan sedikit-demi sedikit ajaran Islam, mereka menolak dan merasa aneh. Beberapa penduduk bahkan menyebut Nabi Muhammad sebagai nabi gila, karena telah mengajarkan prilaku yang bertolak belakang dengan peradaban saat itu.

"Bagi orang Makkah ini Nabi edan, sudah tahu panas suruh wudhu, wudhu dimana. Sudah tahu istri banyak itu enak, disuruh sedikit. Membunuh enak,  tidak boleh berkelahi. Mabok enak, tidak boleh. Tuhan banyak suruh satu, udah gitu tidak keliatan,” tutur Gus Muwafiq dalam sebuah video yang diunggah channel Youtube Live Gus Muwafiq, Jumat (2/8).

Maka dari itu, lanjutnya, orang-orang Yahudi dan Nasrani melakukan upaya-upaya agar Nabi Muhammad terusir dari Makkah. Mereka melakukan provokasi sehingga kehadiran nabi dianggap ancaman bagi penduduk Makkah.

"Jadi ngeblank, saya gak kebayang orang Makkah kaget, Nabi diusir, dilempar sama orang-orang Yahudi dan Nasrani," ucapnya.

Inilah awal ketidakcocokan Yahudi-Nasrani dan prilaku orang Arab terhadap ajaran Islam. Meski ditolak dan dianggap gila, Nabi Muhammad terus mendakwahkan Islam.

"Nah itu yang dikenal, ja'a ghoriban wa saya’udu goriban, Islam itu aneh, terasing dan nanti akan pergi dengan terasing," kata Gus Muwafiq.

Menurut Gus Muwafiq, asingnya ajaran Islam kala itu, tidak seperti yang diajarkan kelompok Islam di Indonesia belakangan ini. Dulu Islam dianggap asing karena tidak cocok dengan prilaku dan kemauan penduduk Makah. Namun saat ini, kelompok radikal yang merasa diasingkan karena ajarannya yang asing, tidak sesuai dengan ajaran Islam yang dipelajari kebanyakan ulama Nusantara. (Abdul Rahman Ahdori/Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 2 Agustus 2019 20:0 WIB
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
IPNU Harus Lahirkan Produk Cegah Radikalisme Pelajar
Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Jakarta, NU Online
Radikalisme menjadi virus yang terus mewabah ke dunia pelajar saat ini. Beberapa hasil penelitian menyebutkan sudah lebih dari 20 persen para pelajar terjangkiti virus yang membahayakan bangsa Indonesia ke depannya ini.
 
Tak ayal, ramai-ramai orang mendiskusikan hal tersebut guna mengatasi dan mengobati para pelajar yang sudah terkena. Pun mencegah pelajar lainnya agar tidak sama menambah persentase yang terpapar.

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar Focus Grup Discussion dengan tema Pancasila dan Pencegahan Radikalisasi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (2/8).

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Noer Fajrieansyah dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa tugas IPNU adalah membuat langkah praktis untuk mencegah pemahaman radikal itu merasuk ke benak para pelajar.

Hal itu, menurutnya, bisa dilakukan dengan memasuki dunia digital yang saat ini menjadi dunianya pelajar. Terlebih, mereka adalah warga asli dunia digital (digital native). “Jangan kader IPNU malah tidak masuk ke ranah digital,” katanya.

Lebih lanjut, Fajrie juga mengungkapkan bahwa langkah praktis dalam mencegah berkembangnya paham radikal yang dilakukan oleh IPNU harus berupa program yang konkret menyentuh ke pelajar secara langsung. “Program konkret untuk mencegah radikalisasi. Berikan kami program untuk membuat produk,” katanya.

IPNU, menurutnya, harus melahirkan produk yang dapat membuat siswa tidak lagi tertarik untuk bergabung ke dalam kelompok radikal ataupun terkena virusnya. “Pikirkan apa produk yang bisa lahirkan untuk menyibukkan siswa,” ucapnya.

Sebab, katanya, siswa yang terpapar radikalisme biasanya terkena aarena kesibukannya pada rutinitas bermain gim, seperti teroris yang melakukan aksinya di Selandia Baru atau terpapar dari komunitasnya.

Selain Fajrie, kegiatan ini juga menghadirkan Sekretaris Pengurus Pusat (PP) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Harianto Oghiw. Hadir mengikuti kegiatan ini para pengurus IPNU dan IPPNU dari berbagai tingkatan di wilayah Jakarta. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:15 WIB
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Jakarta dan Sekitarnya Diguncang Gempa, Peringatan Dini Tsunami
Ilustrasi
Jakarta, NU Online
Sebuah getaran gempa terjadi di Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya, Jumat (2/8).  Guncangan juga terasa dari lantai lima gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

“Gempa, gempa, gempa,” teriak sejumlah orang yang kemudian berusaha berlindung di balik meja. 

Beberapa teman di Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan juga mengaku merasakan hal yang sama. Guncangan membuat banyak orang berhampuran keluar rumah sebagai langkah antisipasi. Grup-grup Whatsapp pun ramai dengan testimoni kewaspadaan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa terjadi pada pukul 19.03.21 WIB dengan kekuatan 7,4 SR dan berada di kedalaman 10 km. Getaran berpusat di 7.54 LS, 104.58 BT (147 km barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten).

Situs resmi BMKG juga merilis bahwa gempa berpotensi tsunami dan berharap informasi diteruskan kepada masyarakat. 

“Peringatan dini tsunami untuk wilayah: Banten, Bengkulu, Jabar, Lampung,” tulis BMKG dalam laman resminya.
 
BMKG mengeluarkan status peringatan siaga untuk daerah Pandeglang Bagian Selatan, Pandeglang Pulau Panaitan, dan Lampung-Barat-Pesisir Selatan. Hingga berita ini dimuat, BMKG baru mengeluarkan peringatan dini pertama.

(Mahbib)
 
Jumat 2 Agustus 2019 19:0 WIB
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Islam Moderat Sebab Indonesia Dikagumi Negara Luar
Anggota MPR RI Zainut Tauhid Sa'adi (Dok. NU Online)
Jakarta, NU Online
Anggota MPR RI H Zainut Tauhid Sa’adi mengungkapkan tentang respons negara-negara lain yang mengagumi penerapan Islam yang moderat di Indonesia. Hal itu karena dilihatnya berjalan dengan baik, sehingga terciptanya keadamaian.

“Ini barangkali kita harus pertahankan: Islam yang ramah, Islam yang moderat, Islam yang tawasuth, yang menjadi kekuatan kita,” kata Zainut saat mengisi Sosialisasi 4 Pilar yang diselenggarakan PP IPNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Indonesia juga disebut tercatat sebagai negara Islam yang berhasil menjalankan demokrasi dengan baik. Keadaan ini tidak terjadi di negara-negara yang ada di Timur Tengah, seperti Syiria, yakni terjadi konflik yang berkepenjangan. Bahkan, katanya, akibat dari konflik itu membuatnya menjadi negara gagal.

“Sementara Indonesia dengan mayoritas menganut agama Islam bisa melaksanakan kehidupan demokrasi dengan baik,” ucapnya. 

Pria yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat ini mencontohkan bagaimana Indonesia telah mengadakan beberapa kali Pemilu dan Pilpres, tapi berjalan dengan lancar dan damai. 

“Pemilu terakhir yang kita khawatirkan kita akan menjadi negara di Syria sana,   alhamdulillah tokoh-tokohnya bisa kembali rukun, bisa merajut perdamaian, keadamaian yang kemudian membangun dialog. Mudah-mudahan ke depan tokoh-tokoh negarawan ini bisa terus mengembangkan demokrasi yang baik,” terangnya.

Menurutnya, perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan kebinekaan adalah anugerah yang harus disyukuri. Bukan sebaliknya, yakni menjadikan sesuatu yang dipertentangkan.
Ia lantas menggambarkan keindaha perbedaan dengan beragam warna bunga. Menurutnya, jika dalam suatu taman hanya berisi bunga yang berwarna merah atau hijau, terlihatnya tidak indah. Berbeda jika dalam taman tersebut terdapat beragama warna: merah, hijau, kuning, maka menjadi pemandangan yang indah.

“Kebinekaan adalah sebuah hal yang niscaya yang harus kita pertahankan,” ucapnya.

Ia meminta kepada peserta agar terus menumbuhkan toleransi terhadap penganut agama lain agar kerukunan tetap berlangsung. Dalam perjalanan bangsa Indonesia, umat Islam yang merupakan pendudukan mayoritas, telah menjadi warga yang toleran. Di antara contoh yang dapat disebut, ialah penerimaan terhadap Bhineka Tunggal Ika. 

Menurutnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang menganut agama Buddha. Namun, sambungnya, walau pun dari Buddha, umat Islam mampu menerimanya.

“Ini bentuk toleransi yang sangat luar biasa dan itulah menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Kebinekaan itu harus kita pertahankan,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG