IMG-LOGO
Pemberdayaan
H SLAMET SULISTIYONO

Anak Buruh Perkebunan yang Kini Sukses Hasilkan Varietas Benih

Sabtu 3 Agustus 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Anak Buruh Perkebunan yang Kini Sukses Hasilkan Varietas Benih
H Slamet Sulistiyono pimpinan perusahaan PT Benih Citra Asia
Warga Jember, Jawa Timur tak banyak tahu terhadap sosok yang satu ini. Kendati kiprahnya di bidang pertanian cukup moncer, namanya seolah tenggelam di tengah keriuhan politik dan banyaknya tokoh lokal yang kerap muncul di panggung-panggung publik.
 
Haji Slamet –demikian sapaan akrab pemilik nama lengkap Slamet Sulistiyono.  Ia lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, ketika kalender menunjuk pada angka 7 Februari 1975. Sekilas orang tak menyangka bahwa dia adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan benih nasional. Sebab, tongkrongannya biasa-biasa saja. Haji Slamet biasa berbaur dengan masyarakat, ikut tahlilan, berada di tengah-tengah warga Nahdliyin pada umumnya.
 
Haji Slamet adalah satu dari sedikit tokoh NU yang punya kemampuan di bidang perbenihan. PT Benih Citra Asia (BCA), yang dimilikinya, bukan hasil akuisisi yang hanya bermodalkan kekuatan finansial. PT BCA ia bangun berangkat dari pengetahuan di meja belajar, pengalaman di sejumlah perusahaan benih, dan bahkan pengalamannya dalam bertani.
 
Haji Slamet mengaku tak pernah bercita-cita untuk memiliki perusahaan benih sebesar sekarang ini. Ia hanya ingin keluar dari kondisi keluarga yang kurang nyaman secara ekonomi. Orang tuanya hanyalah buruh perkebunan Kaliklatak di Banyuwangi. Meski demikian, ia berangan-angan untuk menekuni bidang pertanian.
 
Oleh karena itu, setelah lulus SMPN 4 Banyuwangi, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMTP) Sukorambi Jember yang sekarang bernama SMKN 5 Jember. 
 
“Saya anak buruh kebun. Saya harus keluar agar sukses dan tidak terkungkung menjadi buruh kebun. Dan atas arahan guru saya di SMP, saya melanjutkan ke SMTP Jember,” kisahnya dimulai.
 
Perpindahan sekolah tersebut menjadi awal perubahan nasib dan kehidupan suami dari Tutik Indriati tersebut hingga seperti sekarang ini. Perkenalannya dengan benih, diawali dari tugas praktik lapangan oleh SMTP Jember. Saat itu, ia bersama sembilan temannya mengikuti Prakerja Industri di PT East West Seed Indonesia, perusahaan milik asing yang bergerak di bidang benih (1991). Karena kemampuannya yang mumpuni, setelah lulus SMTP  Jember dia direkrut PT East West Seed Indonesia.
 
Haji Slamet kemudian diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah divisi di perusahaan tersebut. Kendati dia hanya lulusan SMTP, namun anak buahnya waktu itu berasal dari perguruan tinggi bonafit seperti IPB, UGM dan sebagainya.
 
“Saya percaya pada kemampuan saya. Jadi saya pikir tak perlu berkecil hati,” jelasnya.
 
Tapi ia sadar bahwa ilmunya masih belum cukup, sehingga diam-diam kuliah meski akhirnya harus menerima resiko dipecat dari perusahaan. Setelah itu, ayah tiga anak itu malang melintang di sejumlah perusahaan benih hingga di tahun 2006 akhirnya mantap untuk mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Benih Citra Asia (BCA).
 
Di bawah besutan lelaki berzodiak aquarius tersebut, kini PT BCA menjelma sebagai perusahaan besar di Indonesia yang memproduksi benih tanaman pangan dan hortikultura. Bahkan saat ini sudah mengembangkan 210 varietas benih.
 
“Saya ingin perusahaan benih saya bisa ekspor ke luar negeri, sudah menjajaki kerjasama dengan Nepal, Banglades dan China,” imbuhnya.
 
Haji Slamet mengakui pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mempunyai peranan besar dalam menumbuhkembangkan perusahaan benih. Di antaranya adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM), baik di dalam maupun luar negeri, memberikan akses pasar terhadap proyek bantuan benih Kementan ke petani, dan sosialisasi peraturan perbenihan. 
 
Selain itu, kata dia, Kementan juga memfasilitasi perusahaan agar mampu melakukan sertifikasi secara mandiri melalui lembaga setifikasi sistem manajemen mutu benih tanaman pangan dan holtikultura.
 
“Banyak fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang diberikan pemerintah melalui Kementan untuk merangsang usaha perbenihan, dan itu saya rasakan sendiri,” ungkapnya.
 
Sebagai Wakil Bendahara NU Cabang Jember, tentu Haji Slamet tak ingin sukses sendirian. Ia merasa tak ada apa-apanya jika kiprahnya di bidang perbenihan tak membawa manfaat apapun bagi warga Nahdliyin. Haji Slamet memang mempunyai kepedulian yang besar terhadap petani. Dan ini bisa dimafhumi karena mayoritas warga NU adalah petani.
 
Oleh karena itu, Haji Slamet terus berusaha mencari terobosan bagi petani untuk mengembangkan pertaniannya melalui jaringan yang ia miliki. Misalnya program kerjasama budidaya kacang panjang, jagung dan sebagainya. Kendati program-program tersebut hasilnya kurang maksimal, namun paling tidak Haji Slamet sudah berusaha mengubah pemikiran arus besar petani agar tidak hanya bergantung pada tembakau yang justru sering membuat petani kolaps.
 
“Kalau padi, sudah tidak bisa diotak-otak. Tapi padi ‘kan hanya satu musim dalam setahun (tiga bulan). Nah selebihnya bisa dicoba dengan tanaman lain yang lebih bermanfaat dan berdaya guna,” urainya.
 
Memberdayakan petani adalah sebuah keharusan, lebih-lebih fluktuasi harga hasil pertanian kerap kali tak berpihak kepada petani. Dan pemberdayaan itu, telah dimulai oleh Haji Slamet, betapapun tidak bermaknanya. Namun harus disadari bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, butuh waktu yang panjang. Tapi yang jelas, pemberdayaan petani bukan sekadar obsesi liar asalkan diikuti dengan ikhtiar yang nyata. Dan apa yang dicita-citakan Haji Slamet adalah ikhtiar panjang yang berangkat dari sebuah obsesi. 
 
 
Kontributor    : Aryudi A Razaq
Editor              : Zunus Muhammad
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 21 Juli 2019 8:0 WIB
Mahasiswa Unwaha Jombang Latih Ibu-ibu Berwirausaha
Mahasiswa Unwaha Jombang Latih Ibu-ibu Berwirausaha
Ibu-ibu PKK belajar buat sale pisang bersama mahasiswa KKN

Jombang, NU Online

Mahasiswa Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur mendampingi ibu-ibu atau emak-emak yang ada di Desa Tebel, Kecamatan Bareng, Jombang untuk berwirausaha. Mereka dilatih membuat pisang sale sekaligus cara mengemas yang menarik.

Pendampingan ini dilakukan mahasiswa di tengah menjalankan tugas salah satu akademiknya yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tebel.

Beberapa mahasiswa Unwaha khususnya yang hendak purna atau semester akhir, sejak beberapa waktu lalu melaksanakan tugas KKN-nya. Mereka ditugaskan kampusnya berada di Desa Tebel kurang lebih dari satu bulan lamanya.

Selama KKN, mereka tak jarang memberikan pendampingan-pendampingan kepada masyarakat setempat. Pendampingan yang dilakukan cukup beragam. Di antaranya pendampingan yang sifatnya dapat menunjukkan perekonomian warga.

Salah seorang mahasiswa Unwaha Laili mengatakan, peluang penjualan pisang sale saat ini cukup besar di pasaran. Di samping itu juga cara buatnya yang tidak ribet.

Pembuatan pisang sale ini ke depan diharapkan menjadi pekerjaan rumahan ibu-ibu di desa setempat. "Program pelatihan ini bertujuan agar masyarakat khususnya ibu-ibu dan pemudi Desa Tebel mampu memanfaatkan peluang usaha rumahan seperti sale pisang untuk meningkatkan perekonomian keluarga," terangnya kepada NU Online, Sabtu (20/7).

Yang paling penting menurut dia, di samping pembuatan pisang sale adalah yang utama, tapi mengemas dengan cara yang menarik juga tak kalah penting. Pasalnya, cara mengemas juga akan membantu mempermudah pemasarannya. Kemasan yang baik dan menarik tentu akan membuat produsen kian 'kepincut'.

"Selain mampu memproduksi sale pisang, diharapkan juga dapat bersaing dengan membuat kemasan dan brand yang menarik," tambah Laili.

Pelatihan ini mendapat respon positif dari salah seorang peserta pelatihan, Restu. Menurutnya acara ini sangat bagus untuk memotivasi dan melatih masyarakat agar dapat memproduksi produk rumahan seperti sale pisang sehingga dapat meningkatan perekonomian keluarga.

"Acara yang bagus, diharapkan setelah ini masyarakat Desa Tebel dapat memraktikkan dan memproduksi pisang sale dan mampu bersaing di pasar masyarakat, dengan begitu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar ibu yang juga Ketua PKK Desa Tebel ini. (Syamsul Arifin/Muiz)

Kamis 13 Juni 2019 10:30 WIB
Berkah Lebaran Ketupat, Warga Jombang Produksi 8 Ribu Ketupat Sehari
Berkah Lebaran Ketupat, Warga Jombang Produksi 8 Ribu Ketupat Sehari
Cropping video produksi ketupat di Jombang.
Jombang, NU Online
Menjelang perayaan Lebaran Ketupat beberapa hari lalu, sejumlah warga di Kabupaten Jombang, Jawa Timur menjadi pengrajin ketupat dadakan. Para pengrajin ketupat ini didominasi oleh kalangan ibu rumah tangga yang ingin mengais rezki dari tradisi Lebaran Ketupat. Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat sendiri merupakan tradisi syukuran dengan makan ketupat bersama-sama pada hari ketujuh setelah Idul Fitri.

Dalam tayangan Jelang Lebaran Ketupat terlihat suasana aktivitas warga di Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto yang sibuk membuat kelontong ketupat dan lepet. Para ibu rumah tangga yang tengah membuat ketupat dan lepet, sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Mereka biasanya mengerjakan pembuatan ketupat dan lepet usai mengerjakan rumah. Para suami atau pria di desa tersebut juga turut membantu pembuatan ketupat dan lepet jika memiliki waktu luang setelah bekerja.

Salah satu pembuat ketupat dan lepet Kusaiman mengaku adanya peningkatan jumlah produksi saat Hari Raya Ketupat. Jika pada hari biasa dia membuat sekitar dua ribu lepet dalam sehari, menjelang Hari Raya Ketupat dapat menghasilkan delapan ribu ketupat dan lepet dalam sehari. Jika pada hari biasa menghabiskan lima puluh kilogram beras ketan, pada hari Lebaran Ketupat mampu menghabiskan beras ketan 1,5 kuintal. Untuk memproduksi sebanyak itu, dia pun dibantu sejumlah pekerja.

Untuk pelanggannya, berasal dari Kota Jombang, Sidoarjo dan Krian. Setiap satu bendel berisi sepuluh lepet harganya sepuluh sampai 15 ribu tergantung besar kecilnya lepet. Sedangkan harga ketupat sepuluh sampai 12 ribu rupiah tergantung ukurannya.

Di Jombang, Hari Raya Ketupat biasa dilaksanakan tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitru atau setelah puasa Syawal selama enam hari. Pada hari Raya Ketupat, warga beramai-ramai pergi ke mushala atau masjid untuk beramai-ramai melaksanakan kenduri ketupat.

Penggunaan istilah ketupat dalam Lebaran ketupat tentu bukan tanpa filosofi yang mendasarinya. Dito Alif Pratama dalam Lebaran Ketupat dan Tradisi Masyarakat Jawa mengungkapkan kata 'ketupat' atau 'kupat' berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu 'ngaku lepat' (mengakui kesalahan) dan 'laku papat' atau empat tindakan.

Prosesi 'ngaku lepat' umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orangtuanya. Dengan begitu, kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua, tidak angkuh dan tidak sombong kepada mereka serta senantiasa mengharap ridho dan bimbinganya.

"Ini merupakan sebuah bukti cinta dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya, begitupun orang tua kepada anaknya," tulis Dito. (Kendi Setiawan)
Selasa 14 Mei 2019 10:0 WIB
Jelang Ramadhan Ada Kirab Koin NU di Sidoarjo, Ini Pemanfaatannya
Jelang Ramadhan Ada Kirab Koin NU di Sidoarjo, Ini Pemanfaatannya
Kala Kirab Koin NU Sidoarjo mendatangi MI.
Jakarta, NU Online
Menjelang bulan Ramadhan beberapa pekan lalu, NU Care-LAZISNU Sidoarjo Jawa Tengah melaksanakan Kirab Koin NU. Dijalankan mulai tanggal 30 Maret sampai 2 Mei 2019, Kirab Koin NU Sidoarjo menjangkau 15 dari 18 MWCNU yang ada di Sidoarjo.

Ketua NU Care-LAZISNU Sidoarjo Dodi Dyauddin mengatakan dari 15 MWC itu titik edar kirab adalah semua sekolah di bawah naungan NU, baik tingkat MI/SD, SMP/MTs sampai SMA sederajat.

"Jumlah total sekolah belum hitung secara persis, tapi hitungan kasar kami sekitar 250 sekolah, lainnya di Jamiyah Kubroan Muslimat NU atau Fatayat NU,” kata Dodi dihubungi dari Jakarta.

Ia mengatakan tujuan Kirab Koin NU menjelang Ramadhan di antaranya untuk mengenalkan kepada seluruh masyarakat khususnya peserta didik di sekolah, guru-guru, wali murid dan warga NU bahwa lembaga donasi resmi dan syari milik NU adalah LAZISNU.

"Mengajak mereka agar donasinya berupa apa saja, baik zakat, infak, sedekah maupun lainnya agar disalurkan melalui LAZISNU. Juga mengajarkan langsung dengan praktik kepada peserta didik di lingkungan NU dalam memberikan infaknya melalui kotak besar yang kami bawa dari kantor PC LAZISNU Sidoarjo, sehingga memberikan pembelajaran langsung kepada mereka, berdonasi ke LAZISNU," papar Dodi.

Kirab Koin NU Sidoarjo menjelang Ramadhan tersebut berhasil mengumpulkan dana sekitar 160 juta rupiah. Dana yang terkumpul, kata Dodi, dimanfaatkan untuk santunan kepada dhuafa, yatim-piatu di masing-masing MWC pada tanggal 17 Ramadahn nanti secara serentak.

"Termasuk untuk daerah bencana yang di Sentani, ada PR kami yaitu sebuah pondok pesantren Al-Ikhlas, namanya di distrik Waibu Desa Doyo Bambar terkena terjangan banjir bandang yang meluluhlantakkan bangunan sekolah TK, MI dan MTs disana, nah sebagian uang itu akan disampaikan ke sana," ujarnya.

Target bantuan untuk Sentani mencapai 50 juta. Jumlah tersebut rencananya tidak hanya dari hasil Kirab Koin NU, namun dari yang lain, seperti penggalangan dana dari infak peserta didik SMPN se-Sidoarjo juga dilakukan.

Dalam bulan Ramadhan ini, bagi Dodi sebagai momentum LAZISNU Sidoarjo untuk terus mengembalikan semangat warga NU terkait donasi harus kembali ke pangkuan NU dalam hal ini LAZISNU. " Karena sampai saat ini masih banyak warga NU yang berdonasi ke lembaga donasi lain," katanya.

Karenanya, zakat yang disalurkan diprioritaskan untuk warga sekitar tempat para muzakki tinggal, atau donasi mereka bermanfaat untuk warga sekitar muzakki. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG