IMG-LOGO
Nasional

Ibadah Haji Bisa Memperkuat Rasa Kemanusiaan dan Cinta Damai

Ahad 4 Agustus 2019 0:30 WIB
Bagikan:
Ibadah Haji Bisa Memperkuat Rasa Kemanusiaan dan Cinta Damai
Makkah

Jakarta, NU Online

 

Ibadah haji merupakan ibadah yang menyaratkan ketahanan fisik yang kuat. Kekuatan fisik dan mental jamaah akan diuji selama beberapa hari ke depan untuk melakukan rangkaian ibadah haji. Oleh karena itu, persiapan fisik memang sangat penting untuk dipersiapkan oleh jamaah haji selama menjalankan ibadah kelima dalam rukun Islam ini.

 

Dalam laporan wartawan NU Online, Muhammad Faizin, yang sedang berada di Makkah, saat ini  suasana kota Makkah semakin ramai, karena jemaah calon haji Indonesia gelombang pertama sudah mulai meninggalkan Kota Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan wukuf di Arafah pada Sabtu 10 Agustus 2019 setelah pemerintah Arab Saudi memutuskan tanggal 1 Dzulhijjah 1440 H jatuh pada 2 Agustus 2019.

 

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Entrepreneur Purwakarta, KH Ahmad Syafii Mufid hal itu yang membuat ibadah haji ‘spesial’. Sebab selain membutuhkan kemauan seperti halnya ibadah lain, ibadah haji haji memerlukan sejumlah kesiapan termasuk fisik, finansial dan perbekalan yang cukup.

 

KH Ahmad Syafii menjelaskan bahwa kekhususan ibadah haji ini secara tersirat sudah ditekankan dalam Al-Qur’an dengan kata man istatho’a atau ‘jika mampu’. Sehingga, ibadah ini hanya ‘wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu’. Kata ‘mampu’ di dalam persyaratan ibadah haji ini, di antaranya merujuk pada kemampuan fisik, mental dan kemampuan finansial.

 

Selain itu, diperlukan niat dan usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan ibadah haji. Karena menurutnya, seseorang yang memiliki uang banyak belum tentu dia itu rela mengeluarkan uang untuk berangkat haji. Demikian pula, seseorang yang sehat juga belum tentu dia mau meluangkan waktunya untuk beribadah haji karena sayang waktunya kalau nggak digunakan untuk bisnis dan seterusnya.

 

“Maka dari itu usaha yang sungguh-sungguh yang semacam itu bisa kita masukkan dalam kategori jihad untuk melawan hawa nafsu sejak berniat menggunakan pakaian ihram. Secara singkat ibadah haji itu memiliki makna jihad bagi para pelakunya, dia berangkat menunaikan ibadah haji itu berjihad untuk melawan hawa nafsunya yang mana mau mengeluarkan uangnya, mau menggunakan waktunya untuk ibadah haji. Nah itu jihad,” kata KH Ahmad Syafii di Jakarta.

 

Ibadah Haji juga memiliki makna persatuan antaraumat Islam yang dalam. Sebab dalam perjalanannya, seluruh umat Islam dari berbagai wilayah di atas muka bumi berkumpul di kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji ini.

 

“Seumur hidup sekali, orang datang dari berbagai macam penjuru dunia, dari berbagai macam etnis dan ras, serta berbagai macam mazhab ke suatu tempat untuk melakukan ibadah haji. Di sana terjadi apa yang disebut ‘Muktamar Muslimin’ dari seluruh dunia, dalam rangka membangun kebersamaan,” terangnya

 

Maka dari itu, lanjutnya, seharusnya, ibadah haji melahirkan rasa keharmonisan, perdamaian dan persatuan antarumat Islam, antarumat manusia dan terutama antarsesama anak bangsa. Perasaan ini, lanjut dia, seharusnya melahirkan semangat untuk menjaga keharmonisan, termasuk dengan menolak kekerasan yang ditimbulkan oleh ide-ide terorisme yang tengah berkembang.

 
 
“Kalau yang demikian itu bisa direnungkan, maka nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, adil dan beradab bisa dihayati, maka tentu saja tidak mudah terbujuk oleh pikiran ataupun kegiatan radikalisme. Nah itu yang mesti harus kita pahami, renungkan dan perlu dipersiapkan oleh semua yang melakukan ibadah haji,” pungkasnya. (Red: Ahmad Rozali)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 4 Agustus 2019 23:45 WIB
Peran Nilai Agama bagi Anak yang Kecanduan Smartphone
Peran Nilai Agama bagi Anak yang Kecanduan Smartphone
null
Dalam kitab Syarah Musnad Ahmad, Imam Ahmad mencantumkan suatu hadits yang menerangkan bahwa menurut Rasulullah Saw di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah dzuhurul qalam (tersebarnya pena atau tulisan). Yang dimaksud dengan dzuhurul qalam untuk masa kini bisa berlaku pada media sosial. Karena dengan media sosial, seseorang bisa menulis apa pun yang ia pikirkan dan hasil tulisan bisa disebarkan kepada orang lain melalui aplikasi dalam media sosial tersebut.
 
Namun, jika dzuhurul qalam digunakan oleh seseorang yang belum memiliki pengetahuan ilmu yang mencukupi, serta keimanan agamanya yang kurang kuat maka hal tersebut akan mengakibatkan hal-hal yang merusak, dan hal-hal negatif lainnya. Karena kekurangan-kekurangan itu tidak bisa membatasi dirinya dalam penggunaan yang sesuai.
 
Memahami hal tersebut, jika dilihat dari ilmu agamanya, penggunaan media sosial di kalangan anak-anak sebaiknya tidak diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Karena hal tersebut lebih banyak pengaruh negatifnya daripada positifnya. Anak usia setingkat sekolah dasar belum memiliki alasan memiliki akun media sosial dan bagaimana cara yang baik menggunakannya dalam konteks agama (syiar dan unsur kemanfaatan lainnya).

Tata cara penggunaan media sosial dalam konteks agama Islam bagi setiap Muslim adalah wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf). Mengajak kepada ihwal persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq). Serta harus terarah pada mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar). Interaksi melalui media sosial hendaklah digunakan untuk mempererat ukhuwwah (persaudaraan).

Tentu kita tidak bisa pula melarang secara keras kepada mereka, karena tidak sedikit pula anak-anak usia SD mampu menggunakannya sebagai media yang sesuai. Misalnya sebagai media pembelajaran tambahan, media komunikasi dengan teman yang baru dikenal, maupun sebagai pengenalan lebih dari kemajuan teknologi dunia yang terus berkembang. Artinya, penggunaan smartphone bagi anak sejatinya bisa menjadi suplemen pengetahuan bagi anak itu sendiri. 

Sayangnya, bak api jauh dari panggangannya, fakta yang terjadi malah sebaliknya. Menurut hasil penelitian Ahmad Shofiyuddin Ichsan dari Institut Ilmu Al-Qur’an Yogyakarta tahun 2018, dari sampel sekolah tingkat dasar yang diteliti di Yogyakarta, anak-anak yang memiliki media sosial, 71% sudah memiliki rasa dengan lain jenis, bahkan 39% sudah berpacaran. Selain itu, dalam penelitian yang didukung Diktis Pendis Kemenag itu ditemukan, sebanyak 60% interaksi yang dilakukan oleh anak-anak tersebut melalui pesan WhatsApp adalah interaksi dengan lawan jenisnya, sisanya, 18% berinteraksi dengan orangtua, 22% berinteraksi dengan sesama jenis.

Melihat fenomena ini, solusi yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi. Baik dari pihak orangtua, lingkungan mainnya, maupun sekolah. Perlu dilakukan pula evaluasi penanaman nilai agama pada anak. Tidak sedikit, anak-anak yang kecanduan smartphone adalah anak yang memiliki rutinitas terbatas. Orang tua bisa mulai memberinya tambahan kegiatan, yang simpel tapi bermanfaat. Agar anak pun tidak merasa terbebani sehingga enggan melakukannya kembali.

Kegiatan yang dimaksud misalnya bisa kembali mengatur jadwal mengaji Al-Qur’an-nya, mengaktifkan aktivitas olahraga bersama, mengajaknya ke panti asuhan atau panti jompo, atau melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Usahakan, kegiatan yang direncanakan itu adalah kegiatan yang menekankan nilai-nilai produktif dan sosialitatif. Sebab, kita hendak mengarahkan sang anak tersebut untuk menyadari bahwa  dunia yang ia tinggali tidak terbatas pada layar 4 atau 5 inci saja, tetapi memiliki bentuk kehidupan yang beragam. Hal ini turut pula mengajarkan kepada sang anak bahwa penanaman nilai agama, tidak terbatas pada aspek formalitas agamis semata. 

Kegiatan-kegiatan tersebut selain mengurangi jumlah hubungan anak dengan smartphone-nya juga mampu menumbuhkan sifat-sifat komunikatif sang anak. Dengan catatan, orang tua yang sibuk bekerja harus mulai mengatur jadwal intensifitas dengan anaknya. Sehingga kegiatan yang dijadwalkan bisa berjalan dengan baik. Syarat terakhir adalah melakukan sinergitas dan komunikasi yang intens, antara anak, pihak sekolah, dan lingkungan tempat ia melakukan aktivitas di luar sekolah. (Sufyan/Kendi Setiawan)
 
Ahad 4 Agustus 2019 23:30 WIB
Bangkitkan Warga Sulteng, NU Peduli Gelar Pelatihan UMKM
Bangkitkan Warga Sulteng, NU Peduli Gelar Pelatihan UMKM
Pelatihan UMKM bagi warga Sulawesi Tengah yang terdampa bencana alam, kerja sama NU Care-LAZISNU dan Telkom Indonesia.
Palu, NU Online
Tulisan 'Palu Bangkit', 'Donggala Bangkit', 'Sigi Bangkit' di tembok-tembok bagian samping rumah yang dibuat dengan pilox, di beberapa titik terdampak bencana gempa di Sulawesi Tengah, seperti menguatkan semangat warga untuk kembali bangkit. Hal itu juga yang dicita-citakan NU Peduli, salah satunya dengan Pelatihan UMKM kepada warga Sulawesi yang terdampak gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada akhir September 2018 lalu.

Program tersebut menjadi bagian dari NU Peduli Sulteng, hasil kerja sama NU Care-LAZISNU dan Telkom Indonesia.
 
Manajer Program NU Care-LAZISNU, Slamet Tuharie, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memulihkan dan membangkitkan kembali kehidupan masyarakat Sulteng, salah satunya dengan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
 
"Guna Sulteng kembali bangkit. Seperti yang sudah kami lakukan di Lombok, dalam program recovery dan empowerment NU Peduli Lombok, kini sudah ada 20 binaan UMKM yang sudah punya produk sendiri. Dan alhamdulillah produk mereka (warga Lombok) sudah dipasarkan," ungkap Slamet di hadapan 30 peserta pelatihan UMKM yang digelar di Winners Cafe, Kota Palu, Jumat (2/08) malam.
 
Slamet menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, melainkan juga pemberian modal usaha.
 
"Tapi modal usaha itu jangan hanya diartikan dalam bentuk uang. Modal itu bisa berupa alat atau piranti usaha. Dan pelatihan ini juga sebagai modal untuk memulai dan memantapkan usaha," jelasnya.
 
Adapun 30 peserta yang hadir berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, dengan berbagai macam usaha. Kemudian, Tim NU Peduli mengidentifikasi jenis usaha para peserta, waktu usaha, beserta kendala yang dihadapi.
 
"Kami juga memetakan atau mempersilakan, dari pelatihan ini apakah ada usaha yang mau dikolaborasikan, jadi kelompok atau mau individu," imbuhnya.
 
Slamet menyampaikan, setelah pertemuan tahap pertama kegiatan tersebut dan Tim NU Peduli sudah mendapatkan data usaha tiap peserta, akan dilakukan pertemuan tahap selanjutnya dengan mengundang beberapa usahawan.
 
"Setelah ini, setelah kami mendapatkan data dan kami identifikasi, di pertemuan selanjutnya akan kami undang para usahawan untuk memberi pelatihan secara langsung kepada para peserta pelatihan UMKM ini," pungkasnya. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)
Ahad 4 Agustus 2019 21:30 WIB
Nahdliyin Harus Bermusyawarah untuk NU yang Lebih Baik
Nahdliyin Harus Bermusyawarah untuk NU yang Lebih Baik
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan, KH Muhammad Tohir.
Tangsel, NU Online
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan interaksi dengan masyarakat lainnya. Terlebih dalam merumuskan solusi atas suatu persoalan. Tak ayal, musyawarah menjadi media berunding guna menemukan jalan keluar paling tepat.

"Tidak akan rusak seseorang yang mau bermusyawarah," kata KH Muhammad Tohir, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan, mengutip ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib, saat memberikan sambutan pada Silaturahim dan Rembuk Warga NU Kota Tangerang Selatan, Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Ahad (4/8).
 
Lebih lanjut, Kiai Tohir menjelaskan bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib membagi manusia menjadi tiga macam. Pertama, manusia sempurna, yakni orang yang memiliki pendapat yang benar juga mau bermusyawarah. "Seseorang yang memiliki pendapat benar dan mau bermusyawarah," ujarnya.
 
Jenis kedua, lanjutnya, adalah setengah manusia. Orang yang termasuk ke dalam jenis ini dialah yang memiliki pandangan yang benar, tetapi enggan melakukan musyawarah. "Seseorang yang memiliki pendapat benar, tetapi tidak mau bermusyawarah," jelasnya.
 
Sebagai Nahdliyin, menurutnya, harus berkumpul untuk bermusyawarah dan mengungkapkan pandangan terbaiknya untuk kemajuan NU ke depan lebih baik lagi.
 
Sementara itu, orang ketiga yang diungkapkan oleh ayahanda Sayidina Hasan dan Sayidina Husein itu, jelasnya, adalah manusia yang sesungguhnya tidak ada apa-apanya. "Tidak punya pendapat benar dan tidak mau bermusyawarah," katanya.
 
Di samping itu, ia juga mengungkapkan bahwa  NU mampu mengintegrasikan dua cinta, yakni cinta pada agama dan cinta pada negara dalam satu tarikan nafas. "Mencintai dua-duanya masing-masing seratus persen," katanya.
 
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten KH Bunyamin menyampaikan bahwa NU akan tetap kokoh meski berbagai pihak menginginkan bubar. "Insyaallah (NU) akan tetap berkibar," tegasnya.
 
Keyakinan itu ia dasarkan pada kelahiran NU yang penuh dengan tirakat dan riyadlah para pendirinya. Sampai pun pada pembuatan lambangnya, juga didasarkan atas pemikiran dan tirakat yang cukup panjang.
 
Kegiatan ini dihadiri warga NU se-Kota Tangerang Selatan. Hadir pula Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Masykuri Abdillah, A'wan PBNU sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Hj Chuzaimah Tahido Yanggo, Tokoh NU Kota Tangerang Selatan Hj Siti Nur Azizah, dan penulis buku Seri Islam Nusantara, Ahmad Baso. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG