Medsos Bisa Memecah Belah Bangsa, Namun juga Bisa Menyatukannya

Medsos Bisa Memecah Belah Bangsa, Namun juga Bisa Menyatukannya
Ilustrasi website
Ilustrasi website

Jakarta, NU Online

 

Di zaman digital seperti saat ini di mana media internet memberikan kemudahanuntuk memproduksi informasi dan menyebarkannya, setiap anggota masyarakat memiliki peran besar dalam pernyebaran informasi di tengah masyarakat.

 

Sayangnya, kemudahan itu terkadang digunakan sebagian dari anggota masyarakat untuk memproduksi dan menyebarluaskan informasi yang salah untuk menyebabkan kericuhan di tengah masyarakat. Penyalahgunaan fasilitas informasi digital ini kerap kali kita temukan selama momen pemilihan seperti Pemilu beberapa waktu lalu.

 

Selama Pemilu 2019 lalu, terjadi penyalahgunaan fasilitas informasi yang massif yang bermuara dari kepentingan politik terutama karena beda pilihan calon presiden dan wakil presiden. Sehingga, masyarakat Indonesia yang dulu dikenal ramah dan santun menjadi mudah marah, yang dulu guyub dan suka musyawarah menjadi manusia yang egois dan menang sendiri.

 

Bahkan tak jarang, sebagian kelompok memanfaatkan medsos untuk menyuarakan narasi-narasi negatif seperti intoleransi, radikalisme, terorisme, dan ekstremisme. Fenomena ini, menurut pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio disebabkan karena minimnya rasa tanggung jawab pemilik akun media sosial.

 

“Kegaduhan di medsos ini ada kaitannya dengan kebebasan berpendapat pemilik akun medsos. Pemilik akun media sosial seharusnya memiliki tanggungjawab terhadap dirinya, terhadap lingkungan sekitarnya, terhadap hari ini, dan terhadap masa depan,” kata Hendri Satrio di Jakarta.

 

Hendri menilai, hal semacam ini tidak bisa dibiarkan. Semua kelompok harus bekerja sama untuk menciptakan sosial yang lebih baik, baik kondisi di dunia maya dan dunia nyata. Salah satu cara yang bisa ditempuh menurutnya adalah dengan mempengaruhi pemilik akun media sosial untuk terlibat dalam menyuarakan narasi yang menyejukkan dan tidak lagi mengunggah konten negatif.

 

“Kita harus kembali ke kaidah atau atau warisan pendiri bangsa. Ada banyak warisan yang ditinggalkan pendiri bangsa untuk Indonesia seperti musyawarah mufakat, toleransi, tepo seliro di dunia nyata dan dunia maya,” tutur Hendri.

 

Berbicara tentang medsos dan berbagai fenomena yang ditimbulkan, Hendri mengungkapkan, hal ini juga tidak lepas dari kepemimpinan bangsa. Menurutnya, para pemimpin bangsa harus walk the top dan mampu memberikan contoh kepada masyarakat dengan melawan isu intoleransi, radikalisme, dan terorisme.  

 

Hendri juga mengimbau agar pemerintah secara berkala harus memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang penggunaan medsos yang bertanggungjawab. Dia mengakui, kondisi saat ini berbeda dengan belasan tahun lalu, di mana medsos saat ini memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Untuk itu, kembali Hendri mengajak semua pihak agar bijaksana, terutama saat beraktivitas di medsos.

 

“Gunakan jempol sebaik-baiknya, jangan sampai gara-gara jempol kita, Indonesia terpecah belah,” pungkasnya. (Red: Ahmad Rozali)

 

BNI Mobile