IMG-LOGO
Nasional

NU Peduli Salurkan 1000 Paket Sembako dan Alat Sekolah di Sulteng

Ahad 4 Agustus 2019 7:0 WIB
Bagikan:
NU Peduli Salurkan 1000 Paket Sembako dan Alat Sekolah di Sulteng
Kecerian para siswa di Sulteng menerima bantuan peralatan sekolah dari NU Peduli.
Palu, NU Online 
Melalui program NU Peduli Sulteng, NU Care-LAZISNU kembali menyalurkan bantuan bagi warga penyintas bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Sulawesi Tengah yang terjadi pada akhir September 2018.

Bantuan berupa 1000 paket sembako untuk warga Palu, Donggala, dan Kabupaten Sigi, disalurkan pada hari Jumat dan Sabtu, 2-3 Agustus 2019.
 
Hari pertama, Tim NU Peduli menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah (school kits) ke beberapa sekolah, tempat pembelajaran Al-Qur'an (TPQ), pondok pesantren, PAUD, dan panti asuhan yang tersebar di Palu, Donggala, dan Sigi.

Manajer Program NU Care-LAZISNU, Slamet Tuharie, berharap bahwa kegiatan yang merupakan program kerja sama antara NU Care-LAZISNU dengan Telkom dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak bencana.

Kunjungan pertama Tim NU Peduli ke SD Inpres 10 Talise, Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu, disambut ceria wajah anak-anak, para guru, dan kepala sekolah.

"Terima kasih kepada NU dan Telkom yang telah memberikan bantuan kepada siswa kami yang terdampak tsunami. Saya menyambut baik bantuan yang diberikan ini, dan semoga siswa kami lebih semangat lagi di dalam belajar dan meraih masa depan yang cerah," ujar Ibriana, Kepala SD Inpres 10 Talise.

Muhammad Ainun Najib, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Qur'an Munzalan Mubarakan di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, mengungkapkan bantuan tersebut merupakan berkah bagi para santri dalam kondisi usai dilanda gempa.
 
"Alhamdulillah, anak-anak santri mendapatkan tas, buku dan lainnya. Ini merupakan suatu berkah bagi anak-anak dalam kondisi habis gempa. Ini sangat membantu. Membuat mereka senang. Mereka bisa sekolah, mengaji, dan menjadi tonggak estafet generasi penerus buat bangsa kita. Kami mengucapkan beribu terima kasih," ungkap Najib, Jumat (2/08) sore.
 
Sementara itu, hari kedua, Tim NU Peduli fokus menyalurkan bantuan sembako, antara lain di Desa Labean, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala; di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, dan; di wilayah relokasi bencana likuifaksi Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Palu.
 
"Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada LAZISNU dan Telkom atas bantuannya. Semoga ini (bantuan) ada berkah bagi kami dan juga para donatur tetap dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Sehat selalu. Amin," ucap Ulman salah satu penerima sembako yang juga Wakil Ketua Kampung NU Kelurahan Petobo. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 4 Agustus 2019 23:45 WIB
Peran Nilai Agama bagi Anak yang Kecanduan Smartphone
Peran Nilai Agama bagi Anak yang Kecanduan Smartphone
null
Dalam kitab Syarah Musnad Ahmad, Imam Ahmad mencantumkan suatu hadits yang menerangkan bahwa menurut Rasulullah Saw di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah dzuhurul qalam (tersebarnya pena atau tulisan). Yang dimaksud dengan dzuhurul qalam untuk masa kini bisa berlaku pada media sosial. Karena dengan media sosial, seseorang bisa menulis apa pun yang ia pikirkan dan hasil tulisan bisa disebarkan kepada orang lain melalui aplikasi dalam media sosial tersebut.
 
Namun, jika dzuhurul qalam digunakan oleh seseorang yang belum memiliki pengetahuan ilmu yang mencukupi, serta keimanan agamanya yang kurang kuat maka hal tersebut akan mengakibatkan hal-hal yang merusak, dan hal-hal negatif lainnya. Karena kekurangan-kekurangan itu tidak bisa membatasi dirinya dalam penggunaan yang sesuai.
 
Memahami hal tersebut, jika dilihat dari ilmu agamanya, penggunaan media sosial di kalangan anak-anak sebaiknya tidak diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Karena hal tersebut lebih banyak pengaruh negatifnya daripada positifnya. Anak usia setingkat sekolah dasar belum memiliki alasan memiliki akun media sosial dan bagaimana cara yang baik menggunakannya dalam konteks agama (syiar dan unsur kemanfaatan lainnya).

Tata cara penggunaan media sosial dalam konteks agama Islam bagi setiap Muslim adalah wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf). Mengajak kepada ihwal persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq). Serta harus terarah pada mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar). Interaksi melalui media sosial hendaklah digunakan untuk mempererat ukhuwwah (persaudaraan).

Tentu kita tidak bisa pula melarang secara keras kepada mereka, karena tidak sedikit pula anak-anak usia SD mampu menggunakannya sebagai media yang sesuai. Misalnya sebagai media pembelajaran tambahan, media komunikasi dengan teman yang baru dikenal, maupun sebagai pengenalan lebih dari kemajuan teknologi dunia yang terus berkembang. Artinya, penggunaan smartphone bagi anak sejatinya bisa menjadi suplemen pengetahuan bagi anak itu sendiri. 

Sayangnya, bak api jauh dari panggangannya, fakta yang terjadi malah sebaliknya. Menurut hasil penelitian Ahmad Shofiyuddin Ichsan dari Institut Ilmu Al-Qur’an Yogyakarta tahun 2018, dari sampel sekolah tingkat dasar yang diteliti di Yogyakarta, anak-anak yang memiliki media sosial, 71% sudah memiliki rasa dengan lain jenis, bahkan 39% sudah berpacaran. Selain itu, dalam penelitian yang didukung Diktis Pendis Kemenag itu ditemukan, sebanyak 60% interaksi yang dilakukan oleh anak-anak tersebut melalui pesan WhatsApp adalah interaksi dengan lawan jenisnya, sisanya, 18% berinteraksi dengan orangtua, 22% berinteraksi dengan sesama jenis.

Melihat fenomena ini, solusi yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi. Baik dari pihak orangtua, lingkungan mainnya, maupun sekolah. Perlu dilakukan pula evaluasi penanaman nilai agama pada anak. Tidak sedikit, anak-anak yang kecanduan smartphone adalah anak yang memiliki rutinitas terbatas. Orang tua bisa mulai memberinya tambahan kegiatan, yang simpel tapi bermanfaat. Agar anak pun tidak merasa terbebani sehingga enggan melakukannya kembali.

Kegiatan yang dimaksud misalnya bisa kembali mengatur jadwal mengaji Al-Qur’an-nya, mengaktifkan aktivitas olahraga bersama, mengajaknya ke panti asuhan atau panti jompo, atau melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Usahakan, kegiatan yang direncanakan itu adalah kegiatan yang menekankan nilai-nilai produktif dan sosialitatif. Sebab, kita hendak mengarahkan sang anak tersebut untuk menyadari bahwa  dunia yang ia tinggali tidak terbatas pada layar 4 atau 5 inci saja, tetapi memiliki bentuk kehidupan yang beragam. Hal ini turut pula mengajarkan kepada sang anak bahwa penanaman nilai agama, tidak terbatas pada aspek formalitas agamis semata. 

Kegiatan-kegiatan tersebut selain mengurangi jumlah hubungan anak dengan smartphone-nya juga mampu menumbuhkan sifat-sifat komunikatif sang anak. Dengan catatan, orang tua yang sibuk bekerja harus mulai mengatur jadwal intensifitas dengan anaknya. Sehingga kegiatan yang dijadwalkan bisa berjalan dengan baik. Syarat terakhir adalah melakukan sinergitas dan komunikasi yang intens, antara anak, pihak sekolah, dan lingkungan tempat ia melakukan aktivitas di luar sekolah. (Sufyan/Kendi Setiawan)
 
Ahad 4 Agustus 2019 23:30 WIB
Bangkitkan Warga Sulteng, NU Peduli Gelar Pelatihan UMKM
Bangkitkan Warga Sulteng, NU Peduli Gelar Pelatihan UMKM
Pelatihan UMKM bagi warga Sulawesi Tengah yang terdampa bencana alam, kerja sama NU Care-LAZISNU dan Telkom Indonesia.
Palu, NU Online
Tulisan 'Palu Bangkit', 'Donggala Bangkit', 'Sigi Bangkit' di tembok-tembok bagian samping rumah yang dibuat dengan pilox, di beberapa titik terdampak bencana gempa di Sulawesi Tengah, seperti menguatkan semangat warga untuk kembali bangkit. Hal itu juga yang dicita-citakan NU Peduli, salah satunya dengan Pelatihan UMKM kepada warga Sulawesi yang terdampak gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada akhir September 2018 lalu.

Program tersebut menjadi bagian dari NU Peduli Sulteng, hasil kerja sama NU Care-LAZISNU dan Telkom Indonesia.
 
Manajer Program NU Care-LAZISNU, Slamet Tuharie, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memulihkan dan membangkitkan kembali kehidupan masyarakat Sulteng, salah satunya dengan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
 
"Guna Sulteng kembali bangkit. Seperti yang sudah kami lakukan di Lombok, dalam program recovery dan empowerment NU Peduli Lombok, kini sudah ada 20 binaan UMKM yang sudah punya produk sendiri. Dan alhamdulillah produk mereka (warga Lombok) sudah dipasarkan," ungkap Slamet di hadapan 30 peserta pelatihan UMKM yang digelar di Winners Cafe, Kota Palu, Jumat (2/08) malam.
 
Slamet menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, melainkan juga pemberian modal usaha.
 
"Tapi modal usaha itu jangan hanya diartikan dalam bentuk uang. Modal itu bisa berupa alat atau piranti usaha. Dan pelatihan ini juga sebagai modal untuk memulai dan memantapkan usaha," jelasnya.
 
Adapun 30 peserta yang hadir berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, dengan berbagai macam usaha. Kemudian, Tim NU Peduli mengidentifikasi jenis usaha para peserta, waktu usaha, beserta kendala yang dihadapi.
 
"Kami juga memetakan atau mempersilakan, dari pelatihan ini apakah ada usaha yang mau dikolaborasikan, jadi kelompok atau mau individu," imbuhnya.
 
Slamet menyampaikan, setelah pertemuan tahap pertama kegiatan tersebut dan Tim NU Peduli sudah mendapatkan data usaha tiap peserta, akan dilakukan pertemuan tahap selanjutnya dengan mengundang beberapa usahawan.
 
"Setelah ini, setelah kami mendapatkan data dan kami identifikasi, di pertemuan selanjutnya akan kami undang para usahawan untuk memberi pelatihan secara langsung kepada para peserta pelatihan UMKM ini," pungkasnya. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)
Ahad 4 Agustus 2019 21:30 WIB
Nahdliyin Harus Bermusyawarah untuk NU yang Lebih Baik
Nahdliyin Harus Bermusyawarah untuk NU yang Lebih Baik
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan, KH Muhammad Tohir.
Tangsel, NU Online
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan interaksi dengan masyarakat lainnya. Terlebih dalam merumuskan solusi atas suatu persoalan. Tak ayal, musyawarah menjadi media berunding guna menemukan jalan keluar paling tepat.

"Tidak akan rusak seseorang yang mau bermusyawarah," kata KH Muhammad Tohir, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan, mengutip ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib, saat memberikan sambutan pada Silaturahim dan Rembuk Warga NU Kota Tangerang Selatan, Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Kertamukti, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Ahad (4/8).
 
Lebih lanjut, Kiai Tohir menjelaskan bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib membagi manusia menjadi tiga macam. Pertama, manusia sempurna, yakni orang yang memiliki pendapat yang benar juga mau bermusyawarah. "Seseorang yang memiliki pendapat benar dan mau bermusyawarah," ujarnya.
 
Jenis kedua, lanjutnya, adalah setengah manusia. Orang yang termasuk ke dalam jenis ini dialah yang memiliki pandangan yang benar, tetapi enggan melakukan musyawarah. "Seseorang yang memiliki pendapat benar, tetapi tidak mau bermusyawarah," jelasnya.
 
Sebagai Nahdliyin, menurutnya, harus berkumpul untuk bermusyawarah dan mengungkapkan pandangan terbaiknya untuk kemajuan NU ke depan lebih baik lagi.
 
Sementara itu, orang ketiga yang diungkapkan oleh ayahanda Sayidina Hasan dan Sayidina Husein itu, jelasnya, adalah manusia yang sesungguhnya tidak ada apa-apanya. "Tidak punya pendapat benar dan tidak mau bermusyawarah," katanya.
 
Di samping itu, ia juga mengungkapkan bahwa  NU mampu mengintegrasikan dua cinta, yakni cinta pada agama dan cinta pada negara dalam satu tarikan nafas. "Mencintai dua-duanya masing-masing seratus persen," katanya.
 
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten KH Bunyamin menyampaikan bahwa NU akan tetap kokoh meski berbagai pihak menginginkan bubar. "Insyaallah (NU) akan tetap berkibar," tegasnya.
 
Keyakinan itu ia dasarkan pada kelahiran NU yang penuh dengan tirakat dan riyadlah para pendirinya. Sampai pun pada pembuatan lambangnya, juga didasarkan atas pemikiran dan tirakat yang cukup panjang.
 
Kegiatan ini dihadiri warga NU se-Kota Tangerang Selatan. Hadir pula Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Masykuri Abdillah, A'wan PBNU sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Hj Chuzaimah Tahido Yanggo, Tokoh NU Kota Tangerang Selatan Hj Siti Nur Azizah, dan penulis buku Seri Islam Nusantara, Ahmad Baso. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG