IMG-LOGO
Internasional

Pasar  Pagi Dadakan, Obat Kangen Jemaah Haji Nikmati Masakan Indonesia

Ahad 4 Agustus 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Pasar  Pagi Dadakan, Obat Kangen Jemaah Haji Nikmati Masakan Indonesia
Suasana Pasar Pagi Dadakan (Foto: Faizin/NUO)
Makkah, NU Online
Setiap pagi di depan hotel yang ditempati para jemaah haji Indonesia, suasana selalu ramai dipadati pedagang yang menjajakan berbagai jenis dagangan. Mayoritas para pedagang yang merupakan para mukimin (penduduk luar yang tinggal di Arab) menjajakan berbagai menu makanan khas Indonesia. Namun beberapa warga Arab Saudi juga ikut berdagang.
 
Keberadaan para pedagang ini sangat membantu para jemaah yang ingin mengobati rasa kangen makan menu masakan Indonesia. Nasi uduk, nasi goreng, bubur ayam, sampai ketela rebus dan sayur bening tersedia dengan harga terjangkau.
 
"Harganya sama dengan di rumah. Murah rata-rata sayur sekitar 2 real-an," kata Suparman, jemaah yang tinggal di Hotel 114 kawasan Syisyah yang baru saja membeli sayur bening bayam, Ahad (4/8).
 
Pasar ini juga menjadi salah satu solusi bagi jemaah yang terbiasa makan sarapan pagi. Pasalnya pemerintah memberi jatah makan dua kali yakni siang dan malam. Untuk pagi, jemaah tidak disediakan nasi namun disediakan kueh untuk menambah tenaga.
 
Berdasarkan pantauan NU Online, pasar ini dimulai saat para jemaah sudah berdatangan dari Masjidil Haram melaksanakan shalat shubuh. Sekitar 7 sampai 10 pedagang sudah menggelar dagangannya.
 
Perbedaan bahasa tidak menjadi kendala para jemaah dalam berkomunikasi dan bertransaksi. Bagi jemaah yang tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris cukup menggunakan bahasa isyarat dan transaksi pun bisa sukses berjalan.
 
Kendala perbedaan mata uang juga tidak menjadikan masalah. Beberapa pedagang menerima pembelian baik menggunakan uang real maupun rupiah Indonesia.
 
Selain makanan, pasar pagi ini juga menyediakan beberapa pernak-pernik khas Arab yang bisa dijadikan oleh-oleh para jemaah untuk para saudaranya di tanah air. Baju, sajadah, cincin, gelang, kurma, dan berbagai cinderamata khas arab dijual dengan harga terjangkau.
 
"Saya beli sajadah ini kalau dirupiahkan sekitar 30 ribuan. Saya beli di Indonesia juga segitu," kata salah satu jemaah dari Sumatera Utara yang memborong 5 lembar sajadah sekaligus untuk oleh-oleh keluarganya di Medan. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 4 Agustus 2019 6:0 WIB
PCINU Taiwan Diskusikan Penangkalan Hoaks
PCINU Taiwan Diskusikan Penangkalan Hoaks
Diskusi dan peluncuran buku 'Ruang Opini Publik' PCINU Taiwan.
Taipei, NU Online 
Hoaks, menurut Cambridge Dictionary dapat diartikan sebuah rencana atau trik untuk membohongi seseorang, seperti mengatakan berita yang tidak benar, baik sebagian maupun sepenuhnya salah. Maraknya hoaks yang beredar di masyarakat Indonesia, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelum masa Pilpres hingga pesta demokrasi akbar Indonesia itu berakhir, hoaks belum lenyap dari jagat nyata maupun maya.

Menggandeng PCINU Taiwan, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI Taipei) dan Bank Negara Indonesia (BNI), Indonesia Diaspora Network in Taiwan (IDN) Taiwan memanfaatkan momentum terbitnya buku berjudul Ruang Opini Publik karya Lalu Tri Wijaya Nata Kusuma, yang merupakan cendikiawan muda anggota PCINU Taiwan.
 
"Melalui  diskusi publik yang mengambil tema tentang Cerdas Beropini, Stop Hoax! ini selain sebagai wadah untuk launching perdana buku Ruang Opini Publik, juga merupakan sebuah upaya edukasi dan ruang berdiskusi positif bagi masyarakat, khususnya untuk para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, mahasiswa, serta elemen-elemen lainnya yang merasakan keresahan yang sama tentang bahaya hoaks," ujar L Tri Wijaya, yang sebelumnya juga merupakan Ketua PPI Taiwan periode 2017/2018.
 
Hadir dalam pembukaan dan peluncuran Ruang Opini Publik yang berlangsung akhir Juli 2019 tersebut, Rais Syuriyah PCINU Taiwan Ustadz Agus.
 
Kegiatan diskusi tersebut sebagai ajang edukasi bagi mereka agar lebih cerdas dalam beropini juga khususnya bersosial-media. "Terbitnya buku Ruang Opini Publik yang ditulis oleh L Tri Wijaya, diharapkan nantinya dapat menjadi rujukan literasi rekan-rekan WNI di Taiwan dalam menyikapi fenomena hoaks sebagai upaya agar selalu berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat," katanya.
 
Dalam artikel- artikel opini yang ditulis oleh L Tri Wijaya tersebut, diharapkan dapat menambah wawasan dan perspektif baru bagi pembaca khususnya dikalangan para aktivis mengenai problematika kehidupan bermasyarakat khususnya di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana mengelola ide atau gagasan dalam pandangan objektif dan komprehensif.
         
Seiring perkembangan zaman, di mana begitu pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat arus informasi begitu cepat tersalurkan melalui kanal-kanal media online di seluruh dunia. Peran platform sosial media begitu mendominasi kehidupan masyarakat, sehingga pemikiran, asumsi atau opini dengan cepat berkembang.

Prinsipnya, tidak mudah bahkan mungkin kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan atau menghentikan pola komunikasi dan arus informasi yang liar tersebut. Seiring maraknya penyebaran informasi yang cenderung subjektif dan terindikasi hoaks maka ruang- ruang opini publik tersebut tidak dapat sepenuhnya menjadi acuan dalam menerima informasi dan membuat sebuah keputusan secara instan.

"Akibat dari ego dan hawa nafsunya, banyak dari kita yang terseret arus untuk menyebar berita atau informasi yang belum jelas terbukti sumber dan kebenarannya. Maka, pentingnya nilai tabayyun adalah dengan meneliti dan menyeleksi informasi, tidak tergesa-gesa memutuskan permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebaginya hingga sampai jelas benar permasalahnnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa tersakiti," kata Tri.

Dalam buku tersebut berbagai fenomena kasus yang terjadi di Indonesia dibahas, dengan perspektif penulis secara objektif dan komprehensif seperti kehidupan generasi millennial di era ekonomi digital, isu tenaga kerja asing dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, sistem transportasi, pengelolaan sampah, kehiduapan pelajar dan pekerja migran di Taiwan, hingga isu politik Palestina.

"Secara keseluruhan, pesan yang ingin disampaikan dalam buku tersebut khususnya bagi rekan-rekan aktivis millenial bahwa dalam menghadapi isu atau fenomena kehidupan bermasyarakat di Indonesia agar selalu memberikan infromasi, pandangan dan opini yang kritis, rasional dan objektif. Sehingga, masyarakat di luar sana dapat tercerahkan dan mendapat manfaat dalam penyebaran informasi yang didapatkan melalui kanal-kanal berita online," pungkas Tri. (Red: Kendi Setiawan)
Sabtu 3 Agustus 2019 22:0 WIB
Kegiatan Jemaah Haji Indonesia di Sela Tunggu Wukuf di Arafah
Kegiatan Jemaah Haji Indonesia di Sela Tunggu Wukuf di Arafah
Suasana Sekitar Masjidil Haram (Foto: Faizin)
Makkah, NU Online
Pemerintah Arab Saudi telah memutuskan tanggal 1 Dzulhijjah 1440 H jatuh pada 2 Agustus 2019. Sehingga puncak haji yakni wukuf di Arafah akan dilakukan oleh seluruh jemaah haji pada Sabtu 10 Agustus 2019.
 
Menunggu ibadah wukuf yang menjadi inti ibadah haji, jemaah haji Indonesia memanfaatkan waktu tersisa dengan berbagai kegiatan baik dalam maupun luar hotel. 
 
Berdasarkan pantauan NU Online di beberapa hotel di kawasan Raudhah dan Syisyah pada Sabtu (3/8), banyak jemaah secara berombongan menunggu kendaraan bus yang akan menghantarkan mereka menuju beberapa tempat miqat untuk melaksanakan umrah.
 
Suasana Makkah memang semakin hari semakin ramai. Pasalnya jemaah calon haji Indonesia gelombang pertama sudah mulai meninggalkan Kota Madinah menuju Makkah. Hal ini bisa terlihat dari semakin ramainya hotel-hotel dengan aktivitas jemaah.
 
Selain umrah, jemaah juga memanfaatkan waktunya meninjau lokasi Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan berbagai tempat bersejarah seperti Gua Hira, beberapa masjid bersejarah di kota Makkah, dan mengunjungi berbagai tempat seperti tempat penyembelihan dam dan tempat pembuatan kain penutup (Kiswah) Ka'bah.
 
Mereka juga memaksimalkan waktu dengan berbagai kegiatan ibadah lain seperti shalat berjamaah di Masjidil Haram, dzikir dan Yasinan bersama di Hotel serta menggelar Ngaji Bareng.
 
Namun untuk menjaga kondisi kesehatan jemaah, para petugas kelompok terbang (kloter) terus mengingatkan jemaah untuk tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berlebih. Ini dilakukan agar pada saat wukuf, seluruh jemaah dalam kondisi sehat dan dapat mengikutinya dengan sempurna.
 
Seperti himbauan yang disampaikan Ketua Kloter JKG 51, Hilal kepada jemaahnya untuk mempersiapkan dan memaksimalkan persiapan wukuf. 405 orang jemaah yang ada dalam kloter tersebut diimbau mengurangi kegiatan fisik berlebih apalagi di luar ruangan mengingat rata-rata suhu di Makkah saat ini mencapai 42 derajat celcius.
 
"Bagi para orang tua yang memiliki masalah kesehatan kita anjurkan untuk melaksanakan ibadah di hotel saja mengingat kepadatan jemaah di bus dan Masjidil Haram semakin meningkat," katanya kepada NU Online, Sabtu (3/8).
 
Hilal menambahkan bahwa jelang Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) Pemerintah Arab Saudi melakukan persiapan dengan penyesuaian jadwal kendaraan khususnya bus shalawat sebagai angkutan jemaah dari hotel ke Masjidil Haram.
 
"Sebelum masa Armuzna, angkutan shalawat berhenti beroperasi mulai tanggal 6 Agustus 2019 atau 5 Dzulhijjah 1440 H. Sesudah masa Armuzna angkutan shalawat beroperasi kembali mulai tanggal 15 Agustus 2019 atau tanggal 14 Dzul Hijjah 1440 H," jelasnya.
 
Oleh karena itu ia mengingatkan dan menyarankan jemaah kloternya untuk melaksanakan shalat lima waktu dan ibadah lainnya di hotel atau masjid terdekat yang ada di sekitar hotel. (Muhammad Faizin)
Sabtu 3 Agustus 2019 16:24 WIB
Viral Video Habib Syech Al-Habsyi Dapat Pengawalan Khusus Saat Cium Hajar Aswad
Viral Video Habib Syech Al-Habsyi Dapat Pengawalan Khusus Saat Cium Hajar Aswad
Habib Syech al-Habsyi mendapatkan pengawalan khusus ketika hendak mencium Hajar Aswad.
Jakarta, NU Online
Sebuah video yang memperlihatkan Habib Syech bin Abdullah al-Habsyi yang sedang mencium Hajar Aswad viral di media sosial. Pasalnya, dalam video berdurasi 21 detik itu, Habib Syech terlihat mendapatkan pengawalan khusus dari petugas keamanan Masjidil Haram (askar) ketika hendak mencium batu hitam itu.

Sebetulnya video Habib Syech mencium Hajar Aswad itu sudah diunggah akun Instagram @habibahmad_aliassegaf dan beberapa akun di Youtube pada akhir Januari lalu, namun kemudian menjadi viral di medis sosial beberapa hari terakhir ini. 

“Masya Allah...Al Habib SYECH BIN ABDULLAH AL HABSYI...dengan mudahnya beliau mencium HAJAR ASWAD..semua Askar polisi yg bertugas mempersilahkan & mensterilkan ruang agar sang Habibul barokah ini bisa dgn leluasa menciumnya,” tulis @habibahmad_aliassegaf. 
 
Mengenakan sarung, baju dan serban putih, serta serban berwarna hijau yang disematkan di lehernya Habib Syech al-Habsyi semula dipapah dua orang dari kursi rodanya. Habib Syech kemudian diarahkan untuk menuju ke Hajar Aswad. 

Pada saat yang bersamaan, beberapa askar terlihat sedang menahan para jamaah lainnya di Masjidil Haram dengan sekuat tenaga agar mereka tidak mendekat ke Hajar Aswad, mengingat Habib Syech sedang menuju ke sana. Ketika sampai di depan Hajar Aswad tepat, Habib Syech kemudian ‘memasukkan’ kepalanya dan mencium batu hitam itu sebanyak tiga kali. 

Sebagaimana diketahui, Hajar Aswad adalah batu hitam yang awal mulanya berasal dari surga. Semula dikatakan kalau Hajar Aswad berwarna putih, namun karena dosa-dosa manusia yang menciumnya maka kemudian batu ini berubah menjadi hitam.

Mencium dan mengusapkan tangan pada Hajar Aswad merupakan salah satu dari syariat agama. Hal ini sesuai dengan kisah Sayyidina Umar bin Khattab yang mendatangi Hajar Aswad dan kemudian menciumnya. Ketika itu, Sayyidina Umar mengatakan bahwa dirinya mencium batu hitam itu karena Nabi Muhammad juga melakukannya. 

“Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu.” Kata Sayyidina Umar dalam sebuah hadits riwayat Bukhari.

Disebutkan bahwa Hajar Aswad memiliki banyak keistimewaan. Diantaranya Hajar Aswad menduduki tempat paling mulia di muka bumi ini, menjadi saksi bagi siapa saja yang menyentuhnya pada hari kiamat nanti, memberikan syafaat dan syafaatnya diterima Allah, Hajar Aswad sebagai ‘tangan Allah’ di bumi, dan lainnya. (Red: Muchlishon)

Pengubahan konten. Sebelumnya, tulisan ini berjudul ‘Viral Video Mbah Moen Dapat Pengawalan Khusus Saat Cium Hajar Aswad’ karena video ini viral di media sosial sebagai KH Maimoen Zubair. Redaksi telah mencoba melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak sebelum mengunggah tulisan awal, tetapi ternyata informasi tersebut kurang akurat. Atas ketidakakuratan ini, redaksi mohon maaf kepada seluruh pihak terkait. Tulisan diedit pada Sabtu, 3 Agustus 2019 pukul 16.24.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG