IMG-LOGO
Fragmen

Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka

Senin 5 Agustus 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jemaah haji asal Martapura Kalimantan (dok KITLV -Tropenmuseum)
Beberapa tahun Indonesia merdeka, terjadi kekosongan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Menurut data yang disampaikan majalah Tempo edisi 24 april 2011, yang mengutip data dari Departemen Agama RI, salah satu penyebab kekosongan tersebut adalah keadaan yang masih sulit dan genting. 

Setelah merdeka, Indonesia tidak serta-merta mendapatkan keamanan dan pengakuan kedaulatan, apalagi kemakmuran. Penjajah Belanda yang membonceng tentara Sekutu berusaha kembali ke Indonesia. Situasi semacam itu dihadapi bangsa Indonesia dengan perjuangan fisik seperti pertempuran hingga dan diplomasi. Di antara gangguan keamanan yang terjadi setelah Indonesia merdeka adalah agresi militer Belanda I dan II.  

Tokoh utama NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan fatwa tidak wajib beribadah haji ketika negara dalam keadaan perang. Fatwa tersebut kemudian menjadi Maklumat Menteri Agama Nomor 4 tahun 1947, yang menyatakan ibadah haji dihentikan selama negara dalam keadaan genting.  

Pada tahun 1952, jamaah calon haji Indonesia membludak dalam ukuran masa itu. Dalam laporan Kementerian Agama yang dikutip Tempo, tahun Indonesia mengantongi calon jamaah haji sebanyak 14 ribu orang. 

“Suatu jumlah yang lebih tinggi dari tahun-tahun yang sudah, yaitu untuk mengurangi rasa kecewa di kalangan kaum muslimin, agar tiada timbullah kemungkinan bahwa mereka itu digunakan oleh mereka yang tidak mengingikan keteguhan Negara RI,” ungkap KH Wahid pada laporan saat ia mengakhiri jabatan Menteri Agama Indonesia tahun 1953.  

Tahun-tahun sebelumnya, seperti tahun 1949 jumlah jamaah haji Indonesia adalah 9.892 orang. Tahun 1950 jumlahnya meningkat menjadi 10.000 orang ditambah 1.843 orang yang berangkat secara mandiri (Tempo edisi 24 april 2011).

Indonesia merupakan negara yang selalu memiliki calon jamaah haji yang sangat besar. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Martin van Bruinessen dalam artikelnya berjudul Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji mengatakan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 jamaah haji Indonesia sebanyak 10-20 persen dari seluruh jamaah haji dunia. Malah pada tahun 1920-an, jumlahnya sekitar 40 persen dari seluruh jamaah haji dunia. 

Namun, minat berhaji yang sedemikian banyak itu, tidak diimbangi dengan pelayanannya. Jamaah calon haji yang meninggal dalam keberangkatan maupun pulang sering terjadi karena kurangnya tenaga medis. Pada masa itu, perjalanan haji bisa berbulan-bulan sebab menggunakan kapal laut. 

Hal itu menjadi keprihatinan KH Wahid Hasyim saat menjadi menteri agama. Dalam artikelnya, Perbaikan Perjalanan Haji, yang dimuat di Mimbar Agama edisi 17 Agustus seperti yang dikutip Tempo edisi sama, Kiai Wahid mengurai persoalan haji Indonesia. 

Anggota jamaah haji Indonesia, menurut Kiai Wahid, orang dari lapisan bawah yang agak mampu, tapi kurang pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Mereka mengeluarkan semua biaya berhajinya dengan keyakinan untuk ibadah, sehingga mereka tak peduli besarnya biaya yang dikeluarkan. Hal ini menyebabkan mereka menjadi mangsa empuk orang-orang yang tega mengambil kesempatan. (Abdullah Alawi)  
   
 
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 2 Agustus 2019 15:30 WIB
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari (istimewa)
Menghadapi penjajah tidak cukup hanya mengandalkan perlawan fisik dan bersenjata, tetapi upaya batin melalui sejumlah wirid serta perlawanan kultural juga menjadi strategi penting yang perlu dilakukan rakyat Indonesia. Perlawanan kultural yang cukup ampuh menghadang penjajah Belanda kerap dilakukan oleh kalangan pesantren.

Keberhasilan perlawanan kultural oleh kaum santri karena mampu menggerakkan sekaligus memompa nasionalisme bangsa Indonesia dalam melawan kolonial. Salah satu strategi kultural yang dilakukan oleh pesantren ialah mengeluarkan fatwa dan menjadi wadah pergerakan nasional secara umum.

Sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, pemimpin besar NU dan pemimpin besar bangsa Indonesia ialah ketika mengharamkan santri memakai pakaian yang menyerupai Belanda yang terbukti efektif menggerakkan perlawanan secara luas terhadap kolonial. Namun, fatwa tersebut hanya berlaku pada konteks saat itu, bagaimana Kiai Hasyim Asy’ari melihat propaganda Belanda melalui borjuisme kolonial lewat busana.

Fatwa penting juga dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari bersama ulama se-Jawa dan Madura ketika mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Saat itu Belanda (NICA) yang membonceng pasukan sekutu (Inggris) hendak kembali menduduki wilayah Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II.

Fatwa Jihad tersebut seketika menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari seluruh penjuru tanah air untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari mempunyai esensi bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban agama.

Pada masa-masa revolusi antara tahun 1946-1948, Belanda tidak juga surut untuk terus berupaya kembali menduduki Indonesia. Menurut catatan Sejarawan NU, Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017), gejolak revolusi tersebut dirasakan sebagai penderitaan luar biasa karena semua kegiatan sosial ekonomi terganggu termasuk aktivitas menjalankan ibadah haji bagi umat Islam.

Umat Islam risau karena perjalanan haji terhenti akibat perang sehingga  tidak menjamin keamanan para jemaah alon haji. Melihat situasi itu, Gubernur Hindia-Belanda, Van der Plaas segera mengambil tindakan untuk menolong umat Islam. Belanda mengumumkan bagi yang  hendak melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas selengkapnya dan dijamin keamanannya.

Tentu saja tawaran itu menggoda umat Islam yang kebetulan selama beberapa tahun dalam gelora revolusi itu perjalanan ibadah haji terganggu, saat ini Belanda menjamin fasilitas untuk mereka, maka banyak yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji. Sekilas kebijakan tersebut nampak populis, tapi mengandung intrik politik untuk meraup simpati umat Islam Indonesia.

Belanda mengumumkan bagi yang ingin melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas lengkap dan dijamin keamanannya. Karuan saja tawaran tersebut menarik umat Islam Indonesia untuk mendaftar haji mengingat beberapa tahun terkahir pemberangkatan haji terganggu oleh perang.

Masih dalam catatan Mun’im DZ, di tengah kegairahan umat Islam untuk berhaji, tiba-tiba Rais Akbar NU, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa melakukan ibadah haji saat ini hukumnya haram. Ibadah haji memang sebuah kewajiban bila syarat rukunnya terlengkapi. Sementara saat ini Indonesia dalam keadaan perang, kapal sebagai sarana transportasi haji belum dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu bila pergi haji naik kapal milik orang kafir (Belanda), maka hukumnya haram dan hajinya tidak sah.

Fatwa itu  membuat umat Islam tertegun, tetapi bagaimana pun dengan hujjah-nya yang kuat dan sesuai nalar, maka seberat apapun fatwa itu mesti ditaati, umat Islam banyak yang membatalkan perjalanan hajinya. Tentu saja hal itu dan membuaat Belanda geram, bukan karena usaha pelayarannya tidak laku, tetapi lebih penting lagi usahanya gagal dalam mempengaruhi hati umat Islam agar tidak memihak pada republik pimpinan Soekarno-Hatta.

Sekali lagi, kepekaan KH Hasyim Asy’ari mampu menggerakkan perlawanan dan propaganda Belanda yang melakukan segala cara untuk menarik simpati umat Islam. Kiai Hasyim Asy’ari tahu bahwa tujuan Van der Plaas membantu umat Islam dalam menjalankan rukun Islam itu bukan untuk menolong, tetapi sebuah tipu muslihat untuk mengalihkan kesetiaan pada bangsa sendiri. Haji politis semacam itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang imam yang berpengaruh, maka fatwanya yang kontroversial itu tetap diikuti. (Fathoni)
Kamis 1 Agustus 2019 5:0 WIB
Mama Sempur dalam Kitab Cempaka Dilaga: Profesi Paling Berkah adalah Tani
Mama Sempur dalam Kitab Cempaka Dilaga: Profesi Paling Berkah adalah Tani
Minat anak muda terhadap sektor pertanian kian meningkat. (Foto. Jcomp/freepik)
Oleh Aiz Luthfi
 
KH Tb. Ahmad Bakri (1839 – 1975) atau lebih dikenal dengan Mama Sempur adalah satu di antara sekian banyak ulama yang lahir dan berdakwah di tanah Pasundan. Masa mudanya ia habiskan untuk mempelajari ilmu agama, mulai dari pesantren yang ada di Jawa, Madura sampai berguru langsung ke ulama yang ada di Mekkah Al-Mukaromah. Perjalanannya yang panjang dalam menuntut ilmu membuat nama dan juga pemikirannya banyak dikenal dan diakui oleh kalangan pesantren khususnya yang ada di tatar Sunda.
 
Kematangan ilmu agama Islam Mama Sempur kemudian dituangkan dalam puluhan kitab yang bisa ditemukan di pesantren yang ia dirikan, Pesantren Assalafiyah. Dari sekian banyak kitab yang beredar di pesantren yang berlokasi di Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta itu, ada satu kitab yang terhitung unik dan menarik, yaitu kitab Cempaka Dilaga.
 
Dikatakan unik karena kitab yang selesai ditulis pada tahun 1959 tersebut adalah satu-satunya kitab karya Mama Sempur yang judulnya menggunakan Bahasa Sunda, sementara kitab-kitab karyanya lainnya menggunakan Bahasa Arab seperti Manhajul Ibad Fi Bayani Daf`il Fasad, Saif adl-Dlarib, Tabshiratul Ikhwan dan lain sebagainya. Namun demikian, antara kitab Cempaka Dilaga dan yang lainnya memiliki kesamaan, semuanya ditulis dengan aksara pegon Sunda.
 
Mama Sempur lebih dikenal sebagai ulama sufi. Umumnya konsepsi dalam dunia tasawuf mempunyai kecenderungan berfikir tentang ibadah kepada Allah dalam rangka menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Sementara konten dalam kitab Cempaka Dilaga ini berisi tentang kehidupan dunia yang ditampilkan dalam bentuk usaha atau bekerja.
 
Kitab Cempaka Dilaga sebenarnya cukup sederhana. Hanya terdiri dari 24 halaman. Meski begitu, subtansi narasi yang disajikan tak berkurang. Kitab ini memuat nasihat-nasihat etos kerja yang semestinya dimiliki oleh umat Islam, di antaranya dapat langsung kita temukan di awal pembahasan yang mengecam keras terhadap perilaku malas dalam bekerja. Kecaman Mama Sempur terhadap orang yang malas bekerja ini diumpamakan seperti bangkai. Sebagaimana sifat bangkai, orang yang malas bekerja tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hanya akan memberi aroma busuk terhadap orang yang ada di sekelilingnya.
 
Ketika berbicara tentang bidang pekerjaan, Mama Sempur menyatakan bahwa pekerjaan yang paling utama dalam pandangan Islam adalah bertani. Untuk itu sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk memilih pekerjaan di bidang pertanian. Pernyataan ini dikuatkan oleh Mama Sempur dengan mengutip perintah Rasulullah Saw yang disampaikan dalam sebuah hadits sebagaimana berikut:
 
احرثوا فان الحرث مبارك واكثروا الجماجم
 
“Hendaklah kalian bercocok tanam karena dalam bercocok tanam mengandung banyak manfaat dan hendaklah kalian menanam banyak tanaman”
 
Dalam memaknai hadits yang bersumber dari Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali ini, Mama Sempur mengambil tiga kesimpulan sebagaimana berikut:
 
Pertama, umat Islam disarankan memilih pertanian sebagai bidang usaha yang dijalani, sebab bertani merupakan bidang usaha yang paling utama.
 
Kedua, dalam bertani akan menghasilkan keseimbangan ekosistem sehingga banyak memberi manfaat yang signifikan untuk keselarasan dan keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
 
Ketiga, di akhirat kelak orang yang becocok tanam akan mendapatkan pahala dari hasil tanamannya yang dimakan oleh binatang seperti burung, ulat dan lain sebagainya. Hal ini mengacu pada hadits lain yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia ataupun binatang ternak, melainkan hal itu sudah termasuk sedekah darinya” (Bukhari dan Muslim).
 
Keberpihakan Mama Sempur terhadap dunia pertanian ini tidak lepas dari konsep tani atau mengolah tanah yang menjadi salah satu karakter ekonomi Islam Nusantara.
 
Menurut Ahmad Baso, dalam pandangan ulama Nusantara, hubungan manusia dengan tanah seperti hubungan mereka dengan laut dan air yang menyangkut keberlangsungan hidup sebuah bangsa. Pertautan tersebut dapat diumpamakan seperti ikan dan air, jika ikan tidak ada air, maka tentu saja ikan tersebut akan mati, begitu pun dengan manusia yang membutuhkan tanah, air dan laut, maka dalam bekerja di bidang pertanian atau mengolah tanah memiliki nilai keberkahan.
 
Selain bertani, dalam kitab Cempaka Dilaga ini Mama Sempur menyebutkan dua pekerjaan lain yang dianggap baik menurut ajaran Islam, yaitu menjadi pedagang dan buruh. Namun, Mama Sempur sama sekali tidak mengutip hadits maupun pendapat ulama yang membahas tentang keutamaan keduanya sebagaimana ia menyebutkan keutamaan dalam bertani. Dapat dikatakan bahwa dari ketiga bidang pekerjaan yang dianjurkan dalam ajaran Islam ini, menurut Mama Sempur pekerjaan terbaik adalah menjadi petani, karena dalam pertanian terdapat nilai lebih yang tidak ada di dalam bidang perdagangan maupun perburuhan.
 
Pada kenyataannya, menjadi petani tidak hanya memberikan dampak positif berupa kesuksesan finansial secara pribadi. Lebih dari itu, keberhasilan di sektor pertanian akan menjadi potensi kuat untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
 
Saat ini sektor pertanian memiliki kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Dari catatan yang dihimpun, inflasi bahan makanan (pangan) dari tahun ke tahun terus menurun. Tahun 2014 tercatat nilai inflasi adalah 10,57 persen kemudian menyusut menjadi 4,93 di tahun 2015.
 
Tahun selanjutnya (2016) kembali inflasi subsektor bahan makanan menjadi 5,69 persen. Kemudian setahun berikutnya, tahun 2017 bahkan penurunan sampai pada angka1,26 persen, dan merupakan sejarah pertama kali di tanah air bila inflasi bahan makanan (pangan) lebih rendah dari inflasi umum yaitu 3,61 persen.
 
Menilik pada data tersebut, bisa disebut sektor pertanian menyumbang angka perbaikan sisi ekonomi bangsa yang signifikan. Dampak sasarannya tentu saja kepada petani yang berbasis di pedesaan. 
  
 
Penulis adalah Kontributor NU Online Wilayah Subang, Jawa Barat
Rabu 31 Juli 2019 16:15 WIB
Cara KH Wahab Chasbullah Satukan Ulama Sunni dan Syiah di Arab
Cara KH Wahab Chasbullah Satukan Ulama Sunni dan Syiah di Arab
KH Abdul Wahab Chasbullah (Dok. NU Online)
Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu, Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai madzhab resmi kerajaan.

Rencana kebijakan tersebut lantas dibawa ke Muktamar Dunia Islam (Muktamar ‘Alam Islami) di Makkah. Bgai ulama pesantren, sentimen anti-madzhab yang cenderung puritan dengan berupaya memberangus tradisi dan budaya yang berkembang di dunia Islam menjadi ancaman bagi kemajuan peradaban Islam itu sendiri.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) mencatat bahwa KH Wahab Chasbullah bertindak cepat ketika umat Islam yang tergabung dalam Centraal Comite Al-Islam (CCI)--dibentuk tahun 1921--yang kemudian bertransformasi menjadi Centraal Comite Chilafat (CCC)—dibentuk tahun 1925--akan mengirimkan delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah tahun 1926.

Sebelumnya, CCC menyelenggarakan Kongres Al-Islam keempat pada 21-27 Agustus 1925 di Yogyakarta. Dalam forum ini, Kiai Wahab secara cepat menyampaikan pendapatnya menanggapi akan diselenggarakannya Muktamar Dunia Islam. Usul Kiai Wahab antara lain: “Delegasi CCC yang akan dikirim ke Muktamar Islam di Mekkah harus mendesak Raja Ibnu Sa’ud untuk melindungi kebebasan bermadzhab. Sistem bermadzhab yang selama ini berjalan di tanah Hijaz harus tetap dipertahankan dan diberikan kebebasan”.

Kiai Wahab beberapa kali melakukan pendekatan kepada para tokoh CCC yaitu W. Wondoamiseno, KH Mas Mansur, dan H.O.S Tjokroamonoto, juga Ahmad Soorkatti. Namun, diplomasi Kiai Wahab terkait Risalah yang berusaha disampaikannya kepada Raja Ibnu Sa’ud selalu berkahir dengan kekecewaan karena sikap tidak kooperatif dari para kelompok modernis tersebut.

Hal ini membuat Kiai Wahab akhirnya melakukan langkah strategis dengan membentuk panitia tersendiri yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz pada Januari 1926. Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam ini telah mendapat restu KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

Perhitungan sudah matang dan izin dari KH Hasyim Asy’ari pun telah dikantongi. Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah. Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz. Namun setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi? Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama (nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.

Setelah berhasil menyatukan diri dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, persoalan ternyata tidak berhenti di situ. Pekerjaan berat Kiai Wahab Chasbullah dan delegasi Komite Hijaz ialah bagaimana menyatukan dan menggerakkan ulama-ulama di Timur Tengah untuk menentang agenda Wahabisme di Saudi. Sebab, ulama di Timteng yang terbagi ke dalam aliran Sunni dan Syiah hampir tidak bisa disatukan suaranya. Namun, Kiai Wahab Chasbullah melihat potensi persatuan kedua aliran tersebut karena sama-sama berupaya menerapkan sistem madzhab. Berbeda dengan Wahabi yang menolak madzhab.

Diceritakan oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dalam salah satu ceramahnya, kala itu KH Hasyim Asy’ari sudah dikenal ulama seantero Arab karena keilmuannya dan beliau satu-satunya ulama Indonesia yang mendapatkan gelar Hadhratussyekh. Ulama di Arab juga menyebutnya al-‘alamah, gelar yang sangat dihormati di masyarakat Arab karena kedalaman ilmu seseorang.

Kiai Hasyim Asy’ari mengutus Kiai Wahab untuk mengonsolidasikan ulama-ulama di Arab untuk bertemu. Namun, tantangan berat dihadapinya karena para ulama di Arab hampir tidak percaya Kiai Wahab adalah salah seorang murid Kiai Hasyim Asy’ari yang tersohor itu.

Akhirnya dibantu Syekh Ghanaim al-Mishri dari Mesir, Kiai Wahab berhasil mengumpulkan ulama, baik dari kelompok Sunni dan Syiah. Dia menjadi perbincangan dan bisikan ramai di antara para ulama tersebut soal dirinya adalah murid Hasdhratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Kiai Wahab mendengar bisikan-bisikan dari kedua kelompok tersebut dan akhirnya makin percaya diri untuk berbicara.

“Kami diutus Hadhratussyekh untuk meminta Anda sekalian bergerak. Bergerak tentang apa? Nanti kami ceritakan, sekarang kami mau bertanya dulu,” kata Kiai Wahab seperti dikisahkan Gus Muwafiq.
“Ulama di tempat kami ... Indonesia, jika bertemu cium tangan, tapi ulama di sini kok cium pipi kiri dan pipi kanan, itu apa sebabnya?” tanya Kiai Wahab.

“Akhirnya sebagian ulama yang hadir ada yang menjawab. “Sebab jika pipi kiri kanan bertemu, antara kulit dengan kulit bertemu itu besok akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT,” jawab salah seorang ulama.
 
“Oh...ya... ya... ya...,” tanggap Kiai Wahab.

Lalu Mbah Wahab bertanya kembali. “Lha, kalau begitu apa bedanya dengan semut? Semut itu jika ketemu dengan temannya, juga cium pipi kiri dan pipi kanan?”

Semuanya diam tak ada yang menjawab. “Lha tidak ada dasarnya dalam Al-Qur'an dan Hadits,” akhirnya dijawab sendiri oleh Kiai Wahab saat itu.

“Anda sekalian tidak tahu toh, kenapa jika semut ketemu temannya cium pipi kiri pipi kanan?” Kiai Wahab kembali menukas.

Kiai Wahab menguraikan penjelasannya. Karena dulu saat banjir, Nabi Nuh mengarungi lautan. Semua hewan ikut naik kapal Nabi Nuh. Nabi Nuh berpikir, jika nanti hewan yang naik kapal ini kawin dan berkembang biak, maka akan dapat mengakibatkan kapal tenggelam. Akhirnya Nabi Nuh memberi kebijakan, semua alat kelamin wajib dicopot dan dititipkan di lemarinya Nabi Nuh.

Begitu perjalanan sampai daratan, semua hewan berlomba lari ke daratan karena rasa dan perasaan yang sangat senang. Akhirnya ada yang melompat pertama kali, yaitu kuda. Kuda pertama kali lari dan mengambil dari kumpulan alat kelamin yang ada di lemari Nabi Nuh, tapi yang diambil adalah kelaminnya gajah (karena tertukar, makanya alat kelamin kuda itu besar).

Giliran pembagian alat kelamin, yang terakhir adalah semut. Semut pun sudah lari ke daratan. Nabi Nuh bertanya, “Lha ini alat kelaminnya siapa?” Ada yang menjawab, “alat kelaminnya semut, Nabi Nuh”.

“Lha semut ke mana?”

“Sudah lari ke daratan dari tadi.”

Ditunggu lama, semut tidak juga kembali. Akhirnya alat kelamin semut dihanyutkan bersama lemari Nabi Nuh. Hilang tidak tahu ke mana. Maka, mulai saat itu semut mencari alat kelaminnya. Dan setiap kali bertemu dengan temannya pasti bertanya: “Alat kelaminmu sudah ketemu apa belum?”

Akhirnya ulama Sunni dan ulama Syiah Syiah bisa tertawa bersama. Kemudian rukun, saling bertepuk pundak dan saling salam-salaman. Mulai saat itu, mereka bersatu bersama menolak pembongkaran makam Kanjeng Nabi Muhammad oleh Kerajaan Arab Saudi beraliran Wahabi, hingga sampai saat ini makam Kanjeng Nabi masih utuh.

Begitulah humor cerdas dan berkualitas dari Kiai Wahab sebagai cara menyatukan para ulama di Arab untuk menentang rencana pembongkaran makam Rasulullah oleh Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin Raja Saud. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG