Lakpesdam: Mahasantri Ma’had Aly Laik Jadi Ulama Masa Depan

Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad
Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad, Lakpesdam: Mahasantri Ma’had Aly Laik Jadi Ulama Masa Depan
Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad, Lakpesdam: Mahasantri Ma’had Aly Laik Jadi Ulama Masa Depan
Bogor, NU Online
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rumadi Ahmad menilai Mahasantri yang belajar di Ma’had Aly laik dinobatkan sebagai calon ulama masa depan. Hal itu karena untuk belajar di Ma’had Aly membutuhkan banyak pengetahuan khsusus bahkan untuk diterima di lembaga tersebut harus melalui prosedur yang ketat. 
 
“Ma’had Ali ini santrinya laik ditempatkan sebagai calon ulama masa depan, karena untuk masuk Ma’had Ali, ada kriteria khusus, beda dengan syarat masuk UIN, IAIN, atau STAIN,” kata Rumadi Ahmad saat memberikan sambutan pembukaan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) di  Lembaga Bina Santri Mandiri di Bogor Jawa Barat, Ahad (4/8) sore.
 
Ia optimis Mahasantri yang belajar di Ma’had Aly akan menjadi ulama yang memegang otoritas keulamaan di Indonesia. Artinya memiliki tingkat keilmuan yang mumpuni dilengkapi dengan berbagai wawasan kebangsaan yang cukup. 
 
Rumadi memandang penting adanya Ma’had Aly, sebab di lembaga tersebut banyak kurikulum khusus terkait dengan ilmu-ilmu agama Islam. Namun, ia juga meminta agar mahasantri bisa memperdalam wawasan lain selain ilmu agama yang ditekuni. 
 
“Jadi ulama itu bukan hanya menguasai kitab kuning saja tetapi harus mengetahui wawasan lain, meski kami tahu anda ahlinya soal perkara wawasan keulamaan. Jadi nantinya kalian menjadi ulama otoritatif. Jangan sampai ada orang yang tidak otoritas menjadi ulama tapi tiba-tiba mengaku ulama, saya menyebutnya ulama dari pasar gelap, kalau Ma’had Ali bukan pasar gelap,” tuturnya. 
 
Ia menegaskan, Ma’had Aly adalah lembaga paling tepat untuk menjajaki Islam secara menyeluruh. Untuk itu diperlukan juga khazanah keilmuan lain yang bisa mengembangkan pengetahuan mahasantri. 
 
“Anda (mahasantri) paling otoritatif, makanya anda harus memiliki wawasan lain di luar khazanah keilmuan agama. Yaitu memahami wawasan kebangsaan, kalau dalam ilmu pesantren itu menjadi muharrik. Yaitu ulama yang tidak cukup bisa mengajar ngaji saja tetapi orang-orang yang bisa menggerakan masyarakat, itulah yang kita inginkan dari PPWK ini,” ucapnya. 
 
Seperti diketahui, Lakpesdam PBNU menggelar pembukaan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) di  Lembaga Bina Santri Mandiri di Bogor Jawa Barat, Ahad (4/8) sore. Tak seperti biasanya, pembukaan kegiatan kaderisasi bagi ulama muda tersebut nampak gelap gulita. 
 
Hal itu lantaran secara bersamaan terjadi gangguan jaringan listrik PLN di sejumlah daerah termasuk Bogor. Kendati demikian, kegiatan tetap berjalan dengan lancar, meski sempat terkendala beberapa hal tekhnis. 
 
40 peserta yang berasal dari berbagai Ma’had Aly dari Sabang sampai Merauke tersebut terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang dipandu oleh panitia. Itu bisa dibuktikan dari suasana pembukaan yang ramai dan penuh keakraban antar peserta dan panitia. 
 
Hadir pada kegiatan itu Rais Syuriah PBNU, KH Ishomuddin, Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad, Sekretaris Lakpesdam PBNU, H Marzuki Wahid, dan sejumlah Pengurus Lakpesdam PBNU. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)
BNI Mobile