IMG-LOGO
Nasional

Peran Media Islam Moderat Tebar Moderasi Pemikiran Agama 

Rabu 7 Agustus 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Peran Media Islam Moderat Tebar Moderasi Pemikiran Agama 
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Hamli.
Jakarta, NU Online
Media-media Islam moderat memiliki peran penting untuk melakukan edukasi dan kontra narasi terhadap propaganda kelompok radikal. Media ini menjadi sangat strategis dalam mempromosikan nilai Islam rahmatan lil alamin, Islam yang sejuk, NKRI, Pancasila, dan Binneka Tunggal Ika. Karenanya media moderat harus berbagi peran dengan cara mengetahui peta narasi radikalisme baik kekuatan maupun kelemahanya. 
 
"Kita harus siapa yang dihadapi. Narasi apa saja yang mereka kembangkan. Kita juga harus tahu di mana celah mereka, berapa kekuatan mereka, di mana kelemahaannya, dan bagaimana kita melakukannya. Kalau belum, mari kita samakan persepsi dan tujuannya," kata Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Hamli.
 
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pemateri pada Sarasehan Media Moderat dan Perumusan Program Strategis Sindikasi Media Islam (SMI) di Hotel Royal, Kuningan, Jakarta, Selasa (6/8).
 
Hamli mengajak media moderat yang tergabung dalam SMI untuk mencontoh strategi sepakbola. Dalam sepakbola itu ada bola, lawan dan gawang. 
 
"Kalau masing-masing main sendiri, bola akan di tengah saja dan tidak akan gol-gol. Makanya media moderat harus satu suara melawan narasi yang ingin memecah belah Indonesia," lanjut Hamli. 
 
Ia mencontohkan narasi radikal yang dikembangkan setiap kelompok radikal berbeda-beda. Al-Qaeda awalnya mengembangkan narasi perlawanan komunis, sementara ISIS 'menjual' narasi khilafah, negeri akhir zaman, dan negeri syariah. Begitu juga dengan kelompok-kelompok yang lainnya seperti Ikhwanul Muslimin dan HTI yang juga mengembankan narasi berbeda.
 
Saat ini, ungkap Hamli, banyak narasi dan konten yang dikembangkan kelompok radikal. Bahkan ada beberapa narasi digunakan sebagai bahan promosi iklan.
"Jadi dalam melawan narasi, media moderat harus memahami petanya. Kalau ada narasi-narasi begini, anda hantam sembarangan, nanti akan menyerang balik," tukas Hamli.
 
Ia menekankan, peran media Islam moderat yang tergabung secara resmi dalam SMI ini sebaiknya mengambil peran dalam memberikan moderasi pemikiran agama dan Islam rahmat yang sejalan dengan NKRI. Hal ini menurutnya sangat penting mengingat berbagai survey ada potensi menguatnya masyarakat menginginkan negara dengan ideologi agama tertentu. 
 
Salah satu yang dikutip Hamli, misalnya, Alvara yang menyatakan 18,1 persen orang Indonesia ingin khilafah atau tidak mau NKRI. Kemdian 42,47 persen nasionalis religius, sedangkan nasionalis 39,43 persen. 
 
Dirinya berharap dengan keberadan media moderat di bawah SMI, bisa meningkatkan jumlah prosentase kelompok nasionalis. 
 
“Sekaligus mengurangi prosentase masyarakat yang pro khilafah di negara ini,” pungkasnya. (M Aras P/Ibnu Nawawi)
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 7 Agustus 2019 21:30 WIB
Muslimat NU Perkokoh Patriotisme dalam Perjuangkan Kaum Ibu Masa Kini
Muslimat NU Perkokoh Patriotisme dalam Perjuangkan Kaum Ibu Masa Kini
Ketua II Pimpinan Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati menyerahkan cenderamata kepada Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Zainut Tauhid Sa’adi
Jakarta, NU Online 
Kaum ibu turut serta dalam perjuangan dan memerdekakan republik ini. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan bukan berarti selesai, semangat patriotisme tak boleh padam, tapi dipupuk, dikembangkan, dan dikokohkan.  

Pimpinan Pusat Muslimat NU termasuk salah satu organisasi yang sadar akan pentingnya rasa patriotisme itu dengan mengingatkan kembali kaum ibu masa kini akan patriotisme kaum ibu masa lalu. Patriotisme masa lalu, tentu berbeda dengan masa kini. Jika dulu semangat untuk mengusir penjajah, saat ini memajukan kesejahteraan penduduk Indonesia. 

“Dalam mengisi alam kemerdekaan ini, patriotisme Muslimat NU bisa dimulai dari keluarga. Kaum turut andil berjuang agar menjadi keluarga yang hayatan thayyibah (kehidupan yang sejahtera, red.),” ungkap Ketua II Pimpinan Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati Said Aqil Siroj selepas kegiatan sosialisasi empat pilar di Gedung Pertemuan Kompleks MPR RI Kalibata, Jakarta, Rabu (7/8). 

Kegiatan tersebut, menurut istri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj itu bertema Membangun Patriotisme dan Spirit Kebangsaan bagi Kaum Ibu. Hal ini dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 kemerdekaan Republik Indonesia.

“Jadi, kemerdekaan Indonesia bukan hadiah kolonial Belanda yang menjajah 350 atau Jepang yang menjajah 3,5 tahun, tapi berkat perjuangan bangsa Indonesia yang di dalamnya ada kaum ibu, juga para kiai dan santri,” tegasnya.  

Patriotisme, bagi Muslimat NU dan warga NU pada umunya, menurut Nyai Nurhayati, menjadi bagian dari ajaran sebagaiman slogan hubbul wathan minal iman (mencintai tanah air bagian dari iman) yang diajarkan para pendiri NU. 

Spirit itu, lanjutnya, kemudian dimanifestasikan Muslimat NU dengan berdakwah memerangi kemiskinan, lemahnya akses ekonomi produktif, pendidikan dan kesehatan perempuan. 

Sosialisasi empat pilar tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Mereka mewakili Muslimat NU di tingkat pusat, perwakilan seluruh pimpinan cabang, pimpinan anak cabang, hingga ranting se-DKI Jakarta, ditabah perwakilan dari Pimpinan Cabang Kota Tangerang, serta pengurus-pengurus majelis taklim kaum se-DKI Jakarta. 

Kegiatan tersebut mendaulat Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Zainut Tauhid Sa’adi sebagai narasumber. (Abdullah Alawi)
Rabu 7 Agustus 2019 21:0 WIB
Mentan: Ekspor Memperkuat Merah Putih, Impor Melemahkan Petani Kita
Mentan: Ekspor Memperkuat Merah Putih, Impor Melemahkan Petani Kita
Menteri Pertanian Amran Sulaiman melepas ekspor komoditas unggulan Bali, berupa 2,5 ton Mangga Harum Manis ke Rusia dan beberapa produk lainnya ke beberapa negara di Area Kargo Logistik Angkasa Pura II, Denpasar, Rabu (7/8)
Denpasar, NU Online
Kementerian Pertanian terus memaksimalkan dan mendorong pemanfaatan teknologi informasi pada proses bisnis karantina, antara lain pertukaran data persyaratan ekspor dan sertifikat elektronik atau e-Cert ke Belanda. "Hari ini kita tunjukkan langsung bahwa sertifikat kita dalam hitungan detik sudah dapat diterima negara tujuan. Dan ini untuk memudahkan ekspor kita ke negara tujuan," kata Amran Sulaiman, Menteri Pertanian di Area Kargo Logistik Angkasa Pura II, Denpasar, Rabu (7/8).
 
Lebih lanjut Mentan menginstruksikan Badan Karantina Pertanian untuk melakukan harmonisasi dan negosiasi dengan seluruh negara mitra dagang agar dapat menggunakan fasilitas layanan ini."Sampai dengan hari ini sudah 4 negara, yaitu Selandia Baru, Australia, Belanda dan Vietnam. Baru ada 1 negara di Asean, ini yang kita dorong dahulu, seluruh negara ASEAN dan terus lanjut ke negara mitra dagang lainnya," kata Amran. Menurut Mentan peningkatan ekspor akan memperkuat bangsa dan kebijakan impor sangat tidak berpihak pada petani. 
 
Menurut Mentan, ekspor produk pertanian terus meningkat hingga 100% per tahun. Total  volume ekspor tahun 2014 sebanyak 33 juta ton, namun pada tahun 2018 telah mencapai 42.5 juta ton. Hal ini disebabkan berbagai inovasi, kemudahan dan percepatan layanan karantina di pelabuhan/bandara. Elektronik sertifikat dan aplikasi petaan komoditas pertanian ekspor (IMACE) memudahkan eksportir untuk ekspor. 
 
"Kami targetkan tahun 2019 volume ekspor meningkat hingga 45 juta ton. Sesuai amanat Bapak Presiden, kami gunakan teknologi informasi, permudah perijjinan dan sertifikat melalui digitalisasi untuk memudahkan layanan ekspor," tegas Mentan. 
 
Program  Agro Gemilang sebagai upaya akselerasi ekspor produk pertanian terus digalakkan Kementan, seperti halnya pada hari ini (7/8) Mentan melepas ekspor komoditas unggulan Bali, berupa 2,5 ton Mangga Harum Manis ke Rusia dan beberapa produk lainnya ke beberapa negara.  Mentan mentargetkan 100 ton ekspor buah mangga asal Bali mampu memenuhi pasar Rusia di tahun 2019. Ekspor pertanian ke Rusia baru mencapai 368,4 ribu ton dengan komoditas yang diekspor antara lain air kelapa, bambu, salak dan kacang tanah, dan Kementan akan terus dorong volumenya bertambah.

"Saya mengajak pemuda tani Indonesia, ayo kita mulai ekspor ke Rusia. Harganya bagus dan ekspor akan meningkatkan kesejahteraan petani" tegas Amran. 
 
Komoditas lainnya yang dilakukan ekspor Mentan antara lain, paprika, handicraft asal batok kelapa, jerami dan enceng gondok tujuan Belanda, daun bawang tujuan Taiwan, vanili tujuan USA, rempah tujuan Swiss. Selain itu komoditas peternakan berupa anak ayam umur sehari (DOC) sebanyak 44.500 tujuan Timor Leste, dan beberapa produk hewan lainnya. Keseluruhan total bernilai 13.5 milyar rupiah. 
 
E-cert Perkuat Layanan Ekspor
 
Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menjelaskan bahwa dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian No 19/2019 tentang Akselerasi Ekspor, pihaknya telah melalukan beberapa aksi strategis. Selain penerapan e-Cert dan inline inspektion, juga menggagas Agro Gemilang dan sosialisasi aplikasi petaan komoditas pertanian ekspor atau  IMACE diawal tahun 2019.  Di unit pelaksana teknis Karantina Pertanian Denpasar telah membuahkan hasil tercatat peningkatan negara tujuan, pada Juli 2018: 40 negara, sedangkan di bulan Juli 2019 telah menjadi 50 negara, meningkat 25%.
 
Sementara melalui  program Agro Gemilang,  pada bulan   Juli 2018 tercatat telah diikuti 65 eksportir,  sementara bulan Juli 2019 meningkat menjadi 78 eksportir yang sudah mampu mengekspor, atau peningkatan  11%.
 
Dan peningkatan nilai ekspor, per sub sektor yakni komoditas hortikultura mengalami peningkatan pesat dimana Juli 2018 sebanyak 17 ,6 M sedangkan Juli 2019 naik menjadi 87,9M. Ekspor komoditas perkebunan juga mengalami peningkatan dari 18,7 M pada Juli 2018 menjadi 42,6 M pada Juli 2019.
 
Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan secara khusus melakukkan pengiriman sertifikat elektronik dalam  ekspor produk pertanian Indonesia ke Belanda. Sistem yang menjembatani kedua negara terhubung secara online, dan sertifikat telah diterima secara langsung oleh pemerintah Belanda. 
 
"Sistem elektronik sertifikat ini telah berjalan baik, dan kami senang ekspor kita bisa diterima lebih cepat" katanya.
 
 
 
Editor : Zunus Muhammad
Rabu 7 Agustus 2019 20:45 WIB
Kunjungi Malaysia, Menaker Bicarakan Kerja Sama Pelatihan Vokasi
Kunjungi Malaysia, Menaker Bicarakan Kerja Sama Pelatihan Vokasi
Menaker M Hanif Dhakiri saat pertemuan di Malaysia.
Selangor, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengadakan pertemuan khusus dengan Menteri Sumber Manusia Malaysia, Kula Segaran di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Selasa (6/8).
 
Kedua Menteri tersebut membahas kerja sama pertukaran informasi kebijakan dan program, strategi menghadapi perubahan teknologi dan industri 4.0 yang berdampak pada sektor ketenagakerjaan serta peningkatan kapasitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan vokasi.
 
Dalam pertemuan tersebut, Menaker Hanif menyatakan pihaknya terus menggenjot pelatihan vokasi sebagai tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo yang memprioritaskan pembangunan SDM pada tahun 2019. 
 
"Harus ada intervensi dalam pembangunan SDM, agar skill, dan kompetensi angkatan kerja Indonesia mampu bersaing. Salah satu cara cepat untuk meningkatkan kompetensi angkatan kerja adalah dengan pelatihan vokasi," ujar Menaker Hanif.
 
Menaker Hanif mengatakan keterampilan vokasi sangat diperlukan sebagai upaya pemerintah untuk memfasilitasi free movement bagi pekerja terampil, professional dan talents di kedua negara pada khususnya, dan di kawasan ASEAN pada umumnya.
 
Kemnaker lanjut Hanif telah melakukan beberapa terobosan pelatihan vokasi dalam bentuk delivering hard and soft skills. Kedua bentuk pelatihan itu, diberikan secara masif tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan untuk menjamin adanya triple skilling yakni skilling, upskilling, dan reskilling bagi sumber daya manusia Indonesia; maupun pemagangan serta sertifikasi uji kompetensi.
 
"Massifikasi pelatihan di BLK melalui program triple skilling, yaitu skilling untuk angkatan kerja yang ingin mendapatkan skill. Up-skilling untuk pekerja yang ingin meningkatkan skill dan re-skilling untuk pekerja yang ingin mendapatkan keterampilan baru," ujarnya.
 
Hanif menegaskan untuk mendekatkan akses pelatihan vokasi kepada masyarakat, pemerintah juga membangun BLK Komunitas. Tahun 2017 dengan 50 BLK Komunitas, dan meningkat menjadi 75 BLK di tahun 2018. “Tahun 2019 kembali melonjak menjadi 1.000 BLK Komunitas berbasis pesantren.
 
Dalam pertemuan di Shah Alam itu, Hanif Dhakiri didampingi oleh Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto; Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono; Staf Khusus Nurhuda; Ketua BNSP Kunjung Masehat; Karo Kerja sama Luar Negeri, Indah Anggoro Putri dan Antonius J. Supit, Tajuddin, Mafirion, Sugeng Bahagijo, Kun Wardhana (Anggota Komite Pelatihan Vokasi Nasional).
 
Sedangkan delegasi Malaysia hadir Datuk Khir Razman (Ketua Pengarah Jabatan Tenaga Manusia); Tuan Haji Zaihan (Ketua Pengarah Jabatan Pembangunan Kemahiran; Encik Mat Setia (Jabatan Tenaga Manusia) dan Wakil dari Bahagian Dasar dan Bahagian Antar Bangsa.
 
Pada kesempatan itu Anton J Supit mengatakan lembaga pendidikan bertugas mencetak orang/lulusan pencari kerja serta mendukung tugas pokok Kemnaker adalah skilling, upskilling, dan reskilling.
 
"Pelatihan vokasi adalah tanggung jawab semua pihak. Jangan semua seakan-akan, kalau orang yang tidak dapat pekerjaan, menyalahkan Kemnaker, itu tidak benar. Kita semua harus mendukung pekerjaan Kemnaker itu untuk skilling, upskilling, dan reskilling," kata Anton. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG