IMG-LOGO
Daerah

Kiai Marzuki Mustamar: Mahasiswa NU Hendaknya Teguh Jaga Aswaja

Rabu 7 Agustus 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Kiai Marzuki Mustamar: Mahasiswa NU Hendaknya Teguh Jaga Aswaja
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim.
Blitar, NU Online
Warga Nahdlatul Ulama khususnya dari kalangan terpelajar dan berstatus sebagai mahasiswa hendaknya selalu berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah atau Aswaja an-Nahdliyah. 
 
Penegasan disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. Hal tersebut disampaikan pada kegiatan Perkenalan Akademi Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kabupaten Blitar, Rabu (//8).
 
“Mahasiswa UNU Blitar harus selalu berpegang teguh pada ajaran Aswaja an-Nahdliyah dan teguh pendirian tetap dalam lingkungan jamiyah Nahdlatul Ulama,” kata Kiai Marzuki, sapaan akrabnya.
 
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang tersebut, mahasiswa harus terus berupaya agar terus berada dalam Aswaja an-Nahdliyah.
 
"Jangan coba-coba yang lain, bila tidak ingin menyesal di kemudian hari," kata Kiai Marzuki di hadapan civitas akademik UNU Blitar dan 1.070 mahasiswa baru di gedung Graha NU Blitar.
 
Menurut Kiai kelahiran Blitar tersebut, mengapa para mahasiswa harus istikamah di jamiyah ini. Karena NU didirikan oleh  kader terbaik Indonesia KH M Hasyim As'ary dan dibantu beberapa kiai alim lainnya. 
 
"NU didirikan dan didesain orang Indonesia asli Untuk kemakmuran negara Indonesia dan untuk rahmatan lil alamin," ungkap Kiai Marzuki.                                  
 
Dalam pandangannya, saat ini NU Blitar dipimpin tokoh terbaik, KH Masdain sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Sehingga NU bisa berjalan baik dan memiliki kampus ini. 
 
“Untuk itu para mahasiswa yang ada harus ikut mengembangkan dan mempertahankan aswaja dan NKRI," pintanya.                             
 
Pernyataan Kiai Marzuki diamini oleh Rektor UNU Blitar HM Zainuddin. Menurutnya dengan dukungan NU beserta badan otonom dan lembaga yang ada akhirnya kampus ini perkembangannya dari tahun ke tahun sangat menggembirakan. 
 
"Begitu dibuka, UNU Blitar ada 500 mahasiswa baru.Kemudian di tahun kedua ada sekitar 700. Dan di tahun ini ada 1.070 mahasiswa baru," tandas Prof Zainuddin.
 
Pewarta: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 7 Agustus 2019 19:0 WIB
Tekad NU Jatim Miliki Satu Juta Kader Bersertifikat
Tekad NU Jatim Miliki Satu Juta Kader Bersertifikat
Tasyakuran satu tahun khidmah PWNU Jatim.
Surabaya, NU Online
Tidak terasa kepemimpinan KH Anwar Manshur dan KH Marzuki Mustamar telah memasuki satu tahun usai diberi amanah pada Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Saat ini tugas berat yang harus diemban adalah terus melakukan evaluasi atas khidmah yang telah dilakukan dan memastikan ketersediaan kader sesuai harapan.
 
Penegasan ini disampaikan KH Abdus Salam Sohib pada acara memperingati satu tahun masa khidmah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Kegiatan digelar di ruang Salsabila kantor setempat, jalan Masjid al-Akibar Timur 9 Surabaya, Selasa (6/8). 
 
Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim ini, tasyakuran sebagai ajang evaluasi digelar setiap tahunnya. Mengingat NU membutuhkan evaluasi supaya lebih baik. 
 
"Ya setiap tahunnya kita adakan untuk bahan evaluasi kinerja selama satu tahun terakhir. Sekaligus membaca dan menatap tantangan ke depannya," katanya. 
 
Gus Salam, sapaan akrabnya menilai selama setahun kepengurusan, NU Jawa Timur perlu perbaikan-perbaikan baik di internal maupun eksternal. 
 
"Tentu yang menjadi prinsip kita salah satunya adalah perbaikan administrasi, supaya lebih transparan, akuntabel, sehingga menjadi organisasi yang modern dan profesional dari sisi internal," kata Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang ini. 
 
"Kemudian harakah, perlu kita masifkan lagi. Apalagi tantangan di masyarakat urban, kita akui belum melakukan penetrasi yang maksimal. Kita belum melakukan langkah-langkah strategis termasuk menjaring generasi milenial, ini perlu pemikiran yang matang dan strategi yang mendalam,” jelasnya. 
 
Misalnya artis Deddy Corbuzier yang beberapa waktu lalu memutuskan masuk Islam.
 
“Nah itu bisa kita jadikan strategi untuk menarik kaum milenial untuk semakin tahu tentang NU, setelah tahu tentang ajaran dan akidah NU niscaya mereka akan tertarik,” ungkapnya. 
 
Selain itu, fenomena hijrah yang digalakkan oleh masyarakat urban. “Kita harus meresponsnya dengan versi kita. Versi hijrah yang memenuhi subtansi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara Ahlussunah wal Jama’ah an-Nahdliyah," urainya.
 
Dalam pandangan Gus Salam, yang juga menjadi perhatian khusus adalah kaderisasi.
 
“Ini harus kita lakukan dengan baik dan istikamah. Sehingga kita punya angan-angan di tahun 2023 kepengurusan berakhir, sudah punya satu juta  kader yang bersertifikat," pungkasnya.
 
Tasyakuran diawali khatamil Qur’an dilanjutkan shalat ghaib berjamaah yang dipimpin Wakil Rais, KH Ali Maschan Moesa. Dilakukannya shalat ghaib tersebut dikhususkan kepada Mustasyar PBNU, KH Maimoen Zubair yang baru saja meninggal di Rumah Sakit Noor Makkah, Selasa (6/8).  
 
Usai shalat,  jajaran PWNU Jatim dan lembaga serta badan otonom berkumpul untuk merayakan satu tahun kepengurusan NU.  Hadir pada acara itu Wakil Rais PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa, KH Nuruddin A Rahman, juga katib, KH Syafruddin Syarif.
 
Dari unsur tanfidziyah hadir KH Marzuki Mustamar sebagai Ketua PWNU Jatim. Demikian pula wakil ketua KH Abd A'la, KH Abdul Salam Sohib, KH Dzulhilmi,  dan M Koderi. 
 
Tampak pula Wakil Ketua PWNU Jatim, Misbahul Munir, wakil bendahara Mathorur Rozak dan puluhan pengurus lain.
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Rabu 7 Agustus 2019 18:0 WIB
Kartu Subsidi dan Tradisi Petani Madura
Kartu Subsidi dan Tradisi Petani Madura
Penyuluhan Pertanian bertemakan “Memberdayakan Petani di Era Terkini” Posko V KKN Riset Partisipatif 2019 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Pamekasan.
Pamekasan, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian secara terus menerus mengajak sekaligus mendampingi para petani di Kabupaten Pamekasan, Madura untuk lebih maju. Gayung bersambut, masyarakat kini kian sadar untuk bergabung ke dalam Kelompok Tani (Poktan). Bahkan, di antara mereka mencoba berevolusi dalam teknis pertanian yang sudah melekat dalam kesehariannya.
 
Hal itu cukup mengemuka dalam acara Penyuluhan Pertanian bertemakan “Memberdayakan Petani di Era Terkini” Posko V KKN Riset Partisipatif 2019 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) di Desa Bukek, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, Senin (5/7).
 
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber yakni Diana Rotno, seorang penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian dan Guruh Mani (Mantri Tani). Dalam penjelasannya, Diana menyatakan sudah beberapa tahun yang lalu para petani diajak untuk berevolusi ke sistem pertanian era terkini. Yakni, dengan dikenalkannya teknologi pertanian yang semakin canggih agar para petani lebih makmur.
 
Diana menekankan agar para petani bergabung dengan kelompok tani (Poktan). Dengan adanya Poktan, maka otomatis memiliki kartu Poktan. Nantinya, kartu Poktan bisa digunakan untuk membeli pupuk bersubsidi. Muaranya, petani bisa terbantu. 
 
Diterangkan, dalam pembelian pupuk bersubsidi nantinya akan dibatasi. Dalam satu kartu Poktan dibatasi pembembeliannya. Kira-kira pupuk untuk tanah selebar 2 hektare. Pembatasan ini, lanjut Diana, sebagai upaya kembali ke program "Back to Nature" yang nantinya akan lebih memanfaatkan kembali pupuk organik.
 
“Tidak selalu tergantung ke pupuk kimia. Sebab, pemakaian pupuk kimia yang berlebihan itu tidak baik bagi kesehatan dan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Dengan adanya kartu Poktan, diharapkan akan menjadi penyambung dari Dinas Pertanian kepada masyarakat petani. Bukan hanya menjalin kerja sama di depan hari, namun di lain waktu kita bisa nyambung,” sela Guruh Mani.
 
Di sela-sela penyuluhan pertanian, Hamid selaku Kepala Desa Bukek mengungkapkan, dari segi geografis Tlanakan termasuk daerah yang agak telat musim panennya. Kendala pertanian di Kecamatan Tlanakan adalah beberapa daerah yang kekurangan air yang tidak mencukupi, baik bagi pertanian ataupun keperluan hidup.
 
“Namun di Desa Bukek, alhamdulillah kebutuhan air mencukupi. Kebiasaan petani di sini masih kental dengan tradisi sebelumnya, yaitu tidak mau berbibit tanaman yang berlabel,” papar Hamid.
 
Hamid mengapresiasi seringnya kegiatan semacam penyuluh Pertanian. Salah satu tujuan yang bisa dicapai dari dari kegiatan tersebut adalah untuk memperkenalkan alat teknologi terkini. Diharapkan, petani bisa lebih mudah dengan alat canggih itu.
 
Diana Rotno menyampaikan, di era industry 4.0, para Poktan butuh alat komunikasi seperti WhatsApp (WA). Misinya, agar lebih mudah memberikan mediasi pada para petani di setiap desa.
 
“Satu kelompok harus ada WA. Beberapa bulan ini sebenarnya petani mulai diajak mempergunakan alat terkini, seperti alat traktor yang canggih. Program terakhir yang kami lakukan yaitu seperti kartu Poktan. Petani sudah menerimanya. Itu hanya digunakan untuk tanah 2 hektare," paparnya.
 
Pihaknya menghendaki petani mengenal pupuk organik, sehingga pada akhirnya semua pertanian di negeri ini bisa kembali ke tanah (back to nature). 

Pewarta : Hairul Anam
Editor : Zunus Muhammad
 
Rabu 7 Agustus 2019 17:30 WIB
Tugas Generasi Saat Ini Menjaga NKRI dan Pancasila
Tugas Generasi Saat Ini Menjaga NKRI dan Pancasila
Halaqah kebangsaan oleh GP Ansor Nonggunong, Sumenep, Jatim.
Sumenep, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) dan nasionalisme sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan karena telah mendarah daging. Karena itu ada konsep hubbul wathan minal iman bahwa cinta tanah air sebagian dari iman. 
 
Penegasan tersebut disampaikan Ustadz Zainul Hasan saat tampil pada kegiatan halaqah kebangsaan dengan tema Nasionalisme NU dalam Menjaga NKRI. Kegiatan diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Nonggunong di Pendopo Desa Sokarame Paseser Nonggunong, Sumenep, Jawa Timur.
 
Menurut Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep tersebut, hubbul wathan minal iman bisa dikatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang jika dalam dirinya tidak tertanam nasionalisme. 
 
“Bagi NU, nasionalisme adalah bagian dari keimanan,” katanya, Rabu (7/8). 
 
Menurut Ustadz Zainul, inilah kehebatan konsep Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. “Beliau berhasil mengawinkan agama dan negara menjadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Dan konsep ini hanya dimiliki oleh NU. Tidak dimiliki oleh organisasi atau kelompok lain," tegasnya.
 
Dalam pandangannya, nahdliyin layak berbangga karena jamiyah memiliki konsep hubbul wathan minal iman. Kalau tidak karena adanya NU, sudah lama negeri ini tiada.
 
“NU adalah satu-satunya organisasi keagamaan yang berani pasang badan mengawal NKRI dan Pancasila di setiap masa. Di saat organisasi dan kelompok lain tiarap karena serangan yang bertubi-tubi, NU lah yang tampil di garda terdepan. Karena bagi NU, NKRI adalah harga mati. Siapapun yang mencoba merongrongnya, harus berhadapan dengan NU," imbuh dia.
 
Dirinya kemudian menyajikan fakta sejarah betapa nasionalisme di kalangan NU sangat luar biasa. Hal tersebut dibuktikan dengan sebelum merdeka atau masa penjajahan yakni tahun 1935, NU telah mengukuhkan negeri ini sebagai nation state atau negara bangsa. 
 
“Tahun 1943, NU lah yang merestui Soekrano mewakili bangsa Indonesia. Pada waktu merumuskan bentuk dan dasar negara tahun 1945, NU terlibat di dalamnya diwakili oleh Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Masykur. Dan di tahun yang sama, 22 Oktober 1945, NU mengeluarkan Resolusi Jihad yang kemudian mengobarkan terjadinya perang 10 Nopember melawan Inggris,” ungkapnya. 
 
Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah sedang genting-gentingnya menghadapi pemberontakan DI/TII, NU menganugerahi Sokerano sebagai waliyyul amri ad dlaruri bis syaukah
 
Begitu juga ketika PKI memberontak, NU melalui Banser berhasil menumpasnya. “Termasuk pula ketika Pancasila dijadikan asas tunggal yakni tahun 1984, NU pertama kali yang menerimanya. Tahun 2006, NU mengeluarkan Maklumat yang meneguhkan kembali komitmen kebangsaan untuk mempertahankan Pancasila, UUD 1945 dalam wadah NKRI," jelasnya.
 
Dengan sejumlah fakta tersebut kalau bicara soal nasionalisme, NU adalah jagonya. Dari masa ke masa dalam urusan kebangsaan, NU selalu tampil di depan. 
 
“Tinggal bagaimana kita mempertahankan ini semua. Ketahuilah, NKRI dan Pancasila adalah warisan ulama. Kita wajib menjaga, mengawal dan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan," tandasnya.
 
Ketua PAC GP Ansor Nonggunong, Ahmad Sibawi, mengatakan bahwa kegiatan ini dimaksudkan sebagai media silaturahim antarpemangku kepentingan untuk memupuk rasa nasionalisme dalam menjaga keutuhan NKRI. 
 
"Bagi kita, NKRI adalah harga mati yang harus diperjuangkan dan dipertahankan bersama-sama antar sesama elemen anak bangsa," katanya. 
 
Sementara Forpimka yang diwakili Kapolsek Nonggunong sangat mengapresiasi kegiatan ini. "NU itu organisasi yang sangat besar. Paling getol mengawal NKRI. Maka sudah seyogyanya kita terus bersinergi mengawal NKRI dan Pancasila. Kegiatan semacam ini sangat penting untuk terus dikembangkan. Lewat kegiatan ini kita berharap lahir kader-kader yang cinta pada tanah air," tandasnya. 
 
Kegiatan diikuti Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor Nonggunong dan Gayam, serta Forpimka setempat.
 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG