IMG-LOGO
Fragmen

Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci

Rabu 7 Agustus 2019 19:16 WIB
Bagikan:
Tokoh-tokoh NU yang Wafat di Tanah Suci
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja'i Ciharashas (bertongkat) hendak berhaji tahun 1983
Kematian adalah makhluk yang misterius. Ia datang kepada siapa pun tak mengenal waktu, dan tempat. Karena misterius itulah ajaran Islam mengingatkan agar selalu ingat mati berdoa agar  meninggal dalam keadaan iman terjaga atau husnul khatimah. Umat Islam merapal harapan itu setidaknya lima kali dalam sehari, selepasa shalat fardhu melalui doa allahuma ini asaluka husnal khatimah wa ‘audzubika min su’il khatimah yang diiringi doa lain, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. 

Namun, ada sebagian orang yang berharap meninggal di tempat yang paling istimewa, bahkan di hari yang menurutnya istimewa. Namun, namanya doa, tak lantas terkabul sesuai kenyataan. KH Maimoen Zubair adalah pengecualian. Ia ingin meninggal di Tanah Suci makkah dan sedang melaksanakan ibadah haji. Terpenuhi sudah doanya itu. 

Berikut ini ada beberapa tokoh NU yang meninggal di Tanah Suci yang berhasil dihimpun NU Online. Sangat mungkin ada kiai lain yang tidak tercatat.  

1. KH Abdul Karim Hasyim (putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tahun 1972)
Kiai Abdul Karim Hasyim merupakan salah seorang putra dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1947, Kiai Abdul Wahid Wahid (kakak dari Kiai Karim) melanjutkan kepemimpinan pesantren Tebuireng. Namun, waktu itu, Kiai Wahid Hasyim sudah menjadi tokoh populer di tingkat nasional, keberadaannya sangat sering di Jakarta. Sehingga kepemimpinan dipercayakan kepada Kiai Karim. 

Ketika diangkat manjadi menteri agama, Kiai Wahid semakin sibuk sehingga kepemimpinan pesantren Tebuireng manjadi kosong sehingga keluarga besar Bani Hasyim memilih Kiai Karim sebagai penggantinya.

Pada tahun 1972, Kiai Karim menunaikan ibadah haji bersama Kiai Idris Kamali. Saat menjalankan rukun Islam kelima itu, Kiai Karim menderita sakit yang diakibatkan oleh perubahan cuaca. Setelah beberapa hari dirawat, Kiai Karim meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di Makkah.

2. H Subchan ZE (Ketua Empat PBNU, tahun 1973)
Nama lengkap tokoh NU yang satu ini adalah Subchan Zaenuri Echsan. Namun, dua nama belakangnya lebih populer disingkat ZE, jadi Subchan ZE. Ia merupakan tokoh muda NU yang populer di zamannya. Watak kempimpinanya mampu menggerakkan organisasi pemuda di luar NU seperti HMI, GMNI, PMKRI, setelah terjadinya G 30 S PKI melalui Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpinnya. 

Tahun 1966 Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Saat menjabat itu, Soeharto dikukuhkan sebagai Presiden oleh tahun 1968. Namun, Subchan kemudian menjadi salah seorang pengkritik paling tajam terhadap kebijakan-kebijakan presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu. Salah satu kritik yang dilontarkannya adalah ketika pemerintah menunda-nunda pemilu. 
 
Sejarawan NU, Choirul Anam, di dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan NU mengemukakan pendapat Subchan tentang Orde Baru yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia.
 
Subchan meninggal pada 21 Januari 1973 di Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji dalam perjalanan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Ia dimakamkan di sana. 

3. KH Ahmad Syuja’i Ciharashas (tokoh NU Cianjur, tahun 1983)
Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i menjadi aktivis NU tidak sembarangan. Ia dianjurkan memperkuat NU di Priangan Barat, tepatnya Cianjur oleh tiga habib dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.  
 
Menurut santri mama Ciharashas, KH Abdul Aziz Hidayatullah, pada buku Riwayat Hidup KH Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya KARTANO (sekarang Kartanu). 

Begitu pula setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Anjuran itu didukung Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. 

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya 28 Agustus 1983 M. Ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Suci Makkah saat menunaikan ibadah haji tahun itu. 
 
4. KH Maimoen Zubair (Mustasyar PBNU, tahun 2019)
Selasa 6 Agustus 2019, salah seorang kiai sepuh NU, KH Maimoen Zubair tutup usia. Dalam waktu singkat, kabar tersebut menyebar dari satu akun ke akun lain melalui media sosial. Rakyat biasa hingga presiden mengungkapkan kehilangannya. 

Kiai yang akrab disapa Mbah Moen ini tutup usia  di Tanah Suci Makkah saat melaksanakan ibadah haji pada usia 91 tahun. Menurut riwayat mutawatir, ia kerap meminta didoakan agar Allah memanggilnya di hari Selasa pada saat menjalankan ibadah haji. Dan, doanya itu telah terkabulkan.   

KH Saifuddin Zuhri dalam sebuah artikelnya yang dikumpulkan dalam Secercah Dakwah mengatakan, para pejuang (NU) angkatan sebelumnya, telah merintis jalan dan berbuat, mereka memperoleh pahalanya. Tetapi segi-segi kekurangannya harus berani diakui meskipun pahit untuk disempurnakan bagi taraf-taraf perjuangan seterusnya. (Abdullah Alawi)
 
Bagikan:

Baca Juga

Senin 5 Agustus 2019 2:0 WIB
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jamaah Haji di Awal Indonesia Merdeka
Jemaah haji asal Martapura Kalimantan (dok KITLV -Tropenmuseum)
Beberapa tahun Indonesia merdeka, terjadi kekosongan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Menurut data yang disampaikan majalah Tempo edisi 24 april 2011, yang mengutip data dari Departemen Agama RI, salah satu penyebab kekosongan tersebut adalah keadaan yang masih sulit dan genting. 

Setelah merdeka, Indonesia tidak serta-merta mendapatkan keamanan dan pengakuan kedaulatan, apalagi kemakmuran. Penjajah Belanda yang membonceng tentara Sekutu berusaha kembali ke Indonesia. Situasi semacam itu dihadapi bangsa Indonesia dengan perjuangan fisik seperti pertempuran hingga dan diplomasi. Di antara gangguan keamanan yang terjadi setelah Indonesia merdeka adalah agresi militer Belanda I dan II.  

Tokoh utama NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan fatwa tidak wajib beribadah haji ketika negara dalam keadaan perang. Fatwa tersebut kemudian menjadi Maklumat Menteri Agama Nomor 4 tahun 1947, yang menyatakan ibadah haji dihentikan selama negara dalam keadaan genting.  

Pada tahun 1952, jamaah calon haji Indonesia membludak dalam ukuran masa itu. Dalam laporan Kementerian Agama yang dikutip Tempo, tahun Indonesia mengantongi calon jamaah haji sebanyak 14 ribu orang. 

“Suatu jumlah yang lebih tinggi dari tahun-tahun yang sudah, yaitu untuk mengurangi rasa kecewa di kalangan kaum muslimin, agar tiada timbullah kemungkinan bahwa mereka itu digunakan oleh mereka yang tidak mengingikan keteguhan Negara RI,” ungkap KH Wahid pada laporan saat ia mengakhiri jabatan Menteri Agama Indonesia tahun 1953.  

Tahun-tahun sebelumnya, seperti tahun 1949 jumlah jamaah haji Indonesia adalah 9.892 orang. Tahun 1950 jumlahnya meningkat menjadi 10.000 orang ditambah 1.843 orang yang berangkat secara mandiri (Tempo edisi 24 april 2011).

Indonesia merupakan negara yang selalu memiliki calon jamaah haji yang sangat besar. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Martin van Bruinessen dalam artikelnya berjudul Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji mengatakan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 jamaah haji Indonesia sebanyak 10-20 persen dari seluruh jamaah haji dunia. Malah pada tahun 1920-an, jumlahnya sekitar 40 persen dari seluruh jamaah haji dunia. 

Namun, minat berhaji yang sedemikian banyak itu, tidak diimbangi dengan pelayanannya. Jamaah calon haji yang meninggal dalam keberangkatan maupun pulang sering terjadi karena kurangnya tenaga medis. Pada masa itu, perjalanan haji bisa berbulan-bulan sebab menggunakan kapal laut. 

Hal itu menjadi keprihatinan KH Wahid Hasyim saat menjadi menteri agama. Dalam artikelnya, Perbaikan Perjalanan Haji, yang dimuat di Mimbar Agama edisi 17 Agustus seperti yang dikutip Tempo edisi sama, Kiai Wahid mengurai persoalan haji Indonesia. 

Anggota jamaah haji Indonesia, menurut Kiai Wahid, orang dari lapisan bawah yang agak mampu, tapi kurang pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Mereka mengeluarkan semua biaya berhajinya dengan keyakinan untuk ibadah, sehingga mereka tak peduli besarnya biaya yang dikeluarkan. Hal ini menyebabkan mereka menjadi mangsa empuk orang-orang yang tega mengambil kesempatan. (Abdullah Alawi)  
   
 
Jumat 2 Agustus 2019 15:30 WIB
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Saat Belanda Geram oleh Fatwa Haram Haji KH Hasyim Asy’ari
Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari (istimewa)
Menghadapi penjajah tidak cukup hanya mengandalkan perlawan fisik dan bersenjata, tetapi upaya batin melalui sejumlah wirid serta perlawanan kultural juga menjadi strategi penting yang perlu dilakukan rakyat Indonesia. Perlawanan kultural yang cukup ampuh menghadang penjajah Belanda kerap dilakukan oleh kalangan pesantren.

Keberhasilan perlawanan kultural oleh kaum santri karena mampu menggerakkan sekaligus memompa nasionalisme bangsa Indonesia dalam melawan kolonial. Salah satu strategi kultural yang dilakukan oleh pesantren ialah mengeluarkan fatwa dan menjadi wadah pergerakan nasional secara umum.

Sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, pemimpin besar NU dan pemimpin besar bangsa Indonesia ialah ketika mengharamkan santri memakai pakaian yang menyerupai Belanda yang terbukti efektif menggerakkan perlawanan secara luas terhadap kolonial. Namun, fatwa tersebut hanya berlaku pada konteks saat itu, bagaimana Kiai Hasyim Asy’ari melihat propaganda Belanda melalui borjuisme kolonial lewat busana.

Fatwa penting juga dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari bersama ulama se-Jawa dan Madura ketika mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Saat itu Belanda (NICA) yang membonceng pasukan sekutu (Inggris) hendak kembali menduduki wilayah Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II.

Fatwa Jihad tersebut seketika menggelorakan semangat juang rakyat Indonesia dari seluruh penjuru tanah air untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari mempunyai esensi bahwa berjuang mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban agama.

Pada masa-masa revolusi antara tahun 1946-1948, Belanda tidak juga surut untuk terus berupaya kembali menduduki Indonesia. Menurut catatan Sejarawan NU, Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017), gejolak revolusi tersebut dirasakan sebagai penderitaan luar biasa karena semua kegiatan sosial ekonomi terganggu termasuk aktivitas menjalankan ibadah haji bagi umat Islam.

Umat Islam risau karena perjalanan haji terhenti akibat perang sehingga  tidak menjamin keamanan para jemaah alon haji. Melihat situasi itu, Gubernur Hindia-Belanda, Van der Plaas segera mengambil tindakan untuk menolong umat Islam. Belanda mengumumkan bagi yang  hendak melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas selengkapnya dan dijamin keamanannya.

Tentu saja tawaran itu menggoda umat Islam yang kebetulan selama beberapa tahun dalam gelora revolusi itu perjalanan ibadah haji terganggu, saat ini Belanda menjamin fasilitas untuk mereka, maka banyak yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji. Sekilas kebijakan tersebut nampak populis, tapi mengandung intrik politik untuk meraup simpati umat Islam Indonesia.

Belanda mengumumkan bagi yang ingin melaksanakan ibadah haji disediakan fasilitas lengkap dan dijamin keamanannya. Karuan saja tawaran tersebut menarik umat Islam Indonesia untuk mendaftar haji mengingat beberapa tahun terkahir pemberangkatan haji terganggu oleh perang.

Masih dalam catatan Mun’im DZ, di tengah kegairahan umat Islam untuk berhaji, tiba-tiba Rais Akbar NU, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa melakukan ibadah haji saat ini hukumnya haram. Ibadah haji memang sebuah kewajiban bila syarat rukunnya terlengkapi. Sementara saat ini Indonesia dalam keadaan perang, kapal sebagai sarana transportasi haji belum dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karena itu bila pergi haji naik kapal milik orang kafir (Belanda), maka hukumnya haram dan hajinya tidak sah.

Fatwa itu  membuat umat Islam tertegun, tetapi bagaimana pun dengan hujjah-nya yang kuat dan sesuai nalar, maka seberat apapun fatwa itu mesti ditaati, umat Islam banyak yang membatalkan perjalanan hajinya. Tentu saja hal itu dan membuaat Belanda geram, bukan karena usaha pelayarannya tidak laku, tetapi lebih penting lagi usahanya gagal dalam mempengaruhi hati umat Islam agar tidak memihak pada republik pimpinan Soekarno-Hatta.

Sekali lagi, kepekaan KH Hasyim Asy’ari mampu menggerakkan perlawanan dan propaganda Belanda yang melakukan segala cara untuk menarik simpati umat Islam. Kiai Hasyim Asy’ari tahu bahwa tujuan Van der Plaas membantu umat Islam dalam menjalankan rukun Islam itu bukan untuk menolong, tetapi sebuah tipu muslihat untuk mengalihkan kesetiaan pada bangsa sendiri. Haji politis semacam itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Sebagai seorang imam yang berpengaruh, maka fatwanya yang kontroversial itu tetap diikuti. (Fathoni)
Kamis 1 Agustus 2019 5:0 WIB
Mama Sempur dalam Kitab Cempaka Dilaga: Profesi Paling Berkah adalah Tani
Mama Sempur dalam Kitab Cempaka Dilaga: Profesi Paling Berkah adalah Tani
Minat anak muda terhadap sektor pertanian kian meningkat. (Foto. Jcomp/freepik)
Oleh Aiz Luthfi
 
KH Tb. Ahmad Bakri (1839 – 1975) atau lebih dikenal dengan Mama Sempur adalah satu di antara sekian banyak ulama yang lahir dan berdakwah di tanah Pasundan. Masa mudanya ia habiskan untuk mempelajari ilmu agama, mulai dari pesantren yang ada di Jawa, Madura sampai berguru langsung ke ulama yang ada di Mekkah Al-Mukaromah. Perjalanannya yang panjang dalam menuntut ilmu membuat nama dan juga pemikirannya banyak dikenal dan diakui oleh kalangan pesantren khususnya yang ada di tatar Sunda.
 
Kematangan ilmu agama Islam Mama Sempur kemudian dituangkan dalam puluhan kitab yang bisa ditemukan di pesantren yang ia dirikan, Pesantren Assalafiyah. Dari sekian banyak kitab yang beredar di pesantren yang berlokasi di Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta itu, ada satu kitab yang terhitung unik dan menarik, yaitu kitab Cempaka Dilaga.
 
Dikatakan unik karena kitab yang selesai ditulis pada tahun 1959 tersebut adalah satu-satunya kitab karya Mama Sempur yang judulnya menggunakan Bahasa Sunda, sementara kitab-kitab karyanya lainnya menggunakan Bahasa Arab seperti Manhajul Ibad Fi Bayani Daf`il Fasad, Saif adl-Dlarib, Tabshiratul Ikhwan dan lain sebagainya. Namun demikian, antara kitab Cempaka Dilaga dan yang lainnya memiliki kesamaan, semuanya ditulis dengan aksara pegon Sunda.
 
Mama Sempur lebih dikenal sebagai ulama sufi. Umumnya konsepsi dalam dunia tasawuf mempunyai kecenderungan berfikir tentang ibadah kepada Allah dalam rangka menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Sementara konten dalam kitab Cempaka Dilaga ini berisi tentang kehidupan dunia yang ditampilkan dalam bentuk usaha atau bekerja.
 
Kitab Cempaka Dilaga sebenarnya cukup sederhana. Hanya terdiri dari 24 halaman. Meski begitu, subtansi narasi yang disajikan tak berkurang. Kitab ini memuat nasihat-nasihat etos kerja yang semestinya dimiliki oleh umat Islam, di antaranya dapat langsung kita temukan di awal pembahasan yang mengecam keras terhadap perilaku malas dalam bekerja. Kecaman Mama Sempur terhadap orang yang malas bekerja ini diumpamakan seperti bangkai. Sebagaimana sifat bangkai, orang yang malas bekerja tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hanya akan memberi aroma busuk terhadap orang yang ada di sekelilingnya.
 
Ketika berbicara tentang bidang pekerjaan, Mama Sempur menyatakan bahwa pekerjaan yang paling utama dalam pandangan Islam adalah bertani. Untuk itu sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk memilih pekerjaan di bidang pertanian. Pernyataan ini dikuatkan oleh Mama Sempur dengan mengutip perintah Rasulullah Saw yang disampaikan dalam sebuah hadits sebagaimana berikut:
 
احرثوا فان الحرث مبارك واكثروا الجماجم
 
“Hendaklah kalian bercocok tanam karena dalam bercocok tanam mengandung banyak manfaat dan hendaklah kalian menanam banyak tanaman”
 
Dalam memaknai hadits yang bersumber dari Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali ini, Mama Sempur mengambil tiga kesimpulan sebagaimana berikut:
 
Pertama, umat Islam disarankan memilih pertanian sebagai bidang usaha yang dijalani, sebab bertani merupakan bidang usaha yang paling utama.
 
Kedua, dalam bertani akan menghasilkan keseimbangan ekosistem sehingga banyak memberi manfaat yang signifikan untuk keselarasan dan keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
 
Ketiga, di akhirat kelak orang yang becocok tanam akan mendapatkan pahala dari hasil tanamannya yang dimakan oleh binatang seperti burung, ulat dan lain sebagainya. Hal ini mengacu pada hadits lain yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia ataupun binatang ternak, melainkan hal itu sudah termasuk sedekah darinya” (Bukhari dan Muslim).
 
Keberpihakan Mama Sempur terhadap dunia pertanian ini tidak lepas dari konsep tani atau mengolah tanah yang menjadi salah satu karakter ekonomi Islam Nusantara.
 
Menurut Ahmad Baso, dalam pandangan ulama Nusantara, hubungan manusia dengan tanah seperti hubungan mereka dengan laut dan air yang menyangkut keberlangsungan hidup sebuah bangsa. Pertautan tersebut dapat diumpamakan seperti ikan dan air, jika ikan tidak ada air, maka tentu saja ikan tersebut akan mati, begitu pun dengan manusia yang membutuhkan tanah, air dan laut, maka dalam bekerja di bidang pertanian atau mengolah tanah memiliki nilai keberkahan.
 
Selain bertani, dalam kitab Cempaka Dilaga ini Mama Sempur menyebutkan dua pekerjaan lain yang dianggap baik menurut ajaran Islam, yaitu menjadi pedagang dan buruh. Namun, Mama Sempur sama sekali tidak mengutip hadits maupun pendapat ulama yang membahas tentang keutamaan keduanya sebagaimana ia menyebutkan keutamaan dalam bertani. Dapat dikatakan bahwa dari ketiga bidang pekerjaan yang dianjurkan dalam ajaran Islam ini, menurut Mama Sempur pekerjaan terbaik adalah menjadi petani, karena dalam pertanian terdapat nilai lebih yang tidak ada di dalam bidang perdagangan maupun perburuhan.
 
Pada kenyataannya, menjadi petani tidak hanya memberikan dampak positif berupa kesuksesan finansial secara pribadi. Lebih dari itu, keberhasilan di sektor pertanian akan menjadi potensi kuat untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
 
Saat ini sektor pertanian memiliki kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Dari catatan yang dihimpun, inflasi bahan makanan (pangan) dari tahun ke tahun terus menurun. Tahun 2014 tercatat nilai inflasi adalah 10,57 persen kemudian menyusut menjadi 4,93 di tahun 2015.
 
Tahun selanjutnya (2016) kembali inflasi subsektor bahan makanan menjadi 5,69 persen. Kemudian setahun berikutnya, tahun 2017 bahkan penurunan sampai pada angka1,26 persen, dan merupakan sejarah pertama kali di tanah air bila inflasi bahan makanan (pangan) lebih rendah dari inflasi umum yaitu 3,61 persen.
 
Menilik pada data tersebut, bisa disebut sektor pertanian menyumbang angka perbaikan sisi ekonomi bangsa yang signifikan. Dampak sasarannya tentu saja kepada petani yang berbasis di pedesaan. 
  
 
Penulis adalah Kontributor NU Online Wilayah Subang, Jawa Barat
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG